Two Worlds Adventure

Two Worlds Adventure
Pelayan Kerajaan



Sontak mereka kaget dengan kedatangan Zea, Anthony pun langsung menghampiri Zea.


"Zea, kau tidak apa-apa? Ayah kita kau.... " kata Anthony.


"Aku tidak apa-apa, Ayah tidak perlu mencemaskanku" Kata Zea berusaha menenangkan Anthony, sedangkan yang lain kaget dengan kedatangan Zea.


"Kalian dengar, kan? Apa yang dikatakan Zea. Kenapa harus dimasalahkan. Dia kan baik-baik saja" kata Veronica dengan nada yang sebal dan tangan yang dilipat di dada.


"Iya, aku minta maaf sudah merepotkan kalian. Dan maaf ayah aku membuat ayah cemas" kata Zea.


"Ya, tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja. Ayo kita turun,Ibu dan Eden pasti sudah menunggu di sana" kata Anthony sembari menepuk bahu Zea.


"Aku tidak mau makan disana. Aku mau makan di kamar saja" kata Veronica sebal.


"Yah, kalau itu yang kau inginkan Ayah akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makananmu ke kamar" kata Anthony sembari menatap Veronica.


"Yeah, itu lebih baik" kata Veronica sembari pergi dari kamar Si Kembar dengan muka yang marah.Anthony yang melihat Veronica hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan yang lain hanya melihatnya saja.


"Yang lain kita makan bersama dibawah, ya!" tambah Anthony ketika Veronica pergi.


"Aku tidak ingin makan, Aku ingin jalan-jalan di taman saja" kata Zea.


"Kenapa?Kenapa kau tidak mau makan bersama kami" tanya Lucas.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin makan saja,Kalian makan saja. Aku hanya ingin jalan-jalan" kata Zea panik.


"Baiklah, Ayah akan meminta salah satu pelayan untuk menemanimu" usul Anthony.


Saat Zea mendengar usulan Anthony, Zea teringat akan perkataan para pelayan tentang Zea, jadi Zea tidak suka pada pelayan di istana. Zea terpaksa menolak usulan itu dengan keras.


"Tidak, Tidak perlu. Aku ingin sendiri" kata Zea.


"Kau ini aneh sekali, Ze. Kami akan ke bawah nanti Ayah menyusul" kata Luis sembari pergi dari kamarnya bersama dengan Lucas.


"Aku tidak aneh. Aku hanya ingin pergi sendiri" kata Zea tegas.


"Kau tidak nyaman dengan para pelayan disini, Ze?" kata Anthony memastikan.


"Bukan, aku hanya... " kata Zea ragu, pasalnya masa Zea mengatakan ini ke Ayahnya tentang para pelayan yang menggosip tentang Zea.


"Kurasa Ayah benar, ya? Kau tidak perlu khawatir, Ayah akan memberikan pelayan yang cocok untukmu. Pelayan itu masih muda, mungkin umurnya dua puluhan dan dia naik dan ramah" kata Anthony.


"Eh, Ayah tidak perlu seperti itu" kata Zea panik.


"Tidak, Ayah melakukan ini karena ingin. Ayah akan panggilkan dia ke sini, kau tunggu di kamar. Ayah akan turun ke bawah" kata Anthony sembari pergi dari kamar Zea.


Zea yang masih bingung hanya duduk di dora dan memandang pemandangan dari jendela istana. Dan tidak lama kemudian, terdengar suara ketokan pintu dan Zea menyuruhnya masuk.


"Permisi, Tuan Putri. Saya adalah pelayan khusus untuk Puteri Zea, nama saya Karla. Tuan Putri dapat memanggil saya dengan nama itu" kata pelayan cantik itu yang bernama Karla.


"Aku... Baiklah, Kau bisa menemaniku ke taman kerajaan sekarang" kata Zea gugup.


