
Saat Zea dan Anthony sedang berpelukan,Karla yang tidak tahu Anthony ada di sana hanya masuk saja, karena pintunya tidak ditutup, mungkin menurut Karla Zea sendirian. Saat masuk pun Karla kaget dan terkejut, dia merasa sudah salah masuk, tapi memang salah sih.Zea dan Anthony pun juga terkejut dengan kedatangan Karla.
"Eh? Mohon maaf Yang Mulia dan Putri, saya tidak tahu Yang Mulia di sini, maaf mengganggu" kata Karla, dia jadi salah tingkah.
"Tidak, ada perlu apa kesini?" kata Anthony, dia juga canggung tadi, karena kedatangan Karla. Semua orang tahu Anthony orang yang dingin dan berwibawa, tapi kalau sudah dengan anaknya Anthony tidak akan bersikap seperti itu.
"Ohh, ini saya membawakan makanan untuk Putri Zea makan, saya akan taruh di sini. Saya permisi Yang Mulia.. Tuan Putri.. Maaf mengganggu" kata Karla sembari meletakkan nampan berisi makanan, dia kemudian hormat dan menunduk pada Zea dan Anthony, lalu pergi dengan tergesa-gesa. Karla rasa dia merasa bersalah pada mereka berdua, juga sepertinya Karla juga malu.
"Aku rasa, Karla malu sekali, ya?" kata Zea, dia menebak-nebak.
"Iya, Zea kau belum makan, kan? Ayo makan dulu, kau dari tadi belum makan"kata Anthony, dia lalu mengambil nampan berisi makanan di meja sebelah kasur Zea.Anthony lalu meletakkan di depan Zea dan Anthony.
"Aku akan memakannya" kata Zea, di mengambil sendok terlebih dahulu dan langsung memakan makanannya yang adalah bubur, Zea tidak tahu bubur apa itu, tapi rasanya enak sekali. Biasanya kan bubur itu hambar tapi ini enak, manis bukan asin dan lembut. Yang penting Zea suka sekali jadi Zea memakannya dengan lahap.
Anthony yang melihat Zea makan dengan lahap hanya dapat tersenyum dengan senang, dia senang melihat Zea senang. Setelah Zea makan, lalu Zea ingin tidur. Dia tidur bersama Anthony, nanti kalau Zea sudah benar-benar tidur, Anthony akan pergi. Dia hanya menemani Zea sampai tidur saja.
Zea tidur bersama Anthony, mereka saling pandang satu sama lain. Karena cuaca hati ini rasanya dingin sekali,jadi Zea menggulung tubuhnya dengan selimut. Anthony membelai dan mengusap rambut Zea agar tidur, Zea pun perlahan menutup matanya, dia perlahan nyaman dengan ini.
Zea sekarang sudah tidur nyenyak, dia bahkan tidak dapat diganggu lagi. Saat Zea benar-benar tidur, Anthony segera beranjak dari tempat tidurnya sebelum itu Anthony mengecup pipi Zea dan dahi Zea, lalu Anthony pun beranjak pergi dari kasur dengan pelan. Ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka berdua dan merupakan kenangan pahit bagi mereka berdua.
•••
Keesokan paginya, Zea sudah bangun, Zea juga sudah mandi dan berganti pakaian. Dia bersama Karla sekarang, Karla juga sedang membereskan kamar Zea bersama dengan dua orang pelayan lainnya.Para prajurit dan pelayan di sini sangat cantik dan tinggi, seperti orang Eropa jaman dulu, memiliki tubuh yang ramping dan tinggi,serta rambut yang pirang dan lurus.
Walaupun rambut mereka digulung,tapi terlihat jika mereka memiliki rambut yang panjang,karena gelungan rambut itu sangat panjang. Zea merasa dia sangat segar karena udara di pagi hari itu, tapi entah kenapa dada Zea masih sakit, tidak sakit jika dibawa tidur, tapi kalau bangun juga sakitnya kambuh.
Apakah ini hukumannya? Merasakan sakit di dadanya, Zea tidak tahu tapi kalau dibawa untuk melakukan suatu hal pasti sakit. Ngomong-ngomong melakukan sesuatu, Zea ingat kalau hari ini Zea akan bertemu dengan Morin, tapi bagaimana pergi tanpa ketahuan oleh Anthony dan yang lain.
Zea berjalan mondar-mandir, dia harus berpikir bagaimana cara pergi tanpa sepengetahuan Anthony, dia harus berpikir caranya. Tapi bagaimana jika mengantar surat pada Morin, Zea kan bisa melakukan itu, dengan bubuk Paradido. Bubuk yang dapat mengantarkan surat.
Tapi masalahnya dia mau mengatakan apa dengan Morin, tidak tahu harus berkata apa? Zea bingung juga kalau dia bicara ini takutnya nanti salah, dia akan menghancurkan kalungnya, lalu kalau tulis tidak mau datang nanti juga akan tambah buruk. Maunya bagaimana, ya?
Atau Zea menulis surat untuk bertemu di lokasi yang mudah, karena dari surat yang Morin tulis itu dia harus bertemu tepat di perbatasan, Zea tidak bisa ke sana, Anthony melarang keras Zea untuk ke sana kecuali pusat kota..Yeah kenapa tidak, dia bisa bertemu di sana, tapi apakah Morin akan menerima tawaran Zea.
Tapi jika disana juga tidak bisa, itu sama saja Morin menyerahkan diri ke Kerajaan Echthra, tidak bisa juga, ya. Bagaimana ini, Zea tidak tahu, dia lebih baik mengirim surat saja ke tempat yang lain. Coba kalau bisa kalau tidak bisa Zea harus mengambil resiko untuk pergi ke perbatasan itu.
Zea pun menulis surat untuk Morin,menulis apa yang harus Zea tulis. Setelah Itu Zea langsung mengirimnya kepada Morin,melakukan hal ini sebenarnya tidak boleh,ya kalau tanpa sepengetahuan orang tua, tapi mau bagaimana lagi Zea harus mendapatkan kalung itu.
Zea turun ke bawah untuk sarapan bersama, menikmati Zea berbeda dia sekarang harus makan-makanan yang lembut mengingat Zea sedang sakit, jadi mau tidak mau harus memakan itu. Zea juga harus meminum ramuan yang sama di Gedung Mazevo, Anthony juga tapi warnanya lebih cerah, beda dengan Zea yang lebih pekat.
Setelah makan Zea langsung pergi ke kamarnya lagi Zea menunggu surat miliknya, apakah mungkin Morin tidak mau menjawab itu. Zea tidak tahu dia harus berpikir positif. Sesaat kemudian Zea tidak sendiri, karena Luis dan Lucas datang, mereka menemani Zea.
Mereka duduk di kasur bersamaan dengan Zea, Zea pun bertanya kenapa mereka datang kesini padahal Zea sedang menunggu surat.
"Hai, Zea. Diam-diam saja" kata Luis, dia menatap Zea,sebab kedatangan Luis dan Lucas membuat Zea terlihat marah.
"Tidak, ada apa?" kata Zea, dia berusaha menyembunyikannya.
"Itu, Eden. Dia menyuruhmu ke bawah ke ruang latihan" kata Lucas
"Untuk apa?" kata Zea, dia penasaran kenapa menyuruh Zea ke sana.
"Kau lihat sendiri nanti, Ayo!" kata Luis, di menyeret Zea turun dibantu oleh Lucas, Zea yang tidak tahu apa-apa, hanya pasrah saja dibawa Si Kembar.