
"Ughh" gumam Kyra sambil mengerjapkan matanya. "Ssstt, kenapa perutku masih sakit" ucapnya sambil memegangi perutnya. "Eh?" Kyra pun terkejut dan menoleh ke arah samping.
Ia pun terkejut ketika melihat Eric yang sedang tertidur di bangku kursi sebelahnya dan menempatkan kepalanya di pinggir ranjang.
"Kakak?" gumam Kyra.
Seketika Eric terbangun dan melihat ke arah Kyra. Kyra yang tadinya hendak mengusap rambut Eric, dengan cepat menarik tangannya kembali dan berpura-pura tidur.
"Eh? Aku kira tadi Kyra sudah bangun" gumam Eric sambil mengerjapkan matanya yang masih terasa mengantuk. "Kyra, sampai kapan kamu akan marah kepada ku?" ucapnya lirih. "Aku tau aku salah, seharusnya aku bertanya baik-baik kepada mu dan gak seharusnya marah. Kyra ... Aku bersikap seperti itu karena aku cemburu. Andai aku tau yang sebenarnya dari awal, semua ini mungkin tidak akan terjadi. Kyra, aku mohon maafkan aku. Aku tidak tahan melihat mu marah seperti ini. Aku tau aku keterlaluan dan egois, tapi tidak bisakah kamu memaafkan aku sekali saja? Malam itu ... Andai aku ingat kejadian malam itu, mungkin kamu tidak akan menderita seperti ini" ucap Eric lirih.
"Apa yang sebenarnya kakak katakan? Apa kakak tidak mengingat kejadian malam itu? Bagaimana mungkin? dia tidak mabuk berat kok, apa dia sedang mencari alasan sekarang?" batin Kyra namun tetap berpura-pura tertidur.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Lagipula kamu lebih memilih Farhan untuk menemanimu di sini daripada aku. Aku tidak akan menganggu istirahat mu sekarang" kata Eric lalu melangkahkan kakinya namun tidak keluar dari ruangan Kyra tapi malah memutar arah dan pergi ke samping kanan ranjang Kyra.
"Hem? Apa kakak sudah pergi?" batin Kyra lalu perlahan membuka sedikit matanya dan melirik ke arah samping kiri ranjangnya. "Beneran sudah pergi?" gumam Kyra.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi Kyra dan membuatnya terkejut. Seketika Kyra menoleh ke arah samping dan terlihatlah Eric di sana.
"Kakak?"
"Ada apa? Kamu sedang mencari siapa?" ucap Eric sambil menegakkan badannya kembali. "Dasar gadis nakal, dari tadi kamu pura-pura tidur ya?" lanjutnya sambil mencubit hidung Kyra.
"Akh" gumam Kyra sambil menepis tangan Eric dari hidungnya. "Ngapain kakak masih di sini?" ucap Kyra ketus.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh ada di sini? Kamu mau mengusirku lagi?"
"Terserah" ucap Kyra lalu berbalik memunggungi Eric sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ehem ... Oh ... Ternyata adik kecilku masih marah ya?" kata Eric sambil mendekatkan wajahnya kembali ke arah Kyra. "Kyra ..." ucap Eric dengan manja.
Kyra diam saja dan malah menutup wajahnya dengan selimut.
"Kyra ... Maafin kakak ya? Jangan marah lagi dong" lanjut Eric sambil mengusap kepala Kyra.
"Sebaiknya kakak pergi dari sini. Aku gak mau liat kakak lagi" ucap Kyra tanpa menoleh.
"Kyra ... aku tau aku salah. Tapi bisakah kamu-"
"Permisi?" ucap seorang perawat yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang inap Kyra sambil membawa nampan.
"Ya silahkan sus" kata Eric sambil kembali menegakkan badannya.
"Nyonya, ini sarapan untuk anda" ucap perawatan tersebut sambil meletakkan makanannya di atas nakas.
"Terimakasih sus" kata Kyra.
"Jangan lupa segera di minum obatnya ya nyonya, agar dedek bayinya cepat sehat. Saya permisi dulu" kata perawat itu sambil tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayo, aku bantu kamu duduk" kata Eric hendak memegang bahu Kyra namun di tepis olehnya.
