What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 70



DOR


Satu peluru melesat ke tangan Brian dan membuat pisau terjatuh dari tangannya.


"Ughh" gumam Brian dan menoleh ke arah pintu dan terlihatlah Farhan sedang menodongkan pistol ke arahnya.


"Mundur dari Kyra, atau aku ledakkan kepala mu" ucap Farhan melangkah maju.


"Hehehe, kamu pikir aku akan takut" kelakar Brian.


Dor


Satu tembakan Farhan mengenai bahu kiri Brian dan membuatnya tersungkur ke lantai. Dengan cepat Farhan melepaskan ikatan Eric dengan pisau yang ia temukan di sana.


"Kamu datang tepat waktu Farhan" ucap Eric.


"Cepat urus dia dan segera bawa Kyra ke rumah sakit" kata Farhan lalu menghampiri Kyra.


"Jangan harap kalian bisa keluar dari sini" gumam Brian yang kini sudah berdiri di belakang Eric.


Sebelum Eric menoleh, Brian sudah melayangkan pukulannya ke kepala Eric dan membuatnya terhuyung.


"Farhan, bawa Kyra pergi dari sini" ucap Eric.


"Sudah ku bilang, kalian tidak akan bisa pergi dari sini. Aku tak akan membiarkan kalian keluar hidup-hidup" ucap Brian.


Brian pun hendak menyerang Eric namun Farhan berhasil menembak kaki kirinya.


Melihat Brian yang tersungkur di lantai, Farhan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera meringkuk di atas tubuh Brian dan segera mengikatnya.


''Kenapa kamu malah diam saja? Cepat bantu aku" kata Farhan.


"Dasar tikus-tikus kecil, menyingkirlah dariku" kata Brian sambil berusaha melepaskan diri.


Dan beberapa saat kemudian, Jacob pun datang dengan membawa anak buahnya ke sana.


"Kamu datang lama sekali" gerutu Farhan.


"Apa kalian terluka?" tanya Jacob.


"Ya, kita harus segera ke rumah sakit" ucap Eric yang saat ini menggendong tubuh Kyra.


"Cepat bawa dia pergi, aku akan mengurus orang ini" kata Jacob lagi.


Segera Eric pun membawa Kyra pergi dari sana. Dia pun bergegas masuk ke dalam mobil di ikuti Farhan di belakangnya.


"Aku akan mengantar kalian" ucap Farhan lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah Eric masuk dan duduk di kursi belakang. Ia tak henti-hentinya mengusap telapak tangan Kyra yang kini mulai mendingin.


"Bertahanlah sebentar lagi Kyra, kita akan segera sampai di rumah sakit" gumam Eric yang kini memeluk tubuh Kyra yang sudah pucat pasi.


Farhan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


"Kyra, maafkan aku ... Ini semua salahku ... Salahku ... Kamu harus bangun Kyra. Aku masih ingin meminta maaf secara langsung kepadamu" batin Eric yang hendak menangis.


Tubuh Kyra yang sudah lemas tak berdaya kini berada di pelukan Eric. Wajah cantiknya kini berubah menjadi putih pucat dengan beberapa luka gores benda tajam di pipinya.


Farhan yang sedari tadi melihat mereka dari balik kaca spion merasa iba.


"Sepertinya kalian memang benar-benar saling mencintai, perasaan satu sama lain juga sangat dalam. Hufft, jika seperti ini ... Rasanya aku memang harus benar-benar mengalah" batin Farhan.


"Kyra, aku janji, jika kamu bangun. Kau tidak akan memarahi mu lagi. Aku tidak akan membentak mu juga tidak akan bersikap kasar kepadamu. Kamu masih harus menjelaskan kepada ku apa arti ucapan mu tadi. Anak kita? Apakah yang ada di perutmu adalah anak kita? Jika iya, betapa bersalahnya aku kepadamu dan juga anak ini Kyra. Bertahan sebentar lagi ... Tolong jangan tinggalkan aku" batin Eric yang kini masih memeluk tubuh Kyra dengan erat.


