
"Zea.. Kenapa kau membawa Gabriel kesini?" kata Eden yang kaget saat melihat Gabriel ada di sampingnya.
"Maaf, aku tidak mau Eden ketahuan oleh penjaga sekolah. Kakak bisa mencari dan mengambil elemen sihir, aku dan Gabriel akan berada disini. Bagaimana?" kata Zea yang berusaha tetap tenang.
"Haa.. Baiklah, aku akan pergi lebih jauh lagi. Jika terjadi sesuatu pada kalian, hubungi aku segera. Ingat jangan pergi kemana-mana dan jaga Gabriel!"kata Eden serius,Zea pun mengangguk mengerti. Kemudian Eden pun pergi jauh menyusuri tempat aneh ini, Eden sudah menyiapkan pedang ditangannya untuk berjaga-jaga.
Zea pun sama, dia juga menyiapkan sebuah pedang miliknya, sekarang Zea sudah dapat bertahan dengan pedang.Saat pertama kali melihat nya, Gabriel terpana dengan keanggunan pedang itu,sangat berkilau dan cantik, mirip dengan Zea yang cantik, Pikir Gabriel. Berdua disini bersama dengan Zea sangat lah menyenangkan.
Yah, memang ada rasa takut disini, Gabriel tidak tahu dunia apa yang sedang dia pijaki, tapi jika berdua dengan Zea, Gabriel tidak masalah. Mereka mempertanyakan beberapa hal yang menarik, Zea dan Gabriel juga menikmati obrolan mereka. Tapi Gabriel juga mengkhawatirkan satu hal, jika kakak tiri Zea setampan itu, berarti laki-laki di sana juga tampan sekali.
Bagaimana kalau Zea terpesona pada ketampanan laki-laki disana, sepertinya Gabriel akan patah hati. Dia makin kepikiran dengan ini, jadi dengan terpaksa Gabriel menanyakannya dengan pelan ke Zea.
"Eum.. Zea.. Itu aku ingin tanya padamu, mengenai hal di duniamu.Apakah boleh?"tanya Gabriel dengan sangat hati-hati.
"Boleh, apa?"kata Zea yang biasa saja dan tetap tenang.
"Sebenarnya... Eumm.. Kau punya kakak laki-laki berapa?" kata Gabriel yang menanyakan hal yang lain, dia tidak berani mengatakan itu.
"Ah Gabriel,aku lupa mengatakan nya padamu. Aku sebenarnya punya empat kakak, tiga laki- laki dan satu perempuan. Eden adalah kakak laki-laki tertuaku, di sana di disebut Putra Mahkota Echthra. Dan akun juga punya kakak laki-laki kembar, Luis dan Lucas. Wajah mereka dengan Eden sangatlah mirip, aku biasanya suka bermain bersama dengan mereka. Dan terakhir... Kakak perempuan ku bernama Veronica, dia sangat mirip dengan ibu tiriku dan aku tidak terlalu suka padanya.Selisih kakak- kakakku dengan ku satu tahun-satu tahun. Jadi aku dan Eden berselisih 3 tahun" jelas Zea, Gabriel pun mengangguk mengerti.
Tapi dalam hatinya dia sangat khawatir akan satu hal. Jika mereka semua sangat lah tampan, Gabriel jadi minder jika bertemu dengan kakak tiri Zea. Karena saking ingin tahunya, Gabriel pun menanyakan satu hal yang sangat ingin dia ketahui.
"Zea, jadi semua orang disana itu tampan- tampan tidak?" kata Gabriel cepat, Zea hanya mengernyitkan keningnya dan tertawa kecil.
"Hahaha.. Gabriel, tentu saja iya. Kau tahu wajah mereka itu hampir sama dengan ibumu, aku saja minder dengan mereka semua. Pelayan maupun prajurit di sana cantik dan tampan. Aku saja yang memiliki wajah Asia" kata Zea sembari mengingat Karla dan Veronica.
"Maksudku, wajah ibumu kan cantik, jadi jangan minder" kata Gabriel, dia sangat malu mengatakan itu.
