What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 38



"Sudah?" tanya Jacob kepada Eric.


"Hufft ..." Hela nafas Eric.


"Jangan khawatir, dia akan aman bersama Farhan. Nanti juga Farhan pasti menyuruh seseorang untuk menjaga Kyra, jadi kamu fokus dulu ke perusahaan" jelas Jacob sambil menepuk pundak Eric.


"Ck, bukan hanya menjauhkan Kyra dari pembunuh, tapi juga harus jauh-jauh dari Farhan" gerutu Eric yang merasa cemburu jika Kyra dekat dengan laki-laki lain.


"Kamu bilang apa Ric?"


"Nggak ada ... Ayo cepetan ke sana, aku ingin segera pulang nanti"


Jacob dan Eric pun pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil menuju ke proyek hotel yang sedang di kerjakan Farel.


Beberapa jam kemudian mereka pun sampai. Lalu turun dari mobil dan menghampiri Farel.


"Bagaimana?" tanya Jacob kepada Farel.


Farel pun menjelaskan keadaan di sana kepada Eric dan Jacob sambil berjalan melihat-lihat di sana.


Beberapa saat setelah sibuk dengan pembicaraan, tiba-tiba ada seorang pekerja yang tak sengaja menabrak Jacob dan menjatuhkan satu tong pasir ke arah Eric.


Dengan reflek Eric pun menghindar, dan menoleh ke arah pria tersebut.


"Yak! kalau bekerja yang bener dong" teriak Farel.


"Maaf pak saya tidak sengaja" jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya.


"Ah, sudah lah ... Lain kali hati-hati ya" kata Jacob sambil menepuk pundak pria itu.


"Terimakasih pak, saya permisi dahulu" ucap pria tersebut lalu mengambil tong pasir yang tergeletak di depan Eric.


Farel dan Jacob pun kembali berjalan dan meneruskan pembicaraan mereka. Ketika Eric hendak mengikuti mereka, tanpa sengaja Eric melihat pria tadi yang berjongkok membersihkan pasir.


Mata Eric tertuju ke tangan dan tengkuk pria tersebut.


"Luka itu, seperti pernah lihat?" batin Eric sambil berpikir keras mengingat sesuatu.


Beberapa saat kemudian, Eric merasa sakit di kepalanya dan badannya mulai gemetaran.


"AAAHHH!!!" Eric pun teriak kesakitan dan terduduk di atas tanah.


"Ric, kamu kenapa?" kata Jacob dan berlari ke arah Eric di ikuti Farel di belakangnya. "Ric, ada apa?" tanya Jacob sambil memegangi pundak Eric.


"AHHH!!!"


Mereka yang ada disana semuanya terkejut, tak terkecuali pekerja tadi.


Eric merasa kesakitan, seperti ada sesuatu yang menyengat di kepalanya dan dengan cepat semua kenangan masa kecilnya seperti sedang berkumpul di kepalanya.


"AAAHH!" teriaknya sambil memegangi kepalanya.


...----------------...


Di dalam ingatan Eric saat ini.


*Flashback on*


"Kamu akan mati, setelah itu aku akan membunuh suami dan anakmu" kata seorang laki-laki yang berjalan ke arah wanita yang terduduk di samping meja makan dengan tangan yang terikat.


"Bunuh saja aku, jangan bunuh anakku" kata wanita tersebut sambil berderai air mata.


"Ck ck ck" decak lelaki itu sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan pistol di dalamnya. "Jangan harap aku akan mengampuni keluargamu"


Dor!


Peluru itupun menembus dada kiri wanita tersebut.


Tubuh Eric yang masih berumur 8 tahun itu pun gemetar karena melihat kejadian yang ada di depan matanya.


Tanpa dia sadari air matanya mengalir dan membasahi pipinya.


"Mama!" teriaknya, sambil dia berlari ke arah wanita tersebut.


"Pergi!" seru wanita itu dengan sisa sisa tenaga yang di milikinya.


Eric menghentikan langkahnya dan mencerna kata-kata mamanya itu.


"Lari dan sembunyilah, jangan sampai kamu tertangkap" ucap wanita itu. "CEPAT LARI!!".


"DIAM!!"


Dor!


.


.


Dor!


Dua peluru dari pistol lelaki itu kini menembus kepala mama Eric.


