
Tiga hari sejak kejadian di hotel sudah berlalu, Eric juga sejak saat itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani Kyra dan bekerja dari rumah.
Farhan juga sudah pindah ke rumah merah agar bisa menjaga Farel yang telah di kurung Eric selama beberapa hari.
Eric juga mengutus Farhan untuk merekrut beberapa anak buah Farhan yang terlatih untuk menjaga rumah Eric, ia tidak ingin kejadian penculikan kepada Kyra terulang lagi karena lemahnya penjagaan di rumah itu.
Suatu hari di sore hari, Eric duduk di ruang tengah sembari meminum teh dan membaca beberapa berkas yang telah di siapkan Farhan beberapa waktu yang lalu.
"Kak ..." ucap Kyra yang tengah berjalan menuruni tangga.
"Hemm"
"Aku bosan di rumah" kata Kyra sembari berjalan menuju ke arah Eric.
"Terus? Kamu mau jalan-jalan?"
"He'em, temani aku ya?" ucap Kyra.
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Kemana saja, yang penting nggak di rumah terus" ucap Kyra.
Eric pun terpikirkan ingin mengajak Kyra ke rumah merah dan sekaligus ingin mengenalkannya kepada Jacob dan Susan.
"Eemm, kalau begitu, kakak akan mengajakmu menemui teman kakak, mau?"
"Yang baru saja datang dari luar negeri itu?"
"Hemm"
"Boleh lah, kak Farhan saja baik dan ramah, mungkin teman-teman kakak yang lainya nggak jauh beda sama kak Farhan" ucap Kyra.
"Berani-beraninya kamu memuji pria lain di depanku" batin Eric.
"Kalau begitu, aku ganti baju dulu ya" kata Kyra yang hendak pergi ke kamarnya namun di tahan oleh Eric.
"Kenapa?"
"Pakai ini, tadi aku belikan beberapa baju yang kerahnya agak tinggi, kalau di rumah hanya aku yang melihat mu, jadi saat keluar rumah lebih baik pakai pakaian seperti ini" ucap Eric sembari memberikan paper bag kepada Kyra.
"Terimakasih, Kakak memang yang terbaik" seru Kyra sembari tersenyum manis dan pergi menuju ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian Kyra pun keluar dari kamarnya, Eric yang sedari tadi menunggu di ruang tengah kini telah terpesona oleh kecantikan Kyra.
Sepanjang Kyra melangkahkan kakinya dari Kamar, Eric bahkan tak berkedip melihatnya. Tubuh mungil Kyra yang kini berbalut sweater rajut kerah tinggi yang berwarna merah bata yang di sesuaikan dengan jeans warna hitam, lalu rambut indah Kyra yang di gerai di tambah aksesoris jam tangan kecil.
Meskipun penampilan Kyra yang sederhana tapi membuat Eric terpana dan terpesona olehnya.
"Ayo Kak"
"Kakak!" teriak Kyra yang melihat Eric diam melamun.
"Eh iya, ayo" kata Eric.
Lalu mereka berdua pun pergi dengan menaiki mobil.
...----------------...
Sesampainya di rumah merah, Kyra di sambut baik dengan Jacob, Susan, dan Farhan.
"Hay, kamu pasti yang namanya Kyra kan? kamu lebih imut dari yang aku bayangkan" ucap Susan.
"Ah, Kakak bisa aja, Kakak juga pasti yang namanya Kak Susan" balas Kyra.
"Kok kamu bisa tau?" tanya Susan.
"Kak Eric yang memberi tahuku, dia menceritakan semuanya tentang kalian"
"Ish, benarkah? Apa saja yang dia katakan kepada mu?" bisik Susan sembari merangkul Kyra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Farhan, bagaimana dengan dia?" kata Eric.
