What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 36



"Tuan Lee ... kita mau kemana?" tanya Kyra yang kini tengah duduk di mobil Lee MinHyung.


"Sudah aku bilang kan, kita mau sarapan ... dan juga, aku bosan di sini. Aku ingin kamu menemaniku jalan-jalan, aku kan belum tau benar daerah di sini"


"Kita baru saja kenal beberapa hari yang lalu, bukankah ini terlalu tidak sopan. Bahkan kamu langsung datang ke rumahku tanpa memberitahu atau membuat janji dulu dengan ku" dengus Kyra kesal, sebab dia berencana hanya ingin tidur seharian di rumah.


"Aku sudah menelpon mu, tapi kamu tidak mengangkatnya"


"Kapan?"


"Tadi pagi"


"Apa? jadi tadi pagi tuan yang menelpon ku?" tanya Kyra terheran-heran, sebab dia belum pernah memberikan nomor teleponnya kepada Lee MinHyung.


"Iya ... Kenapa?"


"Itu terlalu mengganggu ... aku bahkan masih ingin tidur" kata Kyra malas sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Ah ... jadi aku mengganggu mu ya ... maaf, lain kali aku tidak akan berbuat seperti itu lagi" ucap MinHyung sambil tersenyum ke arah Kyra dan mengusap pucuk kepalanya.


"Apa sih" kata Kyra sambil menepis tangan MinHyung.


"Ah, dia lucu juga kalau lagi kesal" batin MinHyung. "Kamu mau makan apa?"


"Terserah"


MinHyung tersenyum melihat tingkah Kyra yang kini sedang merasa kesal.


"Ganteng sih ganteng ... tapi kalau caranya maksa kayak gini siapa juga yang mau" batin Kyra sambil mendengus kesal.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah restoran, MinHyung pun memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Kyra.


"Kamu mau duduk di sebelah mana?" tanya MinHyung.


"Di situ saja" ucap Kyra sambil menunjuk meja makan yang tepat di sebelah jendela kaca.


"Baiklah ayo"


Mereka berdua pun berjalan menuju ke meja tersebut dan duduk di sana, tak berapa lama pelayan pun datang menghampiri mereka.


Setelah memesan makanan, Kyra segera menghabiskannya tanpa banyak bicara kepada MinHyung.


Beberapa saat kemudian.


"Kamu sudah selesai Kyra?" tanya MinHyung yang melihat Kyra menyeruput secangkir teh.


"Hem" jawab Kyra cuek.


"Mau kemana lagi setelah ini?"


"Pulang" ucap Kyra tanpa basa-basi.


Dia merasa tidak nyaman sekali bersama MinHyung. Mereka baru saja kenal, tapi dia dengan berani sudah memaksa Kyra untuk pergi dengannya tanpa tanya terlebih dahulu.


"Yah! aku kan memintamu untuk menemaniku jalan-jalan hari ini" ucap MinHyung.


"Memangnya aku bilang mau?" tanya Kyra sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Ya harus" kata MinHyung memaksa.


"Tuan Lee ... Perlu anda ingat. Pertama, kita tidak terlalu dekat. Kedua, anda terlalu memaksakan kehendak kepada ku. Ketiga, ini bukan di negara anda, jadi jangan seenaknya" ucap Kyra dengan kesal lalu berdiri dari tempat duduknya. "Saya minta, anda jangan menghubungi saya lagi ... Dan terimakasih untuk sarapannya" Kyra pun pergi dan meninggalkan MinHyung di sana.


"Hey ... mau kemana? Aku akan mengantarmu" teriak MinHyung namun tidak di idahkan oleh Kyra.


"Ah, apa aku terlalu terburu-buru? Dia jadi marah kepada ku" batin MinHyung sambil menghembuskan nafas dengan kasar.


Sambil berjalan, Kyra memikirkan apa yang akan dia lakukan hari ini. Mau pulang sudah bad mood gara-gara Lee MinHyung yang pagi-pagi sudah datang ke apartemennya.


"Ah, ke rumah sakit aja sekalian ingin tau keadaan kak Farhan''


Kyra lalu melangkahkan kakinya ke pinggir jalan dan menghentikan taksi yang kebetulan sedang lewat.


