What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 102



Di malam hari, terlihat Eric sedang mengenakan baju tidurnya dan memasak di dapur.


"Apa yang dia suka? Mau makan nasi juga muntah, tapi aku gak boleh biarkan dia makan mie terus. Huh, aku buatkan tumis daging saja" gumamnya.


Eric pun segera mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak dari dalam kulkas. Tak berselang lama, terasa ada dua buah tangan yang sedang memeluknya dari belakang.


"Kamu sedang ngapain?" kata Eric sambil memotong-motong bawang merah.


"Kangen" ucap Kyra lirih dan Eric pun tersenyum kecil. "Kakak masak apa?"


"Tumis daging untukmu"


Kyra mengeratkan pelukannya. "Dua Minggu terasa sangat lama"


"Memangnya kenapa?"


"Aku ingin segera menikah denganmu, agar tidak ada yang berani menggoda mu lagi" ucap Kyra jengkel.


"Pffftt, itu karena aku sangat tampan"


"Ya, kamu memang sangat tampan" Tangan Kyra pun menggerayangi dada Eric yang di balut baju tidur berbahan kain satin tersebut. "Itu sebabnya aku ingin segera menikah denganmu. Aku tidak mau, ada Yeni kedua, ataupun Serlyn" kata Kyra sambil memainkan ****** Eric dari luar bajunya.


"Kyra, kamu mau menggodaku ya?"


"Apanya? Ini maksudnya" lanjut Kyra sambil mencubit kecil ****** Eric.


"Lepaskan, atau aku tidak bisa mengendalikan diriku"


"Kakak masak saja, kenapa harus menghiraukan aku. Entah kenapa aku ingin memelukmu sekarang. Apa ini juga gara-gara hormon waktu hamil ya?"


"Terus saja cari alasan. Sebenarnya kamu kan yang pengen di manja"


Kyra menghentikan kegiatannya dan malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Eric. "Kak, apa kamu punya hubungan dengan wanita itu sebelumnya?" kata Kyra sambil mendongakkan wajahnya.


"Wanita mana?" ucap Eric yang masih fokus memasak.


"Yang kamu patahkan tangannya tadi. Kalau kamu tidak punya hubungan dengannya, kenapa dia cemburu kepadaku? Dan lagi, dia juga berniat jahat kepadaku. Pasti kakak punya hubungan dengan wanita itu" dengus Kyra kesal.


Tak


Suara pisau menggema di ruangan itu. Eric membalikkan badannya dan menatap Kyra yang ada di belakang tubuhnya tadi.


"Kamu cemburu?"


"Tidak, aku hanya bertanya"


"Kamu ini siapaku?"


"Aku calon istrimu, juga mantan adikmu" gumam Kyra sambil memanyunkan bibirnya.


"Kamu lebih mengenal aku daripada siapapun. Kamu masih berpikir aku ada hubungan dengan wanita lain. Kamu tau sendiri, aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun"


"Yah, Siapa tau. Di belakang ku dan tanpa sepengetahuan ku kakak punya banyak wanita di luar sana"


"Haish, dasar. Dengar ya" gumam Eric lalu memegang kedua bahu Kyra. "Aku hanya mencintaimu. Dan hanya kamu yang aku cintai di dunia ini. Paham"


Mata Kyra tak berhenti menatap Eric. Pipinya merona ketika mendengar penuturannya. Terasa dalam hatinya tumbuh, beribu-ribu pohon bunga yang sedang bermekaran.


"Benarkah?" ucapnya sambil tersenyum.


"Kamu masih tidak percaya?"


"Kalau begitu cium aku" kata Kyra sambil memajukan wajahnya.


"Apa?"


"Cium aku sekarang"


"Hah, kenapa semakin lama kamu semakin kayak anak kecil"


"Gak mau tau, cium aku sekarang" Kyra pun memeluk leher Eric.


Eric melingkarkan tangannya di pinggang Kyra.


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir Kyra.


"Sudah cukup?"


"Lagi" kata Kyra manja sambil tersenyum.


Eric lalu menyelipkan anak rambut Kyra ke telinga. "Sudah sana duduk, aku akan buatkan makan malam"


"Gak mau, lagi"


Kyra cemberut mendengar ucapan Eric yang mengingatkannya kepada ayahnya.


"Baiklah, cepat selesaikan masakannya"


Dengan wajah kesal, Kyra segera pergi ke kursi meja makan. Eric memandangnya dengan gemas.


"Kamu sangat imut sekali kalau sedang manja begini. Aku juga tidak sabar menunggu hari pernikahan kita"


Beberapa menit kemudian, Eric sudah siap dengan masakannya. Segera ia menaruh makanan ke atas meja, sedangkan Kyra menata piring dan mengambil air minum.


