What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 54



"Kyra, kita naik mobilnya kak Zian ya, tuh dia udah nungguin" ucap Nuril.


"Gak perlu, kita bisa naik taksi. Ya kan Kyra?" kata Mikha.


"Eh aku ..." Belum sempat Kyra melanjutkan kata-katanya ponselnya pun berdering. "Ah sebentar ya aku angkat telepon dulu" kata Kyra.


Kyra pun berjalan agak menjauh dari temannya.


"Halo, ada apa kak?" ucap Kyra.


"Lihatlah ke samping" ucap Eric dari balik telepon.


"Apa?" Kyra pun menoleh ke samping kirinya, dan terlihatlah Eric yang sedang bersandar di depan mobilnya sambil melambaikan tangan ke arah Kyra.


"Kakak, menjemputku?" kata Kyra sambil tersenyum.


"Hem, aku mau mengajakmu pulang ke rumah ayah dan ibu" jelas Eric.


"Baiklah aku akan ke sana"


Kyra pun mematikan ponselnya dan pergi ke arah teman-temannya.


"Eemm.. maaf ya, kayaknya aku gak bisa nonton bareng kalian nih" kata Kyra


"Eh? kenapa Kyra? kamu kan udah janji tadi" ucap Nuril.


"Oh, itu ... Kakak ku udah jemput dan kita mau pulang ke rumah ayah dan ibu" jelas Kyra.


"Iya Kyra pergilah, kita bisa nonton lain kali" kata Mikha.


"Heemm ... Kalau gitu aku pergi dulu ya" Kyra pun segera pergi ke arah Eric.


"Eh, tapi Kyra ..." Nuril pun hendak menyusul Kyra namun di hentikan oleh Mikha.


"Biarin aja napa sih ril. Dia kan udah lama gak pulang ke rumah orang tuanya. Hargai keputusannya napa" ucap Mikha.


Nuril pun memutar bola matanya malas. "Tau ah" kata Nuril lalu pergi meninggalkan Mikha dengan kesal.


"Apa-apaan sih nih anak" gumam Mikha.


Kyra pun menghampiri Eric yang sudah menunggunya.


"Kamu kenapa?" tanya Eric.


"Aku? kenapa?" kata Kyra terheran-heran.


"Hem ... Kenapa jalanmu aneh sekali" lanjut Eric.


"Ah ... itu ..."


"Apa kakak lupa tadi malam berbuat apa? Dia bahkan sangat brutal sampai-sampai aku susah jalan" batin Kyra.


"Apa kakak tidak ingat sesuatu?" tanya Kyra.


"Apa?"


"Semalam kakak ..." ucap Kyra menggantung. "Ah, lupakanlah. Ayo kita pergi"


"Ah, apa kakak sedang memancingku? Bagaimana bisa aku bilang kalau kita tadi malam melakukan itu? ini memalukan" batin Kyra.


Eric pun menghentikan Kyra yang mau masuk ke dalam mobil.


"Eh? ada apa?" ucap Kyra keheranan.


Tanpa banyak bicara, Eric pun meraih tubuh Kyra dan memeluknya.


"Tidak ada, aku hanya merasa kangen sekali sama kamu" bisik Eric.


"Entahlah, semalam aku merasa senang sekali, aku kira kamu yang ada di ranjang ku. Tapi sekarang aku sangat sedih, karena kenyataannya aku akan menikah dengan orang lain dan bukan kamu Kyra. Lebih baik, aku akan menyembunyikan siapa diriku sebenarnya dan akan benar-benar menjadi kakak mu seperti biasanya. Dengan begitu aku akan tetap berada di sampingmu" batin Eric.


Kyra pun tersenyum mendengar ucapan Eric dan membalas pelukannya.


"Kakak ... apakah kamu akan seperti ini terus? Kapan kita akan berangkat?" ucap Kyra yang kini menyadarkan Eric.


"Hemm ..." Eric pun melepaskan pelukannya. "Baiklah ayo"


Dia pun membukakan pintu mobil untuk Kyra, lalu berjalan memutar masuk mobil.


Sesaat kemudian Eric pun melajukan mobilnya.


"Kyra?"


"Ya, ada apa?" ucap Kyra.


"Apa kamu mau makan dulu?"


"Ah, enggak deh. Aku mau makan di rumah saja. Aku kangen sekali dengan masakan ibu"


"Baiklah" ucap Eric yang masih fokus mengemudi.


Sesaat Kyra pun memandang ke arah kakaknya itu. "Kakak sudah tidak marah lagi? Baguslah"


"Kyra?"


