
Untuk pertama kali mereka masuk, mereka berdua terkagum-kagum, Zea juga terpesona dengan perpustakaan ini. Pasalnya Zea juga belum pernah ke perpustakaan ini, Zea hanya ke perpustakaan biasa. Tujuan mereka berdua ke sini juga untuk mencari pengetahuan dunia manusia untuk Veronica.
Buku di perpustakaan ini terbagi menjadi berbagai macam, khususnya untuk pelajaran,novel,atau buku pengetahuan umum lainnya. Untuk Veronica, sepertinya dia akan mencari tentang pengetahuan umum. Tidak hanya Veronica yang akan membaca atau mencari buku, Zea pun ikut juga,ia juga penasaran dengan isi buku di perpustakaan Locean Library.
Mereka berdua berpencar tapi tidak terlalu jauh,agar saat ingin mencari mereka tidak kerepotan, mengingat seberapa luas perpustakaan ini. Zea mengambil buku non fiksi dan novel, untuk dipinjam nya beberapa hari. Sedangkan Veronica,ia ingin membaca buku ini di perpustakaan itu juga,jadi setelah mendapatkan beberapa buku yang dicari, mereka mencari tempat duduk di perpustakaan.
Mereka duduk di meja dan kursi yang disediakan di perpustakaan itu, letaknya di pojok ruangan perpustakaan. Yah walaupun mereka tidak bisa membaca buku itu dengan tenang, karena beberapa pengunjung perpustakaan yang terpesona pada mereka berdua. Untung saja di perpustakaan tidak boleh berisik, sehingga mereka hanya dapat menunjuk dan berbisik pelan.
Zea dan Veronica di perpustakaan setidaknya dua jam, setelah itu Zea mengajak Veronica pergi. Tidak lupa juga, Zea meminjam beberapa buku yang menarik,tentu untuk Zea dan Veronica. Mereka berdua kemudian pergi ke sebuah kafe disekitar perpustakaan, entah karena apa, sekarang Zea dan Veronica sudah mulai akur.
Zea dan Veronica juga sudah dapat bercerita berbagai hal, jika dilihat juga Veronica sebenarnya asik juga. Mungkin karena sesama perempuan juga,jadi asyik jika mengobrol seperti ini. Maklumlah, Veronica dulu nya merupakan perempuan satu-satunya,jadi jika bercerita seperti ini tidak enak, karena aneh rasanya jika bercerita dengan laki-laki.
Rasanya bagaimana lah, intinya tidak nyaman. Oh iya, di kafe Veronica mencoba kopi khas kafetaria dan beberapa dessert enak di sana, tidak disangka Veronica menyukainya. Zea senang melihat Veronica makan dengan lahap,tapi tetap anggun pastinya.
Setelah selesai mereka tidak langsung pulang, mereka berdua pergi ke tempat game. Yah untuk bersenang-senang pastinya, Zea juga tidak tahu mau mengajak Veronica kemana lagi, hanya pusat permainan yang Zea pikiran,lagi pula di dunia sihir juga tidak ada yang namanya seperti itu, tentu ini hal bagus jika Zea mengajak Veronica ke sana.
Di pusat permainan,Zea mengajak Veronica melakukan beberapa hal, mereka hampir mencoba semua permainan di sana. Tidak disangka Veronica lumayan handal memainkannya,bahkan sekarang ia sedang kegirangan mencoba permainan itu. Tapi kejadian tidak terduga pun menghampiri mereka berdua.
Saat akan mencoba permainan yang lain, mereka berdua tidak sengaja bertemu dengan seorang laki-laki yang masih muda dan sepertinya seumuran seumuran dengan kakak tiri Zea atau mungkin hampir seumuran dengan Eden, mereka terlihat seperti anak berandalan, melihat pakaian mereka yang ala gangster itu.
Tidak sengaja Zea menyenggol bahu laki-laki itu, Zea tentunya sudah minta maaf. Laki-laki itu awal nya marah saat ada yang menabraknya,tapi ketika yang ia lihat adalah sesosok wanita cantik di depannya,yaitu Zea dan Veronica. Laki-laki itu langsung bersikap manis dan tidak jadi marah,malah sekarang ekspresinya menunjukkan wajah yang menggoda.
