Two Worlds Adventure

Two Worlds Adventure
Ingatan Aneh



Hari pertama Zea ditinggal Anthony, rasanya sama saja, suasana di istana seperti biasa karena di istana pun Anthony jarang terlihat. Tapi bagaimana pun juga pasti bakal terlihat Anthony walaupun hanya sebentar. Saat sarapan bersama yang duduk di kursi Anthony sekarang Ratu Charlotte yang duduk.


Aneh sekali mereka dapat makan dengan tenang, mungkin karena mereka juga pernah ditinggal seperti ini dan ini sudah biasa bagi mereka, tapi tidak biasa bagi Zea. Setelah selesai makan Zea langsung menyambar alat itu untuk menghubungi Anthony,sebelum Zea pergi berlatih dengan Eden.


Katanya cara menghubungi dengan alat itu kita harus memegang alat itu lalu mengatakan di dalam hati bahwa siapa yang akan dihubungi, nanti kalau bisa dihubungi, alat orang yang bisa dihubungi akan bersinar sama seperti Anthony saat ini. Ketika alat itu bersinar, Anthony langsung menerimanya, dia terkejut ketika Zea yang ada di balik alat itu.


Alat itu bersinar memperlihatkan wajah Zea yang senang, Anthony juga senang, untung saja sekarang Anthony sedang tidak kerja, dia juga baru sarapan dan akan mengerjakan tugasnya. Zea tidak tahu kalau percobaan pertama ini akan berhasil, menggunakan alat ini sangatlah mudah, Zea menyukainya. Alat ini pernah digunakan Anthony saat menjalankan misi di bumi, pada episode pertama, sepertinya.


"Zea... Bagaimana kabarmu, Ze? Sehat?" kata Anthony, dia senang Zea menghubungi Anthony.


"Sehat, Yah. Ayah sudah makan?" kata Zea, dengan hati yang senang. Zea sangat rindu Anthony, padahal baru Anthony pergi dalam semalam tapi Zea sudah sangat rindu, pasalnya Zea tidak bisa melihat Anthony saat malam yang selalu menghampiri kamar Zea.


"Sudah, baru saja. Kau merindukan Ayah? Baru saja Ayah pergi, Zea yang menghubungi Ayah duluan"kata Anthony, dia sembari melihat-lihat beberapa dokumen mirip perkamen, alat itu diletakkan di atas meja sehingga Anthony tidak dapat mengerjakan tugasnya seraya mengobrol dengan Zea.


"Benarkah? Apakah Ratu Charlotte tidak menghubungi Ayah?"tanya Zea hati-hati, jika Zea membicarakan tentang Ratu Charlotte, pasti Zea akan menanyakannya dengan hati-hati.


"Charlotte sudah menghubungi Ayah waktu dia Ayah sudah sampai, tepatnya tadi malam. Zea kau harus panggil Charlotte itu ibu, dia ibumu juga. Jangan panggil Ratu Charlotte seperti itu-.. Maksud Ayah Ibu Charlotte, Kau harus memanggilnya Ibu, ya!"kata Anthony sembari menatap Zea, berharap Zea melakukan hal itu, hal yang Anthony inginkan, memanggil Charlotte dengan panggilan ibu.


"A-akan kucoba, tapi itu tidak pasti ya, Yah.Ayah sedang mengerjakan apa?" kata Zea, dia coba mengalihkan topik Ratu Charlotte.


"Ada beberapa perkamen yang Ayah harus tanda tangani, ini untuk di sini, Kerajaan Iremia. Kau sudah minum ramuannya?" kata Anthony, dia tiba-tiba teringat dengan ramuan karena membicarakan Kerajaan Iremia.


Zea yang sedang berjalan menuju meja dan kursinya itu, dia ingin meletakkan alat nya di atas meja agar Zea tidak memeganginya terus.


"Sudah, Ayah sudah, kan?...Tapi Ayah, aku mau bertanya satu hal pada Ayah. Kenapa ada tanda kristal di leherku? Kristal ini sebelumnya tidak ada, tanda ini jadi menutupi bekas kecelakaan dulu.. Oh iya, Ayah juga sama, kan? Ada tanda kristal di dada Ayah" kata Zea, dia bicara terus terang. Zea kan dari dulu setelah menerima hukuman ini juga penasaran dengan tanda ini, apa gunanya tanda ini.


