
Hampir setengah hari Kyra tak sadarkan diri, Farhan masih menemaninya di rumah sakit.
'"Sebenarnya ada urusan apa sih Eric? Kenapa sampai sekarang belum kembali?" gumam Farhan yang kini duduk di sofa yang ada di ruang inap Kyra.
"Ugh" gumam Kyra.
Farhan pun segera berlari ke arah ranjang Kyra.
"Kyra, kamu sudah sadar?" ucap Farhan sambil memegang tangan Kyra dengan penuh rasa lega.
"Kak Farhan" ucap Kyra dengan suara lemah.
Pertama kali yang ia lihat setelah sadar adalah wajah Farhan. Ia sebenarnya berharap setelah dia sadar Eric yang ingin pertama kali di lihatlah.
"Apa kamu merasa ada yang tidak enak? Aku akan panggilkan dokter" ucap Farhan sambil memencet tombol dekat ranjang. "Sebentar lagi dokter akan kesini"
"Kak ..."
"Ya? Apa kamu perlu sesuatu?"
"Dimana kak Eric?" tanya Kyra.
"Oh, itu ... dia ... sedang ada urusan" kata Farhan.
"Oh ..." ucap Kyra malas.
"Urusan apa yang lebih penting dariku? Apa kakak benar-benar sudah tidak menginginkanku dan juga bayi ini? ... Heh ... Bodoh sekali aku jika merasa khawatir dengannya, jelas-jelas dia akan baik-baik saja ... Kyra ... apa yang kamu harapkan? Meskipun kamu memberi tahu dia yang sebenarnya, dia pasti tidak akan percaya kepadamu. Lagipula dia sebentar lagi akan menikah. Hufft ... Tidak apa ... Selanjutnya, aku dan anakku pasti bisa melewati semua ini meskipun tanpa dia ... Walaupun, ini sedikit sulit untukku ..." batin Kyra sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Farhan dengan khawatir.
"Tidak ada"
Beberapa saat kemudian dokter pun masuk ke dalam ruangan bersama seorang suster.
"Dokter, dia baru saja sadar. Tolong periksa dia"
"Baiklah tuan" ucap dokter tersebut lalu memeriksa keadaan Kyra.
"Apa anda merasa ada yang tidak nyaman?'' tanya dokter tersebut setelah memeriksa Kyra.
"Iya dok. Perut saya sedikit sakit. Apa bayi saya tidak apa-apa?" ucap Kyra dengan suara lemah.
"Perut anda hanya sedikit memar. Tapi tenang saja, bayi anda baik-baik saja" jelas dokter tersebut.
"Syukurlah kalau begitu"
"Setelah ini saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk anda. Karena anda baru saja mengalami pendarahan, tolong jangan banyak beraktifitas dulu. Istirahat yang cukup akan membantu anda segera pulih begitupun juga dengan bayi yang sedang anda kandung"
"Iya dok terimakasih banyak" kata Kyra.
"Tuan, masalah seperti ini sangat berbahaya bagi kesehatan ibu dan anak. Jika kalian bertengkar tolong selesaikan dengan baik, jangan dengan kekerasan. Istri anda ini sangat lemah, jaga dia baik-baik" ucap dokter tersebut sambil memegang bahu Farhan.
Farhan pun Membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan dokter tersebut.
"Eh? B-baiklah dokter. Saya akan menjaga istri saya dengan baik" ucap Farhan.
Dokter itupun menepuk-nepuk bahu Farhan sebentar.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu tuan" kata dokter tersebut lalu pergi dari ruangan itu di ikuti perawat di belakangnya.
"Huhh" Farhan menghela nafas panjang.
"Jangan di masukkan ke hati kak. Dokter itu menganggap kakak suamiku karena kakak yang menemaniku di sini" ucap Kyra.
"Tidak masalah. Aku malah senang kok" kata Farhan sambil menyunggingkan senyumannya.
"Senang? Bagaimana bisa? Kakak di curigai melakukan kekerasan rumah tangga. Kok malah senang sih?"
"Hehe ... Biarin yang penting kan aku di anggap jadi suami kamu"
"Heh? Gak jelas kak Farhan ih" ucap Kyra yang kini terlihat sedikit membaik. "Kak ..."
"Ya? Ada apa?"
"Aku lapar" ucap Kyra memelas.
