
"Ayah?Kenapa Ayah tiba-tiba kesini" kata Zea kaget sekaligus senang melihat Anthony datang, sebenarnya Zea juga mau bertemu Anthony, tetapi tidak jadi karena Zea takut mengganggu.
"Ayah ingin melihatmu, Ayah rasa akhir-akhir ini tidak dapat menemanimu" kata Anthony, dia duduk di ranjang berdampingan dengan Zea.
"Ohh itu, sebenarnya aku juga mau menemui Ayah, tapi aku takut mengganggu. Aku ingin menunjukkan pedang dari Mike" kata Zea, dia kemudian mengambil sesuatu peti di bawah kasurnya dan kemudian mengambilnya, serta meletakkannya diatas kasur Zea.
"Pedang yang kau pesan itu? Pasti sangat bagus karena Mike yang membuatnya" kata Anthony penasaran dengan pedang milik Zea.
"Iya, pedangnya memang bagus, Tidak aneh jika Mike dijuluki Mike Si Pembuat Pedang" kata Zea seraya membuka peti itu.
"Tentu, karena pedang buatannya sangat bagai dan dapat memuaskan pelanggan" kata Anthony sambil melihat pedang milik Zea. Anthony sangat hati-hati saat memegang pedang Zea.Pedang itu memang bagus dan tapi, sangat cocok untuk Zea.
"Pedang ini akan sangat bagus jika sihirmu disalurkan ke pedang ini. Apakah sihir belum muncul Zea?" tambah Anthony pada Zea. Pertanyaan Anthony membuat Zea sedikit sedih tapi dia tidak mau menunjukkannya pada Anthony.
"Belum, atau mungkin tidak ada, ya?"kata Zea berusaha bersikap biasa saja. Zea juga penasaran dengan sihir yang ada didalam tubuhnya seperti apa. Tapi Zea juga merasa kalau Zea tidak punya sihir.
"Jangan seperti itu,Zea.Walaupun kamu berdarah campuran, tetapi kau tetap keturunan keluarga Echthra, pasti tetap ada sihir di dalam tubuhmu Zea" kata Anthony dengan wajah yang lesu dan senyumannya pada Zea.
"Begitukah?Aku tidak tahu, tapi kenapa Ayah kemari. Pasti Ayah ingin bicara denganku, kan?" kata Zea penuh curiga pada Anthony, karena tidak biasa Anthony seperti ini. Yah, walaupun baru beberapa minggu ketemu tapi pasti sudah cukup tahu kan sifatnya.
"Ohh itu... Ayah memang ingin bicara sesuatu denganmu, kau jeli juga,Zea" kata Anthony sembari membelai rambut Zea.
"Hehehe.... Jadi apa yang mau Ayah bicarakan denganku?" tanya Zea pada Anthony, jika di ingat-ingat memang Luis dan Lucas tadi bicara tentang Anthony, kalau Anthony mengatakan sesuatu dengan Zea.
"Iya, besok apakah kau mau bertemu dengan Paman Adnan?Ayah merasa ini waktunya kita berkunjung ke sana" kata Anthony.
"Benarkah?Kita akan ke Paman Adnan besok?" tanya Zea dengan penuh semangat. Dia tidak percaya akan bertemu dengan pamannya lagi di bumi.
"Iya benar.Ayah juga mau membicarakan sesuatu dengannya, tapi Zea kita disana hanya satu hari saja. Tidak apa-apa, kan?" kata Anthony pada Zea.
"Kalau itu, aku tidak apa-apa. Ayah, kan orang penting di sini, jadi tidak masalah bagiku. Tapi.. Ayah ingin bicara apa dengan Paman? Apakah itu sangat penting"tanya Zea penasaran, Zea jadi curiga dengan Anthony. Zea juga berpikir apakah pembicaraan Anthony dan Adnan tentang hukuman Zea. Jika seperti ini ceritanya, ini sangat gawat.
"Eh? Itu.. Ini tentang... Tentang.. Masalah pria, ini masalah laki-laki Zea, Kau tidak akan paham" jawab Anthony dengan suara yang gagap dan gemetar. Mana mungkin Anthony mengatakan jika dia pergi menemui Adnan untuk membicarakan hukuman Zea, pasti tidak bisa. Terpaksa Anthony berbohong pada Zea, padahal baru saja bertemu, tapi Anthony sudah banyak berbohong pada Zea. Ini membuat Anthony merasa bersalah pada Zea.