Eric yang masih terdiam di tempatnya kini melihat mamanya menghembuskan nafas terakhir lalu tersungkur ke lantai dengan darah yang menggenangi tubuhnya.


Lelaki itu pun menyeringai dan melihat ke arah Eric. Walaupun tempat itu gelap, namun Eric bisa melihat dengan jelas luka yang ada di tangan dan tengkuk sebelah kiri lelaki itu.


"Sekarang giliran mu bocah"


Lelaki itu pun berjalan ke arah Eric, tanpa pikir panjang Eric pun segera berlari keluar dari dapur tersebut.


"Cih, menyusahkan sekali kamu tikus kecil"


Dor!


Satu tembakkan lelaki itu ke arah Eric, namun Eric berhasil menghindarinya dan cepat-cepat berlari ke arah ruang keluarga.


"SIAL!!"


Saking merasa takutnya, Eric segera bersembunyi di dalam almari yang ada di ruang tengah. Dari balik pintu, Eric melihat lelaki itu yang sedang celingukan mencari Eric.


"Ayolah nak, jangan bersembunyi ... Keluarlah, agar aku bisa segera membunuhmu dan pulang dengan cepat" kata lelaki itu.


Beberapa saat kemudian, Felix sepupu Eric yang sedang menginap di rumahnya, kini dia berjalan keluar dari kamarnya karena mendengar suara tembakkan tadi.


"Tante, kok lampunya mati semua sih!" teriak bocah yang usianya terpaut satu tahun lebih tua dari Eric itu.


Lelaki itu segera menyembunyikan diri di balik pintu saat mendengar suara Felix. Dan Felix pun tanpa sadar malah berjalan menuju ruang tengah.


"Tidak Kak Felix, jangan kesini ... Dia pasti akan membunuhmu" batin Eric sambil menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara sekecil pun dan kini air matanya mulai merembes kembali.


"Om? om di sini ya?" kata Felix sambil celingukan di ruang tengah.


"Iya nak, om di sini" kata lelaki itu sambil berjalan menuju kearah Felix.


"Eh? om siapa? kok pakai topi?"


Lelaki itu pun menyeringai. "Aku malaikat maut nak"


"Jangan takut, om cuma mau bersenang-senang kok"


Lelaki itu terus berjalan ke arah Felix. "Kalau aku membunuh mu dengan satu tembakkan kayaknya nggak asik deh, bagaimana kalau kita mulai pertunjukkan yang menarik?"


Felix pun berhenti melangkah lalu hendak melarikan diri ke arah samping lelaki itu. Namun dengan cepat dia tertangkap.


"Mau kabur? nggak bisa" Sambil menyeringai dan mencekik leher Felix.


"Hiks hiks ... ma.. ma" tangis Felix sambil memukul-mukul lengan lelaki itu.


"Jangan nangis dong," kata lelaki itu lalu menyeret Felix ke arah jendela.


"Tidak Kak Felix" batin Eric, ia hendak ingin keluar menyelamatkan Felix namun dia takut sebab lelaki itu bukan tandingan bocah kecil seperti mereka.


Lelaki itu pun membuka jendela dan melihat ke luar. "Wah ... ini cukup tinggi loh, pasti bagus kalau kamu jatuh dari sini"


Lelaki itupun mengangkat tubuh Felix dan mendudukkannya di kusen jendela. Kini Felix bisa melihat ke luar jendela dan sesekali melirik ke bawah.


"Jangan om ... hiks hiks ..."


"Tidak apa-apa nak, jika om melepaskan mu paling-paling cuma wajahmu yang hancur, jika kamu masih bisa selamat ya itu keberuntungan mu" bisik lelaki itu di telinga Felix.


"Jangan ..."


Lelaki itu pun mendorong tubuh Felix. Lalu Felix pun terjatuh dari lantai dua rumah keluarga Adijaya dengan kepala yang jatuh ke tanah terlebih dahulu.


Buukk!


"Kak Felix" batin Eric sambil terus membekap mulutnya dan berderai air mata.


Setelah melihat ke bawah untuk memastikan Felix sudah meninggal lelaki itu pun kembali berjalan mencari cari Eric.


