What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 76



Satu tamparan keras mendarat di pipi Nuril.


"Akh" gumam Nuril yang kini terhempas ke samping. "Siapa yang berani me-" ucapnya tertahan ketika melihat Mikha yang ada di hadapannya sekarang. "Mikha?"


"Keterlaluan" kata Mikha dengan wajah kesalnya.


"Mikha, kamu ..."


"Aku sudah mendengar semuanya. Nuril kamu benar-benar keterlaluan" kata Mikha. "Aku tidak menyangka kamu ternyata begitu jahat kepada Kyra"


"Mikha, ini semua tidak seperti apa yang kamu dengar" jelas Nuril.


"Apa? Aku tidak tuli Nuril. Aku mendengar semua yang kamu bicarakan sama kak Zian. Nuril, kamu benar-benar jahat. Kita bertiga sudah bersahabat sejak lama, dan Kyra. Kyra bahkan selalu membantumu di saat kamu susah"


Nuril hanya diam saja dan membuang muka.


"Tidakkah kamu tau jika Kyra sangat baik kepadamu? Kenapa kamu malah ingin menghancurkan hidupnya? Tidakkah kamu begitu keterlaluan Nuril?" kata Mikha setengah berteriak.


Nuril hanya terdiam dan menatap Mikha dengan tajam, kedua telapak tangannya mengepal menandakan rasa kesal.


"Teman macam apa kamu Nuril, aku gak habis pikir dengan kamu" lanjut Mikha.


"Ya, aku memang keterlaluan" kata Nuril yang masih menatap Mikha dengan tajam. "Aku benci dengan Kyra, aku benci melihat dia bahagia, aku ingin membuat dia menderita" jerit Nuril melampiaskan rasa kesal di hatinya.


"Kenapa Nuril? kenapa?"


"Karena aku benci dengannya. Lihatlah, semua orang bahkan sangat menyukainya. Kedua orang tuaku, kak Zian, bahkan kamu. Kamu adalah sahabatku satu-satunya sebelum kenal dengan Kyra. Tapi lihatlah, setelah kamu kenal dengannya kamu bahkan tidak peduli lagi padaku" ucap Nuril dengan mata merah menahan rasa marahnya.


"Apa maksudmu Nuril? Kita bahkan selalu bersama-sama, bagaimana bisa aku tidak peduli denganmu?"


"Ya, kita memang selalu bersama tapi kamu lebih mementingkan dia daripada aku. Aku benci dengannya, aku benci melihat dia tersenyum. Dia kaya, cantik, pintar. Semua orang mengaguminya dan menyukainya. Sedangkan aku, hanya gadis miskin yang setiap hari menempel padanya. Setelah kamu membawanya ke dalam kehidupan ku, aku sudah benci sekali dengannya. Mula-mulanya dia mengambil sahabatku dan sekarang ... Bahkan kedua orang tuaku selalu membanding-bandingkan aku dengan dirinya ... Aku benci dengannya, aku ingin dia kehilangan semuanya. Aku ingin dia merasakan di benci oleh semua orang" ucap Nuril dengan kesal.


"Dengan cara menyebar gosip murahan seperti itu? Sadar Nuril, bagaimana pun juga dia pernah berjasa dalam hidupmu. Kamu hanya di butakan oleh rasa iri karena ketidakmampuan mu. Sadarlah Nuril, kamu bisa menghancurkan persahabatan kita" kata Mikha sambil memegang kedua bahu Nuril.


"Ya, dan aku akan terus menyebarkan gosip itu hingga semua orang tau, bahwa Kyra bukanlah gadis baik-baik. Dia juga seorang ******, yang bahkan tidur dengan kakaknya sendiri" ucap Nuril sambil menghempaskan tangan Mikha dari bahunya. "Kamu tau, keadaannya yang sekarang ini juga karena aku, aku membantu rencana kak Zian agar berjalan lancar. Sekarang, Kyra sudah hancur, bahkan kakaknya tidak mengakui anak yang ada dalam perutnya. Dan aku sangat suka sekali melihat dia menderita seperti sekarang ini" ucap Nuril tanpa merasa bersalah.


Plak


Mikha pun tak bisa menahan emosinya dan menampar kembali pipi Nuril.


