
Di apartemen Eric.
"Kamu beneran percaya kalau Eric dulunya hilang ingatan?" tanya Susan kepada Farhan.
"Tentu saja," jawab Farhan.
"Bagaimana kamu bisa yakin tentang itu?" tanya Jacob.
"Saat kita masih di luar negeri, dia sering menceritakan semua tentang mimpi buruknya itu. Awalnya aku juga mengira dia terlalu berlebihan, tapi saat Eric menyuruhku menyelidikinya aku juga sangat terkejut, bagaimana bisa kejadiannya persis seperti apa yang di ceritakan Eric. Apalagi tentang istri pak Adijaya yang tertembak di kepala dan dadanya dia juga menceritakannya," jelas Farhan panjang lebar.
"Apa menurutmu Eric ada hubungannya dengan pembunuhan itu? atau dia saksi mata kejadian itu?" gumam Susan.
"Entahlah" jawab Farhan.
"Terserah apa masa lalunya, yang penting kita akan tetap bersamanya. Tanpa Eric kita tidak mungkin merasakan kehidupan yang layak seperti ini" ucap Jacob. "Apa kamu sudah menghubungi Kyra?" Sambil memandang Farhan.
"Sebentar lagi juga sudah sam—"
Ceklek
"Itu dia" ucap Farhan sambil menghampiri Kyra yang baru saja pulang.
"Kak Farhan, kenapa menyuruhku pulang?" tanya Kyra. "Eh? kalian semua di sini? dimana kakak?" sambil mengedarkan pandangannya.
"Kakakmu tadi pingsan, jadi kita membawanya pulang. Tuh dia ada di kamarnya" kata Farhan.
"Karena kamu sudah pulang, kami pamit dulu ya. Masih ada banyak pekerjaan di kantor" ucap Susan.
"Hem, baiklah Kak, Terimakasih sudah menjaga kak Eric" kata Kyra.
"Jangan sungkan Kyra, Eric kan teman kami. Ayo Jacob" ucap Susan dan kemudian meninggalkan apartemen Eric bersama Jacob.
"Eh, kak Farhan nggak ikut pergi ya?" tanya Kyra yang kini melihat Farhan berada tepat di belakangnya.
"Enggak, aku di sini saja menjagamu selagi Eric pingsan, siapa tau kamu butuh bantuanku"
"Apa sih kak, Kyra sudah besar nggak perlu di jagain" ucap Kyra. "Kalau begitu aku pergi lihat kak Eric dulu ya?".
Farhan hanya mengangguk lalu duduk di sofa sambil menyalakan TV. Sedangkan Kyra masuk ke dalam kamar Eric dan melihat keadaan kakaknya itu.
"Kakak sakit ya? kok sampai bisa pingsan?" gerutu Kyra sambil duduk di tepi ranjang Eric.
"Kalau di biarkan seperti ini, kakak nggak akan segera siuman" ucap Kyra lalu melepaskan dasi Eric.
Dengan susah payah, Kyra juga melepaskan jas dan sepatu yang di kenakan oleh Eric. Lalu Kyra berjalan keluar menuju ke kamarnya dan hendak mengambil minyak kayu putih.
Waktu melewati ruang tengah Kyra melihat Farhan yang tengah melepaskan jasnya.
"Kak Farhan mau minum apa? biar Kyra ambilin" ucap Kyra sembari berjalan menuju dapur.
"Terserah kamu Kyra" jawab Farhan lalu mengikuti Kyra berjalan ke dapur.
"Kenapa kakak bisa pingsan tadi?" ucap Kyra sembari membuka lemari es.
"Entahlah"
"Ini kedua kalinya kakak pingsan setelah pulang ke Indonesia" lanjut Kyra.
"Dia pernah pingsan sebelumnya?"
"Hemm ... tepat setelah pulang dari luar negeri aku mengajaknya ke pasar malam. Waktu itu ada laki-laki bertopi hitam yang tidak sengaja menabraknya, nggak parah sih. Tapi setelah itu kakak langsung menjerit kesakitan lalu pingsan di pinggir jalan" jelas Kyra sembari menyodorkan sebotol soda ke Farhan.
"Terima kasih" ucap Farhan sambil menerima soda yang di berikan Kyra. "Lalu dia tidak menceritakan apapun setelah itu?"
"Tidak," jawab Kyra. "Kalau begitu aku ke kamar dulu ya kak"
"Hem, pergilah" ucap Farhan.