"Seperti katamu, aku sudah mengurungnya di belakang. Tapi untuk yang lainnya urus sendiri ya, aku tidak cocok dengan gaya kasar"
"Baiklah, kamu temani Kyra saja, aku akan pergi melihatnya bersama Jacob" ucap Eric sembari berjalan menuju ke ruangan paling belakang di rumah merah bersama Jacob.
Sesampainya di ruangan itu Jacob pun membukakan pintu dan Eric pun berjalan masuk.
Di ruangan gelap itu terlihatlah Farel yang tengah tergeletak di lantai.
"Jack, apakah kamu memberinya makan beberapa hari ini dan mengobati lukanya?" ucap Eric sembari menyulut sebuah rokok di tangannya.
"Tentu saja, bahkan aku tidak menyentuhnya seperti yang kamu katakan" jelas Jacob.
"Bagus, bangunan dia" kata Eric sambil menghisap rokoknya.
Jacob pun mengangguk dan berjalan menghampiri Farel sambil membawa sebotol air mineral dan mengguyurkan nya ke wajah Farel.
"Uhuk uhuk"
"Ayo bangun" kata Jacob sembari berjalan pergi dari Farel.
Eric yang sudah bisa membaca gerakannya, dengan sigap menepis tangan Farel.
"Kau, apa yang kau inginkan dengan mengurungku di sini?" seru Farel dengan nada sedikit kesal.
"Oh, maaf. Sepertinya kamu terlalu lama di sini ya, aku sibuk menenangkan adikku dari perbuatan mu itu, jadi aku tidak sempat mampir" ucap Eric yang bersandar di sudut meja sembari menghisap rokoknya.
"Cih, aku bahkan belum melakukan apapun kepada si bodoh itu, dia bahkan sangat ketakutan. Memang wanita yang lemah, hanya bisa menangis dan berlindung di belakang laki-laki" ejek Farel.
Eric pun menjentikkan jarinya memberi tanda kepada Jacob untuk memukul Farel. Jacob pun memukul perut Farel dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
"Bagus sekali, aku sudah lama tidak meregangkan otot ku" ucap Jacob sembari menggerak-gerakkan tangannya.
"Hahahaha, aku bahkan tidak menyangka kalau kau orang yang sangat kejam, apakah kamu juga seperti ini menyiksa Luna hah?" teriak Farel yang masih menganggap Eric yang telah mencelakai Luna.
Eric yang mendengar kata-kata Farel, kini berjalan menghampirinya lalu duduk di samping Farel dan menghembuskan asap rokok ke wajah Farel.
"Aku bahkan tidak menyentuh wanita mu, tapi kamu berani-beraninya menyentuh orang ku dan bahkan sudah mencicipinya, bukankah aku harus memperhitungkannya?"
"Kau pembual!" teriak Farel di depan wajah Eric.
"Heh, aku pembual? Lalu kau apa? pecundang?" ucap Eric sembari memberikan tatapan merendahkan kepada Farel. "Kau bahkan tidak bisa menjaga satu wanita, apakah kau patut di sebut lelaki?" ejek Eric.
"Dasar kau bajing*n!" teriak Farel kesal lalu melayangkan pukulan ke wajah Eric.
Sebelum Farel berhasil memukul Eric, Jacob dengan cepat meninju wajah Farel sehingga membuatnya terjatuh kembali.
"Heh ... Kau itu memang pecundang, kau bahkan tidak tau ada serigala yang mengintai di belakangmu, kalau aku menjadi dirimu. Aku akan menjadi orang yang kuat dan paling berkuasa agar aku bisa melindungi orang yang ada di sekitarku"
"Apa maksudmu? kau bahkan berani melukai Luna yang seorang wanita, kau bahkan tidak lebih dari seorang bajing*n" ucap Farel sembari berusaha berdiri.
"Apa maksudku? setelah mendengar penuturan Kyra, aku langsung mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan kekasihmu itu, tak ku sangka, bahwa kamu memang benar-benar orang yang sangat bodoh"
"Apa maksudmu?" tanya Farel tak mengerti.
