What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 85



Keesokan harinya, Kyra sedang bersiap-siap untuk pulang dari rumah sakit.


"Kyra, apa ada yang masih tertinggal?" ucap Mikha sambil membantu Kyra membereskan barang-barangnya.


"Tidak ada. Sudah semua kok" Kyra pun mengajak Mikha duduk di sofa. "Duduk dulu sambil nunggu kak Eric.


"Hufft ... Oh ya. Ngomong-ngomong Kyra. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


"Apa?" kata Kyra sambil merebahkan punggungnya di sandaran sofa.


"Bukankah, kamu dan kakakmu ..." ucap Mikha menggantung.


"Entahlah. Aku juga tidak tau. Lagipula, kakak sudah mengakui kalau ini anaknya. Itu sudah lebih dari cukup bagiku" gumam Kyra dengan wajah murung.


"Apanya yang lebih dari cukup? Lihatlah, wajahmu terlihat sedih. Kyra, apa kamu benar-benar menyukai kakakmu?"


Kyra hanya terdiam, beberapa saat kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Aish ... Lalu? Apa kalian akan menikah?"


"Bagaimana mungkin Mikha. Ibu dan ayah pasti melarangnya"


"Iya juga sih. Hemm ... Semoga saja ada keajaiban, supaya kalian bisa bersama dan menikah. Kalian kan saling mencintai, akan sangat menyakitkan jika kalian harus berpisah" gerutu Mikha asal bicara.


"Kamu ini bicara apa sih Mikha"


"Ya kan, siapa tahu kalian bisa menikah suatu saat nanti. Ngomong-ngomong wajah kalian tidak mirip loh. Mungkin saja kak Eric itu bukan saudara kandungmu"


"Mana mungkin. Tapi iya juga sih, banyak yang bilang kalau wajah kita tidak mirip" kata Kyra.


"Ya kan"


"Sudahlah jangan membahas itu. Lalu bagaimana kamu sama kakak Farhan kemarin? Apa kamu sudah berhasil mendekatinya?" kata Kyra mengalihkan pembicaraan.


"Hufft, boro-boro mau mendekatinya dan berkenalan dengannya. Dia saja tidak berbicara sepatah kata pun saat di perjalanan pulang. Dia tuh cuek dan dingin" gerutu Mikha kesal.


"Apa kamu sudah menyerah? Tapi sebenarnya dia tidak seperti itu kok, dia ramah dan juga baik jika kamu mau mengenalnya lebih dalam lagi"


"Kalau ada kesempatan sih aku pengen berkenalan dengan dia lagi. Tadi juga aku buru-buru ke sini karena ingin bertemu dengannya, tapi ternyata dia tidak ke sini"


"Iya, katanya dia tadi sedang sibuk karena di kantor ada rapat, jadi dia tidak ke sini. Tapi jika kamu mau aku bisa membantumu untuk bertemu dengannya''


"Benarkah?" kata Mikha dengan mata berbinar-binar.


"Beneran"


"Aaahhh ... Makasih" kata Mikha sambil memeluk Kyra dengan penuh semangat.


Kyra hanya tersenyum lalu membalas pelukan Mikha.


Tak berapa lama Eric pun masuk ke dalam ruangan.


"Apa kalian sudah selesai? Jika sudah, ayo kita pergi sekarang" kata Eric setelah masuk ke dalam ruangan.


"Sudah kok, ini kita malah sedang menunggu kakak" kata Kyra sambil berdiri dari tempat duduknya.


Eric pun mengambil tas yang berisi barang-barang Kyra. "Ayo" ucap Eric.


Mereka bertiga pun keluar dari ruangan tersebut dan berjalan pergi dari rumah sakit itu. Setelah sampai di parkiran rumah sakit Eric segera menaruh tas Kyra di bagasi.


"Kyra aku tidak bisa mengantarmu, baru saja mamaku telepon dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku antar kamu sampai disini. Lain kali kalau ada waktu aku akan mampir ke apartemen mu lagi"


"Ya baiklah, hati-hati di jalan Mikha, dan terimakasih untuk hari ini"


"Ah, jangan sungkan begitu. Kita kan sahabat Kyra, sudah seharusnya aku membantumu. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Kak Eric, aku pulang dulu ya"


"Hem" ucap Eric cuek.


"Dah, Mikha" kata Kyra sambil melambaikan tangannya.


"Dah ..."


Mikha pun bergegas pergi menuju ke mobilnya.


"Kakak, kenapa cuek begitu sama Mikha" tanya Kyra sambil melihat mobil Mikha melaju keluar dari rumah sakit.


"Aku tidak suka dengannya" kata Eric sedikit kesal.


"Kenapa?"


