
Zea sangat kaget sekali, dia berlari menghindar dari orang asing itu, tapi Zea merasa dia sangat familiar dengan orang asing itu, dilihat dari matanya,dia tidak asing dengan orang itu. Orang itu memakai jubah hitam dengan wajah yang tertutup setengah dengan masker, sehingga hanya matanya saja yang terlihat.
Zea terpaku melihat kedatangan orang asing itu, dia seperti berteleportasi. Orang asing itu menatap mata Zea tajam, dia memandang Zea sangat lama, sehingga mereka berdua bertatap-tatapan dalam waktu yang lama. Kemudian ia menghampiri Zea dengan pelan, Zea takut ia terhuyung ke belakang.
Orang asing itu seperti tersenyum, dilihat dari matanya yang kesenangan melihat Zea. Zea yang takut hanya mundur sedikit demi sedikit ke belakang sampai akhirnya ia tidak bisa mundur lagi karena sudah mepet di dinding.
"Siapa kau?" kata Zea, dia berusaha untuk memberanikan diri, walaupun tangan dan kakinya gemetar.
"Menurutmu?Apa kau tidak merasa familiar denganku?" tanya balik orang asing itu, Zea yang mendengar ini berpikir kalau orang itu dapat membaca pikirannya, tapi memang benar kalau Zea merasa familiar dengan orang itu.
"Aku memang seperti pernah bertemu denganmu, tapi apa kau.. Tidak apa yang kau lakukan di sini.. Kau masuk ke ruangan ini. Kau juga belum jawab pertanyaanku" kata Zea, dia mengatakan dengan lantang.
"Hei! Kau benar-benar tidak ingat aku?" kata orang asing itu, kemudian dia tertawa kecil lalu membuka tudungnya dan masker di wajahnya. Nampak seseorang yang Zea kenal, dia adalah Morin, orang yang menyerang Zea di perbatasan.
"Kau.. Kau yang menyerang ku di perbatasan? Kenapa kau kemari?" kata Zea, dia takut pada Morin, itu karena dia pernah menyerang Zea di perbatasan,Zea sangat takut padanya dan berharap tidak mau bertemu lagi, tapi malah bertemu di sini, di Gedung Mazevo.
"Aku tidak mau membahas itu. Apa lukamu baik-baik saja?" kata Morin tenang, seakan dia tidak salah apa-apa.
"Bagaimana kau tahu... Lupakan saja, kenapa kau menanyakan itu, apa urusanmu?" kata Zea,wajahnya masih pucat ditambah lagi dia juga takut, makin pucat lah wajahnya.
"Kurasa makin sesak ya?Aku rasa berhasil" kata Morin, dia kemudian melaju ke arah Zea dengan cepat, seperti petir saja, karena itu memang cepat, sehingga Zea kaget. Mereka berdua sangat dekat, bahkan wajah mereka,bukan.. Hidung mereka hampir bersentuhan.
Morin memegang bahu Zea, dia mengamati Zea dan kemudian matanya melihat simbol si leher Zea, lalu di tersenyum lebar. Seakan seperti mendapatkan semua keinginannya. Zea yang melihat ini langsung memberontak untuk melepaskan diri, tapi mau bagaimana lagi, Zea sedang lemah sekarang lagipula Morin memang sangat kuat.Zea tidak sanggup untuk melarikan diri.
"Kau ini kenapa?Lepaskan aku!" kata Zea, dia berusaha untuk melepaskan tangan Morin yang sangat kuat itu, Morin memegang Zea erat sehingga Zea merasa kesakitan.
"Seharusnya kau jawab pertanyaanku.Aku tidak akan melakukan ini" kata Morin, dia kemudian melepaskan tangannya. Morin lalu berbalik badan dan langsung memandang sekeliling ruangan Zea.
"Apa untungnya aku memberitahumu?Lebih baik kau pergi dari sini atau aku akan berteriak dan meminta tolong pada yang lain" kata Zea tegas, Zea pikir dengan ancaman ini Morin akan pergi.
"Kenapa kau menyuruhku?Aku akan pergi, tapi... "kata Morin, dia kemudian berbalik memandang Zea,menghampiri Zea dan menundukkan kepala nya, sehingga mereka berdua bertatapan.
