
"Mikha kamu ada di sini?'' ucap Kyra saat melihat Mikha di belakang kakaknya.
Dengan cepat Mikha berlari kearah Kyra dan langsung memeluknya.
Brughh
"Ugh" desis Kyra kesakitan saat tubuh Mikha memeluknya.
Dengan khawatir Eric dan Farhan hendak menghampiri mereka namun Kyra menghentikannya.
Kyra pun menggerakkan bibirnya, memberikan isyarat kepada mereka jika dia tidak apa-apa.
"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak memberitahuku?" kata Mikha sambil menangis sesenggukan di dalam pelukan Kyra.
Kyra pun membalas pelukan Mikha dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahumu atau mengabarimu" ucap Kyra.
"Aku sangat khawatir kepadamu" Mikha pun malah semakin menangis dan memeluk Kyra lebih erat.
"Ssstt, tenanglah. Aku tidak apa-apa" Kyra pun melepaskan pelukan Mikha. "Ayo duduklah"
Kyra pun mengajak Mikha duduk di sofa.
"Ini usap air matamu" kata Farhan sambil memberikan kepada Mikha.
Mikha pun menerima tisu dari Farhan. "Terimaka-" Sejenak Mikha pun tertegun melihat Farhan.
"Apa aku sedang bermimpi? Dia ... Dia tampan sekali ...." batin Mikha.
"Hey, kenapa kamu melamun?" kata Farhan sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Mikha.
"Tampan sekali" gumam Mikha lirih sambil masih memandangi wajah Farhan.
"Mikha? Kamu kenapa?" Kyra pun membuyarkan lamunan Mikha dengan menyenggol lengannya.
"Ah? eh? ... Itu ... emm .. aku tidak apa-apa" ucap Mikha dengan gugup sambil memalingkan wajahnya.
"Kamu itu sangat cantik, jadi jangan menangis. Atau kalau tidak, kecantikan mu itu akan luntur. Oke?" kata Farhan mencoba menghibur Mikha.
"E.. e .. iya, aku tidak akan menangis lagi" kata Mikha yang masih gugup.
"Apa? Dia bilang aku cantik? Aduh ... Jantungku ..." batin Mikha sambil memegangi dadanya.
"Kak Farhan apa-apaan sih. Kamu menghiburnya seperti menghibur anak kecil saja" gerutu Kyra.
"Aish, aku menghiburnya supaya dia tidak merepotkan mu saat menangis. Dasar" gumam Farhan lirih.
"Kak Farhan tadi bilang apa?" tanya Kyra.
"Tidak ada, aku akan pergi. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya"
"Eh, tunggu" ucap Kyra menghentikan Farhan.
"Ada apa?"
"Berikan kantung plastik itu. Apa kakak mau membawa camilan itu keluar? Sini" Kyra pun mengulurkan tangannya.
"Katanya tadi gak mau?"
"Ya, sekarang aku mau. Sini"
"Ck, dasar bumil. Nih, makan sampai kenyang" kata Farhan sambil memberikan kantung plastik berisikan camilan kepada Kyra dengan tersenyum.
"Hemm ... Makasih" Kyra pun membalas Farhan dengan senyuman.
"Ehem" gumam Eric yang sedari tadi berada di samping pintu dan sekarang terlihat sedang kesal.
"Sana pergi" kata Kyra sambil mengibaskan tangannya.
"Baiklah, aku dan Eric akan ada di luar. Jika butuh sesuatu kamu panggil saja"
Farhan dan Eric pun berjalan keluar dari ruangan Eric.
"Apa kamu sudah mendingan Mikha?"
"Iya, aku sudah lebih baik sejak aku melihatmu tadi" kata Mikha sambil tersenyum ke arah Kyra.
"Baguslah" Kyra juga membalas senyuman Mikha.
"Kyra, bagaimana keadaan mu? Aku dengar, kamu ..." ucap Mikha menggantung. "Hamil" imbuhnya lirih.
Kyra sedikit terkejut mendengar ucapan Mikha.
"Iya, aku sudah jauh lebih baik. Kamu, tau darimana soal itu? Apa kakak yang memberitahu mu tentang ini?"
"Nuril? Bagaimana bisa dia tahu soal ini? Aku belum memberitahu siapa pun tentang ini"
"Sebenarnya Nuril ..."
Mikha pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat berada di kampus kepada Kyra. Tidak terkecuali kejadian saat di mana dia memergoki Nuril waktu berbicara kepada Zian di halaman belakang kampus.
"Aku kesal sekali sampai ingin merobek-robek mulutnya. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa melakukan itu semua kepadamu, padahal kita bertiga adalah sahabat" kata Mikha dengan kesal.
Kyra pun terdiam saat mendengar cerita Mikha. Ia tak habis pikir sekaligus hampir tidak percaya bahwa Nuril bekerjasama dengan Zian dan Serlyn untuk menjebaknya hanya agar Serlyn bisa menikah dengan Eric kakaknya.