Farhan lalu membuka tutup botol soda dan meminumnya sambil berjalan.
"Eric banyak duit juga ya? setelah memberikan kami rumah mewah dan sekarang malah beli apartemen yang luas ini juga, ck ck ck" batin Farhan.
Botol soda yang di minum Farhan pun jatuh dan menumpahkan seluruh isinya di lantai.
"Duh, dasar bodoh kamu Farhan, minum sambil jalan" gerutunya.
Farhan pun kembali jalan menuju ke dapur untuk mengambil lap di sana. Setelah ia sudah mendapatkan lapnya ia pun kembali ke tumpahan soda tadi. Sebelum sampai di sana ia melihat Kyra yang tengah berjalan menginjak tumpahan soda tadi dan hendak jatuh.
"Kyra! awas!" teriak Farhan dan berlari ke arah Kyra.
Dengan cepat Farhan menarik tubuh Kyra dan terjatuh bersama di lantai.
"Aw!" teriak Farhan yang kepalanya terbentur keras ke lantai.
"Aduh" gerutu Kyra yang kepalanya jatuh di atas dada Farhan.
"Apa yang kalian lakukan" tanya Eric yang baru saja keluar dari kamarnya.
Setelah siuman Eric hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum, namun saat ia membuka pintu, Eric melihat Farhan dan Kyra yang tengah berpelukan di atas lantai.
"Kakak, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan" ucap Kyra sambil berusaha berdiri namun terjatuh lagi ke pelukan Farhan karena terpleset sisa-sisa soda yang ada di lantai "Aw!"
Melihat pemandangan itu Eric merasa sangat kesal sekali dan menghampiri mereka, Eric lalu menarik tangan Kyra agar menjauh dari tubuh Farhan.
"Eric, ini tidak sengaja" kata Farhan sambil berdiri.
"Kenapa kamu tidak ke kantor? Sekarang sudah hampir jam makan siang, apa kamu masih tidak mau pergi?'' ucap Eric sambil menatap tajam ke arah Farhan.
"Baiklah" kata Farhan sembari mengambil jasnya.
"Tapi Kak Farhan, itu kepalanya nggak kenapa-kenapa kan?" ucap Kyra yang khawatir karena tadi kepala Farhan terbentur dengan keras.
"Tidak Kyra, aku pergi dulu ya" seru Farhan dan segera pergi dari sana.
"Ganti bajumu!" kata Eric dengan dingin.
Kyra pun melihat bajunya dan benar saja, bajunya kotor terkena soda. Tanpa banyak bicara Kyra pun pergi ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian Kyra keluar dari kamarnya dan melihat Eric yang tengah duduk di sofa.
"Kakak sudah enakkan badannya?" tanya Kyra yang kini tengah duduk di samping Eric.
"Hem"
"Aku buatin teh ya?" kata Kyra yang hendak pergi ke dapur namun di tahan oleh Eric.
Eric pun menarik pinggang Kyra hingga terduduk kembali lalu menyudutkannya di sofa.
"kenapa?" tanya Kyra dengan gugup karena kini wajah kakaknya tepat berada di hadapannya.
"Senang sekali ya melihatku pingsan? jadi kamu bisa menggoda laki-laki lain" kata Eric dengan tatapan tajam.
"Ka—kak, kita hanya nggak sengaja jatuh tadi"
"Oh ya?"
"Kakak jangan marah aku—" ucap Kyra tertahan karena tiba-tiba Eric mencium bibirnya.
"Aku tidak ingin melihatmu bersama laki-laki lain Kyra" bisik Eric.
Lalu kemudian Eric melingkarkan tangannya di pinggang Kyra dan satu lagi menarik tengkuk Kyra lalu perlahan mencium bibir Kyra.
Kyra pun hanya memejamkan matanya dan mencengkeram bahu Eric. Entah mengapa kata-kata Eric dan sapuan bibirnya serasa menumbuhkan begitu banyak bunga-bunga di hati Kyra, hingga dia menjadi pasrah dan menerima saja ciuman yang diberikan oleh Eric.
Semakin lama Eric mencium dan melu*at bibir Kyra, hingga kini lidah Eric berusaha masuk ke dalam rongga mulut Kyra. Tanpa menolak Kyra malah membalas ciuman Eric kepadanya.
Sesaat kemudian Eric melepaskan ciumannya dan menatap dalam bola mata Kyra yang kini tengah memandangnya.
"Aku mencintaimu Kyra"