"Gak mau" Kyra pun menghentikan Farhan. "Aku maunya makan nasi Padang"
"Apa? Nasi Padang? Kamu baru saja sadar Kyra, makan bubur aja dulu"
"Gak mau ... Aku sedang ngidam pengen nasi padang kak" ucap Kyra dengan manja.
"Tapi Kyra ..."
Ceklek
Pintu kamar pun terbuka dan terlihat seorang pria dengan setelan warna biru tua sedang masuk.
"Kyra?" ucap pria tersebut yang tak lain adalah Eric.
Farhan dan Kyra pun menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Eric? Kemana saja kamu dari tadi?" kata Farhan.
"Kyra ..." Eric pun tak mengindahkan Farhan dan berjalan ke arah Kyra. "Kyra ... kamu sudah sadar. Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Apa ada yang terasa tidak nyaman?" ucap Eric sambil menggenggam erat tangan Kyra.
"Aku tidak apa-apa" ucap Kyra ketus tanpa melihat ke arah Eric.
"Kyra-"
"Aku ingin istirahat. Tolong keluarlah. Aku tidak ingin di ganggu" lanjut Kyra memotong kalimat Eric.
"Apa kamu masih merasa sakit? Aku akan panggilkan dokter untukmu'' kata Eric khawatir.
"Tidak perlu, pergilah dari sini"
"Tapi Kyra-"
"Kak Farhan"
"Ya?'' jawab Farhan sedikit terkejut.
"Aku ingin istirahat. Tolong temani aku di sini" kata Kyra.
Seketika Farhan dan Eric pun terkejut mendengar ucapan Kyra. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Eric sedikit merasa kesal karena Kyra lebih memilih Farhan untuk menemaninya dan malah menyuruh Eric pergi. Namun Eric sadar, kesalahannya kemarin begitu besar wajar sekali jika Kyra saat ini marah kepadanya dan menjauhinya.
"Hah?" gumam Farhan terkejut.
"Bukankah kakak mau menyuapiku tadi? Cepatlah, aku sudah lapar sekali" kata Kyra manja.
"Oh baiklah. Tunggu sebentar" kata Farhan sambil mengambil bubur yang ada di atas nakas pemberian perawat tadi.
"Kyra-" ucap Eric tertahan. "Maaf"
Kyra tak menghiraukan Eric dan tidak memandangnya.
"Aku tau aku sangat keterlaluan. Wajar jika kamu marah kepada ku Kyra. Tapi ... Maaf ... Tolong maafkan aku ... Aku gelap mata sehingga aku ti-"
"Keluar" ucap Kyra setengah berteriak. "Keluarlah tuan Eric Karendra. Aku tidak ingin melihatmu di sini"
"Kyra ... Kamu baru saja sadar, tolong jaga emosimu. Kasihan bayi yang ada di dalam perut mu. Dia juga ikut tertekan" kata Farhan sambil duduk di bangku sebelah ranjang.
"Aku hanya tidak ingin melihatnya saat ini kak Farhan. Aku benci dengannya" bisik Kyra.
"Kyra, aku tau kamu marah. Aku hanya ingin minta maaf kepadamu. Tolong jangan bersikap seperti ini kepadaku Kyra. Aku adalah kakakmu aku khawatir sekali kepadamu" kata Eric kembali memegang tangan Kyra.
"Jangan sentuh aku" ucap Kyra sambil menepis tangan eric. "Jika kamu khawatir dengan ku. Pasti kamu tidak akan berusaha membunuh anakku. Pergilah dari sini. Aku tidak ingin melihatmu lagi" kata Kyra sedikit emosi.
"Sssttt, tenangkan dirimu Kyra. Ingat anakmu masih sangat lemah sekarang" kata Farhan memenangkan.
"PERGI DARI SINI" teriak Kyra semakin menjadi-jadi.
"Kyra Kyra ..." kata Farhan sambil memeluk kepala Kyra.
Farhan pun menatap Eric memberinya isyarat.
"Huhh, baiklah aku akan pergi. Sekali lagi... maafkan aku Kyra" ucap Eric lirih. Iapun segera keluar dari ruangan itu.
"Kyra ... Apa tidak ada kesempatan sekali lagi untukku? Aku sangat menyesal. Tolong jangan membenciku. Aku tidak bisa melihatmu bersikap seperti ini kapadaku. Hatiku sakit sekali Kyra. Aku tau aku sangat keterlaluan. Tapi, tak bisakah kamu memaafkan ku?"