"Dengan senang hati, Tuan Putri. Mari saya antarkan" kata Karla ramah dan sopan.Zea hanya membalasnya dengan anggukan, Zea pergi ke taman kerajaan memakai baju yang baru ia beli dengan Luis, Lucas, dan Veronica.


Baju itu adalah gaun yang sederhana dengan warna putih dan ungu dengan dihiasi bunga-bunga yang cantik. Dan Zea juga memakai sepatu hak yang cukup tinggi dan ini membuat Zea sedikit kesulitan,tapi bagaimana lagi, Zea harus menjaga image kerajaan. Zea disini seorang putri, tentu saja Zea harus tampil ala putri kerajaan.


Dengan langkah yang hati-hati Zea pergi ke taman kerajaan bersama pelayan ramah itu.Taman kerajaan tempatnya di belakang istana, jadi jika ingin ke sana harus ke belakang istana. Taman istana sangat luas, seperti lautan bunga, Zea melihat-lihat bunga di taman dan duduk di rumah kecil dengan nuansa warna putih dan ungu.


Zea duduk disana sembari di awasi pelayan itu, tidak lupa juga pelayan itu memberikan Zea minuman teh hangat dengan cangkir keramik dan antik seperti kerajaan Eropa. Pantas saja karena dia ada di dunia yang mirip dengan kerajaan Eropa.


Semilir angin yang sejuk membelai rambut Zea yang panjang. Zea terlihat cantik di situ dengan gaun yang dipakai dan wajah Zea yang memang cantik. Zea juga melihat pelayan yang menemaninya, Karla. Zea merasa kalau Karla itu memang baik, cara bicaranya, keramahannya, dan dia juga kelihatan sopan dan santun.


Zea memang masih canggung dengan pelayan itu, tapi mau bagaimana pun Zea harus membiasakannya. Zea berpikir untuk mencoba berbicara pada pelayan itu, Zea pikir pelayan itu lebih tua darinya mungkin Zea akan bicara formal padanya.


"Hei... Maksudku, bisakah kau ke sini sebentar" kata Zea dengan ucapan yang ragu-ragu.


"Baiklah, Tuan Putri. Ada yang bisa saya bantu, atau Tuan Putri butuh sesuatu?" kata Karla ramah.


"Tidak ada, aku ingin kau duduk di sini" kata Zea sembari menunjuk kursi dihadapannya.


"Putri menyuruh saya duduk di sini?" kata Karla tidak percaya sekaligus merasa tidak enak.


"Iya,cepat kau duduk kesini!" perintah Zea.


"Ba-baiklah... " kata Karla dengan perasaan tidak enak dan canggung.Dengan tatapan tajam Zea memandang Karla dengan tatapan tajam.Ini membuat Karla takut,pikiran Karla pun jadi kacau.


"Menurutmu aku bagaimana?" kata Zea dengan kaki yang disilangkan dan tangan yang di taruh diatas meja.


"Eh,Tuan Putri meminta pendapat saya?" kata Karla yang sedikit lega, Karla kira dia akan dipecat.


"Iya, menurutmu bagaimana? Identitasku sebagai putri berdarah campuran" kata Zea.


"Apa maksud Tuan Putri?Bagi saya Tuan Putri itu adalah Putri Kerajaan Echthra, hanya itu Yang Mulia" kata Karla sambil tersenyum.


"Menurutmu begitu. Kau tidak berpikiran aku tidak pantas disini dan dianggap Putri?" kata Zea memastikan.


"Saya tidak memikirkan itu, memangnya ada yang mengatakan seperti itu pada Tuan Putri?" kata Karla yang balik bertanya.


"Tidak...Tidak ada. Terimakasih" kata Zea yang tersenyum pada Karla.


"Terimakasih?Apa yang saya perbuat?" kata Karla penasaran.


"Tidak, kau bisa kembali lagi" kata Zea sambil tetap tersenyum. Karla pun hanya bingung dengan pernyataan Zea, Karena tidak mau dipikirkan Karla mematuhi perintah Zea dan kembali ke posisinya tadi.