"Aku kecewa sama kamu Nuril. Mulai detik ini, tidak ada hubungan persahabatan lagi di antara kita. Aku tidak mau berteman dengan orang yang tak berperasaan seperti mu" Mikha pun pergi meninggalkan Nuril yang terdiam di tempatnya.


"Kyra Kyra Kyra terus. Kenapa kalian selalu membela dia? Aku benci sekali dengannya, aku benci kamu Kyra" gerutu Nuril sambil mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya.


Sedangkan Mikha kini melangkahkan kakinya dengan kesal menuju ke parkiran mobil.


Saat Mikha melewati koridor kampus tak sengaja dia melihat Zian yang tengah berjalan sendirian. Dengan cepat Mikha melangkahkan kakinya untuk menyusul Zian.


"Eh?" gumam Zian yang merasa ada yang menarik lengan bajunya. Zian pun menoleh ke belakang. "Mikha?"


"Berhenti sebentar" ucap Mikha.


"Ada apa Mikha?"


"Hufft" Mikha pun mengatur nafasnya yang sedikit Terengah-engah. "Aku cuma mau tau, di mana Kyra sekarang?"


"Apa maksudmu?" ucap Zian tak mengerti.


"Aku mendengar pembicaraan kakak sama Nuril tadi di halaman belakang. Cepat katakan dimana Kyra sekarang. Sudah berhari-hari aku tidak bisa menghubunginya" kata Mikha sambil berkacak pinggang.


"Apa? Kamu mendengar pembicaraan kami?" ucap Zian terkejut. "Mikha, apakah kamu bisa menjaga rahasia? Jangan sampai berita ini di dengar orang lain. Aku tidak mau Kyra sedih dan tertekan"


"Tentu saja tidak, Kyra adalah sahabatku. Aku tidak akan menyebarkan gosip tentang dia seperti rekanmu itu. Lagipula kenapa kamu malah ingin melindungi dia? Bukankah ini yang kamu mau?" cibir Mikha.


Zian pun Menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Ya, aku tau ini semua salahku. Tapi aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini" ucap Zian.


"Heh? Baru merasa menyesal sekarang? Kemarin kemarin kemana aja? Makanya kalau mau melakukan sesuatu pikir dulu pake otak. Gak mikir dampaknya ke orang lain seperti apa?" ucap Mikha dengan ketus.


"Ya, aku sangat merasa bersalah sekarang. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Zian.


"Gak tau, pikir aja sendiri. Sekarang katakan dimana Kyra. Kalau kalian tau tentang keadaan dia, berarti kalian juga tau dia dimana sekarang"


"Kemarin lusa kakakku memberi tahuku kalau dia di rawat di rumah sakit karena kelelahan akibat dari baru pertama kali hamil. Sekarang mungkin sudah pulang. Tapi masalahnya ..." ucap Zian menggantung.


"Apa? Masalahnya apa?" tanya Mikha tak sabar.


"Masalahnya, sebelum Kyra keluar dari rumah sakit. Eric mengancam akan membunuh anak itu, dia mengira kalau anak itu adalah anakku. Aku khawatir Mikha, aku khawatir terjadi sesuatu dengan Kyra, tapi ... Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan kakakku tidak mau melepaskan Eric dan menceritakan kejadian yang sebenarnya"


"Apa? Kak Eric mau membunuh anak Kyra?" gumam Mikha terkejut.


"Mikha ... Aku harus bagaimana? Aku bingung sekali, belum lagi Nuril telah membuat suasana menjadi keruh. Aku takut terjadi sesuatu dengan Kyra" kata Zian khawatir.


"Sial, jika terjadi sesuatu dengan Kyra. Aku tidak akan memaafkan kalian" ucap Mikha setengah berteriak.


Mikha pun pergi meninggalkan Zian yang kini terlihat sedikit tidak tenang.


"Kyra ... Kenapa kamu tidak mau menceritakan hal ini kepada ku? Jika terjadi sesuatu dengan mu, apakah pantas aku masih di sebut sebagai temanmu? Aku bahkan membiarkan sahabatku menyakiti sahabatku yang lainya. Kyra, aku harap kamu baik-baik saja" gumam Mikha sambil masuk ke dalam mobilnya.