
"Se-serlyn?" Ucap Eric terkejut lalu merubah posisinya menjadi duduk.
"hiks hiks"
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Eric lagi.
Serlyn pun beralih menatap Eric yang sedang kebingungan.
"Kenapa aku ada disini? Apa kamu lupa apa yang telah kamu lakukan kepada ku semalam?" kata Serlyn sambil terus berpura-pura menangis.
"A-Apa? Akhh ..." Eric pun memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Hiks hiks, kamu tega sekali Ric" ucap Serlyn.
"Tidak mungkin" gumam Eric.
"Aku rasa, tadi malam aku melakukannya bersama Kyra. Apa aku bermimpi?"
"Kamu harus tanggung jawab Ric" kata Serlyn.
Eric pun membuang mukanya, lalu turun dari ranjang. "Gak usah berlebihan, nanti aku akan transfer uang ke rekening mu" ucap Eric sambil memakai celana pendeknya.
"Apa maksudmu Ric?"
"Aku tau, kamu menginginkan uang kan? nanti aku transfer, sekarang aku tidak pegang uang cash" lanjut Eric.
"Dasar laki-laki brengsek. Apa kamu pikir aku cuma mau uang mu hah? Lalu apa yang terjadi dengan masa depanku, apa kamu bisa membeli masa depanku juga?" kata Serlyn setengah berteriak.
"Jangan melebih-lebihkan Serlyn. Aku mau ke kantor, kalau kamu sudah selesai, cepat pergilah dari sini" kata Eric dengan dingin.
"Apa kamu menganggap ku seorang pelacur? Lalu bagaimana dengan ini" Serlyn pun menunjukkan noda darah yang ada di atas seprai.
Seketika Eric merasa terkejut di buatnya.
""Serlyn kamu ..."
"Iya, lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah masih ada laki-laki yang mau menerimaku kelak?" kata Serlyn dengan nada sedih namun dalam hatinya tersenyum gembira melihat reaksi Eric.
"Serlyn aku ..."
"Apa kamu masih tidak merasa bersalah? Aku hanya mengantarmu pulang tapi kamu malah ... malah memaksaku " ucap Serlyn. "Jika kamu sendiri tidak mau bertanggung jawab, untuk apa lagi aku hidup? hiks hiks ... Percuma saja aku melanjutkan hidupku, suatu saat nanti orang yang aku nikahi pasti akan mempertanyakan hal itu kepada ku .. lalu aku harus menjawab apa hiks hiks"
Eric masih tercengang di tempatnya, ia tidak mengira bahwa dia telah menghancurkan masa depan seorang wanita. Meskipun terkadang Eric bersikap dingin dan kejam di dalam lubuk hatinya menyimpan rasa iba kepada wanita yang tengah menangis di atas ranjangnya tersebut.
"Aish, apa yang sudah aku lakukan? Aku benar-benar bodoh ... Semalam aku mengira wanita yang aku tiduri adalah Kyra, bahkan aku merasa sangat senang karena aku lah pria pertama yang mendapatkannya. Sialnya itu hanyalah imajinasi ku saja. Sekarang apa? Justru wanita ini yang sudah aku renggut masa depannya. Aaakkkhhh sial... Kamu benar-benar bodoh Eric. Kamu terlalu mabuk sampai-sampai tidak mengenali wajah seseorang" batin Eric lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hiks hiks"
"Hem ... sepertinya berhasil. Lihatlah wajahnya yang terlihat kesal. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini" batin Serlyn.
"Tidak apa Ric, aku akan pergi" Turun dari ranjang.
"Se-serlyn ... Ah baiklah aku akan bertanggung jawab" ucap Eric sedikit terpaksa.
Dalam hati Serlyn ia tersenyum kegirangan, kemarin ia berencana menjebak Eric namun gagal dan malah pagi ini dia menemukan kesempatan lain, hal itu membuat dia merasa beruntung sekali.
"Dengan cara apa kamu akan bertanggung jawab? Uang? Maaf saja tuan Eric. Aku tidak butuh" ucap Serlyn ketus.
"Serlyn ... Hufft ... baiklah aku akan menikahi mu" kata Eric. "Ini semua adalah salahku, jadi aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi mu" lanjutnya.
