
Beberapa hari kemudian setelah kejadian di atap villa itu, Kyra jarang sekali bertemu dengan Eric. Bukan karena menghindar namun karena Eric yang kini tengah sibuk dengan pekerjaannya. Setiap pagi pun Eric jarang sekali sarapan di rumahnya, pulangnya pun hingga larut malam.
"Kyra!" panggil Bu Sofia dari dapur.
"Iya, Bu" jawab Kyra dari dalam kamarnya.
Kyra pun keluar kamarnya dan datang menghampiri ibunya yang tengah berada di dapur.
"Ada apa Bu?"
"Ibu mau minta tolong sama kamu, tolong antarkan ini untuk kakakmu" kata Bu Sofia sembari menyodorkan bekal makan siang ke Kyra.
"Ke kantor?"
"Ya iya lah, memangnya ke mana lagi?" ucap Bu Sofia sembari melanjutkan kegiatannya membersihkan dapur. "Ibu khawatir dengan kakakmu, semenjak ayahmu pulang dari rumah sakit, dia sibuk sekali hingga jarang sarapan ataupun makan malam di rumah. Mana tau kakakmu juga tak sempat makan siang di kantornya, jadi kamu tolong antarkan untuk dia, ya?"
"Ya sudah lah, lagian sejak libur sekolah Kyra bosan sekali di rumah terus" ucap Kyra.
"Hemm, bagus lah. Sekarang kamu ganti baju sana, nanti biar di antar sopir ke kantor kakakmu"
Kyra pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor Eric. Dia pun memakai sebuah dress cerah warna peach dan memoles tipis wajahnya dengan makeup, lalu menggeraikan rambut hitam panjangnya.
Setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya, Bu Sofia yang berada di ruang tengah, kini sedang memandang Kyra yang turun dari tangga.
"Cantik sekali anak Ibu" ucap Bu Sofia yang di balas senyuman malu oleh Kyra.
"Ibu bisa aja, kalau begitu Kyra berangkat dulu ya Bu" kata Kyra sembari meraih tangan ibunya dan menciumnya.
"Iya, hati-hati di jalan ya!"
"Iya Bu" ucap Kyra sembari melangkah keluar rumah dan menuju mobil.
...----------------...
Sedangkan di kantor, Eric tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Ini berkas yang kamu minta, tentang semua pemegang saham di perusahaan ini" kata Farhan sembari menyodorkan beberapa berkas ke Eric.
"Hemm, taruh saja di situ!" ucap Eric sembari fokus dengan laptopnya.
"Ric, sebaiknya kamu berhati-hati dengan orang yang bernama Freddy William ini" kata Farhan sembari memperlihatkan beberapa berkas. "Kamu lihat sendiri kan, di rapat dewan direksi bahkan dia mampu membuat yang lain menentang mu. Sepertinya dia memang sudah bertekad merebut perusahaan ini dari awal" imbuhnya.
"Aku sudah tau itu, dia bahkan memaksa anak lelakinya mendekati Kyra''
"Apa? Bukanya anak laki-lakinya sudah menikah ya?" ucap Farhan.
"Dia masih punya seorang anak laki-laki"
"Hemmm, niatnya sangat ketara sekali ya? Ck ck ck, dasar rubah tua licik" kata Farhan. "Oh ya, sudah waktunya makan siang, ayo kita turun untuk makan siang?" kata Farhan sembari melihat jam tangannya.
"Hemm, ya. Kamu duluan saja"
"Hey jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, pekerjaan memang penting, tapi kesehatan lah yang paling utama"
"Iya iya, dasar bawel. Sudah sana pergi. Aku sedang malas melihat wajahmu" kata Eric yang memang masih fokus pada laptopnya.
"Cih. Awas kamu" gumam Farhan sembari pergi meninggalkan ruangan Eric.
Beberapa saat kemudian setelah Farhan pergi dari ruangan Eric, Kyra pun tiba di kantor. Setelah tiba, dia pun kebingungan mencari ruangan Eric sebab seumur hidupnya baru pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan tersebut. Setelah beberapa kali bertanya kepada beberapa staf akhirnya ia pun sampai di depan ruangan Eric.
Tok Tok Tok
"Masuk" jawab Eric dari dalam ruangannya.
Kyra pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Eric.
"Kyra ... kamu kenapa ke sini?" ucap Eric yang melihat Kyra masuk ke dalam ruangannya.
"Ini" ucap Kyra sembari meletakkan kotak makan di atas meja.
Eric yang melihat Kyra pun segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Karena beberapa hari terakhir ini ia sibuk sekali dengan pekerjaannya, Entah mengapa ia merasa sangat rindu sekali kepada Kyra.
