What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 66



"Akh, sakit kak" rintih Kyra namun Eric tak mengidahkannya dan terus menyeretnya hingga ke basement.


"Masuk" kata Eric.


"Tapi kita mau kemana?''


"Aku bilang masuk" Eric pun menghempaskan Kyra ke dalam mobil.


"Akh" Kyra pun merasakan kram di perutnya.


Sementara Eric masuk ke dalam mobil dan dengan cepat melajukan mobilnya ke jalanan.


"Kak, kita mau kemana?" kata Kyra sedikit ketakutan melihat wajah Eric yang sedang terlihat sangat marah.


Eric tak menjawab dan hanya fokus ke jalanan.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah merah. Eric turun dari mobil dan segera menarik Kyra keluar.


"Akh, kak. Kamu menyakitiku" ucap Kyra hampir menangis.


Tanpa banyak bicara, Eric malah membawa Kyra ke dalam sebuah ruangan. Setelah Eric dan Kyra masuk terlihat di sana Susan dan Jacob sedang menunggu kedatangan Eric.


"Ah, Ric kamu sudah datang. Siapa yang akan kamu-" ucap Susan tertahan setelah melihat Kyra di samping Eric yang hampir menangis. "Kyra? Kamu juga datang?"


"Dia yang akan melakukan aborsi hari ini?" kata Eric dengan dingin.


"APA?" teriak Susan dan Jacob bersamaan.


Kyra yang mendengarnya seketika tubuhnya menjadi lemas.


"A-aborsi? A-Apa maksudnya kak?" ucap Kyra tak mengerti.


"Buang anak itu dari dalam perutmu. Aku tidak mau kamu mengandung anak laki-laki brengsek itu" ucap Eric tanpa melihat ke arah Kyra.


"Ric, ada apa ini? Kenapa Kyra yang melakukan aborsi?" kata Susan tak mengerti.


"Lakukan saja sesuai perintahku. Tidak usah banyak bertanya"


"Ric, pikirkan baik-baik. Jangan gegabah, kamu tau sendiri resikonya. Jangan sampai kamu malah melukai Kyra" ucap Jacob sedikit khawatir.


"Kalau aku tau Kyra yang akan datang, aku tidak akan mau melakukannya" tambah Susan.


"Kalian mau membantahku?" kata Eric dengan wajah datar.


"Aku tidak mau" gumam Kyra. "Aku tidak mau membunuh anakku sendiri" kata Kyra yang sudah tak mampu membendung air matanya.


"Kamu tidak bisa menolaknya" kata Eric dengan tegas.


"Tidak, aku tidak mau" kata Kyra yang kini sudah menangis ketakutan.


"Jangan membantah ku. Apa kamu tau, dia tidak mau mengakui anak itu. Jadi untuk apa kamu mempertahankannya" teriak Eric.


Plak


Satu tamparan keras Kyra mendarat di pipi Eric.


"Kyra ..." gumam Susan tak percaya.


Dengan mata merah dan juga marah, Kyra menatap Eric dengan penuh kecewa.


"Apa kakak pernah berpikir, meskipun di dunia ini tidak ada yang menginginkannya. Dia tetap saja adalah anakku" teriak Kyra penuh kemarahan dan juga rasa kecewa karena kakak yang selama ini ia cintai ingin anaknya mati, apalagi di dalam perut Kyra sebenarnya adalah anak Eric sendiri. "Ya, ayahnya memang tidak mau mengakuinya. Ayahnya memang brengsek. Ayahnya memang seorang pecundang yang lari dari kenyataan dan tidak mau bertanggung jawab. Karena itu, aku benci sekali kepadanya"


Deg


.


.


Seketika Eric merasa bahwa kata-kata Kyra menyakiti hatinya.


"Aku tidak mau tau. Kamu tidak boleh mengandung anak laki-laki lain" kata Eric lalu beranjak mengambil jarum suntik di nakas.


"Ric, apa yang akan kamu lakukan?" kata Jacob mencoba menghentikan.


"Ric, jangan gila" tambah Susan.


Setelah Eric memasukkan sebuah obat ke jarum suntik, ia pun menghampiri Kyra.


"Aku tidak mau ada laki-laki lain di dalam hidupmu, jadi biarkan dia pergi" kata Eric sambil menarik tangan Kyra.


"Ric, kamu gila ya" Susan pun hendak menghentikan Eric yang hendak menyuntikkan obat ke tangan Kyra.


"Mundur"


Satu kata dari Eric membuat Susan tidak mampu melanjutkan langkahnya.


"Kak Susan tolong aku, aku tidak mau" tangis Kyra menjadi-jadi saat Eric berhasil menancapkan jarum di tangan Kyra.


Pak


Tiba-tiba seseorang menepis tangan Eric.


