
"Aku tidak ingin bertemu dengan Ayah"kata Zea tiba-tiba, dia kemudian menggulung tubuhnya ke dalam selimut membuat Luis dan Karla kaget.
"Kenapa?Ayah ingin sekali bertemu denganmu.. Apa.. Jangan-jangan.. " kata Luis, dia berusaha menarik selimut Zea agar ia keluar dan menebak -nebak kenapa Zea tidak mau bertemu dengan Anthony.
"Tidak ada.. Aku hanya ingin istirahat. Aku tidur" kata Zea, dia semakin erat memegang selimutnya.
"Hei! Apa kau marah dengan Ayah? Karena kejadian tadi, kan? Jujur Zea" kata Luis, dia mengira Zea tidak mau bertemu dengan Anthony karena itu. Zea, kan tidak tahu, dia tiba-tiba diajak ke sana tanpa tahu apa yang akan terjadi dan saat itu pula dia harus mendapatkan rasa sakit yang menyakitkan.
Mungkin Luis pikir Zea marah pada Anthony karena itu, jadi mau tidak mau Luis harus mencegah Anthony untuk datang. Saat Anthony datang, dia bersama dengan yang lain, seperti Charlotte, Eden, dan Veronica, serta Lucas yang tadi memanggil mereka. Mereka semua menghampiri Zea.
Zea masih menyelimuti tubuhnya,Anthony memandang Luis dengan tatapan bertanya dan Luis hanya mengangkat bahunya yang berarti tidak tahu.Lucas kemudian berbisik pada Luis, kenapa Zea seperti itu, tadi kan tidak. Luis hanya menyenggol lengan Lucas untuk diam.
Anthony pun menghampiri Zea, dia duduk di samping Zea, memegang Zea dengan lembut dan hati-hati."Zea, ini Ayah... Di sini juga ada yang lain"kata Anthony.
Zea tetap diam, dia tidak dapat berkata-kata. Zea bingung ingin berkata apa pada Anthony, sebenarnya Zea bukan marah pada Anthony, dia malah merasa bersalah padanya. Zea tahu dia akan mendapat hukuman, tapi Anthony juga mendapatkannya juga, itu semua salah Zea. Gara-gara Zea, Anthony jadi dapat hukuman.
Jika Zea melihat Anthony, dia akan merasa makin bersalah. Zea terus memikirkan itu jika dia melihat Anthony, Zea merasa dia tidak ingin bertemu Anthony sekarang, Zea butuh waktu sendiri sebenarnya.Zea kemudian membuka selimutnya dan duduk, tapi dia tidak menatap Anthony karena merasa bersalah.
"Aku ingin pulang"kata Zea, dia berkata seperti itu dengan wajah yang muram dan masih kelihatan pucat memang ramuan itu manjur tapi masih sedikit sesak dadanya.
"Apa kau marah pada Ayah, Zea?" kata Anthony dia bingung dengan kelakuan Zea yang aneh.
"Tidak, aku tidak marah. Aku hanya ingin pulang" kata Zea dengan wajah yang datar.
"Baiklah, ayo kita pulang. Kau akan bersama Ayah, kan? Kita akan.. " kata Anthony dia memandang yang lain.
"Tidak, aku mau bersama Luis dan Lucas. Ayah dapat bersama dengan Ratu Charlotte" kata Zea, dia menyenggol badan Luis dengan kakinya, berharap Luis dapat membantunya.
"Iya, Ayah. Aku ingin bersama dengan Zea, Ayah pergi bersama ibu saja" kata Luis, dia mengatakan itu untuk membantu Zea berbicara, Luis pun paham dengan maksud Zea tadi.
"Iya sudah kalau begitu.Jika Zea ingin bersama Luis dan Lucas, Ayah tidak masalah. Ayo kita pulang sekarang" kata Anthony, dia sudah berdiri dan pergi bersamaan dengan Ratu Charlotte, sedangkan yang kian tetap di sini.
"Kau ini kenapa?Kenapa sikapmu pada Ayah seperti itu?" kata Veronica, dia mendekati Zea, dengan tangan yang dilipat di dada, sudah ciri khasnya jika dia sedang memarahi Zea.
