Two Worlds Adventure

Two Worlds Adventure
Diculik



Dan dalam ruangan yang gelap dan minim penerangan terlihat lah seorang wanita nyang memakai jubah yang panjang dan hitam, kukunya sangat panjang dan hitam, wajah nya tidak kelihatan sama sekali hanya giginya yang tajam dan terdapat taring yang menakutkan, hidungnya juga terlihat mancung dan bengkok seperti penyihir, yah dia memang seorang penyihir.


Zea tetap berusaha untuk tenang, dia sedikit kaget saja dan mungkin lumayan takut. Zea kemudian menatapnya dengan tajam, tapi penyihir itu malah tersenyum karena melihat Zea. Dia kemudian mendekati Zea, lalu dengan sihir nya membuka jeruji besi dan mulai mendekat, saat itu pula Zea berusaha untuk melepaskan diri tapi tetap tidak bisa.


"Hahaha.... Tuan Putri Zea, aku sangat tersanjung kau dapat mengunjungi rumah ku, Tuan Putri"kata penyihir itu, dia juga membungkuk pada nya dengan senyum yang lebar dan senang sehingga terlihat lah gigi nya yang tajam dan lidah nya yang panjang.


"Siapa kau?Kenapa kau menculikku?" tanya Zea tajam, dia sesak sekali berada disini. Penyihir itu hanya diam dan masih tetap tersenyum.


"Kenapa ya?... Aku hanya ingin bertemu dengan Putri Berdarah Campuran seperti mu..hehe" kata penyihir itu, dia kemudian menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Zea lalu dengan cepat dia memegang dagu Zea dengan kasar, ini membuat nya sakit dan kaget.


"Bukan kah lebih bagus jika mata kanan mu jga bewarna.. " kata penyihir itu, dia memandang mata kanan Zea yang berwarna cokelat biasa, lalu memandang wajah Zea dan memegang nya satu persatu. Zea merasa kesal dengan penyihir itu,dia melepaskan wajahnya dari tangan penyihir asing.


"Apa maumu?Dan sebenarnya kau ini siapa?" kata Zea dingin dan tajam, tapi penyihir itu tidak berkutik, dia malah seperti nya senang dengan sikap Zea.


"Aku ingin menjadi warna matamu ini" kata penyihir itu sembari memegang wajah Zea dan melihat mata kanan nya dengan dekat, wajah Zea dan penyihir sangat lah dekat sehingga hidung mereka hampir bersentuhan. Zea terbelalak dengan kejadian ini, karena ini pula Zea melihat mata penyihir itu yang terdapat simbol menakutkan.


"Kau akan tahu siapa aku Putri.. Hahaha... Hah.."kata penyihir, dia kemudian melepaskan tangan nya dengan kasar dan berdiri serta membelakangi Zea. Perlahan Zea mulai di hampiri rasa takut dan saat itu pula permata di gelang nya berubah menjadi warna kuning dan langsung menjadi merah.


Dada Zea menjadi sakit dan sesak, Zea kesulitan bernafas dia juga sudah mulai berkeringat dingin, Zea harus segera meminum ramuan miliknya. Kalau tidak akan terjadi hal-hal yang tidak-tidak, penyihir itu juga melihat kejadian ini, dia diam tidak berkutik melihat Zea yang masih kesakitan.


"Ouh.. Apakah sakitmu kumat lagi, ya. Hehe.. Gelang yang bagus, apa ini mempengaruhi sakitmu" kata penyihir yang memegang gelang milik Zea, Zea pun dengan susah payah melepaskan tangan penyihir. Membuat penyihir itu semakin tertawa, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam jubah nya dan itu adalah ramuan milik Zea.


Dengan dada yang sesak dia kaget kenapa penyihir itu mempunyai ramuan milik Zea. Zea pun menjadi tidak tahan lagi, dadanya sudah sangat sakit, Zea berteriak kesakitan. Penyihir itu tetap tenang, lalu dia mendekat pada Zea dan menunduk.


