What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 27



Keesokan harinya di malam hari.


Kyra yang baru saja pulang dari rumah Mikha, membuka pintu dan masuk ke dalam apartemen. Ia melihat sekeliling dan tanpa sadar menuju ke arah ruang kerja Eric.


"Sejak kemarin siang kakak bilang mencintaiku, dia membawaku pergi makan siang di luar, lalu malamnya dia langsung sibuk dengan pekerjaannya, dan tadi pagi juga sudah tidak ada di rumah. Tapi di lihat dari raut wajahnya, sepertinya tidak ada kecanggungan sama sekali setelah menyatakan cintanya kepada ku seperti itu. Kenapa dia bisa setenang itu? atau jangan-jangan aku saja yang terlalu berlebihan menanggapi ucapannya kakak" batin Kyra yang kini tengah memandangi Eric dari balik pintu ruangan kerjanya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Eric dari dalam ruangan kerjanya yang mengagetkan Kyra.


"Eh, em, iya" ucap Kyra tergagap "Em, kakak mau aku buatkan teh?"


"Hem, boleh"


Tak berselang lama Kyra pun kembali ke ruang kerja Eric sambil membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja.


"Kakak masih butuh sesuatu?"


"Hem, tidak ada" ucap Eric yang kini tengah sibuk dengan laptopnya.


"Kalau begitu aku akan pergi ke kamar" kata Kyra yang hendak pergi.


"Eh, Kyra" sanggah Eric.


"Iya" ucap Kyra dengan semangat.


"Pasti kakak mau meluruskan tentang ucapannya yang kemarin kan? hufft ... kenapa aku tidak sabar" batin Kyra dengan jantung yang berdebar-debar.


"Em, tidak ada. Tidurlah ini sudah malam"


"Oh, baiklah" gerutu Kyra dengan nada sedikit kecewa.


Di dalam hati Kyra, ia merasa senang sekali ketika Eric menyatakan perasaannya namun alam bawah sadarnya mengingatkan bahwa Eric adalah kakak kandungnya, mana mungkin mereka bisa bersama.


Kyra pun berjalan masuk menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang besar miliknya. Setiap kali dia terdiam selalu saja bayangan wajah Eric menghampiri pikirannya, bayangan setiap kali Eric bersikap romantis kepadanya dan setiap Eric menciumnya membuat Kyra semakin berdebar-debar.


"Tidak, tidak boleh ... jika di teruskan seperti ini, aku akan jatuh cinta beneran sama kakak. Aku harus mencari cara agar kakak tidak terlalu terpaku kepada ku"


Tring tring


Ponsel Kyra pun berbunyi lalu ia membukanya, tak lain adalah pesan dari Mikha sahabatnya.


Mikha : "Kyra apa kamu tidak di marahi kakamu karena pulang malam?"


Kyra : "Tidak"


Mikha : "Kalau begitu, apa kita jadi pergi jalan besok sore?"


Kyra : "Entahlah, kita bicarakan lagi besok"


Mikha : "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat malam"


Kyra pun menghempaskan ponselnya ke seberang ranjang, sejenak pikiran tentang Eric pun masih terbayang lagi di dalam lamunannya hingga beberapa saat kemudian Kyra pun terlelap dalam tidurnya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Eric baru saja selesai dengan pekerjaannya.


"Hufft, aku kangen sekali dengan Kyra" gumamnya.


Eric lalu berjalan keluar hendak pergi ke kamarnya, sejenak ia berhenti dan mengarahkan langkah kakinya ke kamar Kyra.


Ketika ia masuk, Kyra tengah tertidur pulas dengan kaki yang masih menjuntai ke lantai sebab ketiduran tadi.


"Anak ini, kebiasaan deh"


Eric pun lalu menggendong tubuh Kyra dan membenarkan posisi tidurnya. Tak lupa ia pun menyelimuti tubuh Kyra.


Eric yang tadinya merasa rindu sekali dengan Kyra kini tengah memandangi wajahnya sambil mengusap-usap lembut rambut Kyra.


"Aku sudah menyatakan cintaku kepadamu Kyra, apakah kamu masih tidak bisa merasakannya?" sambil mencium telapak tangan Kyra. "Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti, aku hanya mencintai seorang wanita dalam hidupku yaitu kamu" lalu mengecup kening Kyra.


Melihat Kyra yang sudah sangat terlelap dalam tidurnya, Eric pun pergi meninggalkan kamar Kyra.