Jujur saja, laki-laki itu memiliki wajah yang cukup tampan, seperti orang asing atau mungkin anak blesteran. Di terlihat nakal dengan beberapa tindikan di telinga nya dan gaya rambutnya,dia kemudian tersenyum pada Zea dan Veronica. Tapi tetap saja, matanya tertuju pada Zea, laki-laki itu tidak sendirian,dia bersama dengan dengan kedua geng nya.
"Maaf" kata Zea meminta maaf,dia juga menundukkan kepalanya untuk meminta maaf pada laki-laki asing.
Laki-laki itu juga kemudian bersikap manis dan tidak menunjukkan wajah cemberut dan kesal nya itu. Ini membuat Zea memiliki perasaan yang tidak enak dengan ekspresi nya, teman-teman nya juga terpesona dengan mereka berdua, Veronica pun menatap mereka tajam karena tidak suka dengan mereka.
"Oh.. Tidak apa-apa,tenang saja" kata laki-laki itu dengan ekspresi yang masih terpesona.
"Maaf kak,aku tidak sengaja melakukannya. Tidak ada yang terluka kan?"kata Zea yang pura-pura ramah, takutnya kalau dia menunjukkan wajah nya yang kejam,malah jadi buruk nanti nya.
"Tidak ada, tenang lah. Tapi,jika ada yang terluka padaku..Aku akan meminta pertanggungjawaban darimu,jadi...Aku boleh tidak meminta nomormu?"kata laki-laki itu dengan nada yang manja tidak segarang penampilannya.
"Ha?Apa?"tanya Zea kaget, sudah tentu ini lah modus laki-laki ini untuk meminta nomor ponsel Zea, untung nya Zea tidak memiliki ponsel jadi dia tidak bisa memberikannya pada laki-laki ini.
"Yah, benar? Jika terjadi sesuatu padaku karena kau...Aku bisa meminta kau untuk mengobati ku"tambah laki-laki itu.
"Maaf kak,aku tidak punya ponsel. Jika kau takut terjadi sesuatu pada kakak,lebih baik kita ke rumah sakit saja" kata Zea dingin dan tidak peduli,dia malas sekali dengan lelaki seperti dia.
"Ah.. Kenapa begitu? Baiklah kalau begitu,tapi apakah aku boleh mengetahui namamu?"kata lelaki itu,dia menunjukkan sisi ketampanannya dan keren nya, sehingga bagi gadis lain,ini membuat nya berdebar-debar.Tapi ini tidak membuat Zea terpesona, Zea bahkan tetap menatap lelaki itu dengan biasa, berbeda dengan Veronica yang menatap mereka semua dengan tajam.
"Maaf, tidak bisa. Sekali lagi aku minta maaf pada kakak, permisi" kata Zea dingin, kemudian dia menarik tangan Veronica untuk pergi menjauh dari mereka,tapi ketika baru saja beberapa langkah mereka pergi, lelaki itu langsung memanggil Zea,yang membuat Zea berhenti berjalan dan langsung menoleh ke belakang.
"Hei!.. Jika aku tidak boleh mengetahui namamu,itu berarti kau harus mengetahui namaku.... Namaku Alex,kau harus mengingat namaku ya!"teriak lelaki itu, karena Zea yang tidak peduli,dia pun langsung pergi begitu saja tanpa menjawab lelaki itu.
Sedangkan lelaki itu masih melihat Zea dari kejauhan hingga Zea tidak terlihat lagi. Teman-teman nya pun juga menggoda si Alex itu dengan candaan sembari merangkul nya dan meneriaki nya. Alex hanya tersenyum dengan itu, kemudian dia menatap kedua temannya dengan tajam.
"Kalian berdua, carilah siapa gadis cantik itu! Aku tidak mau tahu kalian mencarinya dimana, intinya aku hanya ingin informasi tentang Gadis Cantik itu" kata Alex tajam, seketika kedua temannya itu pun mengangguk paham,ini membuat Alex semakin tersenyum, sehingga ia kelihatan menakutkan dan dingin.