Zea perlahan meminum nya dan dengan perlahan sakit nya sudah mereda, Zea sudah dapat tenang sekarang.Dia dapat melihat penyihir itu dengan tajam, tapi penyihir itu tetap tenang dan tidak berkutik.


"Putri.. Kita akan segera bertemu lagi, untuk itu kau jangan beritahu siapapun tentangku....Atau Kau ingin melihat mereka celaka, yaaa... " kata penyihir, dia kemudian mengambil sebuah bola kristal yang bewarna hitam, lalu bola itu memancarkan sebuah gambaran berupa Anthony dan yang lain, mereka sedang melawan Naga-naga yang amat banyak dan salah satunya tiga kali lebih besar.


"Jangan katakan kalau kau yang melepaskan naga-naga itu... " kata Zea yang tidak habis pikir, suara Zea masih sedikit serak karena tadi.Zea menatap penyihir itu dengan tajam, sangat lah tajam, sehingga orang yang melihat nya pun akan sangat takut, tapi ini beda, dia tidak berkutik dan tetap tenang serta bisa tersenyum lebar.


"Ahahaha... Tentu saja Tuan Putri, aku sudah mengawasi mu selama berhari-hari. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk menculik mu. Bagaimana kalau kita membuat perjanjian sebentar dan aku akan melepaskanmu... Serta... Aku akan membuat naga-naga itu pergi. Seperti nya keluargamu sudah kewalahan.. " kata penyihir itu, dia melirik bola kristal.


Memang terlihat mereka sudah kewalahan, Zea juga tidak bisa menolak ini. Dengan kondisi nya yang lemas, dan Zea juga tidak bisa melawan penyihir ini sendiri, melihat dari dia mengendalikan naga, dia bukan penyihir yang dapat diremehkan. Dengan terpaksa Zea mengangguk setuju.


"Hah...Sialan.Baiklah, aku akan memenuhi syarat mu. Aku harap aku tidak akan menemuimu lagi" kata Zea kesal, dan penyihir itu pun tersenyum senang. Dia kemudian melakukan sebuah sihir yang terlihat kuat lalu muncul lah sebuah simbol sihir di lantai dan beberapa detik kemudian naga-naga di sana langsung pergi dan meninggalkan mereka, bahkan seluruh tempat. Lalu Zea kembali menatap tajam penyihir itu.


"Jadi apa persyaratanmu supaya aku bisa pergi dari tempat aneh ini" kata Zea tidak sabar.Dan penyihir itu tersenyum pada Zea lalu menatap wajah Zea, tangan nya digerakkan diayunkan ke depan seperti ingin membelai Zea. Tapi bukan itu tujuannya, dia kemudian menggores wajah Zea dengan cepat memakai kukunya yang amat tajam, sekali goresan pipi Zea sudah terlihat berdarah.


Zea kaget bukan main, dia tidak tahu akan mendapat serangan tiba-tiba seperti itu. Karena darah yang cukup banyak, darah itu kemudian menetes. Lalu penyihir itu mengambil sebuah botol kecil dan memasukkan darah Zea.


"Apa yang-.... " kata Zea berhenti, karena tiba-tiba penyihir itu menjambak rambut Zea dan memotong nya beberapa helai menggunakan kukunya.Lalu memukul wajah Zea, sehingga mulut Zea sedikit robek dan lebam.Ini memang sakit, tapi apakah ini syarat nya.


"Nah... Sudah selesai, tinggal beberapa lagi dan mungkin aku akan menagih nya kapan-kapan saja.." kata penyihir, dia menatap Zea dengan senyuman yang lebar seolah apa yang telah ia lakukan pada Zea itu bukan lah apa-apa. Zea tidak bisa berkata-kata, itu juga karena mulut nya sakit untuk berbicara.


"Ah ya.. Seperti nya mereka sudah sadar kau tidak ada. Aku akan melepaskan mu, tapi aku akan membuat mu seperti mimpi" kata penyihir. "Oh ya, Namaku Hecate... Sampai jumpa" kata penyihir, Hecate. Entah apa yang terjadi setelah nya karena Hecate menaburkan Zea sebuah bubuk, dan selepas itu Zea sudah tidak sadarkan diri.