
Sudah satu minggu lamanya, Eric masih saja bersikap dingin terhadap Kyra. Selama itu pula Serlyn terlihat menempel kepada Eric kemanapun ia pergi.
Tanpa sadar Kyra merasa cemburu dan tidak suka dengan kehadiran Serlyn. Setiap kali Kyra ingin berbicara kepada Eric, Serlyn selalu saja berada di sampingnya hingga membuat Kyra tak memiliki celah untuk bersama Eric.
"Serlyn, setelah selesai makan, pergilah ke ruang kerjaku. Aku membutuhkan saran mu tentang ide proyekku yang baru" kata Eric yang kini tengah melahap makan malamnya.
"Baiklah" ucap Serlyn.
Kyra yang juga berada di sana tengah merasa tidak senang, sebab kakaknya kini selalu bersikap cuek dan dingin kepadanya tapi tidak dengan Serlyn.
"Apa mereka pacaran? Dia selalu saja berada di sini dan terus saja menempel dengan kakak. Aku benar-benar risih melihatnya" batin Kyra.
Eric pun bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.
"Kak ..." ucap Kyra sambil memegang tangan Eric.
Eric hanya diam saja lalu menepis tangan Kyra dan berjalan kembali menuju kamarnya.
"Ck, kasian banget" gerutu Serlyn yang melihat tingkah Kyra.
"Dasar nenek lampir" ucap Kyra sambil melirik Serlyn malas.
"Heh? emang enak di cuekin terus" kata Serlyn terdengar seperti mengejek.
"Ini semua gara-gara kamu" balas Kyra.
"Aku?" Sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Karena kamu selalu datang ke sini kakak jadi selalu cuekin aku"
"Pffft, ini yang katanya anak jurusan kedokteran?" Sambil berjalan menghampiri Kyra. "Tapi kok bodo banget sih" Mengelus rambut Kyra.
"Kamu ngejek aku ya?" ucap Kyra yang sudah merasa geram dengan Serlyn.
Serlyn hanya mengedikkan bahunya. "Kalau iya kenapa? Apa salahku di sini? Eric yang selalu menyuruhku ke sini untuk membantunya. Salah?" ucap Serlyn. "Lagi pula sikapnya yang seperti itu. Itu semua karena kamu sendiri Kyra..."
Kyra menatap Serlyn dengan tajam. "Apa maksudmu?"
Serlyn pun terkekeh lirih. "Mangkanya jadi orang yang peka dikit dong" kata Serlyn lalu pergi meninggalkan Kyra.
"Iiihhh, nyebelin banget sih tuh orang" ucap Kyra. "Ngapain juga sih selalu di sini? Nggak punya rumah ya? dasar nenek lampir" cibir Kyra.
Drrrt drrrt drrrt
Ponsel Kyra pun berbunyi, Kyra lalu mengangkat teleponnya.
"Kyra, aku ada di bawah. Bisakah kamu turun sebentar?" ucap Zian dari balik telepon.
"Untuk apa kak Zian ke sini? ini sudah malam loh" balas Kyra.
"Turunlah sebentar, aku akan pulang setelah itu"
Tut Tut Tut
Zian segera menutup teleponnya sebelum Kyra menjawab.
"Apa sih kak Zian ini, lama-lama dia semakin ngelunjak deh kayaknya" gerutu Kyra.
Kyra pun segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari apartemen.
Sesaat kemudian Kyra pun melihat kini Zian tengah bersandar di mobilnya sedang menunggu Kyra.
Kyra berjalan mendekati Zian. "Ada apa kak?" tanya Kyra.
"Tidak ada, tadi aku jalan-jalan di sekitar sini dan sedang kepikiran kamu, jadi aku mampir deh" ucap Zian. "Dan ini, tadi aku beliin kamu martabak kesukaan mu" lanjutnya sambil memberikan beberapa bungkus martabak ke Kyra.
"Kak Zian nggak perlu repot-repot seperti ini. Lagipula aku juga sudah kenyang habis makan malam tadi" ucap Kyra dan menolak pemberian Zian.
"Aku tidak mau penolakan" Sambil meletakkan bungkusan tersebut ke tangan Kyra.
"Eh? tapi ..."
"Kenapa, kamu takut dengan kakakmu ya?"
"Enggak kok. Kalau begitu terimakasih ya kak" ucap Kyra.
"Sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu ya"
"Hem, hati-hati ya" kata Kyra.
"Uh?" gumam Zian sambil mengucek matanya.
"Ada apa kak?" kata Kyra.
"Ah, aduh duh. I-ini mataku kemasukkan sesuatu deh. Akh! sakit banget sih" ucap Zian sambil mengusap-usap matanya.
