What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 18



Keesokan harinya, Eric masih tertidur pulas dengan memeluk Kyra.


"Mmmhh" gumam Kyra sembari membuka matanya.


Pertama kali Kyra membuka matanya, wajah kakaknya lah yang ia lihat pertama kali. Entah mengapa wajah Eric yang tampan dan tengah tertidur pulas di hadapannya, membuat Kyra merasa nyaman dan aman.


Tanpa Kyra sadari kini tangannya telah berada di wajah Eric dan mengusap lembut pipi Eric.


"Kamu sudah bangun?" ucap Eric yang terbangun dari tidurnya.


"Hem" ucap Kyra dengan tersenyum kecil.


"Heem, aku masih ngantuk sekali, temani aku tidur lagi ya?" kata Eric lalu memeluk Kyra lebih erat.


"Kakak, ini sudah siang, bukankah seharusnya Kakak pergi ke kantor? Cepat bangun nanti terlambat loh" ucap Kyra.


"Hari ini aku libur, ingin tidur saja seharian denganmu" kata Eric dengan mata terpejam.


"Kakak ..." bisik Kyra sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Eric.


"Heem"


"Terimakasih sudah datang menolongku" ucap Kyra yang kini tengah membenamkan kepalanya ke dada bidang Eric.


Eric pun membuka matanya dan mengusap rambut Kyra.


"Tentu saja aku akan datang, kamu adalah hidupku aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti mu, aku berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terulang lagi" kata Eric.


"Aku tahu itu"


"Untung saja aku datang tepat waktu, kalau terlambat sedikit saja aku takut sesuatu yang lebih buruk akan menimpamu" ucap Eric.


"Memang benar, dia berencana akan membuang ku ke segerombolan preman jika dia sudah selesai dengan ku" kata Kyra sambil mendongakkan kepalanya memandang wajah Eric.


"Dasar bedebah sialan, dia benar-benar ingin mati rupanya" gerutu Eric.


"Tapi ... Kakak ... Bukankah Kakak juga bersalah, kakak bahkan membeli tanah toko bunga itu dan menyuruh orang untuk memperk*sa Luna, bahkan kakak lebih keji daripada dia. Luna tidak bersalah, akulah yang salah karena bisa terjebak rayuan kak Farel, tapi kenapa kamu menghukum Luna?" jelas Kyra dengan nada sedikit bergetar menahan air matanya.


Ia merasa sedih sekali karena kakak yang ia kagumi selama ini telah berbuat jahat kepada seorang gadis lemah seperti Luna.


"Apa maksudmu?" kata Eric yang bingung dengan perkataan Kyra.


"Kak Farel bilang, dia ingin membalaskan dendam Luna kepada ku, karena kakak telah menyakiti Luna"


"Kyra ... aku tidak melakukan apapun terhadap Luna" jelas Eric.


"Lalu kenapa kakak membeli tanah itu?" tanya Kyra sambil melepaskan pelukannya.


"Ck, aku membeli tanah itu hanya untuk berjaga-jaga saja, kalau nanti Farel menyakitimu aku bisa menggunakan tanah itu untuk membalasnya. Dan lagi, aku tidak ada hubungannya dengan Luna yang telah di perk*sa" jelas Eric.


"Benarkah?"


"Tentu saja, kamu tidak kepada ku?" kata Eric sambil menangkup kedua pipi Kyra.


"Kalau kakak sudah bilang seperti itu, mana mungkin aku nggak percaya"


"Maafkan aku Kyra. Ini semua salah ku" ucap Eric.


"Hemm" gumam Kyra sembari menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, ayo kita turun. Aku akan buatkan sarapan untuk mu" kata Eric sembari beranjak dari tempat tidur.


"Memangnya Kakak bisa masak?


"Kamu ngeremehin Kakak ya?"


"Iya lah ... uhhh" seru Kyra yang masih merasa sakit di lehernya.


"Kamu masih merasa sakit?" ucap Eric yang merasa khawatir dengan Kyra. "Mau Kakak bantu ke kamar mandi?" lanjut Eric sembari mengulurkan tangannya.


"Ish, aku bisa jalan sendiri tau" kata Kyra sembari menepis tangan Eric.


"Heh ... Dasar, ya sudah cepat pergi mandi sana. Nanti turun ke bawah untuk sarapan"


Eric pun berjalan keluar dari kamar Kyra, dan pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.


Kyra yang masih terduduk di atas tempat tidur, ia melihat ada seember air dan kotak obat di atas meja belajarnya.


