
Surat dari Morin berisi tentang ramuan itu, Morin menjelaskan kalau dia hanya akan menjelaskannya pada Zea.Intinya dalam surat itu ramuan itu hanya menyebabkan sihir Zea muncul, tapi tidak mengakibatkan sakit Zea, hanya itu yang Morin ceritakan pada Zea.
Zea yang membaca itu juga tahu kalau sakit yang dia alami sepertinya karena hukuman itu, Zea ingin tahu sebenarnya apa hukuman Zea, tapi mereka semua masih bungkam, mereka tidak menjelaskannya pada Zea, bahkan mereka pun juga tidak mengatakan kalau itu hukuman.
Jujur saja surat dari Morin itu sangat singkat dan jelas, tapi Zea tetap tidak tahu mengapa Morin memberikan ramuan yang membuat sihir Zea keluar, ini aneh, pantas saja saat dia minum dia tidak apa-apa, itu karena sihir dia sudah muncul. Bodoh sekali Zea mau menurut pada Morin, tapi tidak apa-apa. Gara-gara itu sihir Zea jadi keluar kan, jadi ambil hikmahnya saja.
Yah, setelah membaca surat itu Zea langsung beranjak tidur. Dia pusing memikirkan hal ini, tapi tiba-tiba saja alat komunikasi milik Zea menyala, itu artinya ada yang menghubungi Zea. Kemudian Zea bergegas untuk menerima panggilan itu.
Saat diangkat, yang memanggil Zea adalah Gabriel, tapi dia sendirian, mungkin Paman Adnan dan Bibi Maggie sedang bekerja. Seperti nya Gabriel baru selesai sekolah.
"Halo Zea.Aku dengar kau sakit ya? Bagaimana sekarang, kau sudah lebih baik?" tanya Gabriel terus terang, dia seperti nya cemas pada Zea.
"Sudah lebih baik, ini tidak sesakit yang kemarin" kata Zea, keluarga Gabriel memang tahu Zea sakit karena Zea mengirimkan surat pada mereka. Ini karena disuruh Luis dan Lucas, kata Si Kembar bagaimana lun juga Gabriel adalah keluarga ku di dunia manusia, jadi mereka harus tahu juga.
"Oh.. Syukurlah, Zea. Aku baru pulang sekolah, untung sekarang aku tidak ekskul, jadi aku bisa menghubungi mu"kata Gabriel.
"Ohh.., bagaimana kabarmu dan paman bibi?" kata Zea, dia masih dalam keadaan sakit, jadi masih lemas.
"Mom dan Dan baik, aku juga baik" kata Gabriel.
"Zea, sebentar lagi kan ulang tahunmu, apa kau akan merayakannya disini atau di sana?" tambah Gabriel, dari sorot mata Gabriel yang penuh harap, sepertinya Gabriel ingin saat ulang tahun Zea itu dirayakan di sini.
"Apa ulang tahunku sudah dekat? Aku baru tahu" kata Zea,dia juga sambil mengingat-ngingat.
"Ihh.. Zea.., Kau lupa ulang tahunmu sendiri? Beberapa hari lagi kan ulang tahunmu" kata Gabriel yang kesal karena Zea tidak ingat ulang tahunnya sama sekali.
"Iya, sekarang aku sudah ingat. Tapi Gabriel, untuk merayakan nya aku masih pikir-pikir dulu yah" kata Zea, Zea sebentar lagi akan genap berumur 13 tahun, yah memang. Sebenarnya tahun ini Zea belum genap 13 tahun, hanya saja kan kalau umur itu harus tepat tanggal ulang tahun, ya.
"Coba kau pikir-pikir dulu, ya! Aku akan-... " ucapan Gabriel berhenti ketika ada suara telepon masuk, sekarang Gabriel sudah punya telepon, kan.
"Angkat telepon nya! Siapa tahu penting, aku akan menunggumu" kata Zea saat melihat telepon Gabriel berdering.
"Baiklah, aku akan angkat teleponnya, C'mon guy's" kata Gabriel seraya mengangkat telepon nya dan mulai menjauh dari Zea. Di telepon Gabriel kelihatan tidak senang, dia marah-marah pada orang yang entah siapa menelpon Gabriel. Setelah berbicara singkat, Gabriel memutuskan nya dengan kasar. Seperti nya orang yang menelpon Gabriel adalah orang yang tidak disukainya, pikir Zea.
