
Keesokan harinya, Eric terbangun dari tidurnya. Ia pun menoleh ke samping dan terlihatlah Kyra tengah tertidur lelap di sampingnya.
Eric pun mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Kyra. Ia pun menyibakkan anak rambut Kyra yang menutupi wajahnya.
"Cantik" gumam Eric ambil tersenyum.
Beberapa saat, Eric terus saja mengamati wajah Kyra. Namun tiba-tiba wajah yang tenang itu berganti menjadi gusar, dan terlihat dahi Kyra mengerut menandakan sedang menahan sesuatu.
"Hoek"
Seketika Kyra langsung terbangun dari tidurnya dan segera berlari ke kamar mandi.
"Eh, baru bangun langsung lari. Nanti kamu malah pusing"
Eric pun mengejar Kyra ke kamar mandi.
"Hoek Hoek"
Kyra pun mengeluarkan seluruh isi perutnya di wastafel.
"Kamu masih sakit? Kenapa terus muntah muntah dari kemarin? Ke rumah sakit ya?" kata Eric sambil memijat tengkuk Kyra.
Setelah membasuh wajahnya Kyra pun berjalan gontai hendak kembali ke ranjangnya.
"Kamu benar benar masih sakit" ucap Eric sambil memapah Kyra. "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang"
"Gak perlu kak, aku sudah mendingan"
Eric pun membantu Kyra berbaring di atas ranjang.
"Aku khawatir sekali sama kamu Kyra, setidaknya kita tau kamu sedang sakit apa" kata Eric sambil mengusap lembut kepala Kyra.
"Tidak apa kak, mungkin efek minum minum kemarin belum hilang"
"Gak mungkin, mana mungkin efek minum sampai dua hari gak ilang ilang. Dah ayo pergi ke rumah sakit"
"Gak mau" ucap Kyra manja.
"Kyra ... menurutlah sedikit"
"Gak mau gak mau. Pokoknya gak mau"
"Hadeuh" Eric pun menghela nafas panjang.
"Kakak pergi ke kantor saja, bukankah kakak sedang sibuk"
"Mana bisa aku meninggalkan mu sendirian saat sedang sakit seperti ini"
"Aku gak papa kok, udah mendingan. Nanti istirahat juga sudah sembuh. Sana pergi"
"Gak ma-"
Sebelum Eric melanjutkan kata-katanya. Ponselnya pun berbunyi dan terlihatlah Farhan sedang meneleponnya.
"Ada apa Farhan?" ucap Eric yang sedang mengangkat telepon.
"Ada rapat satu jam lagi. Dan ini penting, kamu sudah tidak datang ke kantor kemarin. Hari ini hari harus datang, rapat kali ini sangat penting" kata Farhan dari balik telepon.
Eric pun mengalihkan pandangannya ke arah Kyra.
"Pergilah" ucap Kyra lirih.
"Baiklah Farhan, aku akan segera berangkat"
Eric pun memutuskan panggilannya.
"Apa tidak apa-apa aku tinggal sendirian?"
"Hem ... aku tidak apa-apa" kata Kyra sambil tersenyum manis.
"Baiklah, aku akan ganti baju dulu"
Eric pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
"Haahh, ada apa dengan ku? Aku merasa sangat lemas dari kemarin? Apa jangan-jangan aku anemia ya? Ah, Kyra kamu bodoh sekali sih. Kamu masuk jurusan kedokteran tapi tidak tau sedang sakit apa sekarang. Dasar bodoh" gerutu Kyra memaki dirinya sendiri.
Setengah jam kemudian, Eric pun kembali ke kamar Kyra dengan pakaian yang sudah rapi.
Eric pun duduk di samping Kyra, dan menatapnya tak tega.
"Aku akan ke kantor sebentar, setelah rapatnya selesai aku akan segera pulang. Kamu baik-baik ya di rumah. Jika ada apa-apa langsung hubungi kakak" ucap Eric.
"Iya kak, jangan terlalu memikirkan ku. Nanti malah gak fokus kerja"
"hufft, baiklah. Aku sudah siapkan sarapan di meja makan. Aku akan pergi sekarang" kata Eric sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Hati-hati di jalan" Kyra pun tersenyum manis memandang Eric.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Kyra.
"Aku akan segera pulang"
Dengan berat hati Eric pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kyra.
"Hoooamm ... Kenapa aku mengantuk sekali? Ah tidur aja deh"
Kyra pun meringkuk kembali ke dalam selimutnya.
...----------------...
Di sisi lain, Eric sudah sampai di kantor. Di sana ia di sambut Farhan yang terlihat sangat panik.
"Ada apa?" kata Eric langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Kemana dia?"
