
Jadi sekarang mereka sedang membahas tentang Zea,mereka membahas ini dengan serius, Anthony yang sebelumnya tidak percaya harus menerima kenyataan tentang Zea. Anthony tidak tahu kalau keadaan Zea semakin buruk, seharusnya saat Zea sedang kesakitan Anthony berada di samping Zea. Dia sungguh kecewa dengan ini.
Anthony pergi mencari Zea, dia ingin melihat nya, dia ingin menemani Zea dan ingin terus bersamanya. Saat di taman, dia melihat Zea sedang bersama Luis, perlahan Anthony melihat Zea dari kejauhan. Dia tidak ingin mengganggu anaknya yang sedang bermain bersama Luis. Tanpa sadar, Anthony menitikkan air matanya. Dengan cepat Anthony berusaha untuk tidak menangis dan menahan air matanya.
Senyuman di wajah Zea itu membuat Anthony makin bersalah, entah apa yang Anthony pikirkan, tapi di terus menitikkan air mata. Saat Zea dan Luis akan masuk ke istana, Anthony segera pergi dari tempat itu dan kembali ke ruang kerjanya dan menyuruh agar tidak ada yang mengganggu nya.
Eden yang masih di sana terpaksa harus pergi, sebelum itu Anthony meminta agar Eden bertemu dengan Zea dan menyuruhnya untuk menemui Anthony. Eden pun pergi bertemu Zea, saat ini Zea sedang berada di kamar nya, dia sedang minum beberapa ramuan. Saat Eden membuka pintunya, Zea kaget dan bingung.
"Ada apa?" tanya Zea kebingungan, dia berhenti meminum ramuannya saat Eden datang.
"Ayah.. Dia ingin bertemu denganmu,Ayah sekarang ada di ruang kerjanya"kata Eden, dia berusaha bersikap biasa.
"Oh.. Baiklah, aku akan ke sana, tapi setelah aku minum ramuan" kata Zea menunjukkan ramuan yang sedang ia minum.
"Iya, aku akan pergi"kata Eden, lalu di pergi dari kamar Zea. Sementara Zea sedang mencerna pikirannya dengan kenapa Anthony ingin bertemu dengannya dan Eden yang bersikap seperti itu. Tidak tahu, Zea tidak mau memikirkan itu, kepala Zea jadi pusing. Jadi Zea melanjutkan minumnya.
Setelah ini Zea pergi ke ruang kerja Anthony,dia gugup sekaligus bingung kenapa Anthony menyuruh Zea ke sana, apakah ada hal penting? Tunggu, apa karena Zea bertemu dengan Morin, Chou kan tahu itu. Apakah dia mengatakannya pada Anthony, Dasar sialan si Chou. Padahal Zea akan menuruti keinginannya.
Sebenarnya keinginan Chou itu, Zea harus mengabulkan permintaan Chou, permintaan Chou ada tiga, katanya dia akan menggunakannya saat bertemu dengan Zea. Padahal Zea sudah mau melakukan itu. Memang sial si Chou, awas saja kalau itu benar, Zea pasti akan menghabisinya,Pikir Zea.
Dengan langkah yang berat dan ragu, Zea masuk ke ruang kerja Anthony. Sebelumnya prajurit yang ada di sana tidak mengijinkan Zea masuk, tapi dengan perintah Anthony Zea jadi dapat masuk. Anthony sedang duduk di kursi nya dengan tangan yang di kepal dan ekspresi yang serius. Jantung Zea berdegup kencang melihat ekspresi itu, dengan langkah yang ragu dia menghampiri Anthony.
"Kau sudah datang, duduklah di sofa!" kata Anthony, lalu dia mengajak Zea duduk di sofa berdampingan dengan Zea.
"I-iya, yah"kata Zea gugup, kemudian dia duduk di sebelah Anthony.Anthony pun duduk di samping Zea, dia kemudian tersenyum pada Zea. Ini membuat Zea sedikit lebih tenang, seperti nya Anthony tidak membicarakan tentang masalah Zea bertemu Anthony. Zea sekarang sudah berpikir positif lagi.
"Sebenarnya ada yang Ayah bicarakan denganmu. Zea, apakah kau sudah tidak sakit lagi?" kata Anthony langsung, dia mengatakan nya dengan tiba-tiba membuat Zea gugup kembali.