"Keluarlah nak, aku tau kamu ada di sini"


Tak berselang lama, semua lampu di rumah itupun menyala. Dan terdengar suara orang berlari ke dalam rumah.


"Ma!!" teriak pak Johan Adijaya yaitu papa Eric.


Pak Johan pun berlari menuju ke kamar namun dia mendapati ada seseorang di ruang tengahnya.


"Siapa kamu?" tanya pak Johan.


Pria itupun hanya menyeringai sambil melihat ke arah pak Johan.


Brakk!!!


Eric pun keluar dari persembunyiannya dan segera berlari ke arah papanya.


"PAPA!!!"


Dor!


Dengan cepat lelaki itu menembak ke arah Eric saat berlari dan tepat mengenai kepalanya. Eric pun terjatuh tepat di pangkuan papanya.


"Eric!" teriak pak Johan dan segera mengambil pistol dari balik sakunya.


Dor!


.


.


.


Dor!


Tembakkan pak Johan yang langsung mengenai tangan dan kaki kanan lelaki itu sehingga membuat pistolnya terjatuh.


Dengan cepat, pak Johan langsung menggendong Eric dan berlari keluar dari rumah.


"Maafkan aku Tania ... aku harus menyelamatkan putra kita" batin pak Johan sambil terus berlari menuju ke mobil.


Dan lelaki itu pun mengejar pak Johan sambil terseok-seok dan menembakkan peluru dengan tangan kirinya.


Pak Johan bisa menghindarinya dan segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Bertahanlah Eric"


Pak Johan pun menyalakan ponselnya dan menelpon seseorang.


Drrrt drrrt


"Ada apa Johan?" kata seseorang dari balik telpon itu.


"Pergilah ke lokasi yang aku kirimkan, dan segeralah bawa anakku ke rumah sakit di kota"


"Apa? kenapa?"


"Ada seseorang yang ingin membunuhku dan kini Eric mengalami luka tembak di kepalanya. Tidak lama lagi dia pasti menyusul ku. Jadi aku akan mengalihkan perhatiannya dan kamu bawa Eric ke rumah sakit"


"Baiklah, aku segera ke sana"


Tut Tut Tut


Pak Johan pun semakin melajukan mobilnya, dan beberapa saat kemudian dia berhenti di jalanan sepi, terlihat di sana ada seorang laki-laki yang sudah menunggunya.


Seketika pak Johan menghentikan mobilnya dan berjalan keluar.


"Di mana dia?" tanya laki-laki itu.


Pak Johan pun segera membuka pintu dan menggendong Eric.


"Daniel, aku minta kepada mu jaga dia seperti anakmu sendiri. Jangan biarkan ada orang yang tau kalau dia di rawat di rumah sakit" jelas pak Johan sambil menyerahkan Eric kepada pak Daniel.


"Bagaimana dengan mu Johan?" tanya pak Daniel.


"Sebentar lagi dia pasti menyusul, aku akan mengalihkan perhatiannya supaya dia tidak mengejar Eric lagi. Dan ..." ucap pak Johan menggantung lalu mengirup nafas dalam-dalam. "Jika aku tidak menemuimu dalam waktu satu Minggu atau satu bulan. Jangan biarkan orang lain tau kalau dia adalah putraku" kata pak Johan sambil mengusap rambut Eric.


"Kau gila ya—"


"Sudah tidak ada waktu, aku berharap kamu bisa melindunginya" kata pak Johan lalu masuk ke dalam mobilnya. "CEPAT BAWA DIA MASUK KE MOBILMU" teriak pak Johan dari dalam mobilnya sesaat kemudian dia pun melesatkan mobilnya dan meninggalkan pak Daniel bersama Eric.


Tanpa berfikir panjang, pak Daniel segera masuk ke dalam mobil. Benar saja kata pak Johan, setelah mereka masuk ke dalam mobil, terlihat sebuah mobil tengah melesat cepat dan mengejar mobil pak Johan.


"Pa ... pa ..." gumam Eric dengan kepala yang bersimbah darah lalu kemudian pingsan lagi.


"Tenang saja nak, aku akan menyelamatkan mu" kata pak Daniel sambil mengusap kepala Eric.


Lalu pak Daniel pun melesatkan mobilnya ke arah yang berlawanan dari pak Johan untuk menuju ke rumah sakit.


*Flashback off*


...----------------...