
Eric yang baru saja keluar dari kamar Kyra, dia langsung saja masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
"Sial, hampir saja aku melakukannya" gerutu Eric sambil mengacak-acak rambutnya.
"Untung saja aku cepat-cepat keluar dari kamarnya, kalau tidak ..." gumam Eric. "Ahh ...."
Dia teringat akan kejadian yang baru saja di alaminya, mengingat aroma tubuh Kyra saja, Eric merasa tak bisa mengendalikan dirinya.
Eric pun kini bergegas ke kamar mandi dan mengguyur badannya dengan air dingin supaya pikirannya bisa kembali jernih.
...----------------...
Sejak kejadian itu, akhir-akhir ini Kyra menjadi canggung dengan kakaknya. Sementara itu, Eric malah berlagak seperti tidak ada yang pernah terjadi antara dia dan Kyra.
"Kenapa" tanya Eric kepada Kyra yang kini sedang mengendarai mobilnya.
"Tidak ada" ucap Kyra singkat.
"Kamu marah sama kakak?" tanya Eric yang tidak ingin Kyra menjauhinya gara-gara kejadian itu.
"Kenapa aku marah? biasa aja kok" gumam Kyra.
"Terus, kenapa kamu bersikap cuek sama kakak akhir akhir ini?"
"Aku? enggak kok ... mungkin perasaan kakak aja"
"Ck, ya sudah ... terus kapan kamu berencana pindah ke apartemen kita?" tanya Eric sambil sesekali melirik ke arah Kyra.
"Hem, terserah kakak aja, kapan kakak bisanya, lebih cepat lebih baik. Karena sebentar lagi aku akan lebih sibuk lagi, juga kasian kakak tiap hari harus nganterin aku dan putar balik ke kantor yang jaraknya juga lumayan jauh dari kampusku" jelas Kyra.
"Ya sudah, besok sore saja kita sekalian pindah" ucap Eric yang kini di balas anggukan kepala oleh Kyra.
"Hem, sekarang aja cuek, nanti kalau kita tinggal bersama mungkin dia akan berubah seperti biasanya" batin Eric.
Seperti biasa, ketika sampai di depan kampus Kyra, Eric menghentikan mobilnya di seberang jalan.
"Aku pergi dulu ya, kakak hati-hati di jalan" ucap Kyra yang keluar dari mobil.
Sebelum Eric beranjak pergi, ia terus saja memandang ke arah Kyra yang kini sedang berjalan menuju kampusnya. Saat Kyra berada di depan pintu masuk kampus, terlihat ada seorang pemuda seumuran dengan Kyra yang tengah mendekati Kyra dan menyapanya.
Eric yang masih memandang Kyra dari dalam mobil, merasa tidak nyaman melihat pemandangan tersebut. Apalagi ketika Kyra membalas senyuman pemuda itu dan masuk ke dalam kampus bersama-sama.
"Ck, pasti hanya teman kan? tapi kenapa kamu tersenyum begitu manis kenapa dia?" gerutu Eric yang entah kenapa merasa kesal hanya karena kejadian tersebut, ia pun mulai melajukan mobilnya dan pergi menuju kantor.
...----------------...
Di kampus Kyra.
"Kyra!" suara teriakan seseorang yang memanggil nama Kyra.
Kyra pun menoleh ke sumber suara tersebut yang tak lain adalah Zian, seorang pemuda tampan yang juga seniornya di kampus.
"Eh, Kak Zian, ada apa?" tanya Kyra
"Tidak ada, yuk masuk" ucap Zian dan ingin menggandeng tangan Kyra namun tidak sempat.
"Emm, kamu tadi di antar siapa? supirmu ya?" tanya Zian basa basi.
"Bukan," jawab Kyra dengan cuek.
"lalu siapa?" tanya Zian lagi.
Sejak pertama kali melihat Kyra masuk ke kampus tersebut, Zian sudah menaruh hati kepadanya, namun Kyra sangat bersikap cuek dan terus menghindarinya.
"Kakakku" jawab Kyra.
"Oh, kalau begitu, bisa nggak kamu nan—"
"Kyra!" teriak seseorang yang memotong kata-kata Zian
"Hey, tapi ..." kata Zian tak sempat sebab Kyra sudah jauh darinya. "Ck, kamu susah sekali untuk di dekati Kyra, tapi tak apa, justru aku malah suka" gumam Zian sambil senyum senyum sendiri.