"Aku sudah baik, Ayah lihat kan aku baik" kata Zea bohong, memang Zea sudah sembuh, tapi kadang-kadang Zea masih muntah darah dan dadanya sakit tidak karuan.
"Ayah sudah dengar, saat kau sakit sebenarnya kau sakit parah, kan?" kata Anthony berusaha untuk tersenyum.Jantung Zea pun berdegup kencang, dia bahkan mengeluarkan keringat dan gemetar.
"Ha? Itu... Aku-aku tidak bermaksud membohongi Ayah, aku hanya-... " kata Zea gagal, dia tidak bisa menjawabnya.Zea memalingkan wajahnya dari Anthony.
GREP
"Maafkan Ayah, Zea. Ayah tidak ada di sampingmu waktu itu" kata Anthony sembari meneteskan air mata. Ini membuat Zea makin bersalah sekaligus senang. Karena Anthony khawatir pada Zea.
"Aku baik-baik saja, lagi pula ada kakak-kakakku yang menjagaku"kata Zea berusaha menenangkan Anthony. Kemudian Anthony melepaskan pelukan Zea, dia mengelus pipi Zea untuk memandangnya.
"Tapi, bukankah seharusnya Ayah menemanimu saat kau sakit, Ze"kata Anthony yang masih terlihat sedih dan menyesal.
"Tapi sekarang Ayah sudah ada di sampingku, aku senang Ayah pulang"kata Zea , dia tersenyum pada Anthony berharap Anthony dapat tenang dengan senyuman Zea.
" Syukurlah"kata Anthony, kemudian Anthony meraih pipi Zea dan mengecup mulut Zea sekilas. Zea yang kaget dengan kejadian ini langsung mendorong Anthony, wajah Zea memerah saking malunya. Anthony yang kaget sekaligus tertawa melihat tingkah Zea yang malu.
"Kenapa? Zea malu?" tanya Anthony yang tertawa kecil melihat tingkah Zea. "A-ayah kenapa melakukan itu?Itu-... " kata Zea yang malu dan salah tingkah.
"Ini tanda sayang Ayah pada Zea, Ayah dulu sering melakukan ini pada kakak-kakakmu dan ibumu" kata Anthony yang memaksa Zea untuk melihat Anthony, karena Zea menjauh dari Anthony dan sekarang dia tidak menatap Anthony.
"Tapi bukankah itu... Apa disini hal biasa?Jika mencium pipi kan hal yang biasa,tapi kalau ini.." kata Zea, telinga Zea masih merah, dan dia juga tidak mau melihat Anthony karena malu.
"Yeah, disini memang biasa. Jadi Zea juga harus membiasakannya" kata Anthony, kemudian dia mendekati Zea dan mencubit pipi Zea karena gemas.
"Ihh.. Ayah, cwakit!!!" teriak Zea karena dicubit pipinya oleh Anthony yang gemas. Lalu Anthony pun mencium mulut Zea sekilas. Zea pun langsung pergi menjauh dari Anthony karena saking malunya, dia memang tidak pernah melakukan hal itu, paling tidak dia hanya di cium pipi dan keningnya saja oleh Paman Adnan dan Bibi Maggie, serta mungkin ibunya dulu.
"Hei.. ahaha.. Zea, mau kemana?" kata Anthony sembari tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Zea yang gemas. Zea pun berlari kencang sembari memegang kedua pipinya karena malu. Bahkan saat Zea Luis mengapa Zea, Zea tidak membalasnya karena malu. Luis yang melihat ini hanya bingung dan aneh pada Zea. Luis hanya bisa menggaruk kepala nya karena bingung.
"Ada apa?" tanya Eden yang datang menghampiri Luis sembari membawa beberapa dokumen.
"Tidak, bukan apa-apa, hanya saja tadi Zea aneh, sepertinya dia habis dari ruang kerja Ayah"kata Luis bingung.
"Dari ruang kerja Ayah?" tanya Eden, "Iya dia sambil memegang-.. Ohh, tentu Zea bersikap seperti itu, Ayah pasti melakukannya" kata Luis yang sudah tahu apa yang terjadi, dia juga sedikit geli.
"Ahh.. Iya, aku paham, dulu Ayah sering melakukan itu jika kita rewel" atau Eden,"Dan setelah itu kita diam mematung karena kaget" kata Luis yang masih geli.
"Itulah senjata rahasia Ayah, aku bahkan tidak mau membayangkan lagi"kata Eden, lalu di pergi dari situ di ikuti oleh Luis.