
"Dimana Kyra?" ucap Farhan.
"Tadi dia ada di sini" kata Susan.
"Ah, sial. Kamu lihat itu Ric. Kamu sangat keterlaluan. Kamu membuatnya sedih sekaligus marah. Lihatlah, karena keegoisan mu, Kyra menjadi seperti ini" kata Farhan geram, ia pun menarik kerah Eric yang saat ini sedang diam saja. "Apa masalahmu dengan anaknya? Baiklah, tidak perlu mempermasalahkan anaknya. Mulai sekarang, dia adalah anakku. Jadi, jangan sentuh dia mulai sekarang. Karena aku yang akan bertanggungjawab terhadap Kyra dan anaknya mulai detik ini" lanjut Farhan lalu menghempaskan Eric yang kini terlihat terkejut.
"Apa maksudmu?'' gumam Eric.
"Jika laki-laki yang menghamilinya tidak mau tanggungjawab. Aku yang akan menikahinya. Aku yang akan bertanggung jawab untuknya. Jadi kamu tidak perlu khawatir atas reputasi keluargamu atau yang lain" kata Farhan penuh keyakinan.
"Jangan harap. Apa kamu pikir Kyra mau menikah denganmu?" ucap Eric geram.
"Setidaknya, itu adalah hal yang harus di lakukan seseorang yang mencintainya. Bukan malah menyakitinya dan ingin membunuh anaknya" kata Farhan sambil menatap tajam ke arah Eric. "Jika dia tidak bersedia. Tidak apa .... Tapi yang pasti aku adalah orang pertama yang akan melindungi dan menjaganya" ucapan Farhan langsung saja membuat Eric tercengang dan terdiam.
Setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Eric diam membisu, Farhan langsung pergi dari sana.
Dia berlari ke sana kemari mencari Kyra. Namun beberapa saat dia mondar-mandir, namun masih tidak menemukan Kyra.
"Kemana perginya?"
Beberapa saat kemudian ponsel Farhan pun berdering dan terlihatlah Ardan sedang meneleponnya.
"Ardan? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Kyra?" batin Farhan.
"Halo Ardan, apa kamu tau Kyra kemana?" ucap Farhan segera setelah panggilan tersambung.
"B-boss ... T-tolong k-kyra ... Dia di culik" kata Ardan terbata dari balik telepon.
"Apa? Ada apa denganmu Ardan? Kamu dimana sekarang?" ucap Farhan setengah berteriak.
"A-ku ... Di jalan xx"
"Tunggu aku, aku akan segera kesana"
Tut Tut Tut
Farhan segera memutuskan panggilannya dan beralih menelpon Susan.
"Ada apa?" kata Susan dari balik telepon.
"Datang ke jalan xx sekarang" ucap Farhan dan segera memutuskan panggilannya.
Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya ke tempat Ardan berada.
Tak sampai lima belas menit, Farhan pun sampai di tempat tersebut. Ia turun dari mobil dan melihat Ardan tergeletak di tanah dengan bersimbah darah.
"Ardan"
Farhan pun menghampirinya dan langsung memeriksa denyut nadi.
"Ardan, bangun. Apa yang sudah terjadi?" kata Farhan.
"Ada apa Farhan?" ucap Susan yang baru saja sampai di tempat tersebut bersama Jacob.
"Ardan bilang Kyra di culik. Tapi kita masih belum tau siapa penculiknya. Ardan juga sudah tidak sadarkan diri" kata Farhan.
"Apa? Kyra di culik" kata Eric yang ternyata juga sedang mengikuti mereka.
Farhan tak mengindahkan Eric yang berada di sana. Sedangkan Susan dengan sigap memeriksa keadaan Ardan di sana.
Eric mengahampiri pun Farhan dengan tergesa-gesa. "Farhan apa maksudmu? Kyra di culik? Siapa penculiknya?'' ucap Eric terdengar khawatir.
Farhan masih saja tak menggubris Eric, ia mengedarkan pandangannya ke area tersebut lalu mendongakkan kepalanya ke arah tiang lampu pinggir jalan.
"Jack, periksa rekaman CCTV di sini" perintah Farhan.
"Hem, baiklah" Jacob pun segera menelepon seseorang.