Zea jika dengan Luis dan Lucas, mereka berdua sangat akrab. Mereka berdua saat pertama kali bertemu saja seperti itu, sudah akrab. Dan untuk Ratu Charlotte, Zea merasa mereka tidak tahu jika bertemu. Mungkin Ratu Charlotte memang jika bertemu dengan Zea pasti menunjukkan wajah yang cemberut.Tapi mereka diam-diam saja kalau bertemu.
Mereka berjalan pulang ke rumah, Zea bersama dengan Luis dan Lucas. Lucas bingung dengan tingkah Zea tadi jadi Luis menceritakan di kereta. Mereka bergantian bercerita, perjalanan pulang hari mereka tiba pada waktu sore. Zea langsung dibawa Karla beserta Si Kembar pergi ke kamarnya.
Setelah mengantar Luis dan Lucas langsung pergi, mereka juga harus istirahat dan berganti pakaian, sedangkan Karla menemani Zea sampai di samping ranjang Zea.Kemudian Karla pergi untuk membuatkan makanan untuk Zea, karena dari tadi Zea tidak makan. Zea juga sedang sakit dan lemas pasti Zea harus makan juga.
Jadi Zea sekarang sendiri di kamar, dia berbaring diranjangnya, entah kenapa Zea tidak bisa tidur. Zea masih merasa bersalah pada Anthony, tapi rasa bersalah bukankah akan bertahan lama, kan. Tanpa di duga Anthony masuk ke kamar Zea, Zea masih melamun tanpa tahu Anthony datang. Saat Anthony duduk di ranjang Zea, Zea baru saja sadar.
Saat dia menoleh, wajah Anthony pun terlihat, dia tersenyum tipis. Zea kaget bukan main lalu dia cepat-cepat mengambil selimut dan menutup wajahnya, tapi karena Anthony cepat dia menarik selimut Zea, sehingga Zea tidak dapat sembunyi lagi.
"Zea! Kenapa kau ingin sembunyi? Kau marah dan Ayah?" kata Anthony, sekarang mereka berdua berhadap-hadapan satu sama lain, tapi walaupun begitu Zea tidak memandang Anthony, dia memandang ke arah yang lain.
"Tidak, Tidak ada. Aku mau tidur, Ayah lepaskan selimutku" kata Zea, dia berusaha menarik selimutnya tapi tidak bisa karena Anthony kuat memegang selimutnya.
"Kau marah pada Ayah kan?Tentang kejadian itu, Ayah minta maaf Zea. Ayah tidak bermaksud seperti itu, Ayah hanya.. Kau bahkan tidak mau menatap Ayah" kata Anthony, dia sudah kehabisan kata-kata pada Zea, dia juga sadar jika Zea tidak menatap matanya.
"Bukan begitu.. Aku hanya-" kata Zea.
"Kalau begitu, tatap mata Ayah! Kau tidak menatap Ayah karena marah, kan?"kata Anthony, dia merasa bersalah pada Zea, dia pikir pasti Zea sangat terkejut waktu itu.
"Aku tidak dapat menatap Ayah bukan karena itu. Justru aku tidak dapat menatap Ayah karena.. " kata Zea, dia bersuara pelan dan menetes air mata.
"Kenapa kau menangis?" kata Anthony, dia melepaskan selimutnya dan memegang wajah Zea, supaya Zea menatap Anthony.
"Hiks.. Bagaimana luka Ayah.. Hiks.. Apakah sakit.. hiks?" kata Zea, dia sekarang sudah menangis.
"Coba kau tatap Ayah!Ayo lihat Ayah, nak!" kata Anthony, hatinya meleleh berkat ucapan Zea ternyata Zea sangat khawatir padanya, Anthony terharu. Perlahan Zea menatap Anthony, dia sudah menatap Anthony, mereka berdua saling pandang satu sama lain.
"Lihat, kan? Ayah baik-baik saja, kau tidak lihat Ayah baik itu karena mu Zea, pasti sakit sekali, ya?" kata Anthony dia tersenyum pada Zea. Zea tambah menangis mendengar itu, karena hal itu Anthony pun memeluk Zea dan memenangkan Zea. Mereka berdua saling berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Ini adalah hari yang menyakitkan untuk mereka berdua.