Tak lama kemudian Kyra pun tiba di rumah sakit dan segera menuju ke ruang inap Farhan.


"Kak Farhan ..." ucap Kyra sambil membuka pintu kamar Farhan. "Kakak sedang apa?" tanya Kyra sambil berjalan masuk, dia melihat Farhan yang duduk di kursi roda dengan wajah yang menahan rasa sakit, sambil sibuk dengan kancing bajunya.


"Eh, Kyra kamu di sini?" tanya Farhan yang menghentikan kegiatannya.


"Sedang apa kak Farhan?"


"Oh, ini ... Aku tadi merasa gerah jadi aku mau mengganti pakaian ku" jelas Farhan sambil melirik kancing bajunya.


"Kenapa tidak memanggil perawat saja?"


"Sudah ... tapi tidak ada yang datang" ucap Farhan.


"Mau aku bantu?" tanya Kyra, dia tahu kalau Farhan mengalami beberapa patah tulang di rusuknya, dan lengan kirinya juga sedikit mengalami cedera mungkin akan susah baginya mengganti pakaian sendiri.


"Eh eh ... tidak usah, aku bisa sendiri kok" ucap Farhan dengan malu, lalu memalingkan kursi rodanya dari Kyra.


Dia pun mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan Kyra hanya melihatnya dari belakang.


"Sial ... bukankah aku adalah laki-laki yang kuat? kenapa mengganti pakaian saja terasa sulit sekali" batin Farhan yang kini meringis kesakitan sebab lengannya masih terasa sakit.


"Kenapa?" tanya Kyra di belakang Farhan.


"Hem, tidak ada ... aku akan mengganti pakaianku saat perawat datang nanti" ucap Farhan.


Kyra pun menghampiri Farhan. "Sini aku bantu" ucap Kyra dan langsung meraih kancing baju Farhan.


"Eh, jangan" sergah Farhan.


"Kenapa?"


"Kamu ini bodoh atau terlalu polos sih? Aku ini laki-laki dewasa, kamu nggak seharusnya membantuku mengganti pakaian" ucap Farhan.


"Ck ... Lalu apa bedanya aku dengan perawat? Sudahlah jangan cerewet, lagian kakak sekarang berstatus pasien. Dan juga tidak ada keluarga yang menjagamu, jadi biarkan aku membantumu untuk mengurangi rasa bersalah ku" jelas Kyra dan mulai membuka kancing baju Farhan satu persatu.


Farhan hanya bisa diam saja dan menelan ludahnya ketika melihat Kyra yang kini membungkuk tepat berada di depan wajahnya.


"Cantik sekali" batin Farhan.


Kancing baju Farhan sudah terlepas dan kini Kyra mulai menuntun Farhan untuk melepas pakaiannya.


Sesaat setelah Farhan telanjang dada, Kyra pun terdiam sejenak. Bukanya terpesona dengan tubuh Farhan, pandangan Kyra malah tertuju ke bagian pinggang Farhan sebelah kiri yang terbalut perban di sana.


"Itu pasti sakit sekali ... dan juga luka bekas operasinya pasti akan berbekas. Ini semua salahku" batin Kyra.


Farhan pun tersenyum melihatnya, seolah Farhan bisa menebak apa yang sedang di pikirkan Kyra. Dia pun menoel hidung Kyra dan membuatnya terkejut.


"Aku tidak apa-apa Kyra ... Cepat pakaikan bajunya, aku keburu masuk angin nih"


Kyra segera memakaikan baju Farhan, setelah selesai dia pun duduk di bangku sebelah Farhan.


"Kak, aku minta maaf ya, karena aku—"


"Eh Kyra ... ambilkan aku obat di laci itu dong ... aku belum minum obatnya pagi ini" kata Farhan memotong kalimat Kyra.


Farhan tidak ingin Kyra terus saja membahas soal itu dan merasa bersalah kepadanya. Bagi Farhan, dia ikhlas untuk menolong Kyra. Dia merasa harus melindungi Kyra sebab dia adalah adiknya Eric, apalagi dia juga telah lama menaruh hati pada Kyra.


"Baiklah" ucap Kyra lalu pergi ke arah laci yang di sebut Farhan tadi.