What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 80



Tok tok tok


"Masuk" ucap Serlyn dari dalam ruang kantornya.


Tak berselang lama, seorang pria tampan dengan memakai jas putih pun masuk ke dalam ruangannya.


"Dokter Dio? Kenapa anda belum pulang?" ucap Serlyn kepada pria tersebut.


"Ah, saya hanya mampir untuk mengajak anda sarapan setelah ini. Saya lihat dari tadi malam anda terlihat pucat dan lesu. Apa anda ada masalah?" kata Dio.


"Saya baik-baik saja, hanya kecapekan. Maaf, dokter dio. Saya buru-buru mau pulang jadi saya tidak bisa menemani anda sarapan" ucap Serlyn lesu.


"Oh iya, aku lupa. Kamu kan sedang hamil muda, jadi wajar saja kalau habis shift malam kamu mungkin sangat kecapekan. Baiklah, pulang dan istirahatlah dokter Serlyn. Saya permisi dulu" kata Dio dengan senyum manisnya.


"Tunggu dokter Dio" Serlyn pun menghampiri Dio yang hendak membuka pintu.


"Ya?" Dio menoleh ke arah Serlyn yang tepat berada di belakangnya.


"Emm ... Itu ..."


"Ada apa dokter Serlyn?"


"Bagaimana anda bisa tau kalau saya hamil?" ucap Serlyn penasaran sebab tidak ada yang tau jika dia sedang hamil selain orang-orang terdekatnya.


"Oh, itu ... Saya tidak sengaja membaca laporan medis anda di dokter Vivian tempo hari" kata Dio sedikit canggung.


Serlyn pun terdiam sesaat. Kini pikirannya sedang di penuhi tantang Eric yang kemarin baru saja memutus hubungan dengannya.


"Dokter ..." kata Dio yang melihat Serlyn melamun. "Dokter Serlyn?" Dio pun melambaikan tangannya di depan wajah Serlyn.


"Eh?"


"Apa anda baik-baik saja?" ucap Dio sedikit khawatir. "Anda terlihat pucat"


"Saya baik-baik saja dok. Oh ya dokter Dio. Bisakah anda merahasiakan tentang ini?"


"Merahasiakan? Kenapa?" ucap Dio penasaran.


"Tidak apa dok. Hanya saja ..." ucap Serlyn menggantung sambil menundukkan kepalanya.


Dio pun memegang bahu Serlyn. "Baiklah, tidak perlu anda jelaskan dokter Serlyn. Saya akan merahasiakannya, anda tenang saja"


"Terimakasih dok"


"Hemm .. kalau begitu, saya permisi"


"Iya, silahkan"


Dio pun keluar dari ruangan Serlyn.


"Hufft ... Apa yang harus aku lakukan?" Serlyn pun menyandarkan tubuhnya di tembok. "Eric sudah tau segalanya, dan aku ... Ahh ... Demi bisa bersama Eric. Aku sudah mengatakan kepada Jevan jika ini bukanlah anaknya. Jika aku kembali kepada Jevan dan bilang yang ada di perutku adalah darah dagingnya, apakah Jevan akan percaya begitu saja? ... AKKHH, mana mungkin dia bahkan sudah mengusirku dari kehidupannya" dengus Serlyn frustasi. "Kyra ..." gumam Serlyn sambil menggertakkan giginya. "Ini semu salah Kyra. Seharusnya aku menyingkirkannya dari dulu. Jika bukan karena dia, Eric pasti sudah menjadi milikku sekarang"


Serlyn pun beranjak mengambil tasnya yang ada di atas meja lalu berjalan keluar.


Sesampainya di lobi, Serlyn melihat Eric yang sedang berjalan terburu-buru hendak keluar dari rumah sakit.


"Eric?" gumam Serlyn. "ERIC TUNGGU" teriak Serlyn namun Eric tak mendengarnya.


Serlyn pun berlari kecil mengejar Eric yang kini sudah berada di halaman rumah sakit.


"ERIC" teriak Serlyn dan membuat Eric menghentikan langkahnya.


Eric pun menoleh ke arah Serlyn yang kini sedang berlari menghampirinya.


"Kamu lagi. Mau apa kamu?" ucap Eric dengan ketus.


"Ric, kamu tidak bisa begini. Jangan bersikap seperti ini kepadaku Ric. Aku mencintaimu, aku bahkan menyukai mu sejak lama. Ric, aku tau aku salah. Tapi, lihatlah ketulusanku, aku tulus mencintaimu Ric. Maafkan aku, kamu jangan membatalkan pernikahan kita Ric. Aku mohon ..." kata Serlyn sambil menggandeng tangan Eric.


"Memaafkan mu?" Eric pun menyunggingkan seringainya. "Jangan harap" Dengan keras Eric menghentakkan tangan Serlyn agar terlepas dari lengannya.


"Ric, Ric ... Aku mohon ... Aku sangat mencintaimu, sejak kita bertemu kembali aku mulai tidak bisa melepaskan ku ataupun melupakan mu. Ric, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mohon ... Biarkan aku menikah denganmu ya, aku janji aku akan menjadi orang yang lebih baik" ucap Serlyn sambil kembali menggenggam tangan Eric.


