
Malam harinya mereka semua makan malam yang disiapkan Adnan, jujur saja, makanannya enak dan lezat. Adnan pintar memasak juga, mereka semua tidak mau memperkerjakan pembantu, jadi mereka harus pintar memasak. Untuk Gabriel jika Adnan dan Maggie pergi bekerja, Maggie biasanya menyiapkan makanannya pagi-pagi sekali.
Nanti kalau Gabriel ingin makan tinggal makan saja, dan kalau ingin yang hangat bisa dimasukkan ke microwave. Sejak dulu mereka seperti itu, Zea dan Gabriel juga dilatih untuk mandiri. Makannya mereka dapat melakukan beberapa hal. Zea juga merasa aneh, keluarga Gabriel adalah seorang yang kaya raya, apalagi kedua orang tua Gabriel pekerjaannya sangat tinggi.
Tapi mereka tidak mau menyewa pembantu atau orang yang bekerja dirumah. Mungkin mereka tidak mau menghambur-hamburkan uang untuk itu. Mereka juga suka berbagi pada orang-orang yang kurang mampu, sungguh baik keluarga Gabriel. Maka dari itu Zea suka hidup bersama mereka, entah dimana keluarga aslinya yang ada di bumi. Tapi Zea harap dia tidak ingin bertemu dengan mereka.
Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka menonton film Disney, lagi pula kan ada Zea dan Gabriel, tentu saja mereka menonton itu. Mereka berkumpul dan menonton bersama juga sebagai perpisahan dari Zea dan Anthony. Mereka akan pergi pagi-pagi sekali, yah karena itu supaya tidak ketahuan.
Setelah selesai mereka kembali ke tempat tidur masing-masing.Zea sudah sangat lemah dan mengantuk, mungkin karena hari ini sangatlah indah, Zea menyukainya. Tapi saat ingin tidur Anthony datang ke kamar Zea katanya ingin mengatakan sesuatu.
"Zea, Apakah Ayah boleh bicara denganmu?" kata Anthony, dia duduk di samping Zea. Mereka duduk di kasur bersama.
"Tentu,Ada apa, yah?" tanya Zea, dia merasa jika ini adalah tentang hukumannya, Zea kan tahu kalau dia akan dihukum. Tapi pura-pura tidak tahu, ini semua gara-gara para pelayan di kerajaannya yang tukang gosip, jadi Zea tahu semuanya.
"Itu.. Besok.. Mungkin.. Eh.. " kata Anthony, dia sangat susah menjelaskan ini pada Zea. Dia tidak tahu ingin bicara apa dengan Zea.
"Ayah tinggal langsung bicara saja. Ada apa?" kata Zea, dia sebenarnya gugup dengan hasil keputusannya, tapi Zea berusaha untuk biasa saja, seolah dia belum tahu.
"Eum.. Zea.. Besok kita akan pergi ke suatu tempat, disana sangat indah. Kau akan menyukainya, dan... kita juga harus melakukan sesuatu di tempat itu... jadi... " kata Anthony dia tidak sanggup lagi berkata-kata, sial.. dia harus berbohong terus pada Zea.
"Tempat? Tempat apa itu?... Eum.. Memangnya, Apa yang harus.. kita lakukan?" tanya Zea gugup, dia bertanya dengan memaksakan senyumannya.
"Sesuatu hal, ini susah untuk dijelaskan. Jadi kau tidak perlu tahu Zea. Dan tempat itu, berada di perbatasan antara tiga kerajaan. Tapi kau tidak perlu takut, itu tempat yang sangat bagus" kata Anthony, dia bersikap biasa saja agar Zea tidak curiga padanya.
"Apakah sesusah itu? Tapi apa nama tempat itu?" kata Zea, dia ingin sekali tahu apa hukumannya dan memastikan jika dia pergi ke Gedung Mazevo, dia dengar dari salah satu pelayan yang menggosipnya.
