
Kyra yang sedari tadi tak sadarkan diri, kini tubuhnya tengah tergeletak di atas ranjang.
"Uhuk uhuk" Kyra yang kini mulai tersadar.
Perlahan ia membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya yang terasa asing baginya.
"Dimana aku? Bukankah tadi aku pingsan?" batin Kyra yang sedang terduduk di atas ranjang sembari memegangi lehernya yang masih terasa sakit akibat di cekik oleh pria bertopi hitam yang ia temui tadi.
"Ohh, sudah bangun rupanya?" kata seseorang yang keluar dari kamar mandi.
Kyra pun menoleh ke arah sumber suara tersebut yang ternyata seorang laki-laki bertopi hitam yang menculiknya tadi.
"Kak Farel" gumam Kyra yang memang seorang laki-laki tersebut tak asing baginya.
"Heem, baguslah kamu masih ingat denganku" ucap Farel sembari meletakkan topinya di atas sofa dan berjalan menghampiri Kyra.
"Kenapa Kak Farel membawa ku kesini? Ini di mana?" kata Kyra yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Kenapa? Kamu takut ya? Tenang saja di sini tidak akan ada seorang pun yang bisa mengganggu kita" ucap Farel sembari menanggalkan jaket hitamnya.
"Apa maksudmu?"
"Ck, aku hanya ingin membalaskan dendam" kata Farel sembari menyentuh beberapa helai rambut Kyra.
"Dendam apa? Kak Farel, bukankah di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi? Kenapa kamu mengusikku?"
"Heh? Mengusik mu? Kamulah penyebab dari semua masalah ini" ucap Farel yang sudah kehilangan ketenangannya.
"Kak Farel kamu jangan macam-macam denganku, sebentar lagi pasti akan ada orang yang akan mencari ku kesini, jika kamu tidak mau dalam masalah maka biarkan aku pergi dari sini" kata Kyra sembari menjauhkan dirinya dari Farel.
"Memangnya aku takut denganmu?" bisik Farel yang kini tengah menyudutkan tubuh Kyra yang berada di tepi ranjang.
"Ayah dan ibumu sedang di luar kota, dan para pembantu mu itu pasti tidak menyadari kalau kamu tidak ada di rumah, jadi ... Sebelum mereka sadar kamu menghilang, aku pastikan kamu akan menderita sebelum mereka menemukan mu"
"Tidak, aku yakin kak Eric pasti akan mencari ku sebentar lagi" ucap Kyra dengan penuh keyakinan.
"Siapa Eric? Oh ... Laki-laki yang bersamamu waktu itu? Pacarmu itu mana mungkin tau kamu ada di sini"
"Dia bukan pacarku, tapi kakakku" tegas Kyra yang membuat Farel tercengang karena memang selama ini dia tidak tau kalau Eric adalah kakak dari Kyra.
Sebenarnya ia menculik Kyra bukan tanpa sebab, Farel ingin membalaskan dendam Luna kepada Kyra.
Setelah kejadian di toko bunga waktu itu, beberapa hari kemudian Eric telah membeli tanah yang ada di sana. Di saat yang bersamaan Luna juga hilang dalam beberapa hari.
Farel yang khawatir dengan Luna yang menghilang dan tidak ada kabar, ia pun mencari Luna kemana-mana namun tidak ketemu.
Sesaat Farel pun mulai putus asa, namun pada hari ke lima Luna menghilang, ia mendapat pesan singkat dari nomor rahasia yang memberitahukan lokasi Luna pada saat itu.
Farel pun segera menuju ke tempat tersebut yang ternyata sebuah rumah tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Ketika Farel masuk ke sana, yang ia temukan adalah Luna orang yang sangat ia cintai tengah tergeletak pingsan di lantai dengan keadaan tubuhnya yang terikat dan telanjang tanpa sehelai benang.
Yang membuat Farel lebih terluka adalah ketika melihat seluruh tubuh Luna yang penuh dengan memar dan bekas darah yang mengalir dari kem***anya.
Melihat tempat di sekitar Luna, Farel merasa bahwa Luna telah di perk*sa oleh banyak orang. Sejak saat itu, Luna menjadi pendiam dan mengurung dirinya di kamar.
Karena itulah, Farel mengira bahwa Eric lah yang harus bertanggung jawab atas semua yang menimpa Luna. Ia mengira bahwa Eric tidak terima jika Farel menyakiti Kyra, sehingga menjadikan Luna sebagai pelampiasan.
"Hahahaha ... Baguslah kalau dia kakakmu, aku jadi punya alasan yang kuat untuk membuatmu lebih menderita, seperti yang telah di lakukan kakakmu terhadap Luna"
"Apa maksudmu? Apa yang di lakukan kakak?" tanya Kyra.
"Apa kamu tidak tau? Kakakmu itu, menyuruh orang untuk memperk*sa Luna hingga membuatnya hampir gila dan bunuh diri" teriak Farel di depan wajah Kyra.
"Tidak mungkin" seru Kyra.
"Apa yang tidak mungkin, hah? Karena kamu Luna jadi menderita" ucap Farel dengan raut wajah yang amat kesal.