"Ada apa?"
"Kita harus segera menolong Ardan. Di dalam tubuhnya ada racun yang sama seperti yang ada di dalam tubuh Eric waktu itu" ucap Susan.
"Apa? Apa maksudmu, dia orang yang sama dengan yang mencelakai Eric waktu itu?" kata Farhan.
"Kemungkinan begitu"
Deg
.
.
Seketika, badan Eric merasa lemas. Ia tak tak pernah berfikir jika pembunuh keluarganya dulu akan mengincar Kyra.
"Mobil xx. Dia sedang menuju ke puncak" kata Jacob.
Segera setelah mendengar ucapan Jacob. Farhan langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"Aku ikut denganmu Farhan" kata Eric menyusul Farhan.
"Tidak perlu, aku bisa menyelamatkannya sendiri"
"Kamu pikir kamu bisa mengalahkan dia sendiri" kata Eric sambil membuka pintu mobil Farhan. "Jacob, segera setelah itu kirim semua anak buah kita ke sana"
Farhan masuk ke dalam mobil mengikuti Eric. "Apa perlu sampai semua anak buah ikut ke sana?" tanya Farhan sambil memakai sabuk pengaman dan menyalakan mobilnya.
"Sangat perlu" kata Eric yang kini duduk di sebelah kursi pengemudi. "Cepat jalan, dia orang yang sangat berbahaya. Aku takut dia akan menyakiti Kyra sebelum kita sampai di sana"
"Heh? Bahaya atau tidak dia apa bedanya dengan mu? Beberapa saat yang lalu kamu juga ingin menyakitinya" gumam Farhan sambil melajukan mobilnya.
Pandangan Eric menatap ke jalanan, jantungnya berdetak tak karuan. Sedikit terbesit rasa takut dan khawatir terhadap keadaan Kyra sekarang. Masih ada rasa bersalah dan menyesal di dalam benaknya.
"Apa yang sudah aku lakukan? aku benar-benar bodoh, karena emosi, hampir saja aku kehilangan dia. Kyra, kamu pasti sangat kecewa kepadaku. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya tidak ingin ada laki-laki lain di dalam hidupmu. Karena cemburu aku jadi gelap mata dan tidak bisa memahami mu. Kyra ... maafkan aku" batin Eric.
Satu jam mobil Farhan berjalan melintasi jalanan perbukitan. Dan mereka pun sampai di sebuah gudang tua yang ada di tengah-tengah perkebunan kopi di sana.
Farhan menghentikan mobilnya sedikit jauh dari gudang tersebut. Mereka pun turun dari mobil.
"Apakah itu mobilnya?" kata Eric menunjuk sebuah mobil yang berada di pinggir gudang tersebut.
"Iya, plat dan warna mobilnya sama dengan apa yang di bilang Jack"
"Jangan gegabah, kita lihat apa ada jalan lain untuk masuk ke sana" kata Eric.
"Kenapa kamu takut sekali? Bukankah kita sudah sering melawan segerombolan sampah sendirian?"
"Jangan meremehkan dia Farhan. Dia bukan orang sembarangan"
"Ck, memangnya kamu tau darimana? Kamu bahkan belum tau siapa orangnya"
"Melihat keadaan Ardan saja aku sudah tau, kalau dia adalah orang yang sama dengan waktu itu. Dia juga orang yang sama, yang telah membunuh seluruh keluargaku" kata Eric lirih.
"Apa maksudmu keluarga? Bukankah keluargamu ..." ucap Farhan menggantung sambil mengingat-ingat sesuatu. "Apa? Jadi, yang kamu bilang mimpi itu ..."
"Ya, mimpi yang aku ceritakan kepadamu adalah sebuah kenyataan dari masa laluku. Selama ini, aku hilangan ingatan karena peluru yang pernah bersarang di kepala ku"
"Jadi, kamu dan Kyra ..."
"Ya ... Dia bukan adik kandungku, aku hanyalah anak angkat tuan Daniel" jelas Eric.
"Huh ..." Farhan menghela nafasnya kasar. "Tidak perduli apapun yang terjadi. Jika dia terluka, maka aku akan membawanya pergi darimu Eric"
"Kita lihat saja nanti"