
"Mommy,ini bukan seperti yang Mom pikiran... Itu-..Aku hanya...Aku tidak enak badan saja...Aku tidak bermaksud untuk membohongi semua orang...."kata Gabriel yang kaget dia tergagap-gagap, sehingga membuat Maggie semakin curiga dan menatap Gabriel tajam.
"Ya ampun Gabriel...Kau pikir kau bisa membohongi Mommy,baby? Tentu saja tidak, Mom tahu kau sedang marah.."kata Maggie dengan nada yang tinggi.
"Itu...I am...I don't know,aku memang marah...But..."kata Gabriel bingung,dia sudah yang pasrah sekali dengan Maggie. Gabriel bingung ingin mengatakan apa pada Maggie.
"Baby,If you know? Sejak kapan kau menyukai Zea?"kata Maggie tiba-tiba,dia menatap Gabriel dengan tatapan lembut yang membuat Gabriel bingung, bagaimana ibunya bisa tahu itu? Dia pun menatap balik ibunya dengan tatapan bingung dan kaget.
"Bagaimana.... Bagaimana Mom bisa tahu? Tunggu-, maksudku apa maksud Mom?Mana mungkin aku menyukai Zea...Hehe..." Kata Gabriel yang salah tingkah.
"Gabriel,Mom sudah tahu itu? Mom tahu kau menyukai Zea, melihatmu bersikap seperti itu pada Zea.. Bagaimana mungkin Kok tidak tahu,huh?"kata Maggie dengan nada sayang dan serius secara bersamaan.
Tatapan Maggie ini membuat Gabriel tidak bisa berbohong lagi, akhirnya pun dia menceritakan semuanya.
Dari awal Gabriel memiliki rasa pada Zea dan perasaannya yang semakin lama semakin besar,serta Gabriel yang cemburu pada Alex. Gabriel benar-benar mengatakan semuanya pada Maggie, sebenarnya bercerita seperti ini membuat Gabriel sedikit lebih nyaman dan tenang. Maggie pun mendengarkannya dengan seksama,dia sekali-kali memegang tangan Gabriel sembari bercerita.
"Ouh...So it's like that, huh.Now Mom knows what really happened... Gabriel, tidak salah kau menyukai Zea. Lagi pula wajar saja itu terjadi...It's okay,baby...Jadi apa yang akan kau lakukan?" Kata Maggie,dia berpikir sembari memegang dagunya.
"I don't know...Jika aku mengatakannya pada Zea...Aku takut Zea menganggapku sebatas saudara....I'm afraid Zea will say that" kata Gabriel yang sedih, wajahnya pun muram ,ini membuat Maggie merasa ikut sedih,dia pun membelai kepala anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Gabriel, bukankah lebih baik mencoba dulu... Daripada kau cemburu pada Alex dan kau merasa sesak...Mom tahu kau pasti sangat sesak,kau ingin mengatakannya pada Zea.Try it first,baby...Mom tidak bisa memastikan Zea memiliki perasaan yang sama,But I think that's what you should do..."kata Maggie dengan penuh kasih sayang.
Memang dipikir-pikir ucapan Maggie ada benarnya, Gabriel sudah sangat sangat ingin sekali mengatakan perasaannya pada Zea. Walaupun belum dijamin Zea memiliki perasaan yang sama dengannya,tapi tidak apa. Jika Zea tidak memiliki rasa pada Gabriel, Gabriel akan berusaha pasrah dan dia akan berusaha melupakan perasaan itu. Dia pun mengangguk - angguk dan balik memegang tangan Maggie dengan erat dengan penuh senyuman.
"Thank you, Mom" kata Gabriel dengan suara yang pelan, Maggie pun mengangguk pelan,dia kemudian mencium kening Gabriel dengan penuh kasih sayang. Kemudian Gabriel berbaring di kasur nya dan ingin tidur, Maggie pun menarik selimut Gabriel yang untuk menutupi tubuhnya.