"Kamu sudah gila ya" kata orang tersebut yang tak lain adalah Farhan.


"Kak, Farhan. Kak Farhan tolong aku, tolong aku hiks hiks. Dia mau membunuh anakku hiks. Tolong bawa aku pergi dari sini hiks" kata Kyra yang langsung memeluk Farhan.


Tubuh Kyra gemetar hebat karena merasa ketakutan dan air mata yang membasahi wajahnya.


"Kyra, tenanglah. Aku sudah di sini, tidak akan ada yang menyakiti mu" ucap Farhan sambil membalas pelukan Kyra.


Melihat Kyra menangis dan memeluk Farhan, hati Eric terasa sakit sekali, cemburu dan juga sedih bercampur menjadi satu.


"Lepaskan dia Farhan. Aku akan melenyapkan anak itu dari muka bumi ini" kata Eric.


"Jangan gila kamu Ric, kamu tidak ada hak untuk membunuhnya" kata Farhan sambil mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajah Kyra di balik dadanya untuk menenangkan Kyra yang masih ketakutan.


"Aku gila? Lihatlah, bahkan laki-laki busuk itu tidak mau mengakui kalau itu adalah anaknya. Aku akan membunuh anak laki-laki brengsek itu" kata Eric penuh amarah.


"Apa yang kamu maksud orang ini?" Farhan pun Melemparkan foto yang terjatuh dari tas Kyra. "Lihatlah dirimu sendiri, kamu bahkan tidak lebih brengsek dari dia. Kamu ingin menyakiti Kyra? Kamu ingin membunuh anak dari adikmu sendiri? Apa kamu buta? Dia bahkan sangat ketakutan sekarang. Sadar Ric, bukalah matamu dan buang rasa marahmu yang tak beralasan itu"


"Terlalu banyak bicara kamu Farhan, minggir. Aku akan tetap membunuh anak bajingan itu" Eric pun menarik paksa Kyra dari pelukan Farhan.


"Tidak tidak, lepaskan aku. Tidak, aku mohon jangan bunuh dia" teriak Kyra ketakutan.


"Ric, hentikan" kata Jacob.


Buagh


Satu pukulan keras Farhan mengenai rahang Eric dan membuatnya terjatuh.


"Jacob, lerai mereka. Ini bisa sangat fatal nanti" kata Susan khawatir.


''Haish, kenapa keadaan menjadi seperti ini" gumam Jacob hendak melerai Farhan yang terus melayangkan pukulannya kepada Eric.


"Kamu harus di pukul baru kamu bisa sadar Ric" kata Farhan sambil terus memukuli Eric.


"Kamu pikir aku takut?"


Buagh


Eric pun membanting tubuh Farhan ke lantai dan bergantian memukul wajah Farhan.


"Hentikan" teriak Jacob sambil menarik kerah Eric dan membuatnya berdiri.


"Lepaskan, dia sudah terlalu banyak ikut campur" kata Eric.


"Heh? Terlalu banyak ikut campur? Tentu saja" kata Farhan sambil berdiri. "Apa kamu tau jika aku menempatkan Ardan untuk selalu menjaga Kyra? Lalu, apa Ardan tidak tau tentang kejadian di hotel itu?" lanjutkan sambil menunjuk foto yang ada di lantai.


"Apa maksudmu?" kata Eric.


"Aku tanya kepada mu? Apa kamu menyelidiki siapa yang mengirim foto itu saat pertama kali melihatnya?" ucap Farhan namun Eric hanya diam saja. "Tidak kan? Tidak ada yang terjadi antara dia dan Kyra, dia memang kesana namun setelah itu langsung pulang. Dan aku sendiri melihat dia di rumah waktu aku mengantarmu yang sedang mabuk. Jadi, malam itu tidak ada yang terjadi antara mereka berdua" jelas Farhan.


"Apa? Kamu mengantar ku pulang saat mabuk?"


"Ya, waktu itu aku melihatmu di papah Serlyn dan aku yang menggantikannya membawamu masuk ke apartemen" kata Farhan.


"Apa?" Eric pun terkejut mendengar ucapan Farhan.


"Serlyn?" gumam Susan. "Ada apa dengan Serlyn sebenarnya? Aku merasa sedikit curiga"


"Jika Farhan yang membawa ku masuk saat itu, berarti Serlyn tidak ada di sana. Lalu, malam itu .... Kenapa dia bilang ... Apa jangan-jangan waktu itu aku tidak mimpi, dan orang yang bersamaku malam itu adalah ..." batin Eric.


Melihat Eric yang terdiam, Farhan pun segera mengalihkan pandangannya ke arah Kyra.


"Kyra, ayo kita pergi. Eh? Kemana Kyra?"