"Tidak, kamu pasti salah paham, kakakku tidak mungkin berbuat seperti itu" jelas Kyra.
"Terserah, yang penting sekarang kamu harus merasakan apa yang di alami oleh Luna" ucap Farel dan mendorong tubuh Kyra hingga terlentang di ranjang.
Sebelum Farel berhasil menindih tubuh Kyra, Kyra dengan cepat menendang tubuh Farel hingga terjatuh dan berhasil lepas darinya.
"Tidak Kak Farel, jangan lakukan ini kepada ku" gumam Kyra sembari berlari ke arah pintu.
Kyra berusaha membuka pintu tersebut namun sudah di kunci oleh Farel, ia pun berusaha teriak-teriak minta tolong namun tak ada seorangpun yang mendengarnya.
Sebelum Kyra menoleh ke belakang, Farel terlebih dulu menyudutkan Kyra ke tembok dan menghimpit tubuhnya.
"Aku mohon biarkan aku pergi, hiks, hiks" ucap Kyra yang kini tengah menangis ketakutan.
"Tenang saja sayang, aku akan memuaskan mu malam ini, setelah itu, aku akan mengantarmu ke segerombolan preman agar mereka menyiksamu seperti yang telah di alami oleh Luna" bisik Farel di telinga Kyra.
"Janga—" ucap Kyra yang tertahan karena kini Farel telah mencekik lehernya dan mencium bibirnya dengan kasar.
Air mata Kyra kini mengalir deras di pipinya, ia pun meronta-ronta hendak melepaskan diri, namun tangan kirinya di tindih tubuh Farel dan tangan satunya lagi di pegang erat oleh Farel di atas kepala Kyra.
"Mmhh" suara yang keluar dari mulut Kyra yang kini hampir kehabisan nafas akibat ciuman Farel yang begitu ganas.
Namun Kyra tak kehabisan akal, ia pun mendorong tubuh Farel dengan kakinya yang membuat Farel melepaskan ciumannya.
Plaaakkkk
Satu tamparan keras dari Kyra yang berhasil mendarat di pipi kiri Farel.
"Cih, gadis bodoh sepertimu berani-beraninya menamparku" gumam Farel sembari memegang pipinya.
"Rupanya kamu mau cara kasar ya? baiklah" lanjut Farel sembari menarik tangan Kyra dan menghempaskan tubuh Kyra dengan kasar ke atas ranjang.
"Uhhh"
Kyra pun terjatuh di atas ranjang.
"Jangan Kak, hiks, hiks" tangis Kyra namun Farel tak menghiraukannya.
"Tenanglah, kalau kamu menurut, ini tidak akan terasa sakit" ucap farel sembari mengambil seutas tali di laci yang terletak di sebelah ranjang.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" kata Kyra.
"Hal yang sama, seperti apa yang kakakmu lakukan kepada Luna" seru Farel dan langsung menarik tangan Kyra lalu mengikat tangan Kyra ke sandaran ranjang.
"Jangan hiks, hiks"
Melihat Kyra dengan keadaan terikat dan sedang menangis, Farel malah merasa senang dan puas.
Sesaat kemudian ia pun beranjak dari ranjang dan kembali dengan membawa sebuah gunting di tangannya.
"Kak Farel lepaskan aku, hiks hiks" pinta Kyra sembari meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan tali yang ada di tangannya.
Tanpa mengatakan apapun, Farel menghampiri Kyra ke atas ranjang dengan senyuman yang mengerikan, ia pun mengarahkan gunting yang ada di tangannya ke piyama yang Kyra kenakan.
"Jangan!"
"Diam Lah, kalau kamu tidak ingin gunting ini melukai kulitmu yang indah" ucap Farel yang tengah memotong-motong pakaian Kyra hingga tak tersisa.
Kini tubuh Kyra telah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.
"Heeemm, ternyata tubuhmu bagus juga ya. Rugi sekali kalau aku langsung menyerahkan mu langsung kepada preman-preman itu" kata Farel sembari memandangi tubuh Kyra dari atas kepala hingga kaki.
"Bukankah seharusnya aku mencicipinya terlebih dulu?" bisik Farel di telinga Kyra.
"Hiks, hiks, jangan ...."
Farel pun kembali mencium bibir Kyra dengan kasar dan menjamahi seluruh tubuh Kyra dengan tangannya.
Selain menangis tidak ada lagi yang bisa Kyra lakukan, ia hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Farel kepadanya.
Farel yang masih terbayang akan keadaan tubuh Luna yang telah di perk*sa banyak orang membuatnya semakin marah dan melampiaskannya ke tubuh kyra.
Ia mencium leher dan pay***ra Kyra dengan kasar hingga meninggal banyak bekas-bekas merah di tubuh Kyra.
"Sakit ... hentikan ... hiks hiks" rintih Kyra yang merasakan sakit di lehernya akibat gigitan kasar Farel di sana.
"Aku bahkan belum memulai, kamu sudah kesakitan. Nanti bahkan akan lebih sakit daripada ini" ucap Farel dan terus melanjutkan aksinya.
Kyra tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menangis dan menangis, berharap ada seorang yang akan datang menyelamatkannya.
"Kakak ... tolong aku"