
Pagi harinya, seperti biasa Kyra sedang bersiap untuk pergi ke kampus. Ketika ia keluar dari kamarnya, dia mendapati Eric dan Serlyn tangah berada di meja makan.
"Apa yang dia lakukan, kenapa dia sudah ada di sini?" gerutu Kyra.
Kyra pun menghampiri mereka.
"Kakak, apa kamu sudah baikan?" tanya Kyra.
Eric hanya diam saja dan masih melanjutkan meminum secangkir teh.
"Kakak, Kenapa dia ada di sini?" tanya Kyra lagi namun masih sama, Eric tidak mau menjawabnya.
Serlyn yang sedari tadi duduk di samping Eric hanya tertawa sinis melihat tingkah Kyra.
Eric pun bangkit dari tempat duduknya. "Serlyn aku sudah kesiangan, terimakasih untuk obat dan sarapannya" ucap Eric.
"Tidak masalah tuan" jawab Serlyn.
"Kakak, kakak sakit, kenapa tidak memberitahuku" kata Kyra sambil memegangi lengan Eric.
Eric pun melepaskan tangan Kyra dengan kasar.
"Ayo Serlyn, aku akan mengantarmu ke rumah sakit, sekalian akau akan pergi ke kantor" ucap Eric sambil menggandeng tangan Serlyn dan pergi dari ruangan itu.
"Kakak, apa kamu tidak mau mengantar ku ke kampus, biasanya juga kamu yang mengantarku" kata Kyra sambil berlari kecil mengejar Eric.
Mendengar ucapan Kyra, Eric pun menghentikan langkahnya.
"Bukankah kamu sudah ada bodyguard dari Farhan. Pergi saja dengannya, kenapa kamu masih ingin mengusikku" ucap Eric tanpa melihat Kyra dengan nada bicara yang dingin.
Seketika Kyra pun membeku mendengarnya, ia tidak percaya. Kakak yang selama ini baik dan hangat kepadanya kini berubah menjadi orang lain.
Eric dan Serlyn pun pergi dari apartemen tersebut meninggalkan Kyra yang masih terdiam di tempatnya.
"Kakak ... Jangan seperti ini ... hiks" gumam Kyra sambil mengusap air matanya.
Kyra pun berjalan keluar dari apartemen dan hendak pergi ke kampusnya.
Kini ia sedang berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi, beberapa hari yang lalu, Kyra meminta Ardan untuk tidak menjemputnya karena Eric sudah pulang. Dia bilang kepada Ardan akan berangkat dengan kakaknya setiap hari, namun siapa sangka, kini Eric bersikap acuh kepadanya.
"Duh, taksinya mana nih?" Sambil celingak-celinguk mencari taksi lewat. "Kalau begini, aku bisa telat"
Tak lama kemudian, munculah sebuah mobil dan berhenti tepat di depan Kyra. Kaca mobil itu pun turun dan memperlihatkan seseorang yang berada di dalam sana.
"Kyra" sapa pemuda yang ada di dalam mobil tersebut.
"Kak Zian?"
"Hem, sedang apa kamu disini?" tanya Zian.
"Aku sedang menunggu taksi, kak Zian kok bisa ada di daerah sini?"
"Oh, aku kebetulan sedang mengantar sarapan kakakku ke tempat kerjanya, jadi aku tadi lewat sini" jelas Zian. "Ayo masuklah, ayo kita ke kampus bareng"
"Tidak perlu kak, aku naik taksi aja" kata Kyra.
"Beneran? Kalau menurutku, di sini udah nggak ada taksi lewat loh, dan juga sebentar lagi kelas akan di mulai" ucap Zian.
"Iya juga sih, apa aku harus bareng kak Zian? ... Ah nggak apalah, lagian kakak juga tadi nggak mau nganterin aku" Batin Kyra. "Baiklah, aku bareng kak Zian aja kalau begitu"
"Bagus, cepat masuklah" ucap Zian.
Kyra pun berjalan menuju mobil Zian dan masuk ke dalam mobil tersebut.
"Sudah?" tanya Zian pada Kyra yang kini duduk di sampingnya.
Kyra hanya menganggukkan kepalanya dan Zian pun mulai melajukan mobilnya menuju kampus.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di kampus. Semua orang yang berada di sana tengah memandang Kyra yang baru saja turun dari mobil Zian.
"Bukankah itu Kyra?" bisik salah satu dari mereka.
"Dia datang bersama Zian, apakah mereka pacaran?"
