What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 98



Beberapa hari kemudian Kyra memaksa untuk kembali berkuliah. Awalnya Pak Daniel tidak setuju karena mereka berdua akan menikah. Pak Daniel hanya berjaga-jaga agar mereka tidak melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan seperti dulu. Meskipun sangat tegas, Pak Daniel akhirnya luluh kepada Kyra.


"Ayah tenang saja, aku janji tidak akan ada masalah apapun sebelum kami menikah" kata Kyra.


"Baguslah. Aku percaya pada kalian" ucap Daniel sambil menepuk bahu Kyra.


"Padahal ibu sudah senang sekali kamu berada di sini. Sekarang kamu mau kembali lagi" dengus Bu Sofia yang kini berada di depan pintu rumah mereka.


"Ibu jangan khawatir, lagi pula aku juga akan sering pulang"


"Baiklah Ayah, Ibu. Kalau begitu kami pergi dulu" kata Eric yang sudah siap dengan mobilnya.


"Heeemm, pergilah kalian. Tapi ingat pesan ayah"


"Tentu saja yah, aku akan menjaga Kyra dengan baik"


Tak berapa lama setelah mereka bersalaman dan juga berpamitan. Mobil Eric pun segera melesat ke jalan raya.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh ayah. Kenapa dia begitu mencemaskan hubungan kita yang seperti itu" gumam Kyra, karena Pak Daniel selalu mewanti-wanti mereka berdua untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat mereka melakukan dosa besar lagi. Karena mereka sekarang akan berada di dalam satu rumah dan mereka pun juga tahu kalau mereka bukan saudara. Pak Daniel khawatir kalau mereka melakukan kesalahan sekali lagi sebelum mereka sah menjadi suami istri.


"Tentu saja Ayah khawatir kita melakukan hal yang tidak seharusnya. Ayahnya tidak ingin kita melakukan kesalahan sekali lagi"


"Iya aku tahu, tapi ayah selalu membicarakan hal itu setiap hari. Aku jadi sedikit risih"


"Mungkin apa yang dikatakan orang-orang benar" gumam Eric sambil mengemudikan mobilnya.


"Memangnya apa yang dikatakan orang-orang?" kata Kyra penasaran.


"Aku pernah dengar ketika seorang perempuan dan laki-laki sudah pernah merasakan kan rasanya bercinta. Maka mereka akan ingin melakukannya lagi. Mungkin karena itu Ayah jadi khawatir kepada kita"


"Benarkah?"


"Hemm ... Entahlah, aku hanya mendengar beberapa temanku membicarakan hal itu. Untungnya aku sedang dalam pengaruh obat yang sangat kuat saat itu. Kalau tidak mungkin aku juga akan ingin melakukannya lagi" ucap Eric sambil melirik Kyra dengan menyeringai.


"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti? Itu mengerikan kan" gerutu Kyra lirih.


"Benarkah aku mengerikan? Kamu bahkan jauh lebih mengerikan" kata Eric sambil mengingat-ingat kejadian dimana Kyra berinisiatif meminta berhubungan dengannya waktu itu.


"Jangan membahas soal itu. Aku tidak mau mengingat-ingat nya lagi"


"Kenapa?"


"Memalukan" gerutu Kyra lirih hampir tak terdengar.


Setelah beberapa menit perjalanan. Mereka pun memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran. Karena Kyra masih belum mau memakan nasi, Eric pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran mie ayam.


"Kamu beneran mau makan mie ayam?" ucap Eric setelah turun dari mobil sambil menggandeng tangan Kyra.


"Aku masih tidak ingin makan nasi. Sampai sekarang aku ingin muntah ketika membayangkannya.


"Baiklah kalau begitu ayo masuk"


Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Eric dan Kyra memilih meja di pinggir jendela yang besar untuk menghindari keramaian, karena akhir-akhir ini penciuman Kyra lebih sensitif dan dia sering mual karena mencium bau parfum yang berlebihan.


"Apa di sini sudah aman?" kata Eric yang kini duduk di hadapan Kyra.


"Sudah. Di sini lumayan sepi, jadi aku tidak akan bisa mencium mereka"


Eric pun tersenyum kepada Kyra sambil membayangkan sesuatu.


"Kenapa Kakak tersenyum seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan ku?"


