What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 34



Tepat pukul 9 malam Kyra pun pulang, setelah dia membuka pintu tampaklah Eric yang kini duduk di sofa dengan kaos oblong dan celana pendek kesukaannya.


"Baru pulang" kata Eric dengan wajah masam.


"Em, iya ...."


"Apa malam mu begitu menyenangkan sehingga lupa untuk pulang?" ucap Eric lagi yang kini raut wajahnya sudah berubah menjadi kesal.


"Tentu saja, Tuan Lee tak hanya mengajakku makan malam tapi juga mengajakku bermain-main ke pasar malam ... Itu menyenangkan sekali" Satu kebohongan kini lolos dari mulut Kyra.


Eric pun menggertak kan giginya dan perlahan perasaan cemburu bercampur marah mulai menguasai pikirannya.


"Oh ... baguslah kalau kamu sangat senang" ucap Eric.


Dia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya. Terdengar suara pintu di banting dengan keras di sana.


"Kyra ... seberapa lama kamu akan bersikap seperti ini kepada ku? hanya sehari saja bahkan aku sudah tidak tahan"


Sebenarnya malam ini Kyra tidak jadi makan malam bersama dengan Tuan Lee, di tengah jalan Kyra bilang jika ada urusan penting dengan temannya. Maka Tuan Lee menurunkannya di pinggir jalan. Sebab Kyra pulang malam kerena tadi dia pergi ke rumah Mikha dan tak terasa jika hari pun semakin malam.


"Bagus Kyra ... kakak mu sudah marah ... lambat laun dia akan melupakan mu dan akan bersama wanita lain ..."


Entah kenapa, bukannya senang Kyra justru malah semakin merasa sedih.


Dia pun berjalan menuju ke kamarnya sambil berusaha menenangkan hatinya yang kini merasa tidak nyaman.


Keesokan harinya, Eric yang masih merasa kesal namun masih saja membuatkan Kyra sarapan.


Kyra yang baru saja keluar dari kamarnya, kini sudah rapi dan siap untuk pergi ke kampus.


"Aku sudah buatkan sarapan untukmu, duduklah" ucap Eric yang kini tengah menikmati tehnya di meja makan.


"Aku tidak sarapan, kakak sarapan sendiri saja" kata Kyra.


"Aku tidak ingin terus bergantung kepada mu kak ... Ini akan jauh lebih baik bukan?"


Kyra pun segera melangkahkan kakinya hendak menuju ke pintu depan, sebelum ia berhasil keluar dari rumah tiba-tiba Eric melemparkan semua piring dan gelas yang ia sudah siapkan di meja makan tadi.


Prang!!!


.


.


.


Semua piring dan gelas pun berhamburan ke lantai dan pecah tanpa sisa. membuat Kyra diam tak berkutik di tempatnya.


Eric merasa sia-sia saja membuat sarapan jika Kyra tidak mau memakannya. Dia pun mengambil jasnya yang di taruh di sofa, lalu berjalan keluar rumah tanpa sepatah kata pun, melewati Kyra begitu saja dan membanting pintunya dengan keras.


Kyra masih tidak menyangka, kakak yang selama ini hanya menunjukkan sikap lembut, kasih sayang dan perhatian kepadanya, ternyata bisa marah dan semengerikan itu.


Tanpa sadar Kyra tak dapat membendung air matanya, hatinya terasa sangat sakit sekali melihat wajah Eric yang begitu kesal dan kecewa kepadanya.


"Bukankah ini yang aku harapkan?"


...----------------...


Di kantor Eric.


Eric sedang berjalan menuju ke arah ruangannya dengan wajah kesalnya. Ia tak habis fikir, waktunya sangat berharga dia bahkan menyempatkan diri untuk membuat sarapan, namun Kyra malah menolaknya.


Para karyawan yang kini tengah melihat Eric bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi. Karena tidak biasanya Eric terlihat seperti itu.


"Eh, apa kita melakukan kesalahan ya? kok boss sepertinya sedang sangat kesal" kata salah satu karyawan.


"Mungkin, kan masalah proyek hotel yang gagal itu belum juga selesai"


"Ah, ini menakutkan ... kamu lihat tadi matanya, seolah-olah ada pedang di sana dan siap membunuh mu kapan saja"


"Iya baru kali ini dia terlihat seperti itu"


"Sudah ayo, kita harus kembali bekerja"


Tak lama kemudian Eric pun tiba di ruangannya, dia pun melonggarkan darinya dan menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya dengan kasar.