Kyra yang baru saja meninggalkan Zian, kini berjalan menuju ke arah para sahabatnya itu.
"Hey, itu tadi Kak Zian ya?" tanya Nuril seorang gadis periang dan juga cerewet.
"Hem, iya, kenapa memang?" tanya Kyra dengan santainya.
"Apa kalian pacaran? kenapa kalian bisa jalan berdua?" tanya Nuril lagi
"Jangan ngawur deh, tadi juga cuma kebetulan ketemu di depan gerbang kampus" ucap Kyra.
"Udah, Pepet aja Kyra, lagian dia juga suka sama kamu, aku dengar dia bahkan jatuh cinta sama kamu dari pandangan pertama" lanjut Nuril sembari mengangkat kedua alisnya.
"Ssttt, jangan sembarangan deh, kalau menurut aku lebih baik kamu jauhi dia dan jangan dekat-dekat dengannya" ucap Mikha yang sedari tadi diam saja.
"Kenapa?" tanya Kyra.
"Kamu lihat gadis itu?" bisik Mikha sembari mengarahkan pandangannya ke seorang gadis cantik yang tengah berdiri di kerumunan para mahasiswi.
"Yang mana?" tanya Kyra lagi
"Itu, yang pakai baju biru itu loh" bisik Mikha.
"Hem? terus kenapa?" seru Kyra.
""Namanya Rossi. Aku dengar, dia sudah lama mengincar Kak Zian dari waktu mereka SMA, dia menggunakan koneksi ayahnya agar bisa masuk ke kampus ini supaya bisa lebih dekat dengan kak Zian. Jadi aku saranin kamu agar menjauhi kak Zian, aku takut nanti Rossi akan mencari masalah dengan mu" jelas Mikha panjang lebar.
"Ck, aku nggak peduli, lagipula aku juga nggak tertarik dengan kak Zian" ucap Kyra dan beranjak pergi.
"Tapi, darimana kamu tahu itu semua Mikha?" tanya Nuril sembari berjalan mengikuti Kyra.
"Biasa lah, anak perempuan kan suka menggosip" ucap Mikha sembari menyunggingkan senyuman miring.
"Hem, apa masalahnya jika dia suka sama kak Zian? lagian kan nggak ada hubungannya juga dengan Kyra" ucap Nuril yang kini mengikuti Kyra duduk di bangku kelas.
"Aish, dia itu terkenal sebagai seorang gadis perundung di sekolahnya dulu, jadi lebih baik hati-hati deh sama dia" kata Mikha.
"Sudahlah, berhenti membicarakan orang lain" ucap Kyra kepada kedua sahabatnya itu.
"Ya sudah, kalau begitu kita bahas tentang dosen kita aja" ucap Nuril. "Aku dengar dosen kita kali ini orang yang masih muda dan juga tampan loh" imbuhnya lagi.
"Yang benar?" ucap Mikha.
"Tentu lah" kata Nuril.
Begitulah seterusnya percakapan mereka, namun Kyra tidak menggubris obrolan mereka. Ia pun mengalihkan pandangannya dan menatap kosong ke arah depan.
Dalam hati Kyra, rasanya dia belum siap untuk pacaran lagi, ia masih mengingat sang mantan kekasihnya yaitu Farel, yang pernah membohonginya dan memberikan cinta palsu kepada Kyra.
Sampai saat ini, Kyra masih menutup hatinya untuk siapapun, dan bahkan belum mampu mempercayai laki-laki lagi kecuali Eric.
Bersama Eric, Kyra merasa lebih tenang dan merasa nyaman. Eric juga selalu ada ketika Kyra berada dalam masalah.
Ketika membayangkan wajah kakaknya itu, seketika bayangan momen-momen ketika Eric tengah mencium dan menyentuhnya membuat jantung Kyra berdetak kencang.
"Ahh, bagaimana dia bisa bersikap setenang itu setelah melakukannya" batin Kyra.
"Ahh, kamu membuatku gila!" teriak Kyra seketika.
"Eh? siapa yang membuatmu gila Kyra?" tanya Mikha.
"Oh, tidak ada, aku hanya mengigau tadi" ucap Kyra yang malu.
"Aneh kamu ini, mana ada orang mengigau saat sedang tidak tidur" kata Nuril.