What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 32



Kyra kini tengah duduk di bangku kelasnya sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Eric di depan kampusnya tadi.


"Kakak kamu nekat sekali"


"Hey Kyra" sapa seseorang yang tak asing baginya.


Mikha dan Nuril pun kini duduk di sebelah Kyra. Namun Kyra tak bergeming dan tetap menyembunyikan kepalanya di atas meja.


"Kamu nih ya dasar ... Katanya nggak punya pacar, tapi pagi-pagi sudah ciuman di depan kampus ... huh dasar" kata Nuril sambil mendengus kesal.


Namun Kyra masih diam saja.


"Kamu nggak enak badan ya?" tanya Mikha sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Kyra.


Kyra hanya menggelengkan kepalanya.


"Heh, pantas saja kamu menolak Kak Zian, ternyata pacar mu lebih tampan dan kaya dari dia ya ... ih hebat" lanjut Nuril yang memang hobinya banyak omong.


"Dia bukan pacarku" gerutu Kyra sambil mengangkat kepalanya.


"Ya, ya, ya ... dia bukan pacarmu tapi kekasihmu" kata Nuril lagi sambil mengangkat ujung bibirnya.


Mikha pun kini merapatkan duduknya ke samping Kyra dan menaruh tangannya di pundak Kyra. "Tapi Kyra, jika kakakmu tau, pacarmu tiba-tiba menciummu di depan umum, bisa habis dia" kata Mikha.


"Ya dia memang akan ku habisi karena membuatku malu di depan umum" ucap Kyra.


"Siapa yang akan kamu habisi? kakakmu atau pacarmu?" tanya Nuril.


"Ahh ..." teriak Kyra sambil mengacak-acak rambutnya. "Pertama, aku tidak punya pacar. Kedua, yang di depan gerbang tadi adalah kakakku" jalas Kyra dengan nada malas.


"What?" teriak Nuril dan Mikha bersamaan.


"Sssttt ... kecilkan suara kalian, nanti ada yang dengar" bisik Kyra dan menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Eits eits ... sebentar sebentar ... jelaskan dulu, aku nggak mudeng nih" kata Mikha.


"Ah, aku bingung jelasinnya dari mana" ucap Kyra dengan pasrah.


"Apa kakakmu sering bersikap seperti itu kepada mu Kyra?" tanya Nuril dengan penasaran.


"Emm, tidak sering sih ... hanya beberapa kali saja"


"Lalu?" Mikha pun mulai penasaran juga.


"Entahlah, semenjak aku putus dari kak Farel sepertinya dia semakin protektif kepada ku, dan lagi ..." ucap Kyra menggantung.


"Apa?" Nuril malah semakin penasaran.


"Dia selalu bersikap manis kepada ku, tidak seperti biasanya, lalu kakak ... dia bahkan bilang kalau dia mencintaiku" Kyra pun menundukkan kepalanya.


"Haish ... Jangan-jangan kakakmu bukan hanya memandang mu sebagai adiknya Kyra melainkan sebagai wanita dewasa" kata Mikha.


"Wah ... hebat" ucap Nuril sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


"Apanya yang hebat?" tanya Kyra.


"Baru pertama kali aku melihat hubungan terlarang yang sebenarnya" lanjut Nuril.


"Ish... kamu nih Nuril, omongan mu itu loh" ucap Mikha sambil mencubit pinggang Nuril.


"Hey, apa ... aku bicara yang sebenarnya kok"


"Hubungan terlarang ya? ck, sebaiknya Memang aku harus cepat-cepat menghindari kak Eric" batin Kyra lalu menaruh kepalanya di atas meja lagi.


"Sudahlah Kyra, jangan terlalu dipikirkan ... mungkin itu hanya perasaan sesaat kakakmu saja. Nanti jika dia bertemu wanita lain di luar sana mungkin dia akan melupakan perasaannya kepadamu" kata Mikha menenangkan Kyra.


Kyra hanya diam saja sambil menghela nafas panjang, entah kenapa mendengar kata wanita lain, seakan-akan hatinya tidak rela jika melihat kakaknya bersama wanita lain.


"Tapi ... kalau kakaknya seganteng kakakmu sih, mana ada adik yang nolak kalau di perhatikan lebih" ucap Nuril sambil membayangkannya.


"Dasar otakmu ini" kata Mikha.


...----------------...


Setelah kelas Kyra selesai, ia berniat ingin menjenguk Farhan di rumah sakit.


"Kyra, apa kamu ada rencana hari ini?" tanya Mikha sambil membereskan buku yang ada di mejanya.


"Ya, aku mau menjenguk seseorang di rumah sakit"


"Oh, baiklah kalau begitu, kita balik dulu ya" kata Mikha sambil berjalan pergi bersama Nuril.