"Apa kamu kecewa denganku?" ucap Eric.


"Oh? apa maksud kakak tentang semalam?" batin Kyra.


"Kecewa tentang apa?" tanya Kyra.


"Tidak ada, lupakanlah"


"Kecewa karena setelah ini kamu akan tau kalau aku akan menikah dengan orang lain, Apa kamu akan kecewa tentang itu?" batin Eric.


Sesaat kemudian mereka pun sampai di rumah kedua orang tuanya. Terlihat Bu Sofia dan pak Daniel tengah menunggu ke datangan mereka di teras rumah.


"Ibu" kata Kyra sambil berlari ke pelukan Bu Sofia. "Ibu, aku kangen sekali"


Bu Sofia pun membalas pelukan Kyra. "Ibu juga kangen sekali sama kamu Kyra, bagaimana keadaan mu?"


"Aku baik-baik saja Bu, Apakah ibu masak hari ini?" tanya Kyra.


"Tentu saja, ibu masak makanan kesukaan mu dan juga kakakmu" kata Bu Sofia.


"Baiklah, kalau begitu aku akan makan dulu" ucap Kyra sambil berlari masuk ke dalam rumah diikuti Bu Sofia di belakangnya.


"HEY, JANGAN LARI-LARI" teriak Eric. "Aish anak ini"


"Biarkan saja, dia kan sudah lama tidak pulang. Bagaimana kabarmu Ric?" ucap pak Daniel.


"Baik ayah, Ayah sendiri?"


"Ayah baik-baik saja, penyakit ayah sudah lama tidak kambuh" jelas pak Daniel.


"Ayah" kata Eric lalu memeluk pak Daniel.


"Eh eh ? Ada apa ini?" ucap pak Daniel terheran lalu membalas pelukan Eric. "Ada apa hah? kenapa tiba-tiba memeluk ayah?"


"Tidak ada aku hanya kangen dengan ayah"


Pak Daniel pun menepuk-nepuk punggung Eric. "Ya, anak ayah memang sudah besar. Aku kira kamu akan melupakan pelukan ayahmu ini"


"Terimakasih" gumam Eric yang kini menahan air matanya agar tidak keluar.


"Terimakasih karena sudah menjagaku, merawatku dan bahkan menganggap ku sebagai anakmu sendiri" batin Eric.


"Hey, sudahlah. Ayo kita masuk. Jika Kyra melihat tingkah mu ini, dia pasti akan menertawakan mu" ucap pak Daniel.


Eric pun melepaskan pelukannya.


"Baiklah, ayo kita masuk"


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan mendapati Kyra yang tengah lahap memakan masakan ibunya.


"Ayah, maafkan Kyra yang makan duluan tanpa menunggu ayah" ucap Kyra sambil tersenyum.


"Dasar anak nakal, makanlah yang banyak. Kamu terlihat kurus sekali sekarang" ucap pak Daniel yang duduk di kursi meja makan.


"Ayo Ric, makan dulu" kata Bu Sofia.


Eric hanya mengangguk dan duduk di kursi sebelah Kyra.


"Ini" Bu Sofia pun memberikan piring berisi nasi dan lauknya. "Makanlah, kalian sudah lama tidak pulang"


"Ibu, kita sudah lama tidak pulang bukan berarti kita juga sudah lama tidak makan. Lihatlah dari tadi ibu hanya menambah makanan ku dan tidak makan" ucap Kyra sambil mulut penuh dengan makanan.


"Hey, berhentilah berbicara. Makan ini" kata Bu Sofia sambil menaruh sepotong ayam goreng di piring Kyra.


"Ibu aku akan gemuk kalau seperti ini terus"


"Bagus dong"


"Apanya yang bagus"


Di sisi lain, Eric hanya diam saja sambil memandangi mereka.


"Bukankah aku sangat beruntung. Kalian begitu baik kepadaku, aku tidak akan melupakannya seumur hidupku. Hanya kalian yang kumiliki di dunia ini" Batin Eric yang menahan air matanya agar tidak tumpah sedari tadi.


"Eric, kenapa diam saja? Makanlah" kata pak Daniel mengejutkan Eric.


"I-iya ayah" jawab Eric terbata.


"Kalian harus menginap malam ini, tidak ada penolakan" ucap Bu Sofia.


"Besok aku masih ada kelas Bu"


"Ibu sudah bilang tidak ada penolakan"


"Ibu ..."


"Ya, kita akan menginap malam ini" sanggah Eric. "Kita bisa berangkat pagi-pagi besok Kyra"


"Aish, Baiklah"