"Eh kak, jangan di gituiin. Sini biar aku tiup" kata Kyra.
"Ah, nggak perlu Kyra"
"Eh nanti bisa tambah iritasi loh, sini" Kyra pun menangkup kedua pipi Zian dan mulai meniup-niup matanya.
Zian pun tersenyum senang akan hal itu.
"Fiuh fiuh. Apa masih sakit?" tanya Kyra.
"Sini sini" Kyra pun mendekatkan wajahnya ke wajah Zian dan kembali meniup-niup mata Zian lagi.
Cup
.
.
.
Satu ciuman dari Zian kini mendarat di bibir Kyra.
Zian pun tersenyum melihat ekspresi wajah Kyra yang kini tengah terkejut.
"Ka-"
"Apa yang sedang kalian lakukan?" kata seseorang yang sedang berada di belakang Kyra.
Kyra pun terkejut mendengar suara tersebut dan menoleh ke belakang.
"Ka-kak" gumam Kyra dengan gugup.
"Aku tanya kalian sedang apa?" kata Eric dengan nada agak tinggi.
"Aku..."
Zian pun mendekati telinga Kyra dan berbisik. "Bukankah dia pria yang bersamamu di depan gerbang kampus hari itu? Apa dia akan marah? Aku rasa pacarmu ini sudah melihatku mencium mu tadi" lalu menjauhkan wajahnya dari Kyra.
"Kakak aku ..."
"Masuk sekarang" tegas Eric.
Kyra menundukkan wajahnya dan menuruti apa yang Eric katakan.
"Dan kamu, cari tempat lain kalau mau pacaran" ucap Eric kepada Zian dan pergi meninggalkannya.
"Heh? tentu saja ... lain kali aku akan cari tempat yang bagus untuk berkencan dengan Kyra" gumam Zian sambil menyeringai.
Eric yang baru saja menjauh dari sana tidak sengaja mendengar gumaman Zian.
"Apa maksudnya?" batin Eric.
Serlyn yang sedari tadi ada di sana hanya tersenyum senang melihat kejadian tersebut.
"Bagus sekali. Sebentar lagi Eric akan bertambah kesal dengannya" ucap Serlyn lalu berjalan pergi.
Kyra masuk ke dalam apartemen dan menaruh bungkusan martabak pemberian Zian di atas meja makan. Dia kini melihat Eric yang baru saja masuk dan nampak terlihat kesal.
"Kak..." ucap Kyra dan berlari kecil menghampiri Eric.
Namun Eric tak menghiraukan dan terus berjalan menuju ke kamarnya.
"Kakak ..." Sambil menahan tangan Eric. "Kakak, aku bisa jelaskan. Itu tadi tidak seperti apa yang ka-"
"Apa yang perlu di jelaskan? aku tidak butuh penjelasan mu" ucap Eric dengan dingin.
"Kak, jangan marah. Dia tadi ha-"
"Kenapa aku harus marah? Urusanmu tidak ada hubungannya sama sekali dengan ku" ucap Eric dengan ketus.
"Kak..." Kyra memeluk Eric dari belakang. "Kak, aku mohon jangan seperti ini padaku" Memeluk Eric lebih erat lagi.
"Lepaskan aku"
"Tidak mau" Semakin mempererat pelukannya.
Eric pun Memegangi tangan Kyra dan hendak melepasnya.
"Nggak mau nggak mau, tolong jangan bersikap seperti ini. Aku tau aku salah, jadi berhentilah bersikap dingin kepada ku. Aku merindukanmu kak ... Aku rindu dengan kakak yang selalu perhatian dan baik kepada ku" ucap Kyra.
Eric pun tak bergeming sedikitpun.
"Kakak ... aku juga tidak mau melihatmu dengan dia. Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengannya" ucap Kyra lirih.
"Aku dekat dengan siapapun bukan urusanmu" kata Eric lalu melepaskan tangan Kyra dengan kasar.
"Kenapa? kanapa bukan urusanku? apa Kakak benar-benar menyukainya? Aku bahkan melihat kakak berciuman dengannya di atas ranjang, apa kakak juga melakukan itu kepada semua wanita juga?" kata Kyra setengah kesal. "Kenapa kakak tidak menjawab? Apa yang aku katakan semua itu benar?" lanjutnya sambil memegangi lengan Eric.
Eric hanya diam saja.
"Kakak, berjanjilah jangan menyukai wanita itu. Aku ... aku akan memberikan diriku jika kakak menjauhinya" ucap Kyra.
"Apa maksudmu?" kata Eric tak percaya.
"Aku akan memberikan seluruh tubuhku jika kakak menj-"
Plakk
.
.
.