
Keesokan harinya, di pagi hari. Kyra masih meringkuk di balik selimutnya sambil memeluk tubuh Eric. Sedangkan Eric yang sedari tadi sudah bangun, kini tengah memandangi Kyra yang masih tertidur pulas.
Perlahan Eric mengusap pipi Kyra dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Euummhh"
"Kamu sudah bangun?"
Kyra pun membuka matanya dan menatap Eric sejenak.
"Apa aku mengganggu tidurmu?" kata Eric sambil mengusap-usap kepala Kyra.
"Hmmm" gumam Kyra sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Eric dan semakin memeluknya dengan erat.
"Sudah pagi, ayo bangun. Aku akan membuatkan sarapan untukmu" kata Eric dengan lembut.
"Gak mau, aku masih mengantuk"
Eric pun menangkup kedua pipi Kyra dengan gemas.
"Ayo bangun, dan bersiaplah. Bukankah hari ini kita akan pulang ke rumah ayah dan ibu? Ayo bangun, pergi mandi sana. Aku akan menyiapkan sarapan"
Wajah Kyra berubah datar dan terlihat sedikit cemas ketika mendengar ucapan Eric.
"Ada apa?"
"Jangan bilang, kakak mengajakku pulang karena ingin memberitahu ayah dan ibu kalau aku hamil?" tanya Kyra menyelidiki.
"Tentu saja. Mereka berhak tau yang sebenarnya"
"Kakak ... Aku tidak mau pulang ... Aku ... Belum siap ..." ucap Kyra gugup.
"Belum siap apa? Apa yang kamu khawatirkan? Ada aku di sampingmu, apa yang perlu kamu takutkan?" kata Eric.
"Bagaimana kalau ayah nanti marah? Aku takut mereka marah. Dan ayah ... Kakak tau sendiri kan, ayah punya penyakit jantung"
"Lalu? Apa kamu mau menyembunyikannya dari mereka?" Kata Eric sambil menatap mata Kyra dalam-dalam.
"Tentu saja tidak, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada mereka"
"Kapan? Besok? Atau setelah menunggu perutmu membesar? Atau setelah anak ini lahir? ... Mereka akan semakin marah jika kita terlambat memberitahu mereka tentang hal ini"
"Tapi ..." ucap Kyra menggantung.
"Tidak ada pilihan lain Kyra, mau sekarang atau nanti itu sama saja. Kita harus tetap memberi tahu mereka"
"Lalu? Jika mereka tanya siapa ayah anak ini, apa kakak akan memberi tahu mereka?"
"Tentu saja" ucap Eric singkat.
"Kalau begitu, apa yang akan di lakukan ayah nanti? Ayah tidak mungkin kan menikahkan ku dengan kakak? Itu tidak mungkin ... " gumam Kyra lirih dengan nada lesu.
"Itu ..."
"Itu mungkin saja, karena aku bukan kakak kandungmu Kyra. Aku ingin memberitahumu sekarang juga, tapi aku tidak yakin apakah ayah akan menyetujui pernikahan kita nantinya. Sekarang aku tidak ingin membebani pikiranmu, lebih baik segera selesaikan masalah ini dan setelah itu, aku akan berusaha meyakinkan ayah untuk menikahkan kita ... Lagipula, aku sudah tau. Setelah kita memberi tahu mereka, ayah pasti akan sangat marah. Terlepas karena hubungan kita, kamu hamil di luar nikah ataupun karena aku adalah anak angkatnya. Apapun itu konsekuensinya, yang terpenting sekarang adalah pergi memberi tahu mereka"
"Kakak ... Kenapa melamun?"
"Eh? Tidak ada ... Ayo cepat bangun, dan segera mandi"
Cup
Eric pun mengecup kening Kyra dan segera turun dari ranjang.
"Cepatlah, aku akan menunggumu di luar" kata Eric sambil tersenyum ke arah Kyra.
"Baiklah baiklah ... Dasar cerewet" gumam Kyra.
Eric lalu keluar dari kamar Kyra.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai bersiap-siap dan juga sudah selesai sarapan.
"Apa kamu sudah siap?" kata Eric kepada Kyra sambil membenarkan jad yang ia kenakan.
Kyra hanya mengangguk.
