
"Aww," teriak Eric sembari membalikkan badannya menghadap Kyra.
"Kamu ini kenapa sih?" kata Eric yang melihat wajah Kyra jengkel.
"Sebel banget aku sama kakak" ucap Kyra sembari memukul-mukul lengan Eric.
"Eh, eh, memang apa salahku?" kata Eric sembari menghindar.
"Itu tadi ciuman pertama ku. Kenapa harus dengan kakak? Eh-" kata Kyra keceplosan.
"Haish, kenapa aku mengatakannya? Ini memalukan sekali" batin Kyra.
"Pfft, hahahaha" suara tawa lepas Eric yang melihat tingkah Kyra.
"Ck, malah ketawa lagi, kelihatan lucu ya?" kata Kyra jengkel.
"Hehe, lagian kamu ini, masalah kecil saja ribut sekali. Memangnya kenapa kalau bersamaku? Kamu berharap ciuman pertamamu bersama pacarmu itu ya? Atau jangan-jangan pacarmu tidak menyukai mu? Mangkanya dia belum bersedia untuk mencium mu?" kata Eric santai sembari mengambil pakaian di lemarinya.
"Tentu saja aku berharap bersama orang lain bukan denganmu" dengus Kyra sembari menyilangkan tangan di dadanya.
"Hey, memangnya itu salahku? Kan kamu sendiri yang mencium ku, sekarang kenapa kamu yang kesal? kamu berharap aku yang mencium mu duluan ya?" kata Eric menggoda adiknya itu.
"Kakak!" teriak Kyra dan hendak pergi dari kamar Eric.
Namun dengan cepat Eric menarik pinggang Kyra dan memeluknya dari belakang. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kyra, dan menaruh dagunya di pundak Kyra.
"Hey, jangan marah. Maafkan kakak ya?" bisik lembut Eric di telinganya.
Kyra hanya terdiam di tempatnya.
"Sudahlah, lagian tadi kan tidak di sengaja. Anggap saja itu tidak pernah terjadi ya?" jelas Eric lagi.
Kyra hanya terdiam dan melepaskan tangan Eric dari pinggangnya lalu beranjak pergi dari kamar Eric tanpa sepatah kata.
Eric yang melihat tingkah adiknya itu hanya berdecak heran, karena ia pikir Kyra terlalu berlebihan menanggapi kejadian tersebut.
Ia pun mengambil pakaiannya dan hendak mengganti baju, sejenak ia memandang tempat tidurnya dan memutar kembali memori kejadian yang baru saja terjadi.
"Huft, itu tadi juga ciuman pertamaku. Tapi aku tidak keberatan melakukannya dengan mu? Kenapa ya?" gumamnya.
"Aish, apa yang kamu pikirkan Eric? Sadarlah, dia itu adikmu" kata Eric sembari menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Sedangkan Kyra yang baru saja keluar dari kamar Eric terdiam sejenak di depan pintu. Ia masih membayangkan kejadian tadi yang masih membuatnya berdebar-debar.
Membayangkan tubuh Eric yang tidak memakai baju, ciuman pertamanya dan suara kakaknya yang begitu lembut di telinganya ketika meminta maaf kepadanya tadi, membuat Kyra merasa malu.
Sejak dari kecil Kyra dan Eric selalu bersama-sama, Eric adalah sesosok yang mengagumkan baginya. Tak hanya pintar dan tampan, ia juga sangat menjaga Kyra dan perhatian terhadap Kyra. Hingga Kyra pernah berharap jika suatu saat nanti, ia ingin menikah dengan sesosok laki-laki seperti Eric.
Kyra pun bergegas pergi menuju dapur dan menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan makan malam.
"Dimana kakakmu?" tanya Bu Sofia.
"Sebentar lagi juga datang bu" kata Kyra, sembari membantu ibunya menyiapkan makanan.
"Makan malamnya sudah siap, sekarang panggilkan Farhan juga sana" kata Bu Sofia sembari sibuk menata piring di meja.
"Ibu, suruh saja bi Mina" kata Kyra sedikit malas.
"Eh, kamu kenapa?" tanya Bu Sofia sembari menghampiri Kyra. "Kamu tidak demam, tapi kenapa pipimu merah?" lanjut Bu Sofia sembari menyentuh dahinya.