"Jangan mimpi Serlyn. Sampai kapanpun, aku tidak akan menikah dengan mu. Kamu tau, kesalahan mu adalah kamu membohongiku dan membuatku hampir membunuh anak ku sendiri. Karena aku memandang Susan, maka aku tidak akan menyentuhmu. Tapi kita lihat saja nanti, aku masih punya seribu cara untuk membalas mu meskipun aku tidak menyentuh mu" kata Eric penuh penekanan.


"A-Apa maksudmu Ric?"


Eric hanya menyeringai dan melepaskan tangan Serlyn.


"Kamu sudah terlalu banyak membuang waktuku. Minggir"


"Tidak tidak ... Aku mohon beri aku kesempatan kedua Ric" Serlyn pun mencegah Eric agar tidak pergi. "Aku mohon, aku bahkan rela menggugurkan anak ini jika kamu mau. Aku mohon Ric ... " Serlyn pun menangis memohon kepada Eric.


"Minggir" Eric pun mendorong Serlyn dengan keras dan membuatnya terjatuh.


Eric pun tak menghiraukan Serlyn dan pergi begitu saja.


"Ric" gumam Serlyn lirih sambil memegangi perutnya.


"Dokter Serlyn, anda tidak apa-apa?" kata Dio yang kini mengahampiri Serlyn dan membantu Serlyn berdiri.


"Sssttt" desis Serlyn menahan sakit di perutnya.


"Dokter Serlyn, sepertinya kita harus memeriksakan perutmu ke dokter Vivian.


"Tidak perlu dok, saya hanya ingin pulang" kata Serlyn lirih.


"Tapi ... Aish Baiklah, tapi aku akan mengantarmu pulang"


"Tidak perlu repot-repot dokter Dio saya bisa-"


"Tidak ada penolakan" ucap Dio memotong kalimat Serlyn.


"Baiklah"


"Mana kunci mobil anda"


Serlyn pun menyerahkan kunci mobil kepada Dio. Mereka pun pergi menggunakan mobil Serlyn menuju ke rumah Serlyn.


"Emm ... Dokter Serlyn, sekarang sudah bukan jam kerja. Apakah saya boleh panggil anda dengan nama anda saja" kata Dio sedikit gugup sambil terus fokus menyetir.


"Terserah anda dok"


Serlyn pun membuang mukanya menghadap ke arah jendela mobil.


"Ehem, Se-serlyn ... Apakah laki-laki tadi adalah ayah dari anak yang kamu kandung tadi?" kata Dio penasaran.


Deg


.


.


.


Serlyn pun terdiam mendengar pertanyaan Dio. Ia ingin menjawab tidak, namun nanti Dio pasti akan menanyakan siapa ayah anak ini. Apa yang akan dipikirkan Dio tentangnya nanti. Hamil di luar nikah, dan ingin orang lain yang akan bertanggungjawab? Dio pasti akan memandang rendah dirinya.


"Ah ... Aku terlalu lancang ya. Maaf" kata Dio canggung. "Eh? Ada apa itu, kok ramai sekali" lanjutnya ketika melihat orang-orang tengah berkerumun di pinggir jalan. Dio lalu mengurangi kecepatan mobilnya.


Serlyn pun tak menghiraukan dan masih tak mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil.


Beberapa saat kemudian ponsel Serlyn pun berbunyi. Terlihat Zian adiknya tengah meneleponnya.


Serlyn pun mengangkat telepon tersebut.


"Halo? Ada apa Zian. Tumben sekali kamu menelpon ku sepagi ini" ucap Serlyn dengan malas.


"Halo halo" kata seorang laki-laki dari balik telepon tersebut namun bukan Zian.


"Anda siapa?"


"Ah, Halo nyonya. Apakah anda kakak dari pemilik ponsel ini?" kata laki-laki tersebut.


"Ada apa?" tanya Dio penasaran.


"Iya, pemilik ponsel ini adalah adik saya" lanjut Serlyn tak menghiraukan Dio.


"Oh, begini nyonya. Saya adalah tukang sapu jalan, baru saja saya menemukan adik nyonya tergeletak di pinggir jalan. Saya tidak tau identitasnya, jadi saya menelepon anda karena nomor kontak anda tertulis kakak di sini"


"Apa? Zian pingsan di pinggir jalan?"


"Iya nyonya, sebaiknya anda cepat datang kemari. Dia terlihat sangat parah. Dia seperti habis di pukuli" jelas laki-laki tersebut dari balik telepon.


Serlyn pun terperanjat. "Bagaimana bisa? Cepat beritahu aku di mana lokasinya sekarang"


"Jalan xx nyonya, tepatnya di sebelah taman"


"Apa?" Serlyn pun menoleh ke arah belakang mobilnya.


"Ada apa?" kata Dio yang kini melajukan mobil.


"Dokter Dio, tolong putar balik" perintah Serlyn dengan nada khawatir.


"Ada apa?"


"Cepat" bentak Serlyn.