Eric pun mengalihkan pandangannya ke arah Kyra dan menatapnya.


"Kalau ada dia, kamu tidak menghiraukan ku sama sekali. Kamu juga tidak perhatian denganku, aku tidak suka itu" kata Eric sambil menyilangkan kedua tangannya.


Kyra tersenyum kecil melihat tingkah kakaknya yang sedang marah seperti anak kecil.


"Baiklah baiklah, itu semua memang salahku. Seharusnya aku tidak cuekin kakak"


Eric hanya terdiam dengan wajah datarnya yang masih menatap ke arah Kyra.


"Jangan marah lagi dong" ucap Kyra sambil mencubit kecil pipi Eric.


"Baiklah, aku tidak akan marah. Tapi ada syaratnya"


"Apa?"


"Cium dulu" kata Eric sambil mengarahkan wajahnya ke depan wajah Kyra.


"Hey ..." teriak Eric kepada Kyra.


Kyra tak mendengarkan Eric lalu masuk ke dalam mobil.


"Pfftt, dasar" gerutu Eric.


Eric lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Sesaat kemudian Eric pun melajukan mobilnya melesat ke jalan raya.


"Hey, tutup jendelanya. Kami bisa masuk angin kalau begitu" kata Eric yang kini melihat Kyra sedang merasakan angin yang masuk melewati jendela mobil.


"Hemm ... Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghirup udara segar" ucap Kyra sambil memejamkan matanya merasakan angin yang mengenai wajahnya.


"Kamu pasti suntuk sekali saat ada di rumah sakit"


"Ya, sangat membosankan"


"Mau jalan-jalan?"


Seketika Kyra langsung membuka matanya. "Mau ... Kemana?" kata Kyra bersemangat.


"Ke pantai?"


"Mau mau ... Kapan? Sekarang?" tanya Kyra dengan penuh semangat.


Eric pun melirik ke arah Kyra dan tersenyum melihat wajah Kyra yang menggemaskan baginya.


"Tidak sekarang sayang" kata Eric sambil mengusap kepala Kyra. "Tunggu keadaan kamu benar-benar membaik aku akan membawamu ke pantai"


"Baiklah, janji ya?"


"Iya, aku janji. Sekarang, tutup jendelanya. Nanti kamu masuk angin, kasihan anak kita juga kalau kamu sakit" ucap Eric sambil mengelus perut Kyra.


Kyra pun seketika menurut kepada Eric, dan segera menutup jendelanya.


"Bagus" gumam Eric sambil tersenyum senang.


Tak berapa lama Kyra pun tertidur sepanjang perjalanan pulang.


Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di apartemen. Segera Eric pun memarkirkan mobilnya di basement apartemen.


"Kamu pasti kelelahan ya?" kata Eric sambil mengusap lembut pipi Kyra.


Ia pun segera turun dari mobil dan menggendong Kyra dengan hati-hati agar dia tidak terbangun.


Setelah sampai di dalam apartemen, Eric pun menaruh tubuh Kyra perlahan.


Karena merasa tubuhnya letih dan lelah, tanpa sadar Kyra pun tertidur hingga malam hari.


"Euummhh" gumam Kyra sambil menggeliatkan tubuhnya.


"Sudah bangun?" Kata Eric yang kini duduk di samping Kyra sambil dengan laptop yang berada di hadapannya.


"Kakak sedang bekerja?" ucap Kyra dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ya, ada berkas yang harus kakak lihat. Kalau masih mengantuk tidur saja" kata Eric sambil mengelus rambut Kyra.


Kyra pun mendekatkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Eric.


"Aku kangen sekali dengan aroma tubuh kakak" gumam Kyra sambil memejamkan matanya dan menyerukan wajahnya di pinggang Eric.


Eric pun tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Kyra.


"Apa kamu lapar? Kamu belum makan dari tadi siang"


"Entahlah, sepertinya aku sedang ingin makan nasi goreng" kata Kyra lirih.


"Mau aku buatkan?''


Kyra pun mendongakkan kepalanya memandang Eric.


"Mau"


"Ayo"


Mereka berdua pun turun dari ranjang lalu pergi ke dapur.


"Tunggu di sini, aku akan memasaknya untukmu" kata Eric sambil menyuruh Kyra duduk di kursi meja makan.


Eric pun lalu mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak.


"Oh ya kak. Katanya kemarin kakak mau memberitahu sesuatu saat aku keluar dari rumah sakit. Apa?"


"Aku mau mengajakmu pulang besok" kata Eric sambil sibuk memasak.


"Pulang? Ke rumah ayah dan ibu?"


"Iya" jawab Eric singkat.


"Tapi .."


"Ada aku apa yang perlu kamu khawatirkan?" kata Eric dengan santainya.