"It's nothing, it's just a person who lacks work" kata Gabriel dengan ekspresi dan nada yang tidak suka.
"Kau bilang tidak apa-apa. But, I think it's the person you hate" kata Zea yang penasaran dengan orang yang menelpon Gabriel.
"Akh.. C'mon Zea.Okay, dia adalah Chelsea. Kau tahu kan? Orang yang saat itu menabrakmu" kata Gabriel dengan nada yang malas dan kesal.
"Kenapa dia menelponmu?Kau punya nomernya, ya" kata Zea, dia sepertinya penasaran dengan orang yang namanya Chelsea ini, yang katanya mirip dengan Zea.
"Ya ampun Zea, you remember, Chelsea sekelas denganku, tentu saja Chelsea punya nomorku karena kita membuat grup kelas, otomatis dia punya nomorku" kata Gabriel, dia meninggikan suara dan bicara sambil marah- marah.
"Tapi entah mengapa aku merasa kalau Chelsea suka padamu" kata Zea, memang, sejak pertama bertemu. Zea merasa kalau Chelsea suka dengan Gabriel, dari tatapan matanya saja Zea tahu.
"What?... Yeah, dia memang suka padaku. Dia pernah mengatakannya padaku saat itu. Tapi Zea, aku menolak dia,aku benar-benar tidak suka padanya, You now Zea, aku tidak pernah akan suka padanya" kata Gabriel menjelaskannya pada Zea.
"Iya, aku tahu dari caramu bicara tentang nya, aku juga tahu" kata Zea berusaha untuk meyakinkan Gabriel.
"Yeah, That's good. Aku pikir kau salah paham, tenaga saja Zea aku hanya akan menyukai orang yang aku suka saja"kata Gabriel, dia sepertinya punya seseorang yang dia suka.
"Kau sedang menyukai seseorang? Siapa?" hanya Zea, dia curiga kalau Gabriel suka pada seseorang.
"Ohh itu..., tentu Zea. Aku menyukai seseorang, aku menyukai nya sudah lama" kata Gabriel, dia menatap Zea dengan senyum tipisnya.
"Berpacaran lah dengan dia, kalau kau suka padanya, tapi apa kau diperbolehkan pacaran? Paman Adnan sepertinya tidak menyukai jika kau berpacaran"kata Zea.
"Tidak, aku memang tidak berbuat berpacaran dengannya. Aku akan menyatakan perasaanku kalau aku sudah sedikit lebih besar" kata Gabriel dengan semangat mengatakan itu. Kemudian setelah pembicaraan yang lumayan lama itu, mereka menyudahinya. Zea juga harus istirahat, dia sudah sangat mengantuk dan lelah.
Di sisi lain Gabriel masih memandang cermin itu, cermin yang tadi untuk berhubungan dengan Zea, dia memandang nya dengan penuh perasaan,lalu dia menatap sebuah foto di meja kecilnya, kemudian Gabriel mengambil salah satu foto tersebut, foto itu adalah foto Zea. Dia memandang nya di kasur, dan kata yang sangat ingin Gabriel ucapkan pada Zea keluar begitu saja dari mulut Gabriel.
"I love you Zea, I hope I can tell you this someday" kata Gabriel seraya memeluk foto Zea. Sebenarnya Gabriel menyukai Zea sebagai wanita, Gabriel menyukai Zea saat masih kecil, Gabriel pikir itu kesukaannya sebagai teman, tapi entah mengapa perasaan itu makin menjadi-jadi.
Saat dulu Zea akan pergi, Gabriel menangis diam-diam. Gabriel menangis karena orang yang dia sukai dan ia sayang akan pergi meninggalkan nya, walaupun Zea akan berkunjung, tapi Gabriel tidak bisa melihat wajah cantik Zea.Tapi untuk mengobati rasa rindu nya pada Zea, Gabriel diam-diam memasang foto Zea, setiap dia rindu padamu Zea, dia akan memandang foto itu. Semoga saja suatu hari Gabriel dapat menyatakan cinta nya pada Zea, yah kalau sudah lebih besar lagi.