"Kyra tidak apa-apa Bu, Kyra cuma agak sedikit kurang enak badan" kata Kyra.
"Iya Bu, nanti Kyra tidak ikut makan malam ya. Jalian duluan saja, Kyra ingin istirahat" jelas Kyra.
"Heemm, baiklah" kata Bu Sofia yang melihat Kyra pergi ke kamarnya.
"Kyra ke mana bu? Dia tidak ikut makan malam?" kata Eric yang baru saja sampai dan duduk di kursi meja makan.
"Entahlah, dia bilang agak tidak enak badan, makanya pergi tidur duluan" jelas Bu Sofia.
"Kyra menghindari ku ya? Atau dia memang tidak enak badan?" batin Eric.
Makan malam pun berlangsung tanpa di hadiri Kyra dan Farhan yang sedari tadi tertidur karena kelelahan. Sedangkan Bu Sofia, pak Daniel dan Eric membahas soal Farhan yang akan tinggal sementara di rumah mereka.
Keesokan harinya, seperti biasa di pagi hari Eric sudah bersiap-siap hendak pergi ke kantor. Ia turun dari kamarnya dan pergi menuju dapur, dan di sana sudah ada ayah, ibu dan Farhan yang hendak sarapan.
"Eh, kamu sudah mau berangkat ke kantor Ric?" tanya Bu Sofia sembari meletakkan makanan di atas meja.
"Iya Bu" jawab Eric sembari meminum teh yang di siapkan ibunya.
Sedangkan pak Daniel dan Farhan sedang berbincang-bincang.
"Bu, Kyra tidak ikut sarapan? Apa dia masih tidak enak badan?" kata Eric sembari mengedarkan pandangannya mencari Kyra.
"Kyra sudah pergi dari tadi pagi" kata Bu Sofia. "Ayo Nak Farhan, silahkan" lanjut Bu Sofia sembari menyodorkan sepiring nasi kepada Farhan.
"Eh, terimakasih tante, saya bisa ambil sendiri kok" kata Farhan sungkan.
"Kenapa Kyra berangkat lebih awal?" tanya Eric sembari melahap sarapannya.
"Hari ini, hari kelulusannya. Jadi dia berangkat lebih pagi" jelas pak Daniel sembari menyelesaikan sarapannya.
"Heemm, kalau aku datang ke sana pasti Kyra senang. Waktu itu kan dia merengek memintaku datang. Dengan begitu mungkin dia tidak akan marah lagi kepadaku dan melupakan kejadian kemarin sore" batin Eric.
"Kalian lanjutan sarapannya ya, aku dan ibumu mau pergi ke sekolah Kyra sekarang" kata pak Daniel sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Iya Pak" kata Farhan.
"Hati-hati di jalan yah" kata Eric yang di balas anggukan oleh ayahnya.
"Sebentar yah, Ibu mau mengambil tas Ibu dulu" kata Bu Sofia bergegas pergi ke kamarnya.
Setelah bu Sofia siap mereka berdua pun pergi menuju mobil dan meninggalkan Eric dan Farhan yang masih melanjutkan sarapannya.
"Boss, terimakasih ya, sudah mengizinkanku untuk tinggal di sini" kata Farhan sembari menyunggingkan senyuman.
"Ck, cuma sementara, bukan untuk selamanya" ketus Eric sembari menyelesaikan sarapannya. "Oh ya, habis ini kamu pergi ke kantor sendiri ya. Aku ada urusan bentar," kata Eric yang beranjak dari tempat duduknya yang diikuti Farhan.
"Ck, naik taksi dong?" kata Farhan sedikit kesal dan berjalan di belakang Eric.
"Haish" dengus Eric sembari menghentikan langkahnya. "Nih, mobilnya ada di garasi. Mobil yang warna putih" kata Eric sembari memberikan kunci mobil kepada Farhan.
"Wah, bos baik banget deh" kata Farhan kegirangan.
"Baik apanya? Itu fasilitas dari perusahaan, kalau ada yang lecet sedikit saja di hitung hutangmu ke perusahaan" kata Eric sambil berjalan pergi menuju mobilnya.
"Ck,ck,ck, pelit amat sih" decak Farhan yang melihat Eric masuk ke mobilnya dan pergi.
"Heemm, aku harus bawakan apa ya, supaya Kyra senang" gumam Eric sembari melajukan mobilnya di jalan raya.