
Zea masih berlari ke kamarnya dengan wajah yang sendu,dia berusaha tidak memperlihatkannya pada prajurit yang menjaga Zea.Memang berhasil tapi tetap saja kentara, awalnya mereka tidak terlalu memperhatikan wajah Zea, tetapi kemudian mereka baru sadar kalau wajah Zea penuh dengan air mata yang belum kering.
Zea berusaha mengatakan pada mereka bahwa Zea baik, hanya saja Zea mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun,jadi para prajurit yang menjaga pun mengikuti perintah Zea.Zea lalu merebahkan dirinya ke kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Entah apa yang Zea lakukan, tetapi dia tetap saja diam seperti itu sangat lama. Banyak sekali yang ingin bertemu Zea, seperti Luis dan Lucas, Veronica yang sepertinya penasaran dengan keadaan Zea, serta Tuan Lin. Zea merasa tidak enak dengan mereka semua yang ingin bertemu Zea,tapi Zea tidak mau mereka melihat Zea sedih atau menangis.
Zea tidak mau membuat mereka resah dan khawatir, Zea tidak mau merepotkan semua orang, mengingat apa yang Ratu Charlotte katakan.Zea merasa bahwa itu ada benarnya juga,andai saja Zea tidak ikut Anthony ke sini, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Pasti Anthony tidak akan dihukum,sama halnya Zea. Anthony pasti tidak akan menderita dan cemas jika Zea tidak ada, seharusnya Zea tidak tahu saja siapa ayahnya dan tidak pernah bertemu dengan Anthony, pikir Zea. Sepertinya apa yang Ratu Charlotte katakan mengubah pola pikir Zea.Tapi apa pun itu Zea akan selalu berpikir positif,itu adalah salah satu Zea untuk tetap tenang.
Lama sekali Zea berdiam diri di kamar,dia bahkan sampai lupa untuk makan dan meminum ramuan nya. Alhasil dada Zea sekarang sangat sakit,ini juga karena perkataan Ratu Charlotte tadi.Zea pun bangkit dari kasur nya untuk meminum ramuan miliknya,dia pun mencarinya di laci meja miliknya.
Dia pun meminumnya dengan tenang, entah karena apa Zea merasa kalau dia sedang di awasi,dia pun berhenti meminum ramuan nya dan menoleh ke belakang dan sekeliling, tidak lupa juga di luar jendela miliknya, tapi tidak ada apa-apa, mungkin hanya khayalan Zea yang sedang kacau.
Tapi memang ada perasaan bahwa Zea sedang di awasi oleh sesuatu yang tak berwujud. Perlahan Zea sedikit takut,dia cepat-cepat meminum ramuan nya.Setelah itu Zea langsung berlari menuju kasur nya dan menarik selimut Zea hingga yang tersisa hanya kepala Zea yang kelihatan. Tapi tanpa di duga ada suara bisikan di telinga Zea yang membuat Zea terduduk di kasur nya.
Zea menoleh ke belakang,tapi tidak ada apa-apa saat dia akan berbaring lagi di belakang Zea baru lah terdengar suara tawa yang amat keras,ini membuat Zea kaget dia pun dengan tergesa-gesa berlari menjauh dari kasur nya.Dan apa yang dilihatnya itu lebih mengerikan dari pada tawa itu, Zea melihat sebuah tubuh penyihir yang menculik Zea dengan tubuh yang transparan.
Sepertinya itu sebuah sihir juga, entah apa yang terjadi pada Zea, tubuhnya tidak bisa berg, bahkan Zea juga tidak bisa berdiri.Mungkin karena saking takutnya Zea melihat sosok penyihir itu.Tunggu..Kenapa para prajurit itu tidak menghampiri Zea, seharusnya dengan mendengar suara Hecate, mereka jadi menghampiri Zea untuk memastikan Zea baik-baik saja,tapi ini tidak.
"Kau pikir mereka akan tahu aku ada disini,hah?"kata Hecate dengan suara nya yang amat sangat lantang,seakan memang tahu bahwa tidak ada yang dapat mendengarkan mereka berdua.
"Ahahaha....Hah..Aku sangat lah senang sekali melihat kau ketakutan seperti ini.Nak,apa kau lupa perkataan ku terakhir kalinya?Aku akan menagih sesuatu padamu..."kata Hecate dengan seringai jahat dan kasar nya.Dia juga dengan perlahan mendekati Zea.
"Apa maksudmu?... Jangan mendekat!!!"teriak Zea panik, karena perlahan Hecate mendekati Zea,ini membuat Zea mundur ke belakang dengan perlahan.
"Jika kau maju satu langkah saja,aku akan berteriak"ancam Zea, entah bagaimana dia akan meminta tolong pada prajurit,tapi Zea tidak tahu lagi bagaimana dia harus lari.Jika Zea membuka pintu kamarnya, apakah bisa?Itu harus di coba, Zea harus mencoba nya.
Hecate tetap diam,dia masih saja tenang dan tersenyum riang,dia bahkan tidak mengindahkan peringatan Zea. Dengan langkah yang perlahan Hecate tetap mendekati Zea dengan perlahan, Zea yang berusaha keras berlari menuju pintu kamarnya.
Dengan cepat Zea sampai depan pintu dan akan membuka nya,tapi tidak bisa dibuka, seperti telah dikunci.Kemudian Zea menggendor-nggendor pintu kamarnya dan berteriak minta tolong,tapi tetap saja tidak bisa, padahal Hecate sudah semakin mendekat. Dia juga mengambil sesuatu dari punggung nya dan mengeluarkan sebuah ramuan yang hitam pekat.
Botol itu sangat kecil dan ramping, sehingga sekali teguk sudah habis.Zea yang sangat lah ketakutan berusaha untuk meminta tolong keras dan berusaha untuk menghindari ramuan itu.Melihat Zea yang ketakutan dia menambah seringai yang lebar dan jahat.
Dia kemudian mengambil sesuatu dari lengannya dan keluarlah sebuah pisau kecil berwarna perak,ini membuat Zea tambah takut.Dengan cepat Zea berusaha menghindar dari Hecate, sepertinya bentuk tubuh Hecate ini dapat diraba, hanya kelihatan nya yang transparan.
Zea dengan sekuat tenaga berteriak dan menggendor pintu depan keras agar ada yang mendengar nya,tapi sepertinya usaha Zea sia-sia, tidak ada yang menghiraukan Zea.Hecate pun sudah mul mendekati Zea dengan tangan kasar nya dia memegang Zea dengan erat sehingga Zea susah sekali lepas dia mulai menyentuh pipi Zea untuk memaksa nya meminum ramuan aneh.
Tak lama kemudian terdengar suara Anthony dan Eden,ini membuat Zea terpekik kaget serta Hecate Si Penyihir menjadi kaget dengan suara itu.Dengan senyum nya yang mengerikan dia melepaskan Zea dan langsung menghilang bagai asap dan tidak terlihat lagi.
Ramuan yang Hecate berikan pada Zea membuat Zea susah untuk berbicara,dia juga masih takut dan shock.Saat itu pun Anthony dan Eden datang dengan para prajurit dibelakangnya.Mereka berdua heran melihat wajah Zea yang pucat,tapi Zea sedang duduk di kasur nya dan kondisi kamar nya yang lumayan berserakan.Anthony hanya dapat melihat satu sama lain dan dengan para prajurit.Mereka tidak tahu persis apa yang terjadi pada Zea.