"Kyra sebaiknya mulai sekarang kamu harus menjauhi dia. Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan orang semunafik Nuril itu. Dia sangat membencimu, tapi entah apa yang dia tidak suka darimu semua itu tidak masuk akal bagiku"
"Mikha bagaimanapun juga dia kan teman kita. Kita sudah bersama-sama semenjak kita masuk kuliah. Bagiku kalian berdua adalah sahabat terbaikku" kata Kyra mencoba tegar namun sebenarnya dia merasa sedih di dalam hatinya.
"Aku sudah tidak menganggapnya sebagai temanku. Aku tidak sudi berteman dengan orang seperti itu dia tidak suka denganmu lalu melakukan ini kepadamu. Jika dia tidak suka kepadaku apa suatu saat nanti dia juga akan membunuhku? Aku paling benci dengan teman seperti itu"
Kyra diam saja. Sebenarnya apa yang dikatakan Mikha ada benarnya juga. Namun dia masih tidak percaya jika Nuril melakukan semua itu hanya karena tidak suka kepada Kyra.
"Ah sudahlah, jika aku terus membahas tentang Nuril aku semakin kesal dan ingin membunuh seseorang. Lebih baik kita berbicara tentang hal yang lain saja" kata Mikha sambil menggenggam kedua tangan Kyra.
"Hemm .. Iya itu jauh lebih baik. Mari kita lupakan semua itu" sambung Kyra.
"Oh ya ngomong-ngomong, siapa pria tadi?" tanya Mikha penasaran.
"Pria .. Oh maksudmu Kak Farhan tadi?
"Iya pria yang memberiku tisu tadi, dia tampan sekali" kata Mikha sambil tersenyum. "Maaf, aku sangat lancang ya, maafkan aku Kyra sepertinya dia pacar mu ya?"
"Pffftt .. Bukan kok, dia bukan pacarku. Dia adalah sekretaris kakakku dia dulu pernah tinggal di rumahku. Jadi kita sedikit akrab" jelas Kyra.
"Oh begitu ya, baguslah. Jadi aku masih ada kesempatan. Ngomong-ngomong, apa dia punya pacar?" tanya Mikha sambil berbisik-bisik kepada Kyra.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu menyukainya? Apa kamu benar-benar menyukai kak Farhan?" kata Kyra menyelidiki.
Mendengar ucapan Kyra, kini pipi Mikha berubah menjadi merah. "Entahlah sepertinya aku agak sedikit tertarik kepadanya" jelas Mikha malu.
"Baguslah jika Mikha menyukai Kakak Farhan. Aku bisa menjodohkan mereka berdua agar Kak Farhan bisa mengurungkan niatnya untuk menikah denganku"
"Dia tidak punya pacar, dia juga pria yang pekerja keras. Jika kamu suka dengannya maka kejarlah dia. Aku yakin dia juga pasti akan menyukaimu" kata Kyra sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Mikha bersemangat dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja. Apa kamu mau aku membantumu?"
"Caranya?" tanya Mikha penasaran.
Sebelum Kyra menjawab pertanyaan Mikha, tiba-tiba Eric pun masuk ke dalam ruangan bersama Farhan.
"Hey nona, sebaiknya kamu pulang saja. Apa kamu tidak lelah? Kamu bahkan menunggu diluar apartemenku seharian. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja biar Farhan yang akan mengantarmu" kata Eric sesaat setelah masuk ke dalam ruangan.
"Apa? aku?" kata Farhan terkejut dan merasa tidak terima.
"Apa? Mikha, Apa benar kamu menunggu di depan apartemen seharian?" tanya Kyra terkejut.
"Mau bagaimana lagi. Aku sangat khawatir kepadamu. Sejak kemarin lusa aku bolak-balik ke apartemen mu tapi tidak ada orang di sana. Sedangkan aku tidak tahu dimana kantor kakakmu dan aku juga tidak tahu di mana rumahmu yang sebenarnya. Jadi aku tunggu saja kamu di depan apartemen mu, siapa tahu jika Kakak mu pulang aku bisa bertanya kepadanya"
"Hmmm ... Mikha ... Lain kali jangan lakukan itu lagi. Kamu pasti capek menunggu disana" ucap Kyra tersentuh dengan perlakuan Mikha.
"Jika kamu tidak mau aku melakukan hal itu lagi. Maka kamu harus mengabariku apapun yang terjadi kepadamu. Kamu harus janji itu"
"Baiklah aku berjanji kepadamu"
"Apa kalian sudah selesai? Kyra harus istirahat, lebih baik kamu segera pulang" kata Eric mengingatkan.
"Kakak jangan berbicara seperti itu kepada Mikha"
"Tidak apa-apa Kyra, sebaiknya memang aku harus segera pulang. Besok aku akan menjengukmu lagi"
"Farhan cepat antar dia pulang" kata Eric kepada Farhan.
"Kenapa harus aku?"
"Dia tidak bawa mobil jadi kamu harus mengantarnya" kata Eric dengan tegas.
"Iya Kak Farhan, tolong antarkan Mikha pulang ya" imbuh Kyra.
"Hais baiklah" desah Farhan "Ayo nona, Aku akan mengantarmu pulang"
"Terima kasih tuan, maaf merepotkanmu. Kyra kalau begitu aku pamit pulang ya. Jaga kesehatanmu besok aku akan ke sini lagi"
"Ya hati-hati di jalan"