Tok tok tok


"Masuk"


"Kenapa wajahmu kesal sekali? habis bertengkar dengan pacarmu ya?" tanya Susan.


"Mana mungkin, dia kan nggak punya pacar" imbuh Jacob.


"Diam kalian, ada apa?"'


"Tidak ada, aku hanya ingin memberitahu kamu kalau anak pak Freddy dari kemarin bersikeras ingin menemuimu" jelas Susan sambil duduk di sofa di ikuti Jacob di sampingnya.


"Ada apa? bukannya aku menyuruh kalian untuk menerima lamaran kerjanya?"


"Iya, dia juga sudah mulai bekerja dari kemarin lusa" ucap Jacob.


"Lalu ada apa?"


"Entahlah, dia membual ... Katanya dia memiliki bukti tentang kejahatan ayahnya" imbuh Susan.


"Aku menyuruhnya untuk menunggumu memanggilnya, tapi sepertinya dia tidak sabaran. Aku khawatir, dia mungkin merencanakan sesuatu dengan ayahnya" kata Jacob.


"Hem ... suruh dia kesini sekarang"


"Baiklah"


Susan pun menelepon seseorang dan menyuruh Farel untuk datang ke ruangan Eric. Tak berselang lama, ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Masuklah" kata Eric dari dalam ruangannya.


Farel pun mulai berjalan masuk lalu menutup pintunya kembali.


"Aku dengar kamu ingin menemui ku, ada apa?" kata Eric sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.


"Aku punya bukti tentang kejahatan ayahku, jika kamu mau memberikan proyek besar untukku aku bersedia menyerahkannya kepada mu" jelas Farel tanpa basa-basi.


Eric pun menyeringai mendengar ucapan Farel, dia lalu menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Kamu pikir, kami tidak mampu untuk mencari bukti itu sendiri? heh, kamu begitu naif sekali"


"Tapi ... tapi aku benar-benar—"


"Kamu pikir siapa kamu ingin berunding dengan ku? ... Kamu masih hidup sampai sekarang itu sudah beruntung ... Kalau tidak karena salah paham, mungkin aku sudah membunuhmu, karena kamu telah menyentuh Kyra ... Sekarang apa? masih juga menginginkan proyek besar perusahaan ini? jangan harap!" jelas Eric dengan tegas.


"Tapi, aku mohon ... aku ingin membuktikan ke papa kalau aku juga bisa ..."


"Pergi!" ucap Eric.


"Tapi ..."


"Eits, Ric jangan terburu-buru lah" kata Jacob sambil menghampiri Eric ke mejanya. "Bagaimana kalau begini, kamu berikan buktinya ... lalu kamu harus memperbaiki proyek hotel kami yang gagal, bagaimana? Jika kamu tidak bisa menyelesaikanya dalam satu bulan, maka kami akan menganggap mu telah bersekongkol dengan ayahmu" jelas Jacob.


"Apa maksudmu?" kata Eric.


"Baiklah, aku terima dan ini ..." ucap Farel sambil meletakkan flashdisk di atas meja Eric. "Di dalamnya adalah bukti bahwa papa bekerja sama dengan pak Wira untuk menggelapkan dana proyek"


"Baik, pergilah ... Kami ada rapat sebentar lagi" ucap Jacob.


Farel pun pergi dari ruangan Eric.


Jam kerja pun telah usai, Eric pun berjalan ke parkiran hendak menuju ke mobilnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan tuan Lee.


"Hay, Tuan Eric" sapa tuan Lee.


"Oh, Hay ..." kata Eric dengan malas.


Eric masih mengingat jika Kyra bilang dia merasa senang sekali pergi bersenang-senang dengan Tuan Lee, itu membuatnya sangat kesal.


"Oh, sudah mau pulang ya?"


"Tentu saja," kata Eric dan berjalan menuju mobilnya. "Oh ya Tuan Lee, terimakasih banyak telah membuat adikku senang kemarin malam" lanjutnya.


"Apa maksudnya" batin Tuan Lee, karena dia merasa kemarin tidak jadi pergi dengan Kyra.


"Apa maksud anda Tuan?"


"Ya, dia bilang, dia sangat menikmati makan malam dengan anda dan bermain-main ke pasar malam kemarin" jelas Eric, namun wajahnya tidak bisa menutupi rasa kesalnya. "Kalau begitu saya pergi dulu".


Eric pun pergi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa maksudnya? benarkah Kyra bilang seperti itu?" gumam tuan Lee. "Menarik, jadi bukan sekedar hubungan kakak beradik ya?" Sambil menyeringai.