"Ayo" kata Eric sambil menggandeng tangan Kyra.
Di dalam mobil, suasananya sangat hening karena mereka sama-sama sedang gugup.
"Emmm ... Kyra" ucap Eric memecah keheningan.
"Ya?"
Eric pun menggenggam tangan Kyra sambil fokus menyetir.
"Hufft" Kyra pun menghela nafas kasar sambil membenarkan duduknya agar lebih rileks.
"Kita akan pulang, bukan mau pergi berperang. Kamu gugup sekali" ucap Eric sambil sesekali melirik ke arah Kyra.
"Kakak saja yang sangat santai. Kakak bahkan tidak terlihat gusar sedikitpun"
"Darimana kamu tau?"
"Dilihat dari wajah kakak saja aku sudah tau" dengus Kyra.
"Dasar ..." gumam Eric sambil tersenyum kecil.
"Hufft ... Aku juga sangat gugup. Ini bahkan lebih berat daripada harus menghadap calon mertua"
"Oh ya ... Kamu sepertinya sangat tertarik sama hubungan Farhan dan juga temanmu itu. Apa kamu mau menjodohkan mereka?" kata Eric mencoba mencari topik pembicaraan agar Kyra sedikit melupakan rasa gugup dan khawatirnya.
"Sebenarnya, Mikha menyukai kak Farhan sejak pertama kali bertemu di rumah sakit waktu itu"
"Baguslah, kita bisa membantu mereka" kata Eric.
"Bagaimana caranya? Kak Farhan saja sangat cuek kepada Mikha"
"Ya, buat temanmu itu selalu bertemu dengan Farhan. Mungkin lama-lama dia akan tertarik kepadanya"
"Bagaimana caranya?"
"Eemmm ..." gumam Eric.
"Gak tau kan? dasar" gerutu Kyra.
"Oh, bagaimana kalau kamu ajak dia ke kantor? Bilang saja mau mengantar sarapan untukku dan ajak dia bersamamu" jelas Eric.
"Ide bagus ... Kalau begitu aku akan mengajak Mikha untuk ke sana. Dia pasti akan senang sekali" ucap Kyra penuh semangat. "Eh? tapi kenapa kakak mau membantu mereka?"
"Tentu saja karena aku tidak mau Farhan terus mengejar mu dan mendekatimu. Aku cemburu melihatmu dengannya" kata Eric pura-pura kesal.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Apa kamu tidak percaya?"
"Tidak" kata Kyra sambil mengejek Eric.
Eric pun tersenyum kecil. "Dasar anak nakal"
"Eh? ada apa kak?" kata Kyra saat merasa Eric menghentikan mobilnya.
"Kamu tidak mau turun? lihatlah kita sudah sampai"
"Ah ... iya ... Aku tidak menyadari kalau kita sudah sampai"
"Ayo" kata Eric dan dia pun segera turun dari mobil.
Kyra juga langsung mengikuti Eric yang sudah menunggunya di luar mobil.
Kyra pun menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kamu masih gugup?" kata Eric sambil mengulurkan tangannya kepada Kyra.
Kyra pun segera menggenggam tangan Eric dengan erat. Ia merasa seakan-akan rasa gugup dan kekhawatirannya sedikit hilang saat menggenggam tangan Eric. Ada sedikit kenyamanan dan ketenangan saat Eric berada di sisinya.
Mereka pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan penuh keberanian.
"Ini sangat menjengkelkan ... Aku belum pernah merasa seperti ini ... Kenapa aku takut? Jelas sekali aku takut ... Aku telah berbuat salah, dan lagi ... Sebagai seorang laki-laki aku telah menghamili anak orang. Sebagai kakak, aku telah berbuat salah kepada adikku dan sekarang ... Aku merasa lancang sekali, sebagai anak angkatnya aku malah merusak masa depan anak mereka sendiri .. Bagaimana aku tidak takut ... Aku juga merasa gugup karena harus bertemu dengan ayah" batin Eric sambil menggenggam erat erat tangan Kyra dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Ibu ... ayah ... Aku takut .. Setelah aku berterus terang, akankah kalian bahagia karena akan mendapatkan cucu ataukah aku malah membawa bencana ke keluarga kita ..."