
Pertama-tama Zea dan Eden pergi ke pusat kota, Eden membawa sebuah alat yang dapat melacak elemen sihir yang ada di dunia manusia. Alat itu memiliki bentuk yang hampir mirip dengan kompas dan memiliki beberapa gambar bentuk planet-planet di sampingnya, Zea tidak tahu bagaimana cara menggunakan alat itu, mungkin mirip dengan kompas. Tapi yang pasti Eden mengetahui nya.
Mereka hanya berjalan mengelilingi pusat kota saja,karena Eden terus saja berjalan dan berjalan sembari melihat alat itu. Zea bahkan merasa kagum karena Eden tidak lelah, padahal Zea lelah sekali.Dan beberapa jam berkeliling kota akhirnya tanda elemen sihir di alat itu bersinar dengan planet-planet di sekelilingnya berputar.Tempat itu adalah... Sekolah Gabriel, sekolah Gabriel?
"Seperti nya di sini tempat nya"kata Eden senang dengan senyuman tipis milik nya. Zea hanya bengong saja, mulut nya sampai ternganga saking kagetnya. Padahal keringat nya bercucuran dari tadi, tapi malah ternyata sihir itu ada dia sekolah nya dulu. Bukan kah sia-sia tadi Zea berkeliling.
"Lah... Kenapa tadi kita tidak ikut saja Paman dan Gabriel kesini?Itu kan lebih enak" kata Zea yang kesal sembari menyeka keringat nya.
"Apakah ini sekolah Gabriel?" tanya Eden yang bingung dengan tingkah Zea yang kesal.
"Ya, ini adalah sekolah Gabriel. Haa.. Aku bahkan tidak habis pikir sihir itu ada disini. Ah.. Padahal aku sudah berkeliling di kota dan ternyata ada disini.. Di tempat ini.. " kata Zea marah.
"Sudahlah.Bukankah bagus jika sihir itu disini, kita bisa meminta Gabriel untuk menolong kita, kan!" kata Eden yang sepertinya memiliki ide yang menarik.
"Maksudmu?"tanya Zea penasaran." Aku perlu masuk ke sekolah ini, aku harus memastikan dimana tepatnya pusat elemen sihir tersebut" kata Eden sembari menoleh pada penjaga di pos penjaga yang mengawasi mereka.
"Ah.. Aku paham, tapi kau tidak akan melakukan itu sekarang kan? Siang-siang seperti ini"kata Zea memastikan.
"Tidak akan, tenang lah.Aku hanya akan memastikan,kau cepat telpon Gabriel, aku tidak mau diam disini dan menjadi pusat perhatian orang-orang"kata Eden dengan nada yang menyebalkan sembari melihat orang-orang yang melihat nya dan memotret nya.
Tentu saja semua orang seperti itu, karena wajah Eden yang mencolok dan tampan. Apalagi wajahnya bule, banyak yang melihat nya kan. Dengan cepat Zea mengambil ponsel milik nya, jika dilihat sekarang adalah jam istirahat Gabriel, seharusnya dia memegang ponsel sekarang. Lalu dengan cepat Zea menelpon Gabriel, dan Gabriel langsung menjawab panggilan itu.
'Halo Gabriel'kata Zea
'Halo, Zea.. Ada apa? Kenapa kau menelpon ku?'tanya Gabriel dengan nada yang senang karena Zea menelpon nya.Sekarang Gabriel sedang di kantin bersama dengan Hariz dan Farrel. Mereka sedang duduk bersama di satu meja.
'Aku ingin minta tolong padamu, bisakah kau datang ke gerbang sekolah!'kata Zea pelan, takut dicurigai oleh penjaga itu.
'Kenapa? Memangnya ad-... APA! KAU ADA DISINI!!!'teriak Gabriel panik dan kaget, dia tidak menyangka Zea ada di gerbang sekolah nya. Karena teriakan Gabriel yang kencang, ini membuat semua orang yang ada di kantin jadi melihat nya, Hariz dan Farrel pun kaget dengan teriakan itu. Hariz pun sampai memuntahkan minuman nya dan Farrel jadi tersedak makanan.
"Uhuk.. Uhuk.. Iya Gabriel, siapa yang ada disini?" kata Farrel yang mengambil minumnya, dia juga masih tersedak dengan makanan nya.
"Ah.. Itu.. Bu-bukan apa-apa, aku pergi dulu sebentar, maaf teman-teman" kata Gabriel panik, kemudian tanpa mendengar perkataan dari sahabatnya itu, Gabriel langsung berlari keluar kantin dan menuju ke gerbang sekolah.
Tentu saja Gabriel kaget dengan adanya Zea dan Eden, dengan cepat dia meminta izin pada satpam untuk keluar sebentar dan itu diperbolehkan.Lalu dengan tergesa-gesa Gabriel menghampiri mereka berdua dengan napas yang cepat.
"Hosh.. Hosh.. Kalian.. Kenapa ada.. Disini?" tanya Gabriel gagap, ini karena Gabriel berlari sangat kencang sehingga dia jadi lelah.
"Maaf Gabriel, aku tidak bermaksud untuk mengganggu atau pun datang kesini.Kami ada perlu disini makanya aku memanggilmu, maaf ya" kata Zea yang merasa tidak enak pada Gabriel.
"Fiuh.. Tidak apa-apa, aku tidak masalah. Tapi kenapa kakak juga ada disini?"tanya Zea yang menoleh pada Eden dengan penuh penasaran.
"Ya itu lah sebenarnya kami ada disini, sebenarnya.... " kata Zea, dia pun menjelaskan kenapa dia disini dan untuk apa, Zea menjelaskan nya dengan amat hati-hati dan pelan, agar tidak terdengar oleh siapapun.
"Ah.. Karena itu ya. Eum.. Zea sepertinya kau tidak bisa masuk sekarang, penjagaan disini sangat ketat, apalagi sekarang siang hari, kau tidak akan bisa masuk"kata Gabriel dengan raut wajah yang merasa bersalah dan khawatir.
"Oh.. Iya juga, jadi Ed-,maksudku Kakak... Kita harus bagaimana?" tanya Zea, dia lupa kalau sekolah nya dulu ini sangat lah elite, maka dari itu penjagaan disini sangat ketat, tidak semua orang bisa masuk kecuali saat sekolah selesai... Eh.. Sekolah selesai?Pikir Zea, dia pun menoleh pada Gabriel yang sepertinya sepemikiran dengan nya.
"AKU TAHU!!!" kata Zea dan Gabriel bareng, mereka pun menoleh pada Eden dan saat akan mengatakan ide nya, tapi Eden langsung menyela nya.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan, kalian ingin berkata kalau kita akan menerobos sekolah para malam hari, betulkan?" tanya Eden dengan ekpresi wajah yang datar. Dan seketika wajah mereka langsung cemberut dan kesal karena Eden sudah menduga nya.
Jadi setelah pembicaraan itu, mereka memutuskan untuk pergi ke sekolah pada malam hari. Gabriel pun juga harus kembali ke kelasnya, karena jam istirahat Gabriel sudah selesai. Sedangkan Eden dan Zea memutuskan untuk pulang ke rumah, sementara diperjalanan pulang mereka memutuskan untuk istirahat sebentar sambil membeli minuman dingin.
Eden sepertinya menikmati makanan dunia manusia sejauh ini.Kemudian setelah itu mereka benar-benar kembali ke rumah untuk mempersiapkan malam hati nanti, mempersiapkan apa yang akan mereka lakukan untuk menerobos sekolah.