Two Worlds Adventure

Two Worlds Adventure
Memenuhi Janji



"Cepat katakan! Apa keinginan mu?"tanya Zea yang tidak ingin lama bersama dengan Chou.


"Aku ingin membeli barang di pusat kota dan kau yang harus membayarnya" kata Chou singkat.


"Sekarang? Ah..Ayolah, aku baru saja tiba disini" kata Zea yang malas sekali pergi kemana-mana, apalagi jika pergi ke pusat kota, malas sekali.


"Hei Tuan Putri, kau janji akan mengabulkan permintaan ku kan. Aku ingin pergi sekarang, Tuan Putri Zea, saya mohon Putri ikut menemani saya"kata Chou dengan kata-kata yang mengancam dan senang.Yah, mau bagaimana lagi, Zea harus mengikuti apa yang Chou inginkan.


Dia kemudian mengambil jubah dan sekantung koin emas. Dan pergi dengan berpamitan pada Si Kembar, tapi ngomong-ngomong tentang Si Kembar, Zea ingin membelikan mereka sesuatu. Apalagi tadi Zea merasa bersalah pada Luis, jadi Zea bakal memberikan nya sesuatu agar Luis tidak marah lagi.


Zea hanya mengatakan kalau dia perlu sesuatu, jadi Si Kembar percaya-percaya saja.Entah apa yang Chou cari, karena dari tadi dia hanya memutar-mutar saja. Dia hanya mengelilingi satu toko ke toko lainnya, ini membuat Zea makin kesal, dia pun berdecak kesal.


"Hei, kau ini sebenarnya mau mencari apa?Aku lelah jangan mengajakku kemana-mana!" kata Zea yang makin lama makin kesal.


"Sabarlah dulu-... Eh, maksudku Tuan Putri harus bersabar, hamba disini sedang mencari batu Giok yang sangat langka.. Saya dengar batu Giok yang langka itu hanya ada di Kerajaan Echthra" kata Chou yang mencoba bersikap ramah, mungkin karena ada banyak orang, jadinya dia tidak mau berkata yang kasar.


Zea yang mendengarnya merasa jijik dan hanya geleng-geleng kepala. Batu Giok yang langka ya, tentu Chou menyukai nya, karena itu terkenal di kebudayaan Tionghoa. Tunggu, batu Giok di dunia manusia itu sangat mahal, jika Chou ingin membeli batu yang sangat langka itu, berapa uang yang harus ia keluarkan?


Wah, gawat kalau begini, Zea tidak bisa membeli hadiah untuk Luis. Dia sedikit cemas dengan uangnya, padahal itu untuk uang jajan seminggu, tapi hangus untuk Chou.Zea pun menggigit jari sembari melihat Chou berkeliling,cemas akan apa yang Chou beli.


Dan tibalah Chou berhenti di salah satu toko yang bertuliskan huruf-huruf China, sepertinya inilah yang Chou inginkan dari tadi. Dia pun masuk ke toko itu dan mengajak Zea ke sana juga. Zea sedikit gugup saat masuk. Karena Chou yang masuk pertama, pemilik toko hanya menyapanya saja, tapi ketika Zea masuk pemilik toko langsung kaget.


Dia pun dengan tergesa-gesa menyambut Zea dan membungkuk dengan hormat, Zea pun membalasnya dengan senyuman. Karena pemilik toko tersebut orang Tionghoa,mungkin dia kira Zea yang akan membelinya, padahal Chou yang membelinya.


Toko itu merupakan toko yang berisi tentang barang-barang dari bangsa Bampou, tempat asal Chou dan Guru Lin.Ada beberapa obat-obatan tradisional, baju adat Bampou, perhiasan, dan macam-macam. Tempat surga nya Adat Tionghoa, dan Chou juga sangat terpana dengan toko itu, karena dari tadi dia tersenyum terus.


Yah, Zea dapat mengerti perasaan Chou. Mungkin dia juga rindu dengan barang-barang dari kota kelahiran nya. Setelah beberapa jam,Chou akhirnya datang dengan membawa beberapa batu Giok. Batu itu memiliki warna merah darah, ada simbol di dalam batu, simbol sebuah burung Phoenix.