Anthony yang mendengar ucapan ini, langsung berhenti bekerja, tangannya langsung terhenti menulis, dia sedang menandatangani perkamen dengan bulu burung dan tinta. Anthony langsung menatap Zea, dia tidak tahu harus berkata apa.


Pembicaraan mereka terhenti beberapa saat yang lalu, Zea juga harus berlatih berpedang dan Anthony juga harus mengerjakan tugas-tugasnya. Saat di perjalanan turun, Zea mendengar suara isak tangis seseorang di lorong yang lumayan sepi, suara itu milik perempuan, Zea tidak tahu suara siap itu sehingga Zea mencari suara itu.


Zea melihat ada Karla, dia menangis di lorong itu sendirian,Zea tidak tahu Karla menangis karena apa, Zea tidak berani menghampiri Karla. Dia hanya melihat Karla yang menangis, saat Karla berhenti menangis, Karla langsung pergi dari lorong itu ke ruangan yang lain, Tanpa sengaja Zea menatap mata Karla.


Sebuah ingatan seseorang tiba-tiba ada di ingatan Zea,ini cepat sekali sehingga membuat Zea kaget dan dia sampai terhuyung ke belakang. Ini ingatan milik Karla, dia seperti dibentak oleh seseorang dan dimarahi habis-habisan, Zea tidak tahu wajah orang yang membentak Karla, tapi itu sosok itu yng pasti perempuan, karena menggunakan gaun yang panjang.


Mata ungu Zea yang sebelah kiri terus saja bersinar saat ingatan itu masuk ke kepala Zea, setelah ingatan itu selesai, Zea mengambrukkan tubuhnya ke dinding, Zea berusaha untuk tenang. Dia sedang mencerna pikiran dan ingatannya tentang Karla, Zea melorot ke lantai dan memegangi kepalanya yang masih sakit.


Dadanya tiba-tiba juga ikutan sesak sehingga Zea memegangi dadanya itu dan kepala nya juga. Rasa sakit keduanya itu tidak tertahankan, Zea berlari ke kamar nya untuk mengambil ramuan yang meredakan dadanya itu, dia mencari di laci mejanya dan ketemu. Dengan tergesa-gesa Zea meminum ramuan itu sampai habis.


Zea kemudian duduk di kursinya,mencerna pikirannya itu yang masih kaget dan bingung.


Dadanya sudah sedikit membaik, akan tetapi ingatan apa itu? Zea melihat ingatan milik Karla bukan? Siapa orang jangan yang ada di ingatan itu? Dan apa yang baru saja terjadi?, Pikiran Zea sangat kacau. Dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.


Setelah sedikit tenang, Zea turun ke bawah sambil memegang kepalanya yang masih berdenyut, dia memikirkan apa yang baru saja terjadi. Zea tidak tahu itu apa, dia dan sangat pusing, Eden pasti sedang menunggu Zea, karena Zea tidak turun-turun. Zea tidak memikirkan itu, dia sedang memikirkan yang lain. Zea masih memikirkan Karla dan ingatannya tadi.


Dan yang benar saja,saat Zea turun, Eden sudah menunggu di sana dengan Tuan Lin-.. Bukan, maksudnya Guru Lin Dan Chou sebagai asistennya. Mereka sedikit kaget melihat wajah Zea yang pucat, tapi karena Zea tidak mau menceritakannya kepada mereka, Zea hanya berkata kalau dadanya saja yang sakit.


Guru Lin bahkan sampai mengatakan untuk tidak latihan dulu, dan Eden juga beranggapan sama dengan Guru Lin. Tapi Zea menolak dan akhirnya dia berlatih berpedang sedikit.Saat latihan pun Zea juga tidak fokus, ini membuat sesi latihan kali ini sangat lah singkat.




'Halo semuanya,aku kembali up lagi.Urusanku selama seminggu uda selesai,jadi aku mulai nulis lagi.Terimakasih yang sudah baca novel ku, jangan lupa like,komen,vote,dan dukung author,ya!Sampai jumpa👋🥰😘🙏'