"Besok kita akan bertemu lagi!"tambah Morin. " Untuk apa aku bertemu denganmu?"kata Zea,dia sudah sedikit lebih berani, tidak seperti tadi.
"Kita akan bertemu besok sore!Jangan mengatakan pada yang lain kalau aku datang ke sini! Atau kau tidak akan memilikinya lagi. Sampai jumpa, Putri Zea"kata Morin, dia kemudian meluruskan tangannya, sebuah gelang yang Morin pakai mengeluarkan tali.
Tali itu manancap pada suatu menara Gedung Mazevo, kemudian dia berayun ke sana untuk kabur. Zea yang ingin menangkap Morin, tidak dapat menangkapnya karena Morin cepat. Zea melihat jendela dia ruangannya dan melihat Morin sudah pergi jauh. Zea tidak suka dengan Morin, dia harus mendapatkan kalung itu.
Kalung itu adalah kalung milik ibu Zea, hanya itu salah satu peninggalan ibu Zea. Zea ha9 mendapatkan itu, harus. Besok dia harus bertemu Morin untuk mengambil kalungnya, apapun yang terjadi,Zea akan pergi menemuinya.
Tapi.. tunggu dulu, dimana Zea harus bertemu Morin?Morin tidak memberitahu alamatnya, gawat...Bagaimana bisa Zea bertemu Morin. Zea frustasi sekali, dia mengacak-acak rambutnya saking sebalnya.Saat Zea berbalik badan dia melihat sepucuk surat diranjangnya.
Cepat-cepat Zea menghampiri dan mengambil surat itu,itu adalah surat dari Morin yang berisikan dimana dia harus bertemu dengannya. Saat membaca surat,Karla tiba-tiba masuk ke ruangan Zea, dia membawa sebuah botol kecil berisi cairan bewarna biru. Itu ramuan,karena Zea tidak ingin Karla tahu. Jadi Zea menyembunyikan surat itu di belakangnya.
Melihat Zea menyembunyikan sesuatu Karla langsung curiga, terlebih lagi kenapa Zea tidak istirahat, seharusnya dia berbaring saja di ranjangnya,kan.
"Apa yang Tuan Putri lakukan?" tanya Karla, dia menghampiri Zea dan meletakkan ramuannya di meja sebelah ranjang Zea.
"Tidak ada aku hanya lelah saja berbaring. Ini ramuannya? Boleh langsung aku coba minum?" kata Zea, dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Karla yang percaya saja pun langsung memberikan ramuan itu pada Zea.
Cepat-cepat Zea minum ramuan itu, rasanya aneh sekali asam tapi manis, tapi lumayanlah.
Dia meminum semuanya dan kemudian langsung berbaring lagi di kasurnya. Karla pun menyelimuti Zea, kemudian mengambil botol ramuan itu dan meletakkan di meja.
Sesaat kemudian, ada seseorang yang datang ke ruangan Zea. Dia adalah Luis dan lucas, mereka kaget melihat Zea bangun. Karla pun langsung pergi dari Zea, karena Luis dan Lucas langsung datang menghampiri Zea. Mereka sangat senang Zea sudah bangun, mereka berdua, kan tidak tahu Zea sudah bangun.
"Kyaaaa.... Zea kau sudah bangun. Tahu tidak Ayah mengkhawatirkanmu dari tadi?" kata Luis, dia langsung nyerocos menasehati Zea.
"Iya, bahkan Ayah tidak mau makan tadi. Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah bangun?Kami mengkhawatirkanmu tahu?" kata Lucas.
"Aku masih lemas. Kalian jangan teriak-tetiak seperti itu"kata Zea, dia sekarang sedang dalam posisi duduk, gara-gara Luis dan Lucas yang datang menghampiri Zea.
"Iya, kami tidak akan seperti itu. Tapi Zea, jika kamu udah bangun, mungkin kita dapat pulang" kata Luis.
"Iya, soalnya dari tadi kami mau pulang tapi menunggu kamu bangun, jadi kurasa kita dapat pulang sekarang. Aku akan panggil Ayah!" kata Lucas, kemudian dia berlari untuk menemui Anthony tanpa persetujuan Zea dan Luis. Mereka berdua hanya menatap punggung Lucas yang menjauh.