"Iya, Sangatlah susah. Jadi Ayah tidak dapat menjelaskannya, dan nama tempat itu Mazevo. Kita akan ke gedung yang ada di sana, seperti namanya Gedung Mazevo" kata Anthony, rasanya jika dia berkata seperti itu,Anthony merasa bersalah.
Hati Zea pun sedih, dia merasa jantung berhenti berdegup mendengar Gedung Mazevo. Sudah tentu, dia akan dihukum karena dia sedarah dengan manusia. Tapi jika Anthony berkata seperti ini, mungkin Zea tidak akan dihukum mati. Soalnya jika dia memang benar dihukum mati pasti Anthony akan bicara terus terang, tidak mungkin dia berkata seperti itu.
"Oh, itu.. Ada banyak sekali orang di sana, saudara-saudaramu juga akan ikut. Jangan khawatir, ya! Di sana ada banyak orang yang ada di sampingmu" kata Anthony, dia mencoba membuat Zea untuk tidak takut. Karena Anthony mengerti, dari ekspresi Zea. Zea merasa takut dan tidak nyaman.
"Benarkah? Ayah akan menemaniku?Ayah tidak akan meninggalkanku, kan?"tanya Zea, dia sedikit khawatir akan hal ini.
"Tidak, Ayah akan selalu ada di sampingmu. Ayah berjanji" kata Anthony, dia mencoba menguatkan Zea. Kemudian Zea tersenyum mendengar itu, ini membuat Zea merasa lebih baik.
"Baiklah, Ayah harus menepatinya.Janji kelingking" kata Zea, dia kemudian mengangkat tangannya dan membuat janji dengan Anthony. Dan kemudian Anthony melakukan hal sama pada Zea. Mereka melakukan janji kelingking dan kemudian mereka berpelukan untuk waktu yang lama. Zea akan percaya pada ayahnya, Zea pikir Anthony pasti memberikan Zea yang terbaik.
***
Pagi harinya, mereka semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Zea sedang merapikan barang-barangnya dibantu oleh Gabriel. Sedangkan Maggie sedang membuat sarapan, Anthony dan Adnan sedang di kamar Anthony, mereka membicarakan tentang Zea serta merapikan barang-barang milik Anthony, barang-barang yang dibawa mereka lumayan banyak karena kemarin di belikan oleh Maggie.
"Bener, ya? Kau akan melindungi Zea bagaimana pun caranya. Kau harus mengorbankan dirimu untuk Zea!" kata Adnan, dia sangat cemas pada Zea. Takut terjadi apa- apa pada Zea dan hukuman itu.
"Aku berjanji akan melindungi Zea, kau tidak perlu khawatir" kata Anthony, dia sedang merapikan barang-barangnya di dalam koper.
"Aku akan memegang janjimu itu, awas kalau terjadi apa-apa pada Zea, Aku akan... " kata Adnan, dia berhenti bicara saat Anthony menatap Adnan tajam, Nyali Adnan pun ciut karena tatapan itu.
"Hei, tenanglah! Zea adalah anakku, aku tidak akan membiarkan dia kenapa-napa. Aku akan menggunakan sihirku untuk melindunginya" kata Anthony dia juga mengeluarkan sedikit sihir api ungu di tangannya dan matanya juga berkilauan. Adnan pun lega dengan ucapan Anthony.
BRAK
Gawat, Maggie melihat sihir Anthony,karena kaget Maggie sampai-sampai baju yang Maggie bawa jatuh saking kagetnya. Cepat-cepat Anthony menghentikan sihirnya dan matanya kembali. Adnan yang kaget dengan kedatangan Maggie hanya bisa diam tanpa kata,apa yang akan dia lakukan.
"WHAT IS THAT?" teriak Maggie, dia kaget sekali dengan apa yang Anthony lakukan, semuanya hanya saling pandang, terutama Anthony dan Adnan hanya saling pandang, mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Karena suara teriakan Maggie, Zea dan Gabriel pun mendengarnya. Mereka berdua datang ke kamar Anthony, mereka juga kaget melihat Maggie sudah marah dan kaget serta Anthony dan Adnan yang diam mematung di tempat.