"Tidak mungkin, hanya ke kampus bareng mana mungkin bisa di sebut pacaran"
"Mungkin saja, Zian kan sudah lama menyukai Kyra"
"Yah, setahu ku, Kyra sudah punya pacar. Pacarnya bahkan terlihat seperti CEO perusahaan"
"Iya, Aku juga pernah melihatnya berciuman dengan pacarnya itu di depan kampus"
"Benarkah? kalau sudah punya pacar kenapa masih mendekati pria lain"
"Wah, aku tidak percaya jika Kyra seperti itu, dia terlihat seperti anak baik-baik dan polos"
"Halah, jaman sekarang jangan suka terpengaruh oleh tampang seseorang"
"Betul juga ya"
"Apa mereka sedang membicarakan ku?" batin Kyra. "Kalau begitu terimakasih ya kak, aku mau ke kelas dulu"
"Ada apa?" Kyra pun melepaskan tangan Zian.
"Nanti makan siang bersama yuk" kata Zian.
"Maaf kak, aku nggak bisa"
"Kok gitu, bukanya kemarin kamu bilang iya" Sambil memasang wajah memelas.
"Tapi,..." ucap Kyra menggantung.
"Ya sudah kalau nggak mau" Zian pun beranjak meninggalkan Kyra.
"Duh, dia marah ya ... Tapi kalau dia berbuat nekad lagi gimana? Bisa-bisa nanti aku disalahkan kalau dia kenapa-kenapa" batin Kyra.
"Kak tunggu" Kyra pun berlari mengejar Zian.
Zian mulai tersenyum senang, namun dia tidak ingin menghentikan langkahnya.
"Kak, baiklah ... Nanti aku akan makan siang bersama kakak" ucapa Kyra.
Zian pun menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Kyra.
"Benarkah?"
"Iya, tapi aku ajak Nuril sama Mikha ya" ucap Kyra, karena dia tidak mau digosipkan dengan Zian.
"Hemm? Baiklah" ucap Zian. "Nanti aku akan ke kelas mu ketika jam makan siang"
"Tapi ..."
"Sudahlah, ayo ... Aku akan sekalian mengantar mu ke kelas" kata Zian sambil menarik tangan Kyra.
"Tapi kak ..."
...----------------...
Jam makan siang pun telah tiba, Kyra, Zian, Nuril, dan Mikha kini sedang makan siang bersama.
"Kyra, makanlah ini ... " ucap Zian sambil menaruh sebuah daging di piring Kyra.
"Tapi kak ..."
"Makanlah" sanggah Zian sambil tersenyum.
Kyra hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa dengan Kyra? kenapa dia menuruti kata kak Zian?" bisik Mikha.
"Memangnya kenapa?" ucap Nuril.
"Ya aneh aja, dia kan biasanya menjauhi kak Zian" bisik Mikha lagi.
"Tau deh, itu kan urusan mereka" ucap Nuril dengan cuek.
"Ish kamu ini kenapa sih, setiap kali aku bahas Kyra, kamu selalu cuek begitu" kata Mikha.
Nuril hanya diam saja dan melanjutkan makan siangnya.
"Kyra" kata Mikha.
"Ya"
"Apa kakakmu sudah pulang?" tanya Mikha.
Mendengar ucapan Mikha, Zian dan Nuril pun menghentikan kegiatan makannya.
"Sudah, dia sudah pulang dari kemarin lusa" jelas Kyra dengan santainya.
"Oh, lalu kenapa kamu tadi berangkat dengan kak Zian, bukanya kamu selalu di antar kakakmu ya?" lanjut Mikha.
"Kakak sedang sibuk hari ini, dan tadi aku nggak sengaja ketemu kak Zian dan berangkat bareng"
"Emm, Kyra ka—"
"Kyra, apa kita boleh main ke apartemen mu" ucap Nuril memotong kata-kata Mikha.
"Hem, ada apa? kenapa tiba-tiba ingin ke apartemen ku?" tanya Kyra.
"Ya, kita kan nggak pernah main ke rumahmu, alamatnya aja nggak tau" kata Nuril.
"Tapi, kakak ..."
"Bujuk saja dia Kyra, kita hanya main masa iya nggak boleh" sanggah Nuril.
"Nggak usah di paksakan kalau emang nggak bisa Kyra" ucap Mikha yang melihat ekspresi Kyra seperti kebingungan.
"Emm .. Aku akan mempertimbangkannya, nanti aku akan bicara sama kakak" ucap Kyra.
"Nah gitu dong" ucap Nuril lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Zian dan di balas senyuman kecil olehnya.