Dengan tubuh yang masih berbalut selimut Serlyn pun membalikkan badannya dan menatap Eric.
"Benarkah?" tanya Serlyn.
"Hem..." Eric pun mengangguk. "Jangan berbuat aneh-aneh, oke? Sekarang aku sudah kesiangan jadi kita bahas lain kali saja" lanjut Eric lalai berjalan menuju ke kamar mandi.
Dengan perasaan puas Serlyn pun kembali memakai pakaiannya dan segera pergi keluar dari kamar Eric.
"Ahh apa yang aku lakukan? Tapi aku harus bagaimana? Aku bukan pria brengsek seperti apa yang dia bilang" ucap Eric sambil memandang bayangannya di depan cermin.
Sesaat Eric pun mengambil nafas panjang. "Hufft ... tidak apa Ric ... ini bukan masalah besar. Setelah menikah kamu bisa menceraikan dia" ucap Eric pada dirinya sendiri.
...----------------...
Sedangkan di tempat lain, Kyra terlihat berjalan tertatih-tatih saat masuk ke dalam kelasnya.
"Sshhh, kenapa rasanya masih sakit sekali" batin Kyra yang masih merasa sakit di bagian bawahnya.
"Kyra kamu kenapa?" kata Mikha yang merasa aneh dengan cara jalan Kyra.
"Eh? oh, aku tidak apa-apa ... Hanya saja, kakiku sakit habis kepleset tadi pagi" ucap Kyra berbohong.
"Ah begitu, sini aku bantu" lanjut Mikha.
"Tidak usah Mikha, aku bisa kok"
Kyra pun duduk di bangkunya.
"Apakah aku terlalu mencolok? Ini memalukan sekali" batin Kyra yang kini menyembunyikan wajahnya di balik buku.
"Ada apa Ra?" tanya Mikha lagi. "Pipimu merah, apa kamu demam?" Mikha pun menaruh telapak tangannya di dahi Kyra.
"Eh? tidak kok Mikha. Oh ya, aku tidak melihat Nuril, kemana dia?" kata Kyra mengalihkan perhatian.
"Tau, akhir-akhir ini dia sering ngilang. Hemm... btw Kyra. Apa kamu tidak merasa aneh dengan sikap Nuril akhir-akhir ini?"
"Aneh? Enggak tuh" ucap Kyra.
"Tapi ... aku merasa ada yang dia sembunyikannya dari kita. Misalnya-"
"Hayo, ngomongin aku ya" kata Nuril yang tiba-tiba muncul di belakang mereka berdua.
"Ya ampun ril, ngagetin banget sih" ucap Kyra.
"Sorry, habisnya kalian kayak asik banget sih jadi gak tau kalau aku datang" kata Nuril.
"Kamu dari mana ril?" tanya Mikha.
"Ada deh ... oh ya Kyra. Aku punya sesuatu untuk kamu" kata Nuril sambil mengambil sesuatu dari tasnya. "Taraaaa ... " Memberikan beberapa lembar tiket bioskop.
"Tiket?" ucap Kyra.
"Hem, kak Zian yang berikan ini. Katanya dia mau ngajakin kita nonton ntar pulang kampus" jelas Nuril.
"Tapi aku ..."
"Udah terima aja kali, lagian kan kita juga ikut. Lumayanlah rejeki jangan di tolak" lanjut Nuril.
"Mikha, apa kamu juga mau ikut?" tanya Kyra.
"Kalau kamu ikut aku juga ikut" jawab Mikha.
"Apa sebaiknya kita pergi?" tanya Kyra kepada Mikha.
"Tentu saja kita harus pergi" ucap Nuril menyela.
"Hemm ... Baiklah"
"Ada apa sih dengan Nuril? sepertinya dia ngebet banget pengen deketin kak Zian sama Kyra. Dia kan tau sendiri Kyra berusaha jauhin kak Zian. Ada yang gak beres nih" batin Mikha sambil menatap Nuril penuh curiga.
Tak berselang lama dosen pun datang dan memulai kelasnya.
"Kyra Kyra, kamu itu terlalu polos sekali ya" batin Nuril sambil menyeringai.