"Aku bisa sendiri" ucap Kyra dengan ketus.
Kyra pun perlahan mengubah posisinya menjadi duduk dan berusaha mengambil nampan makanan dari atas nakas.
"Biar aku saja" kata Eric mencegah Kyra.
"Aku bisa sendiri. Lebih baik kakak pergi dari sini Bukankah kakak sibuk sekali? Kakak juga perlu mengurus pernikahan kakak. Pergi sana"
"Sudah aku bilang aku gak mau. Aku bisa sendiri" kata Kyra hendak merebut mangkuk dari tangan Eric.
"Eits, gak bisa. Aku mau menyuapimu dan kamu tidak boleh menolaknya. Ayo ... Buka mulutmu sayang" kata Eric dengan manja.
Deg
Tiba-tiba Kyra merasa deg-degan mendengar kalimat sayang dari mulut Eric.
"Jangan harap aku akan luluh karena ucapan mu itu. Dasar" cibir Kyra dalam hatinya.
"Aku gak mau, kalau kakak memaksa aku tidak akan makan" kata Kyra sambil menyilangkan kedua tangannya dan menolehkan wajahnya ke samping.
"Haish ... Kalau kamu gak mau. Aku akan menciummu"
"Gak mau ya gak mau. Pergi sana" kata Kyra kesal.
"Pfftt. Baiklah. Nih makan sendiri" kata Eric sambil menyodorkan mangkuknya.
Kyra pun menoleh dan hendak mengambil mangkuk dari tangan Eric. Tiba-tiba ...
Cup
Kyra pun membelalakkan matanya kaget melihat Eric yang tiba-tiba mencium bibirnya.
"Mhhh mhhh" gumam Kyra sambil memukul-mukul bahu Eric.
Eric pun menaruh mangkuknya di atas nakas kembali tanpa melepaskan ciumannya. Bibir yang selama ini membuat Eric kecanduan dan juga yang selama ini ia rindukan.
Begitupula dengan Kyra, ia juga sangat merindukan kehangatan juga kebersamaannya bersama Eric. Tanpa sadar, Kyra malah terjebak dalam suasana yang membuatnya melayang itu. Namun, sesaat ingatan tentang Eric yang ingin membunuh anaknya mulai menjalar di pikirannya dan membuat Kyra kembali ke kenyataan.
"Mhhh mhh" gumam Kyra hendak mendorong Eric.
Dengan cepat Eric menarik Kyra ke dalam pelukannya dan membuat Kyra tak bisa melawan.
"Hufft hufft. Kakak ... " kata Kyra setengah berteriak setelah Eric melepaskan ciumannya.
"Selalu saja seperti itu ... Main cium dan peluk sesuka hati. Kakak pikir aku apa? Seenaknya saja" batin Kyra.
"Aku sangat merindukanmu Kyra. Tolong jangan marah lagi kepadaku. Aku tau aku salah. Itu semua karena aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan menebus semua kesalahanku. Tolong maafkan aku" kata Eric sambil menatap dalam bola mata Kyra.
Kyra hanya diam saja. Dalam hatinya sebenarnya dia sangat merindukan Eric, apalagi pelukannya. Tapi, sesaat Kyra pun teringat akan kenyataan bahwa Eric berusaha untuk membunuh anaknya.
"Lepaskan aku" pinta Kyra sambil berusaha mendorong tubuh Eric.
"Tidak mau. Kalau kamu masih tidak memaafkan ku. Aku tidak akan melepaskan mu"
"Kakak ..." ucap Kyra setengah berteriak.
"Kyra ... Maafkan aku. Aku janji setelah ini aku akan melindungi dan menjaga kalian. Dan kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku Kyra. Aku mohon" kata Eric memelas.
"Apa? Anak kita? Apa aku tidak salah dengar? Kakak menyebut anak ini dengan sebutan anak kita?" batin Kyra.
"Ak-" ucap Kyra tertahan ketika melihat seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Sedang apa kalian?"