"Ya, baiklah"


"Kemana Non?" tanya supir taksi.


Kyra pun merapikan tempat duduknya. "Ke mall pak" jawab Kyra.


Dia ingin membelikan sesuatu kepada Farhan. Dalam perjalanan menuju ke mall Kyra pun membuka ponsel baru yang tadi pagi di berikan oleh Eric.


Sesaat dia kembali mengingat tentang apa yang di katakan Nuril waktu di kelas.


"Hem, cinta terlarang? ... ck, andai saja kamu bukan kakakku, aku pasti sangat bahagia bisa mendapatkan lelaki sepertinya"


"Non sudah sampai" ucap pak sopir yang membuyarkan lamunan Kyra.


"Oh iya pak"


Kyra pun mengambil beberapa lembar uang dari tasnya dan memberikannya kepada pak sopir taksi. "Terimakasih pak"


Kemudian dia turun dari taksi dan pergi menuju ke mall untuk membeli buah tangan.


Setelah beberapa menit Kyra berkeliling di dalam mall, kini langkahnya tertuju ke toko buah segar di sana. Dia membeli beberapa buah untuk Farhan.


Setelah selesai membayar buah-buahan tadi, Kyra pun melanjutkan berbelanja.


"Ah, sepertinya kurang kalau cuma buah-buahan" gumam Kyra sambil menenteng satu keranjang buah.


"Itu dia ..."


Kyra pun melangkahkan kakinya menuju ke toko lilin aromaterapi.


"Kalau ini kak Farhan pasti suka" Sambil Kyra memilih-milih lilin aromaterapi yang pas untuk Farhan. "Selain wangi, ini juga bisa menghilangkan stress" ucap Kyra.


Karena sibuk memilih, tanpa sadar Kyra pun menabrak seseorang yang kini berada di sampingnya.


"Eh maaf—" ucap Kyra. "Eh Tuan Lee?" lanjut Kyra yang terkejut melihat Lee MinHyung di sana.


"Wah ... nona Kyra sepertinya hobi sekali ya menabrak orang" ucap MinHyung sambil tersenyum.


"Kok Tuan bisa ada di sini?"


"Yah ... iseng saja, ingin jalan-jalan sebentar" jelasnya. "Eh, nona Kyra juga suka dengan lilin aromaterapi seperti ini?" sambil melihat ke arah tangan Kyra.


"Ah tidak juga, ini aku mau membelikan untuk seseorang" kata Kyra sambil memilih kembali lilin aromaterapinya.


"Oh, apakah untuk pacarannya? Tapi pak ko bilang dia tidak pernah dekat dengan pria kecuali kakaknya" batin MinHyung sambil memandangi Kyra yang tengah sibuk memilih.


"Hem, kalau begitu, mana yang lebih bagus menurutmu?" tanya MinHyung.


"Tuan juga mau membelinya?"


"Iya, bolehkah aku meminta bantuan mu?"


"Tentu saja, Tuan ingin lilin yang seperti apa?" ucap Kyra lalu berbalik melihat wajah MinHyung yang kini tengah memandangnya sedari tadi.


"Yang sederhana saja, aku tidak suka aroma yang terlalu menyengat" jawab MinHyung yang masih saja memandangi Kyra.


"Hem, bagaimana kalau yang ini" kata Kyra sambil memegang lilin Palm wax di tangannya. "Ini juga tidak terlalu menyengat"


"Terserah kamu saja"


"Baiklah ... ini kak tolong di bungkus ya!" ucap Kyra kepada pegawai toko.


MinHyung pun mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya kepada pegawai toko.


"Eh, tidak usah Tuan ... saya akan bayar sendiri" ucap Kyra sungkan.


"Tidak apa-apa, biar aku saja, ini sebagai tanda terima kasih karena kamu telah membantuku memilih lilinnya" ucap MinHyung sambil mengambil paper bag yang diberikan petugas toko.


"Oh ... terimakasih"


Mereka berdua pun pergi dari sana.


"Kamu mau kemana?" tanya MinHyung dan melirik keranjang buah milik Kyra. "Sini aku bantu" langsung mengambil paksa keranjang buah milik Kyra.


"Tidak usah Tuan"


"Sudahlah ayo" MinHyung pun berjalan mendahului Kyra.


"Tidak usah Tuan, saya mau ke rumah sakit ... jadi sini keranjangnya" ucap Kyra sambil mencoba meraih keranjang buah dari tangan MinHyung.


"Aku akan mengantarmu," sambil menarik tangan Kyra. "Aku tidak mau ada penolakan, oke?" lanjutnya sebelum Kyra sempat membantah kata-katanya.


Kyra hanya menurut saja dan ikut MinHyung masuk ke dalam mobil, dan di sana ada pak Ko sang sekertaris Lee MinHyung sekaligus sopirnya.