Zea kemudian pergi ke toko busana, Chou ikut Zea. Yah karena Chou pergi dengan Zea dan harus pulang bersama dengan Zea, itu yang dikatakan Tuan Lin padanya saat berkata akan pergi bersama dengan Zea. Disana Zea bingung ingin membelikan nya apa,lalu Zea pun melihat sebuah perhiasan anting khusus untuk laki-laki, indah sekali.


Harga dari perhiasan itu juga tidak mahal dan cocok untuk Luis, Zea juga tidak lupa membelikannya pada Lucas. Zea juga membeli sebuah sarung tangan untuk nya, ini digunakan untuk berlatih pedang. Dan uang jajannya pun benar-benar habis, tapi tak apa. Karena Zea sudah berhasil membeli hadiah untuk Luis dan Lucas.


Setelah benar-benar selesai, Zea dan Chou kemudian pergi ke istana. Mereka pulang dengan keadaan yang canggung dan hening, saat ditengah perjalanan Chou mulai bicara, dia pun berdeham lumayan keras untuk mengawali perbincangan nya.


"Ehem.. Anu.. Untuk hari ini terimakasih" kata Chou yang malu-malu, sepertinya sulit untuk nya untuk mengatakan terimakasih, karena dia bicara tergagap-gagap.


"Iya sama-sama, tumben bicara" kata Zea yang bingung dengan sikap Chou. Padahal saat bertemu dengan nya setiap hari, Zea tidak pernah berbicara dengan nya, satu kata patah pun. Tapi sekarang mereka berbicara, ya ini kemajuan yang bagus antara hubungan mereka.


"Apa aku cabut saja terimakasih ku, ya Tuan Putri?"kata Chou, dia sebal dengan kata-kata Zea."Tidak,jangan cabut itu"kata Zea yang sama sebalnya.Lalu mereka berpisah di istana, Zea langsung pergi ke kamar nya dan Chou langsung pergi menemui Tuan Lin.


Zea langsung merebahkan diri di kasur miliknya. Sangat lelah sekali tubuh Zea, apalagi tadi dibuat berkeliling oleh Chou yang menyebalkan itu. Tapi Zea masih tidak ingin tidur, dia akan memberikan hadiah itu pada Si Kembar. Zea tinggal mencari Si Kembar dan memberikannya pada mereka.


Tapi saat Zea akan pergi, di bayangan cermin miliknya tepat mengarah ke jendela Zea melihat sebuah sihir hitam yang seperti nya sama dengan sihir yang dia lihat di Pulau Terpenio, Zea berdiri mematung, kemudian dengan cep4 Zea berbalik badan dan menghampiri sihir hitam itu di jendela kamar nya. Karena kalah cepat sihir itu pergi dari jendela kamar dan juga istana, terbang entah kemana.


'Apa itu?' kata Zea dalam hati, dia pun mencoba melupakan sihir itu dan pergi menemui Si Kembar. Dan di sisi lain, ada seorang yang memakai jubah hitam, kepala nya ditutup dengan jubah sehingga hanya mulut nya yang kelihatan, dia duduk di sebuah ruangan yang gelap dalam kursi yang besar. Dan terdapat seorang penyihir hitam, penyihir itu adalah perempuan.


Dia memiliki kuku yang panjang bewarna hitam dan rambut keriting dengan jubah yang menutup kepala nya, matanya yang suram dengan gigi yang memiliki taring, gaun jubahnya terseret-seret di lantai saking panjangnya, dia kemudian mengambil bola sihir tadi dan membungkuk pada orang yang tertutup jubah.


"Tuan, sepertinya dia baik-baik saja" kata penyihir itu dengan seringai yang mematikan. Orang itu hanya tersenyum dengan seringai yang dingin dan kejam.


"Tidak kusangka dia masih bertahan" kata orang itu dingin, entah apa yang akan mereka lakukan pada Zea, tapi seperti nya itu adalah hal yang buruk.