"Bukan aku yang melakukannya, tapi ayahmu" ucap Eric dengan tegas.
"Apa?" gumam Farel tak percaya.
"Ck ck ck, setelah kau menghancurkan rencananya dan tidak jadi menikah dengan Kyra, apakah dia akan diam saja hah? kau ini memang bodoh, dia bahkan bisa membunuhmu jika kau menghalangi tujuannya" jelas Eric.
"Papa?" gumam Farel yang masih tidak percaya.
"Aku lupa, ada papa dan kak Jony yang bisa mencelakai Luna, kenapa aku tidak berfikir sampai ke sana? aku bahkan menyalahkan semuanya kepada Kyra" batin Farel.
"Aku bukan anaknya, tapi sepertinya aku lebih tau sifatnya dari pada kamu" ucap Eric. "Kamu hanya laki-laki lemah, untung saja adikku tau dirimu yang sebenarnya, jika tidak bagaimana bisa kamu melindunginya" lanjut Eric.
"Kamu ...."
"Apa? aku bahkan tau, yang memperk*sa Luna adalah anak buah kakakmu bukan hanya sekedar preman jalanan, dia menggunakan Luna untuk memperingatkan mu agar tidak macam-macam dengannya. Huft ... taktik seperti ini saja kamu bahkan tidak tau, dasar payah." jelas Eric.
Farel pun hanya terdiam, dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu bodoh dan lengah hingga tidak bisa melindungi Luna orang yang sangat di cintanya.
"Jack, setelah aku pergi dengan Kyra dari sini, keluarkan dia" ucap Eric kepada Jacob.
"Hah? Itu saja?... Aish, ini tidak mengasikkan, aku bahkan hanya bermain dengan dua pukulan saja" gerutu Jacob jengkel.
"Dia itu hanya laki-laki lemah, bukan tandingan mu, kamu melawan dia sama saja kamu melawan perempuan" ejek Eric dan hendak pergi. "Tapi, kalau suatu saat dia menyentuh orang-orang ku, kamu boleh mematahkan tangannya" ucap Eric dengan nada mengancam lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Kyra yang sedari tadi di temani oleh Farhan dan juga Susan di ruang tamu terlihat sangat ceria daripada hari-hari sebelumnya.
"Kakak ... kamu dari mana saja?" ucap Kyra yang melihat Eric baru saja kembali dari ruang belakang.
"Heemm, Kakak ada urusan sedikit, ayo kita pulang!" kata Eric sembari mengulurkan tangannya.
"Pulang? aku bahkan belum puas bermain dengan Kyra" seru Susan.
"Ini sudah malam, waktunya untuk pulang" ucap Eric.
"Kyra, menginap saja di sini ya, kita bisa berbincang-bincang menghabiskan satu malam bersama" bisik Susan membujuk Kyra.
"Sudah, ayo pulang" kqta Eric sambil menarik tangan Kyra.
"Hey, adikku bahkan belum berkata iya, kenapa kamu seenaknya saja menyeret dia?" kata Susan.
"Sejak kapan dia menjadi adikmu?"
"Tadi barusan, dia bilang ingin sekali punya kakak perempuan. Daripada kakak laki-laki yang selalu menindasnya" ejek Susan.
"Hey, kau ja—"
"Eiiihh, sudah-sudah jangan ribut, kak Susan, lain kali aku datang ke sini ya, sekarang aku pulang dulu" ucap Kyra sembari menggandeng tangan Eric dan berjalan ke luar dari rumah merah.
"Hu hu hu hu, adik Perempuanku" gerutu Susan seperti anak kecil.
"Iih, amit-amit, jijik banget aku liat mukamu yang lebay itu" kata Farhan yang sedari tadi duduk di samping Susan.
"Aish, mau di gaplok pake sendal matamu?"
"Ampun mak!" teriak Farhan sambil berlari menghindari Susan.