What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 96



Hari pun mulai petang. Eric yang sedari tadi berkelit dengan pekerjaannya kini sudah mulai lelah.


"Pak boss, waktunya pulang" kata Farhan setelah membuka pintu ruangan Eric.


"Hemmm ... Aku juga sudah selesai" kata Eric sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Emmm ..." gumam Farhan lalu masuk ke dalam ruangan Eric. "Apakah Kyra masih ada di rumah orang tuanya?"


"Ya, kenapa?" kata Eric sambil mengenakan jasnya.


"Tidak ada, aku hanya bertanya saja"


"Kenapa tidak ikut kembali? Aku sangat merindukannya. Aku juga ingin menanyakan apa jawaban Kyra waktu itu"


Eric pun menyeringai melihat Farhan.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan kalah darimu"


"Apa maksudmu? Kamu memang sengaja meninggalkannya di sana?" ucap Farhan penasaran.


"Tentu tidak, ayah yang meminta dia tinggal beberapa hari di sana. Ada apa? Kenapa kamu terlihat kesal?"


"Tidak. Siapa juga yang kesal"


"Baguslah, aku mau pulang dulu. Aku tidak ingin Kyra menungguku terlalu lama. Dia tadi juga mau pesan martabak. Huh, aku harus cepat pulang" kata Eric di buat-buat agar Farhan cemburu.


"Sial, dia mau pamer?" batin Farhan yang kini melihat Eric keluar dari ruangannya.


"Haishh ... Benar-benar" dengus Farhan kesal.


Sedangkan Eric kini berjalan keluar dari kantornya dengan merasa puas.


"Hehe, Farhan Farhan ... Kamu sudah kalah dariku" katanya sambil tersenyum senang. "Aku bahkan ingin melihat reaksimu ketika tau aku dan Kyra akan segera menikah. Pasti dia sangat syok" lanjutnya sambil masuk ke dalam mobil.


Segera mobil Eric pun melesat ke jalan raya. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah kedua orangtuanya. Sepanjang perjalanan, Eric tak berhenti tersenyum-senyum sendiri. Kini ia merasa bahagia dan juga sangat senang.


"Akhirnya, apa yang aku tunggu dan yang aku inginkan akan segera aku dapatkan" gumamnya sambil menyetir mobil. "Huhh, aku sudah tidak sabar menunggu bulan depan" lanjutnya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Setelah hampir satu jam perjalanan, Eric pun sampai di rumah kedua orang tuanya.


"Bu, aku pulang" sapa Eric kepada Bu Sofia setelah masuk ke rumah.


"Hemmm ... Ibu sudah membuatkan mu teh. Minum dulu" Bu Sofia pun menaruh secangkir teh ke meja makan.


Setelah Eric menaruh beberapa kantung plastik ke atas meja, ia pun duduk di kursi meja makan.


"Apa ini Ric?" ucap Bu Sofia sambil menunjuk kantung plastik tersebut.


"Ah itu tadi Kyra pesen martabak Bu"


Eric pun segera menyeruput tehnya.


"Ohhh, baguslah kalau dia mau makan sesuatu"


"Memangnya dia tidak mau makan?" ucap Eric sambil mengerutkan keningnya.


"Heeemm ... Dia tidak nafsu makan. Ibu sudah buatkan makanan apapun tapi tidak ada yang di sentuhnya" kata Bu Sofia yang kini duduk di hadapan Eric.


"Benarkah? Apa itu tidak apa-apa? Jika dia tidak makan sesuatu, kasihan bayinya. Apa aku perlu membelikan dia vitamin? Atau sesuatu yang bisa menambah nafsu makannya" kata Eric khawatir.


"Haaahhh ... Tenanglah Ric, itu biasa terjadi saat hamil muda. Beberapa bulan ke depan, dia akan normal normal saja. Malah mungkin banyak makan"


"Benarkah Bu? Aku khawatir dia kenapa-kenapa"


"Kamu tidak perlu khawatir. Itu adalah hal yang wajar" kata Bu Sofia dengan santainya.


"Lalu di mana dia sekarang?"


"Dia ada di kamar, sejak sore tadi dia bilang mengantuk"


"Baiklah, aku akan ke atas untuk melihatnya" Eric pun menenggak sisa teh yang ada di cangkirnya.


"Hem, pergilah"


Eric pun segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar Kyra.


Setelah di depan pintu, Eric segera masuk ke kamar Kyra. Ia mendapati Kyra tengah tertidur pulas di balik selimutnya.


Setelah menutup pintu Eric tersadar jika dia tadi pulang kerja langsung duduk di meja makan dan belum membersihkan dirinya. Demi keselamatan dan kesehatan Kyra juga anak yang ada di dalam perutnya, Eric pun pergi ke kamar mandi Kyra karena malas jika harus balik ke kamarnya.