"Hmm... Aku.. percaya pada Ayah, aku yakin Ayah tidak mungkin berbohong padaku" kata Zea setengah percaya dan setengah lagi tidak percaya pada Anthony.
Hari esok pun tiba, Anthony dan Zea pergi ke hutan tepat diperbatasan. Anthony sengaja pergi ke dunia manusia pada pagi-pagi sekali, agar tidak ketahuan oleh penjaga di area perbatasan. Setelah menemukan retakan dimensi, Anthony membuka portal itu dan kemudian mereka memasuki portal yang telah dibuat.
Mereka memasuki portal dan tibalah mereka di dunia manusia, tepat di depan rumah Anthony. Untuk memastikan mereka pergi jauh, tidak lupa Zea membawa tas yang cukup besar dan Anthony membawa tas yang cukup besar juga. Setelah itu mereka mulai mengetok pintu rumah Adnan.
Adnan yang masih setengah mengantuk membuka pintu itu dengan pikiran yang masih setengah sadar. Sebab, ini pagi hari dan tentu saja keluarga Adnan sedang tidur semua. Saat Adnan membuka pintu, Adnan sangat kaget melihat kedatangan Anthony dan Zea didepan pintu Adnan dengan wajah yang tersenyum padanya.
"Kalian... Huwaaaa... Zea...Aku rindu padamu" kata Adnan dengan wajah yang menitikkan air mata kebahagiaan badan suara yang keras membuat semua orang terbangun.Dia memeluk Zea erat, seakan-akan tidak mau di lepas. Ini membuat Anthony kesal karena hanya Zea yang disambut saja.
"Kau tidak merindukanku?"tanya Anthony pada Adnan dengan nada yang malas dan muka yang jengkel. Saat mendengar ucapan Anthony itu, Adnan kemudian melepas pelukannya lalu menoleh pada Anthony, kemudian dia senyum lebar pada Anthony yang membuat Anthony makin kesal.
"Maaf, aku juga merindukanmu. Intinya aku merindukan kalian semua. Ayo semua kita berpelukan!"kata Adnan, dan kemudian dia sudah ancang-ancang melebarkan tangannya bersiap untuk memeluk, tetapi Anthony dan Zea menolaknya.
"Tidak mau!!!" kata Zea dan Anthony kompak mereka bahkan menyingkirkan tangan Adnan dengan lembut.
"Kenapa? Aku rindu pada kalian" kata Adnan sedih melihat jawaban dari Zea dan Anthony. Kemudian mereka berdua tersenyum tipis dan langsung masuk ke rumah Adnan dengan Anthony yang langsung masuk saja.
"Marah, ya?"tanya Adnan pada Anthony, dia menyusul Anthony dan Zea yang sudah masuk ke rumah Adnan.
"Tidak, Aku tidak marah. Dimana yang lain?" tanya Anthony sembari duduk di sofa ruang tamu lalu meletakkan tasnya di ikuti dengan Zea di sampingnya.
"Kau ini.. Ini masih pagi, jadi mereka belum bangun. Aku juga baru saja bangun untuk mengerjakan beberapa dokumen" kata Adnan sambil menunjuk beberapa dokumen dan laptop di meja.
"Ohh.. Jadi mereka belum bangun. Eh, iya Paman... Surat yang aku tulis untuk paman sudah sampai belum?" tanya Zea yang tiba-tiba teringat akan suratnya.
"Tentu saja sudah.Kau menulis untuk paman, kan? Tapi paman tidak tahu cara membalasnya bagaimana. Ponsel yang kalian bawa pun sepertinya tidak berguna, ya?" kata Adnan sambil mengambil surat dari Zea dan menunjukkannya.
"Aku juga tidak tahu, mungkin Ayah tahu" kata Zea sembari menoleh pada Anthony.
"Memang bisa, Kau bisa membalas surat itu dengan bubuk ini dan memang ponsel yang kami bawa tidak berguna" kata Anthony, dia mengambil sebuah kantong dan ponsel di dalam tasnya.
"Ohh.. bubuk apa ini?" tanya Adnan penasaran saat melihat kantong yang terbuat dari kulit hewan itu.
"Ini bubuk yang khusus untuk mengantar surat dari dunia lain" kata Anthony pada Adnan dan Adnan pun penasaran dengan bentuknya, begitupun dengan Zea.