"Kakak, kamu ngapain sih?" tanya Kyra yang keheranan melihat Eric yang tiba-tiba memeluknya.
"Entah mengapa, memelukmu membuatku merasa nyaman dan beban hidupku sedikit berkurang, Kyra ... ingin rasanya aku mengikatmu agar tetap berada di sisiku selamanya"
Deg
"Kakak ... berhentilah bersikap seperti ini padaku"
"Kak, lepas ... Nggak enak nanti kalau di lihat orang" kata Kyra sambil berusaha melepaskan pelukan Eric. "Kakak ... Lepas!" seru Kyra dengan nada sedikit tinggi.
"Hemm, baiklah" ucap Eric dengan malas sembari menjauhkan Kyra dari tubuhnya.
Entah mengapa ketika Kyra menolak pelukannya, tiba-tiba moodnya menjadi buruk. Dia pikir hanya ingin satu pelukan saja memangnya kenapa? Dia hanya ingin meluapkan rasa rindunya kepada Kyra dan rasa lelahnya karena bekerja.
"Ini, ayo makan, kakak belum makan siang kan?" kata Kyra sembari membuka kotak makanya.
"Heemm" gumam Eric sembari duduk di samping Kyra.
"Beberapa hari ini kakak sibuk sekali, jadi ibu sangat khawatir denganmu. Jadi dia menyuruhku ke sini membawakan makanan untukmu"
Eric hanya diam saja tanpa mengatakan apa-apa dan mulai memakan makanan yang di bawakan Kyra.
"Kakak, pelan-pelan makannya. Nanti bisa tersedak" ucap Kyra yang melihat kakaknya seperti ingin menghabisi makanan yang ada di hadapannya.
"Ada apa dengannya? Tadi dia senang sekali melihatku di sini, kenapa sekarang dia kelihatan sangat kesal?" batin Kyra.
"Kakak, kamu baik-baik saja kan?"
"Heemm" jawab Eric.
"Kakak marah ya?" tanya Kyra lagi.
"Uhuk uhuk, uhuk uhuk" batuk Eric karena tersedak makanan.
"Kakak, sudah ku bilang kan pelan-pelan makannya" kata Kyra sembari menepuk-nepuk pundak Eric. "Ini ... " lanjutnya sambil memberikan segelas air putih kepada Eric.
"Heemm, terimakasih" kata Eric lalu meletakkan gelas ke atas meja.
"Kakak marah?" gumam Kyra dan Eric pun hanya diam saja. "Kakak ... " ucap Kyra sedikit kesal karena sedari tadi Eric hanya diam saja.
"Aku nggak marah, memang kenapa aku harus marah?" jawab Eric sambil menyelesaikan makanannya.
"Kakak marah, sebab Kyra tadi menolak ya?" gumam Kyra.
"Itu kamu tau, kakak cuma lelah dan rindu sama kamu, tapi kamu nya malah—"
Satu ciuman dari Kyra pun mendarat di pipi Eric sebelum ia berhasil menyelesaikan kata-katanya.
"Kamu ..." gumam Eric sembari mendorong tubuh Kyra hingga terbaring di sofa.
"Apa?" ucap Kyra yang kini tengah berada di bawah tubuh Eric "Aku cuma minta maaf" lanjutnya lagi sembari memalingkan pandangannya dari mata Eric.
Eric pun tersenyum melihatnya.
"Baiklah, kalau begitu kamu harus di hukum" ucap Eric sembari membenarkan duduknya di sofa.
"Kakak, kamu terlalu berlebihan deh"
"Aku nggak mau tau, mulai sekarang kamu yang akan mengantarkan makan siang ku" ucap Eric sembari mengacak-acak rambut Kyra.
"Hemm, kalau aku nggak mau?"
"Terserah kamu sih, kalau kamu nggak mau" jawab Eric lalu beranjak pergi ke tempat meja kerjanya.
"Ish, iya iya. Lagi pula aku juga bosan di rumah terus, nggak ada kerjaan" kata Kyra sambil membereskan kotak makan Eric.
"Kyra ..."
"Heemm, kenapa?" ucap Kyra yang menoleh ke Eric yang ternyata kini sudah ada di belakangnya.
"Eeemm ... Tidak ada, pulanglah" Eric sebenarnya masih ingin melihat Kyra lebih lama.
"Baiklah, aku akan pulang. Kakak juga jangan pulang terlalu malam, jaga kesehatan kakak juga" ucap Kyra dengan senyum manisnya dan berjalan keluar dari ruangan Eric.
"Perasaan ingin memilikinya seutuhnya dan terus bersamanya sepanjang waktu, bukankah ini salah? Tapi aku tidak bisa mengontrolnya"
"Huuffttt" desah Eric menghembuskan nafas panjang.