Setelah mandi dan membersihkan diri, Eric pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono milik Kyra, karena baju yang ia pakai tadi sudah kotor.


Sambil mengusap kepalanya dengan handuk, Eric berjalan menghampiri Kyra yang tertidur pulas.


Perlahan dia duduk di tepi ranjang, tidak ingin membuat Kyra terbangun karena pergerakkannya.


"Hemm, kamu pasti kelelahan ya?" bisik Eric sambil mengusap rambut Kyra.


Kyra masih saja tertidur pulas. Namun beberapa saat kemudian, wajahnya mulai mengeluarkan buliran keringat dan wajahnya berubah pucat pasi.


"Hah? Kamu kenapa?" Eric pun khawatir dan menaruh telapak tangannya di dahi Kyra. "Kamu tidak demam kok"


"Ti ... Dak ... Jang ... Ngan ..." gumam Kyra dalam tidurnya dengan suara serak.


"Kamu mimpi buruk ya?" Eric pun mengubah posisinya dan naik ke atas ranjang.


"Jangan, aku mohon" kata Kyra yang sekarang malah semakin keras.


"Sayang, bangunlah" Eric pun menepuk-nepuk pipi Kyra dengan lembut.


"Hiks hiks hiks, aku mohon jangan ... Tolong biarkan dia hidup hiks hiks" gumaman Kyra pun berubah menjadi isakkan tangis.


"Kyra ... Sayang ... Bangunlah"


"Jangan, tolong ampuni kami ... hiks hiks hiks hiks"


"Kyra ..." Eric pun mengguncangkan tubuh Kyra agak sedikit keras.


"Hah" dengus Kyra saat membuka matanya.


Eric pun segera mengambil gelas berisi air putih di atas nakas dan memberikannya kepada Kyra.


"Ayo bangun, ini minum dulu"


Kyra segera duduk dan menengguk air pemberian Eric.


"Sudah?" kata Eric sambil mengambil gelas dari tangan Kyra.


Kyra pun mengangguk. "Huh, aku takut sekali"


Eric meletakkan gelas ke atas nakas kembali.


"Sini" Eric langsung menarik Kyra ke dalam pelukannya. "Kamu mimpi buruk?"


"Hemm" gumam Kyra sambil menyeruakkan wajahnya ke dada bidang Eric. "Aku takut"


"Takut apa? Aku ada di sini, apa yang perlu kamu takutkan" Eric pun mengecup pucuk kepala Kyra.


"Aku bermimpi bertemu seorang wanita yang ingin membunuh anak kita. Dia sangat kejam dan mengerikan. Aku takut"


Eric pun mengusap kepala Kyra untuk menenangkannya. "Itu hanya mimpi sayang. Hanya bunga tidur. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada kalian"


Kyra semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan pergi, aku merasa tenang jika berada di samping kakak"


"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan menemanimu di sini"


"Hemm" Kyra menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Kyra sadar ada yang aneh dari kakaknya itu.


"Kak" Ia Manarik diri dari pelukan Eric. "Bukankah ini kimono ku?" lanjutnya sambil menunjuk kimono yang di pakai Eric.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kenapa kakak memakai itu?" Kyra pun menahan tawanya.


"Aku tadi ingin segera menemuimu karena ibu bilang kamu tidak nafsu makan. Aku lupa kalau aku belum membersihkan diri. Jadi aku mandi di sini, pakaian ku kotor. Jadi aku pakai handukmu"


"Oh, sebentar sebentar" Kyra pun beranjak dan mencari-cari ponselnya. "Diam di situ"


Cekrek


"Apa yang kamu lakukan?" protes Eric.


"Hahaha, aku ingin mengabadikan momen ini. Lihatlah kakak lucu sekali pakai warna pink" kata Kyra dengan tertawa geli.


"Kyra, hapus gak?"


"Gak mau, lucu tau"


"Lucu darimana? hapus Kyra" Eric berusaha merebut ponsel dari tangan Kyra.


"Tidak mau hahahaha" Kyra pun berusaha menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya.


"Kyra"


Bruuukkk


Tak sengaja Eric pun jatuh menindih tubuh Kyra.


"Oh, apakah aku melukai perutmu. Maafkan aku" kata Eric merasa bersalah ketika melihat Kyra terdiam.


"Kakak" ucap Kyra dengan menatap mata Eric.


"Ya?"


"Kamu menggodaku"


"Apa?'


Dengan cepat Kyra pun melingkarkan lengannya di bahu Eric dan melu*at bibir Eric bagaikan singa kehausan.