Keesokan harinya.


Kyra pun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Kyra berganti baju dan berdandan ringan seperti biasa.


"Apa kakak sudah bangun ya?" ucap Kyra sembari berjalan keluar kamarnya.


"Eh, Kyra kamu sudah bangun?" kata Eric yang terlihat tergesa-gesa.


"Emm"


"Kakak sudah buatin kamu sarapan di meja, kamu sarapan sendiri dan kamu berangkat sendiri ya, kakak terburu-buru nih ada rapat mendadak" ucap Eric sambil membenarkan kancing lengan kemejanya.


"Kakak" ucap Kyra lalu menghampiri Eric. "Dasi kakak belum betul nih" lanjutnya lagi sambil membenarkan posisi dasi Eric.


Eric hanya tersenyum melihatnya.


"Kakak sudah sarapan?" tanya Kyra yang masih membenarkan dasi Eric.


"Kakak tidak sempat Kyra" ucap Eric. "Aku berangkat dulu ya?" lanjut Eric lalu mencium kening Kyra.


Kyra pun tersipu dengan sikap manis Eric kepadanya, dengan perasaan yang berdebar-debar Kyra memandang Eric yang melangkah keluar dari apartemen mereka.


"Kelas ku masih di mulai dua jam lagi, masih sempat lah kalau aku mengantarkan sarapan untuk kakak"


Kyra pun menyempatkan diri untuk sarapan dan membuatkan bekal untuk Eric. Beberapa saat kemudian Kyra pun memanggil taksi dan pergi ke kantor Eric.


Sesampainya di kantor Eric, Yeni melihat Kyra yang masuk ke dalam perusahaan tersebut.


"Cih, kenapa dia masih berani datang ke sini? seharusnya dia kan sudah di usir oleh tuan Eric waktu itu, apa jangan-jangan obatnya tidak bekerja saat itu? atau tidak ada yang terjadi antara mereka?" gerutu Yeni dengan kesalnya karena merasa cemburu dengan Kyra.


Kyra pun menaiki lift dan berjalan menuju ke ruangan Eric.


Tring


Suara ponsel Kyra pun berbunyi dan dilihatnya pesan dari Nuril.


Nuril : "Hey, tumben jam segini belum sampai di kampus, kenapa?"


Kyra : "Oh, aku sedang mengantar sarapan untuk kakak ke kantornya"


Nuril : "Aish, cepatlah jangan terlambat, ada yang ingin aku bicarakan denganmu"


Kyra : "Baiklah tunggu aku"


Saking asyiknya Kyra menatap layar ponselnya, tanpa sengaja Kyra menabrak seseorang dan hampir saja terjatuh. Dengan sigap orang itu langsung menangkap pinggang Kyra.


Betapa terkejutnya Kyra melihat orang yang menolongnya tersebut.


"Wah ... ganteng sekali ... mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan Oppa-oppa Korea" batin Kyra yang kini sedang melamun.


"Ehem" suara orang di sebelah pria tampan tadi yang terlihat seperti sekertarisnya.


"Oh, em ... I'm sorry sir" ucap Kyra sembari menjauhkan tubuhnya.


"Nona, sebaiknya kalau jalan ha—" kata sekertaris tersebut yang berhenti karena lambaian tangan pria tadi.


"Tidak apa-apa nona, aku tau kamu tidak sengaja" kata pria tampan itu.


"Wah, anda bisa bahasa Indonesia?" tanya Kyra kagum.


"Tentu saja, aku sering datang ke Indonesia jadi aku sedikit paham dengan bahasanya" lanjut pria tersebut. "Namaku Lee MinHyung, kamu bisa memanggilku MinHyung" sambil menyodorkan tangannya.


"Ah, namaku Kyra" ucap Kyra sembari membalas jabatan tangan MinHyung.


"Kyra ya, baiklah aku akan mengingatnya" kata MinHyung sambil tersenyum. "Karena aku ada rapat penting, aku akan pergi dulu nona Kyra" sambil melihat jam tangannya. "Aku berharap kita bisa bertemu lagi" lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan berjalan meninggalkan Kyra.


"Wah ... tampan sekali" gumam Kyra.


"Menarik," gerutu MinHyung. "Pak Ko, aku ingin tau tentang gadis itu" kata MinHyung kepada sekertarisnya.


"Baik tuan"