"Kak, besok aku akan mulai masuk kuliah lagi"


"Kamu tidak apa-apa? Kamu baru sembuh" Eric duduk di kursinya.


"Ayolah, aku sudah sembuh sejak lama. Jika di rumah terus aku akan bosan" Segera Kyra menyusul Eric dan duduk di pangkuannya.


"Baiklah, tapi janji jangan sampai terluka"


"Hanya kuliah saja, bagaimana bisa aku akan terluka?" lanjut Kyra sambil melingkarkan lengannya di leher Eric.


Eric mengambil makanan di garpunya dan menyuapi Kyra. "Ada hal hal yang tidak terduga. Jadi kamu harus hati-hati dan jangan sampai terluka. Mengerti"


"Baiklah baiklah" kata Kyra dengan mulut yang penuh makanan.


"Lalu pernikahan kita? Jangan lupa, kita juga harus membantu ayah dan ibu mempersiapkannya"


"Aku akan ambil cuti selama seminggu, Minggu depan. Kita pergi fitting baju pengantin"


"Bukankah waktunya terlalu mepet? Sebaiknya kamu cuti dari sekarang"


"Gak mau, aku sudah cuti beberapa hari. Kalau kayak gini terus, kapan aku lulusnya?" lanjut Kyra sambil menikmati makanan yang di masukkan Eric kedalam mulutnya.


"Baiklah, terserah kamu saja. Asal kamu tidak kecapekan. Kasian bayinya"


"Heemm ... Nanti juga aku mau mengajak Mikha datang ke rumah ayah dan ibu. Boleh kan?"


"Tentu saja boleh"


"Oh ya kak. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" kata Kyra yang masih setia duduk di pangkuan Eric.


"Ada apa? Apakah hal yang serius?"


"Besok aku mau mengajak kak Farhan makan siang. Bolehkan?"


Sejenak Eric pun terdiam. Dalam hatinya ia ingin melarang Kyra untuk bertemu dengan Farhan. Karena Eric tau Farhan menyukai Kyra sejak lama. Meskipun Kyra akan menikah dengannya, tapi Eric masih merasa kalau Farhan adalah saingan cintanya.


"Kenapa kakak diam saja? Gak boleh ya?''


Eric meletakkan garpunya dan berbalik menatap Kyra. "Kyra, kamu tau sendiri kalau Farhan menyukaimu kan?"


"Hemm... Dia memberitahukan perasaannya waktu aku di rumah sakit"


"Lalu? Kamu mau memberikan dia kesempatan untuk mendekatimu? Kamu mau tarik ulur dengannya? Apa kamu lebih menyukainya dari pada aku?" ucap Eric setengah kesal.


"Kenapa kakak marah? Bukan itu yang aku maksud"


"Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Aku tidak mau kamu menemui laki-laki lain"


Kyra segera menarik wajah Eric yang berpaling dari tatapannya. "Kakak ... Aku hanya ingin mengakhiri sesuatu dengannya"


"Maksudmu ..."


"Iya ... Dia bilang kepada Mikha, bahwa dia mencintai seseorang saat ini. Dan aku rasa, kak Farhan masih menaruh harapan kepadaku. Aku tidak mau itu terjadi. Dia ingin menikahi ku, dan aku masih berhutang satu jawaban kepadanya. Aku tidak mau, perasaan Kak Farhan kepadaku menghambat hubungannya dengan Mikha. Jadi aku ingin mengajaknya makan siang, dan aku ingin menegaskan kepadanya. Bahwa aku akan segera menikah. Dan dia tidak perlu lagi berharap kepadaku. Dengan begitu, mungkin dia bisa melupakan perasaannya kepada ku"


"Jadi kamu mau memberitahu Farhan kalau kita akan segera menikah?" tanya Eric dan di balas anggukan oleh Kyra. "Biar aku saja. Aku akan beritahu dia sendiri"


"Memangnya akan berhasil? Aku jamin itu tidak akan berhasil"


"Kenapa begitu?"


"Aku yakin kak Farhan pasti tidak akan mendengarkan kakak. Sebagai saingannya, dia pasti merasa kakak hanya ingin dia menyerah. Jadi aku ingin membuatnya melupakan perasaannya. Kak Farhan sudah aku anggap sebagai teman juga saudara. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi"


"Baiklah, kalau itu keputusan mu. Aku tidak akan melarang mu"


"Hemmm ... Sekarang ayo makan lagi. Masakan kakak enak, bagaimana jika aku ketagihan? Bisa-bisa aku akan malas memasak nanti setelah kita menikah"


Eric pun menyuapi Kyra kembali. "Tidak apa, biar aku saja yang memasak untukmu setiap hari"


"Benarkah?"


"Hemm, kamu hanya perlu tidur dan makan"


"Ya, dan aku akan berubah menjadi babi"