"Semalam, Kakak mengobati lukaku? Kakak pengertian sekali, betapa bahagianya aku jikalau memiliki suami seperti kakak suatu hari nanti"


batin Kyra sembari melihat luka yang ada di leher dan beberapa memar di tubuhnya.


......................


"Kyra ... Ayo sarapan" seru Eric dan berjalan masuk ke kamar Kyra.


Eric pun berjalan menghampiri Kyra yang kini tengah berada di depan cermin sedang mengoleskan obat ke beberapa lukanya.


Eric pun merebut obat yang ada di tangan Kyra dan menarik tangan Kyra duduk di tepi ranjang.


"Sini!" ucap Eric sembari menarik Kyra agar lebih dekat dengannya.


"Aku bisa sendiri kak"


"Diamlah" kata Eric sembari perlahan mengoles obat ke leher Kyra.


"Ssssttt"


"Sakit ya?" ucap Eric lalu meniup luka yang ada di leher Kyra.


Kyra yang sedari tadi memandangi Eric yang ada di hadapannya, entah kenapa menjadi berdebar saat menatap wajahnya.


"Kakak, kalau kamu terus bersikap seperti ini kepada ku, takutnya aku akan terus bergantung kepada mu"


"Kamu kenapa?" ucap Eric yang seketika membuyarkan lamunan Kyra.


"Eeeemm ... Tidak apa-apa" kata Kyra dengan gugup.


"Dalam 3 hari lukamu pasti sudah memudar, jadi jangan khawatir kalau nanti ibu akan tau, aku sudah menyuruh pak samit untuk merahasiakan masalah tadi malam dari ibu dan ayah"


deggg


"Bagaimana kakak tau, kalau aku khawatir ibu dan ayah tau masalah ini? jika mereka tau, aku takut kesehatan ayah akan terganggu,"


"Sudah, ayo kita sarapan" kata Eric sembari mengulurkan tangannya.


Mereka berdua pun berjalan pergi menuju dapur sambil berpegangan tangan.


"Kak, Bi Mina belum datang ya?" tanya Kyra sembari berjalan menuju meja makan bersama Eric.


"Jelas belum lah, kalau sudah mana mungkin kakak buat sarapan sendiri" ucap Eric sembari menarikan kursi untuk Kyra.


"Jadi beneran kakak bisa masak?"


"Tentu saja" kata Eric sembari menyuguhkan sepiring nasi goreng dan secangkir teh hangat kepada Kyra.


"Awas ya kalau nggak enak" ucap Kyra sambil mengambil sesendok nasi goreng buatan Eric dan memakannya.


"Enak?"


"Hem ... lumayan," ucap Kyra. "Masakan Kakak enak juga, pasti sering memasak untuk pacarnya" gerutu Kyra.


"Kamu perempuan pertama yang aku mencicipi masakan ku, lagipula aku tidak pernah punya pacar" kata Eric yang mendengar ocehan Kyra sembari melahap sarapannya.


"Ish, aku nggak percaya, orang seperti kakak mana mungkin nggak pernah pacaran"


"Orang sepertiku memangnya kenapa?" tanya Eric.


"Kakak kan banyak duit, pengusaha muda dan ganteng lagi, man—"


"Wah, kamu memuji kakak ganteng? Akhirnya ... Kamu sadar juga kalau kakakmu ini ganteng" ucap Eric memotong kata-kata Kyra dengan bangganya sembari menarik turunkan alisnya.


"Kakak pede banget sih, tapi iya juga sih. Perempuan yang menjadi istri Kakak suatu hari nanti pasti sangat beruntung" gumam Kyra sembari menghabiskan sarapannya.


"Kenapa? Kamu cemburu ya?"


"Enggak"


"Kalau kamu nggak suka, Kakak juga nggak akan menikah" kata Eric dengan santainya.


"Kakak jangan ngelantur deh, kata adalah doa loh,"


"Hem ... Aku nggak peduli, asalkan kamu bersama ku, aku tidak peduli tentang hal lainnya apalagi soal pernikahan" ucap Eric tanpa pikir panjang.


deggg


"Apa sih Kak, mulai nggak jelas deh" ucap Kyra sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana?"


"Ke kamar, males ngomong sama Kakak, gak jelas" teriak Kyra sembari berjalan menaiki tangga.


"Hahahaha, dia imut sekali kalau lagi kesal" kata Eric sambil tersenyum melihat tingkah Kyra.


"Tapi aku tidak bercanda Kyra ... Asalkan kamu bersama dengan ku, itu sudah cukup, aku merasa sudah memiliki segalanya dan tidak tertarik dengan wanita manapun ... Andai saja aku bisa memilikimu seutuhnya Kyra ...."