What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 46



Suara dentuman musik yang memekakkan telinga di sebuah bar, Eric pun kini tengah duduk di depan bartender dengan segelas cocktail di tangannya.


Eric yang sudah setengah mabuk dia pun mulai bosan, dia lalu mengambil ponsel di saku celananya dan menelpon seseorang.


"Bar xx ... Datanglah ke sini dalam 10 menit"


Tut Tut Tut


Belum sempat mendapatkan jawaban, Eric sudah memutuskan panggilannya. Dia pun mulai menenggak habis satu gelas cocktail tadi.


Sepuluh menit kemudian, tibalah seseorang di sampingnya.


"Kenapa kamu menyuruhku ke sini?" ucap Farhan yang baru saja datang.


"Temani aku minum" kata Eric lalu menenggak kembali satu gelas cocktail.


"Hey hey hey, kamu gila ya? ... Kamu baru saja siuman kemarin dan sekarang ingin mabuk mabukan?" Farhan pun mengambil gelas milik Eric.


Eric hanya diam saja lalu memanggil bartender.


"Ada apa tuan?" kata bartender.


"Beri aku satu gelas lagi"


"Baik tuan" Bartender pun pergi.


"Kamu benar-benar cari mati ya?" dengus Farhan kesal.


"Ada apa dengan anak ini? tidak biasanya dia minum-minum. Bahkan jika dia mendapat masalah terberat di Perusahaan, dia tidak pernah sampai seperti ini" batin Farhan.


"Ini tuan" kata bartender sambil memberikan segelas cocktail kepada Eric.


"Ya, berikan aku jus apel saja" kata Farhan kepada sang bartender.


"Baik"


"Kenapa hanya jus apel?" ucap Eric yang kini sudah setengah mabuk.


"Aku baru saja keluar dari rumah sakit, aku tidak mau kembali ke sana" dengus Farhan.


"Pecundang"


"Yak!! apa kamu menyuruhku ke sini untuk mengataiku"


"Ini tuan jus anda" kata bartender yang tiba-tiba muncul lalu menaruh segelas jus di atas meja dan pergi.


Farhan kini memperhatikan Eric yang tengah diam dan menatap ke depan dengan pandangan kosong.


"Apa ini tentang Kyra?" kata Farhan menerka-nerka.


"Heh ..." Eric pun tersenyum kecil. "Memang tidak ada yang bisa ku sembunyikan darimu"


"Hufft, aku sudah tidak tau lagi harus berkata apa padamu" gumam Farhan, ia merasa perasaan Eric terlalu berlebihan kepada Kyra, meskipun mencintai Kyra tapi dia tetaplah adiknya, adik perempuannya.


"Dia selalu saja ingin menjauhiku, aku sendiri pun tak tau ... Kenapa aku bisa merasa seperti ini, aku mencintainya" ucap Eric yang kini sudah mulai mabuk.


"Tentu saja dia merasa harus menjauhi mu, karena dia merasa perasaanmu kepadanya adalah salah" kata Farhan.


Eric pun diam sejenak dan menundukkan kepalanya. "Aku ... hanya ingin bersamanya... hanya itu saja. Apakah itu juga salah?"


"Eric, sadarlah ... Buang semua perasaan mu kepada Kyra, karena bagaimanapun juga kalian tidak akan bisa bersama"


"Hehe ... Lihatlah dirimu Farhan, kamu bahkan mengatakan hal seperti itu. Kamu dan Kyra sama saja ... Kalian terus mengingatkan aku kalau aku adalah kakaknya" kata Eric lalu menenggak minumannya lagi.


"Tentu saja aku akan terus mengingatkan mu Eric, aku adalah sahabat mu, aku tidak ingin kamu tersakiti oleh perasaan mu sendiri"


Eric yang sudah mabuk kini mulai kehilangan kendali atas dirinya.


"Hey hey hey Farhan, kamu mengatakan itu karena kamu menyukai Kyra juga kan? Kamu ingin aku melepaskannya agar kamu bisa bersamanya ... Ck ck ck , tidak semudah itu Farhan ..." Eric pun mulai meracau karena mabuk.


"Duh, anak ini sudah mabuk berat rupanya" batin Farhan. "Iya, aku memang menyukainya, tapi aku mengatakan hal ini karena aku peduli kepada mu Ric. Sadarlah ... Pada kenyataannya memang kamu adalah kakaknya"


Eric pun mulai menaruh kepalanya di atas meja.


"Kamu salah Farhan ... Aku bukan kakaknya ..." Ucap Eric lalu memejamkan matanya.