"Setelah kembali dari luar kota bersama Susan, dia langsung balik ke Korea karena ada kerjaan"
"Lalu di mana Susan?"
"Dia sedang kebingungan saat ini"
"Bagaimana bisa kalian kewalahan dengan masalah sekecil ini" ucap Eric sambil berdecak.
Eric pun pergi ke ruang rapat di ikuti oleh Farhan di belakangnya.
Setelah satu jam berlalu, mereka pun kembali dari rapatnya.
"Hufft, akhirnya kelar juga" kata Susan yang kini merebahkan punggungnya di sofa ruangan Eric.
"Kenapa kalian ceroboh sekali. untung saja Eric bisa mengatasinya" ucap Jacob.
"Tau, kau dan artis abal-abal itu emang gak bisa di andalkan" imbuh Farhan.
"Dasar bocah, bukan gak becus. Emang sedang sial aja" dengus Susan.
Eric pun duduk di kursinya sambil menatap keluar jendela.
"Apa dia tidak apa-apa di rumah sendirian? Sebaiknya aku langsung pulang saja" gumam Eric.
"Ric, apa yang sedang kamu pikirkan?" kata Jacob.
Eric lalu memutar kursinya menghadap mereka.
"Tidak ada, aku hanya sedang mengkhawatirkan Kyra"
"Ada apa dengannya?" tanya Susan.
"Sejak pulang dari makan malam, di sakit. Jadi aku agak nggak tega ninggalin dia sendirian"
"Lalu apa yang kamu tunggu? cepat pulang sana" kata Farhan.
"Bukankah kita masih ada rapat?"
"Ya, tapi untuk yang satu ini kita bisa mengatasinya" kata Jacob.
"Baiklah, kalau begitu"
Sebelum Eric beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba pintu ruangan pun di ketuk seseorang.
"Masuklah" kata Farhan.
Dan terlihatlah seorang karyawan laki-laki masuk ke dalam ruangan tersebut sambil membawa sebuah amplop di tangannya.
"Maaf tuan, ada kiriman untuk tuan Eric" katanya sambil menyodorkan amplop tersebut ke hadapan Eric.
Eric pun mengambil amplop tersebut. "Hem, terimakasih"
"Permisi tuan"
Karyawan itupun keluar dari ruangan Eric.
Dengan cepat Eric pun membuka isi amplop tersebut, karena dia sedang terburu-buru ingin pulang.
"Apa isinya Ric?" kata Farhan penasaran.
"Entahlah"
Eric pun mengambil isi dari amplop tersebut. Seketika Eric membulatkan matanya, rahangnya mengeras ketika melihat foto yang ada di tangannya.
"Kenapa wajahmu syok sekali. Sini aku lihat" kata Farhan hendak mengambil foto tersebut namun dengan cepat Eric memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Kamu gak perlu tau" kata Eric dengan kesal.
Mereka pun menatap Eric keheranan.
Eric pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Dadanya bergemuruh, menahan kesal karena melihat foto tersebut yang tak lain adalah foto Zian dan Kyra yang sedang berpelukan di dalam kamar hotel.
Rasa cemburu dan marah kini sedang menguasai kepala Eric. Ia ingin segera pulang dan meminta penjelasan dari Kyra mengenai foto tersebut.
Dengan cepat Eric melajukan mobilnya menuju ke apartemen.
Setelah sampai, dengan keras Eric membanting pintu apartemen dan pergi mencari Kyra. Langkahnya langsung tertuju ke kamar Kyra.
"Kyra" ucap Eric setengah berteriak sambil membuka pintu kamar Kyra.
Ia pun menemui Kyra yang sedang tertidur di atas ranjangnya.
"Kyra bangun, cepat jelaskan ini apa maksudnya" kata Eric dengan nada kesal sambil menunjuk foto tersebut.
Kyra malah tak bergeming dan masih memejamkan matanya.
"Kyra, bangun. Apa yang sudah kamu lakukan sama dia di kamar hotel? Kamu mulai nakal sekarang, pacaran pake pergi pergi ke hotel?" ucap Eric namun Kyra masih tak bergeming. "Kyra, jangan pura-pura tidur. Cepat bangun, kakak mau kamu jelaskan ini semua" Eric pun semakin kesal karena Kyra tak kunjung meresponnya.
"Kyra" teriak Eric sambil membuka selimut Kyra dan memegang tangannya.
Kyra masih saja tak bergeming.
"K-kyra" ucap Eric lirih sambil duduk di samping Kyra.
Ia pun menempelkan telapak tangannya di dahi Kyra.
"Ya ampun, kamu demam? Astaga"
Eric pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Farhan, bawa mobil ke apartemen ku sekarang juga" teriak Eric lalu mematikan ponselnya setelah berbicara.