"Oh.. Ya, terimakasih" kata Zea canggung, karena tidak mau diam saja,Zea pun berkata lagi."Gabriel, di sana juga ada orang dengan ras yang sama dengan ku, tapi aku pikir mereka mirip dengan orang China. Guru pedang ku adalah orang dengan ras seperti itu "kata Zea yang langsung teringat Tuan Lin Dan Chou.
"Wah, berarti kau ada teman ya" kata Gabriel, kemudian mereka berbincang-bincang lagi, tapi agak canggung. Untunglah mereka berdua pandai berbicara jadi tidak terlalu ketara. Saat itu pula terdengar suara dari dalam sungai, sontak mereka berdua kaget sekali. Dengan cepat Zea menyiapkan pedang nya, lalu dia menghampiri sumber suara itu.
Di dalam sungai yang biru keunguan itu tidak ada tanda-tanda makhluk, hanya saja air nya sedikit bergoyang, seperti ada yang berenang disitu. Karena memastikan tidak ada makhluk satupun, Zea pun berbalik ke arah Gabriel dan betapa terkejutnya Zea saat melihat tubuh Gabriel terlilit sebuah tanaman menjalar yang besar, mulutnya di bekam, maka dari itu Zea tidak mendengar teriakan Gabriel.
Gabriel berusaha menyelamatkan diri tapi tidak bisa, dia hanya dapat pasrah saja. Tanaman rambat itu membawa Gabriel ke dalam air, dengan cepat Zea berlari dan melompat di atas dan dengan cepat Zea menebas tanaman itu dengan pedang milik nya.
Tanaman rambat itu langsung putus,lalu dengan tergesa-gesa Zea menyeret Gabriel untuk ke pinggir. Tepat saat akan membebaskan sisa-sisa tanaman rambat yang ada di tubuh Gabriel, tiba-tiba Gabriel terbelalak menatap Zea, Zea jadi mengernyitkan keningnya."Ze-... Zea... Di-.. Di belakang mu.." kata Gabriel yang tergagap saking takutnya.
Dengan cepat Zea menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya Zea saat melihat monster raksasa yang mirip Siren dengan ekor dan tubuh bewarna hijau dan rambut nya seperti terbuat dari tanaman rambat tadi. Wajahnya sangat lah menakutkan, terlihat sangat jahat. Dia yang mengendalikan tanaman rambat yang membelit Gabriel dan dia juga membawa sebuah tongkat yang bewarna hijau dan terdapat sebuah bola kristal di ujung tongkat itu.
Dia menatap Zea tajam, lalu dengan suara nya yang serak dia mengaum, entah apa yang dia katakan,karena suara nya juga terdengar suara cipratan air yang berada di dalam air, muncullah Siren yang lebih kecil dengan warna hitam keabu-abuan dengan sedikit warna hijau dia ekor nya. Zea jadi sedikit panik, dia kemudian mundur selangkah demi selangkah sembari menyeret Gabriel yang masih shock.
Dan makhluk air itu pun juga perlahan mendekati mereka. Makin lama makin terlihat tubuh mereka dari dalam tanah, Zea panik tapi wajahnya tetap tenang, dia tidak bisa mengalahkan mereka sendirian. Dia harus memanggil Eden yang mencari elemen sihir.
"Hei.. Gabriel, bukankah biasanya ikan tidak bisa kedaratan, kan?" tanya Zea yang cemas, Gabriel hanya mengangguk dengan wajah yang kaget. Lalu saat Zea tidak bisa mundur lagi karena dia sekarang berada di tengah-tengah daratan dengan pohon besar di belakang nya.
Memang benar bukan, Siren tidak bisa bergerak lincah di daratan mungkin jika Zea tetap di daratan dia akan baik-baik saja. Namun perhitungannya salah, Ratu Makhluk air itu tersenyum sehingga gigi taringnya keliatan. Dia kemudian mengangkat tongkatnya ke dalam air, sesaat kemudian air yang tadinya sedikit langsung jadi banyak dan membuat Makhluk monster itu bisa semakin leluasa bergerak.