.


.


.


"Apa maksud mu Ric?" tanya Farhan tapi Eric diam saja dan masih menyandarkan kepalanya di atas meja. "Ric ..."


Drrrt drrrt drrrt


Tiba-tiba ponsel Farhan pun berbunyi, segera dia pun mencari tempat sepi dan meninggalkan Eric.


"Bagaimana Ardan, siapa yang dia temui?" tanya Farhan.


"Seorang laki-laki boss, saya sendiri tidak tau siapa dia" jawab Ardan dari balik telepon.


"Apa? laki-laki? ... Lalu apakah dia baik-baik saja?" ucap Farhan dengan cemas, dia berfikir laki-laki tersebut mungkin orang yang ingin mencelakai Kyra tempo hari.


"Dia baik-baik saja, barusan dia sudah pulang ke apartemennya"


"Hufft, syukurlah ..." gumam Farhan sambil menghela nafas lega. "Lalu, apa yang terjadi di sana?" kata Farhan penasaran.


"Laki-laki itu hendak mencoba bunuh diri, namun Kyra datang untuk menyelamatkannya"


"Hanya itu saja?"


"Iya, setelah itu dia langsung pulang"


"Baguslah, terus lindungi dia dari kejauhan"


"Baik"


Tut Tut Tut


Farhan mengambil nafas dalam-dalam lalu menyandarkan punggungnya ke tembok.


"Aku sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor dan masih lagi mencari siapa yang mencelakai Eric dan Kyra ... tapi lihatlah Eric sekarang, hufft ..." gerutu Farhan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Farhan pun pergi dan menuju kembali ke meja bartender namun dia sudah tidak menemukan Eric di sana.


"Lah, ni orang kemana? bukannya tadi sudah mabuk berat" gumam Farhan. "Eh, apakah kamu melihat orang yang tadi sedang duduk di sini? kemana dia?" kata Farhan kepada salah satu pelayan yang baru saja lewat di hadapannya.


"Oh, dia baru saja pergi tuan" kata pelayan itu.


"Baiklah, terimakasih"


Farhan lalu bergegas keluar dari bar tersebut dan pergi mencari Eric.


"Dengan keadaannya yang seperti itu, dia pasti belum jauh dari sini?" gerutu Farhan. "Lah? ini mobilnya, terus kemana orangnya?" kata Farhan yang kini melihat mobil Eric masih berada di tempatnya.


Farhan pun berjalan mencari Eric di sekitar bar tersebut, setelah lima belas menit dia mencari Eric, Farhan pun mulai kelelahan.


"Uh!! Aku masih belum sembuh benar, kepala ku juga masih pusing. Sial ... Kamu menyusahkan ku saja Eric" gerutu Farhan lalu masuk ke dalam mobilnya. "Tapi, bagaimana jika dia bertemu salah satu musuh? Dengan Eric yang sudah mabuk berat, ini pasti menguntungkan bagi mereka... Ah, benar-benar kamu Ric, tidak bisa membiarkan aku hidup tenang" kata Farhan lalu melajukan mobilnya.


Farhan pun mulai mencari Eric kesana kemari, tak lupa dia juga menyuruh anak buahnya untuk mencari tau keberadaan Eric.


Farhan terlalu gelisah saat memikirkan tentang keselamatan Eric. Sejak dia bekerja dan berada di sampingnya, dia sudah berjanji akan setia dan senantiasa melindungi Eric bagaimana pun caranya. Karena kesetiaannya itulah, diam diam Master mereka memberikan wewenang kepada Farhan untuk mengatur anak buah pilihan agar bisa melindungi Eric di kemudian hari.


Di antara mereka berempat, Farhan adalah orang yang paling cerdas, namun tidak terlalu pandai dalam bela diri. Tapi dengan adanya anak buah dari Master, dia tidak perlu khawatir akan keselamatannya, sebab dia juga tidak terlalu memiliki musuh di luar sana.


"Apa ada kabar mengenai Eric?" kata Farhan kepada anak buahnya.


"Tidak boss"


"Aish, dimana dia?" gerutu Farhan lalu dia tiba-tiba terpikirkan seseorang. Farhan lalu mengambil ponselnya dan menelepon Kyra untuk bertanya apakah Eric sudah pulang ke rumah.


Drrrt drrrt drrrt


"Halo Kyra" ucap Farhan.


"Hiks ..." Kyra tidak menjawab dan hanya terdengar suara isakkan tangis di seberang teleponnya.


"Kyra ... Ada apa dengan mu?"