"Farhan, bisakah kamu lebih cepat sedikit" kata Eric tak sabar.


"Kita sedang ada di perbukitan tentu saja rumah sakit jauh sekali dari sini. Dan disini banyak jurang. Aku sudah cepat, jika kurang cepat lagi apa kamu mau kita mati di sini?" kata Farhan ketus.


"Aku sedang tidak ingin mendengar ocehan mu Farhan. Aku hanya ingin cepat ke rumah sakit. Kyra sangat pucat, aku takut terjadi apa-apa dengannya" kata Eric khawatir.


Setelah sampai di jalan raya, Farhan pun mengemudikan mobilnya lebih cepat lagi.


"Apa ini?" gumam Eric yang berusaha menyentuh pahanya.


"Ada apa Ric?"


Eric yang baru saja menyentuh benda basah tersebut di buat terbelalak ketika melihat darah di telapak tangannya.


"T-tidak ... lebih cepat lagi Farhan" ucap Eric semakin gelisah.


"Ric, jangan membuatku takut. Ada apa sebenarnya?"


"Kyra, Kyra ... mengeluarkan banyak darah. Kita harus cepat, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya


"Ada apa? Aku rasa saat aku membawamu tadi kamu tidak seperti ini.... Kyra ... maafkan aku, ini semua terjadi karena ku"


Setelah beberapa menit kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah sakit. Sesampainya di sana para perawat pun segera membawa Kyra ke dalam ruangan.


Eric yang kini berdiri di ruangan tersebut hatinya sedang gelisah tak karuan.


"Tenanglah Ric, aku yakin dia akan baik-baik saja" kata Farhan sambil menepuk-nepuk pundak Eric.


"Bagaimana aku bisa tenang Farhan, aku merasakan tubuhnya lemas dan dingin. Aku juga melihat dengan mata kepala ku sendiri darahnya keluar sangat banyak. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya".


"Dia akan baik-baik saja, dokter sudah mengurusnya"


"Kyra ... jika terjadi sesuatu kepadamu ... Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri"


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan. Eric dan Farhan segera menghampiri dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" kata Farhan.


"Dia baik-baik saja sekarang, untuk bayinya ..."


"Ada apa denganmu bayinya" kata Eric menyela.


"Bayinya baik-baik saja, untung saja dia langsung dilarikan ke rumah sakit"


Eric yang tadinya sangat tegang kini di buat lega oleh kata-kata dokter tersebut.


"Baguslah, apa kita boleh melihatnya sekarang?" tanya Farhan.


"Untuk saat ini diai belum sadar, tapi jika kalian mau menemuinya silahkan saja. Tapi perlu kalian ketahui, kandungannya sangat lemah Sekarang karena mengalami pendarahan tadi. Jadi tolong jangan membuat dia tertekan ataupun tidak nyaman"


"Baik dok terimakasih"


Dokter itupun pergi meninggalkan mereka.


"Masuklah" ucap Farhan.


Eric pun segera masuk ke dalam dan melihat Kyra sedang berbaring tak berdaya di atas ranjang.


Eric pun duduk di samping Kyra dan mengelus tangannya.


"Maafkan kakak Kyra. Kakak tidak bisa menjagamu dengan baik"


Eric pun memandangi wajah pucat Kyra. Tiba-tiba di kepala Eric terngiang-ngiang akan ucapan terakhir Kyra.


"Jika itu anakku, lalu Serlyn?" gumam Eric.


Eric pun segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Kyra.


"Farhan, tolong jaga dia sebentar" kata Eric.


"Kamu mau kemana?"


"memastikan sesuatu. Tolong jaga dia sebentar. Aku akan segera kembali"


Eric pun berjalan meninggalkan Farhan.


"Serlyn, lihat saja nanti. Jika benar kamu membohongiku aku tida akan segan-segan terhadapmu lagi"