"Tidak ada, hanya saja aku belum pernah berhadapan dengan ibu hamil sebelumnya. Ternyata orang hamil itu cukup istimewa ya" ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Tidak aku tidak mengatakan kalau itu aneh"


"Bilang saja kalau itu aneh, lagipula aku juga tidak mau seperti ini" dengus Kyra sambil menyilangkan kedua tangannya dan membuang wajahnya ke samping.


"Kenapa kamu marah? Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa?"


"Terserahlah" kata Kyra dengan ketus.


"Beberapa saat kemudian pesanan mereka pun datang. Dengan mata berbinar-binar Kyra menatap mangkuk mie ayam yang disiapkan oleh pelayan.


"Selamat menikmati" ucap pelayan itu dengan ramah lalu segera pergi meninggalkan mereka.


"Apa kamu suka?" kata Eric khawatir jika Kyra akan mual ketika mencium aroma mie ayam tersebut.


"Entahlah, aku belum mencicipinya. Tapi sepertinya aku akan suka. Ketika melihatnya, air liurku sudah ingin menetes"


"Baiklah makan dengan baik dan juga jangan terlalu pedas aku tidak ingin kamu sakit perut nanti"


"Iya iya, tuan calon suami yang bawel" Kyra pun tersenyum senang kepada Eric.


Eric memperhatikan Kyra yang sedang sibuk menaruh cabai di mangkuknya, di dalam hatinya ia merasa bahagia ketika melihat Kyra. Setelah kedua orangtua mereka memutuskan untuk menikahkan mereka, Eric merasa begitu bahagia dan juga lega karena selama ini hal yang hanya bisa ia bayangkan akhirnya sebentar lagi akan dia dapatkan yaitu memiliki Kyra seutuhnya untuk menjadi istrinya. Tak pernah terbayangkan oleh Eric sebelumnya jika dia bisa menikahi Kyra orang yang selama ini dia cintai dengan segenap ketulusan dan juga hatinya. Ketika melihat Kyra tersenyum bahagia, hatinya merasa damai dan juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakannya. Dalam diri Eric ia berjanji, selamanya, sepanjang hidupnya, ia ingin membuat Kyra tersenyum dan bahagia setiap hari.


"Sudah kubilang jangan terlalu pedas. Kenapa kamu memasukkan cabai begitu banyak?" kata Eric yang sedari tadi melihat Kyra begitu banyak mencampur cabai ke dalam mangkuknya.


"Bukan aku yang ingin memakan mie pedas ini. Tapi bayi kita yang ingin makan pedas hari ini" kata Kyra berdalih, ia pun segera mengaduk mie yang ada dihadapannya.


"Tidak boleh. Ganti dengan milikku" Eric pun hendak menukar mangkuk Kyra dengan mangkuknya.


Dengan cepat Kyra menahan tangan Eric. "Aku tidak mau, aku ingin makan pedas"


"Tapi nanti kamu akan sakit perut, kamu terlalu banyak menambahkan cabai ke dalamnya"


"Kakak ... Sudah aku bilang, aku ingin makan pedas" rengek Kyra.


"Huuhh ... Sabar Eric, dia sedang hamil jadi mood-nya bisa berubah-ubah"


Eric pun melepaskan tangannya. "Baiklah kalau begitu, tapi jangan terlalu sering makan makanan pedas. Aku tidak mau kamu sakit"


"Yeeeyy" gumam Kyra kegirangan. Dia pun segera melahap mie yang ada di hadapannya begitu juga dengan Eric.


"Kyra, tidakkah kamu merasa ada yang aneh dengan kita?


"Apa?" kata Kyra dengan mulut yang masih penuh dengan mie.


"Bukankah kita akan menikah? Tapi kamu masih memanggilku dengan sebutan kakak. Apa itu tidak terdengar aneh?"


"Mau panggil apa lagi? Bukankah dari kecil aku memang memanggilmu dengan sebutan kakak?"


"Ya coba ganti panggilan lain. Kamu memanggilku Kakak itu sedikit terdengar aneh, karena kita akan menikah"


"Kalau begitu memangnya Kakak mau aku panggil dengan sebutan apa?


"Eeemmm ... Aku ingin Kamu memanggilku dengan sebutan sayang, atau honey, atau baby atau-"


"Cukup" kata Kyra dengan cepat menghentikan kalimat Eric. "Itu semua terlalu kekanakan"


"Memangnya kenapa kalau kekanakan? Bukankah itu hal wajar yang diucapkan oleh seseorang ketika berpacaran?"


"Tidak tahu, yang pasti aku tidak ingin memanggilmu seperti itu" ucap Kyra dengan pipi memerah.