Dia kemudian mencium kening Gabriel untuk kedua kalinya dan membelai rambut Gabriel sehingga Gabriel sudah benar-benar nyenyak. Kemudian setelah memastikan Gabriel tertidur pulas, Maggie pergi dari kamar Gabriel dengan pelan agar tidak membangunkan Gabriel.
Di sisi lain kamar, Zea sedang berbaring tengkurap di kasur nya sembari Veronica yang duduk di meja rias sembari menyisir rambutnya. Zea sangat lah galau sekali, dia sangat khawatir pada Gabriel. Dari tadi tingkah nya aneh sekali, tidak seperti Gabriel yang biasanya.
"Veronica,aku harus bagaimana?"kata Zea tiba-tiba,dia mengatakannya dengan nada yang sedih dan wajah yang muram. Veronica yang mendengarnya pun bingung,dia bahkan sampai berhenti menyisir rambutnya dan berbalik kearah Zea.
"Ha? Apa maksudmu? Kau tanya tentang apa?"kata Veronica dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau sangat khawatir pada Gabriel? Dia akan baik-baik saja,kau jangan khawatir... Tingkah mu ini seperti lah menyukai Gabriel saja..."kata Veronica tanpa maksud,dia hanya bicara asal saja. Ini membuat Zea salah tingkah dan dia jadi berkata tergagap-gagap.
"Apa maksudmu? Aku menyukai Gabriel? Itu tidak mungkin,aku sudah menganggap nya sebagai saudaraku sendiri " kata Zea yang bangun dari kasur nya dengan kada yang tinggi dan marah. Ini membuat Veronica kaget dan menjadi curiga pada Zea.
"Hei, Zea...Kau menyukai Gabriel,kan? Jangan bohong! Jujurlah padaku!"tanya Veronica dengan nada yang menggoda,dia tersenyum mengejek pada Zea.
"Aku...Aku menyukai Gabriel sebagai saudara, hanya itu... Mungkin.."kata Zea bingung sendiri dengan perasaan nya,dia tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan pada Gabriel.
"Wah..Zea,aku tidak tahu kau menyukai Gabriel. Aku tadi hanya bicara asal saja,tapi ternyata benar. Hahaha....Zea menyukai Gabriel...haha" kata Veronica yang menggoda Zea,ini membuat pipi Zea yang merah,ria tidak suka diejek oleh Veronica.
Saat Veronica sedang tertawa terbahak-bahak, Zea dengan gesit mengambil bantalnya dan melemparnya pada Veronica. Tapi bukannya kena, Veronica malah bisa menghindari lemparan itu. Veronica lalu mengambil bantal milik Zea tadi dan akan melemparkannya pada Zea bakul dengan senyuman lebar nya.
"Kau tidak pandai berbohong, Zea. Sudah lah mengaku saja kalau kau menyukai Gabriel..." Kata Veronica sembari bersiap-siap melempar bantal nya ke arah Zea. Zea pun siap-siap mengambil gulingnya untuk membela diri.
"Bagaimana mungkin aku menyukai Gabriel...Itu tidak mungkin..." Kata Zea yang bersiap ancang-ancang. Veronica lalu berlari dan menghampiri Zea dengan bantal ditangannya dan akan memukulkannya pada Zea, akhirnya mereka pun bermain pukul bantal dan guling.
Mereka saling adu bicara sembari bermain pukul-pukulan bantal dan guling. Lama sekali mereka melakukan itu,saat sudah mulai lelah mereka berdua kemudian berbaring di kasur Zea dengan wajah yang lelah dan berkeringat.
"Zea....Ini adalah... Perasaan sukamu pada seseorang...Aku tahu..Kau suka pada Gabriel..."kata Veronica dengan napas yang memburu,dia kelelahan karena bermain seperti ini dengan Zea.
"Benarkah?....Kau merasa... Bingung... Dengan perasaan ku...Ini..."kata Zea yang sama halnya dengan napas yang memburu dan bingung. Mereka akhirnya menghabiskan malam berdua dengan saling curhat, membahas tentang perasaan Zea pada Gabriel.
•
•
•
FOTO VISUAL ALEX