
"Hei, Eden. Apa kau akan memberitahu Ayah?" tanya Lucas, mereka bertiga sedang duduk di tempat yang biasanya mereka makan.
"Aku.. tidak tahu, Ayah pernah berpesan kepada ku, jika... terjadi sesuatu pada Zea, aku harus mengabarinya" kata Eden dengan ragu.
"Apakah jika kita memberitahu Ayah, Ayah akan datang ke sini?" tanya Luis dengan menduga-duga.
"Maksudmu kita jangan beritahu Ayah? Bukankah-.... Akh.. Kepalaku pusing... " kata Lucas seraya mengacak-acak rambutnya yang frustasi.
"Bagaimanapun juga kita harus tetap menghubungi Ayah, kan! Apa pun yang terjadi kita harus mengatakan yang sebenarnya" kata Eden menyela, dia dari tadi meletakkan tangan nya dan berpikir.
"Yeah, itu benar. Tapi bagaimana jika Ayah khawatir dan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya?" kata Luis yang juga frustasi.
"Aku akan memberitahu Ayah, tapi aku hanya mengatakan kalau Zea sakit saja, aku tidak mau Ayah jadi kepikiran. Aku akan melakukan itu" kata Eden, siapa mendelik pad Luis dan Lucas.
"Mungkin itu ide yang bagus. Baiklah Eden, ayo hubungi Ayah sekarang!" kata Luis setuju.
Eden kemudian mengambil permata yang ada di sakunya dan lanjut menghubungi Anthony. Anthony langsung menjawab telepon itu, Seperti yang dikatakan Eden mengatakan kalau dada Zea sakit lagi tapi tidak parah.Reaksi Anthony tentu saja cemas, dia menanyakan apa kabar Zea sekarang, tentu Eden mengatakan kalau Zea baik, dia sudah sehat.
Anthony pun lega, dia bahkan ingin kembali ke kerajaan, tapi Luis dan Lucas menyegahnya. Mengatakan ini saja Anthony mau kembali ke kerajaan, kalau mengatakan semuanya pasti Anthony akan kesini. Mereka hanya berbincang sebentar dan kemudian menutupnya, mereka semua lega, sangat lega, sampai-sampai Charlotte memanggil mereka, mereka semua kaget.
"Kalian kenapa kaget? Ibu, kan hanya memanggil kalian" kata Charlotte bingung, so datang dari belakang bersama Veronica dan langsung duduk bersama mereka bertiga.
"Tidak, tidak ada apa-apa" kata Luis, dia sudah tidak kaget lagi. Charlotte yang mendengar jawaban dari anaknya ini hanya tersenyum mendengarnya.
"Hei.. Bagaimana kabar Zea? Aku malas ke sana, lebih baik aku menanyakannya pada kalian"kata Veronica malas, dia sebenarnya tidak mau mengatakan ini, tapi tetap saja Veronica penasaran.
" Kenapa kau tidak melihat sendiri?"kata Lucas, seraya meletakkan tangannya atas meja dan mendekatkan kepalanya ke arah Veronica.
"Ma-las.. Aku tidak mau melihatnya, jadi aku tanya pada kalian saja" kata Veronica sembari mendekat kepada lucas.
"Cih.. Yang benar saja. Zea sudah baik, sekarang dia sedang tidur" kata Lucas yang kemudian mundur.
"Kalian mengatakannya pada Ayah tentang kejadian ini?"tanya Charlotte, dia sepertinya tertarik dengan masalah ini, bagaimana tidak, kalau ini menyangkut Anthony.
"Iya,kami mengatakannya pada Ayah" kata Eden yang dingin dan singkat.
"Tapi kami hanya mengatakan kalau Zea hanya sakit sedikit, tidak parah" tambah Luis.
"Ohh, baiklah kalau begitu-, Eh! Eden, ada apa dengan bajumu?Kenapa ada noda di sini" kata Charlotte memegang baju Eden yang kebetulan bewarna putih dan terlihat noda di baju bagian dada.
"Aku tidak tahu, aku tidak tergores ataupun apa. Aku tadi hanya-... "kata Eden yang berhenti bicara, dia langsung melihat Luis dan Lucas dengan tatapan yang cemas dan kaget, Si Kembar juga paham dengan tatapan Eden.
" Zea!!!.... "kata mereka bertiga kompak saat membuka pintu kamarnya, melihat Zea apakah dia baik-baik saja atau tidak.
"Apa?"kata Zea, dia sekarang sedang di suapi bubur oleh Karla yang kaget dengan kedatangan mereka.
" Kau.. tidak apa-apa?"kata Lucas, dia kemudian mendekat pada Zea bersama Luis dan Eden, saat Charlotte dan Veronica datang, ekspresi Zea langsung sebal dan malas, begitupun dengan mereka berdua.Tapi entah kenapa Zea merasa familiar dengan gaun Ratu Charlotte, seperti pernah lihat dimana, seperti itu.
"Kau tidak ada yang sakit?Maksudku, kau ada yang terluka tidak?" tanya Luis, dia juga khawatir pada Zea.
"Sakit apa? Kalian ini kenapa?" tanya Zea bingung, dia tidak tahu apa yang Si Kembar bicarakan, sementara mereka berdua melihat kondisi Zea dengan teliti.
"Tunggu!" kata Eden, kemudian dia mendekat ke arah Zea,lalu tangannya menyentuh pipi Zea,
Eden seperti mengusap sesuatu,tapi Zea tidak tahu apa itu.
"Apa?" Zea yang tidak tahu apa-apa hanya dapat diam saja.
"Saat aku menggendongmu, apakah kau muntah darah?" tanya Eden, dia kemudian mengambil sapu tangan miliknya.
"Sedikit, apakah mengenai bajumu? Padahal sudah ku lap" kata Zea pelan. Mereka semua yang mendengar ini sangat lah kesal, Zea tidak mengatakannya pada mereka bertiga. Memang satu perjalanan ke sini, saat digendong Eden, Zea merasa batuk, saat dia batuk ada darah di tangannya, dengan cepat-cepat ia mengambil sapu tangan tanpa ketahuan Eden, melaporkan tangannya dan mulutnya yang sayangnya tidak semua bersih.
"Yang benar saja, Zea.Kenapa tidak bilang padaku?" kata Luis, dia memegangi kepala nya yang pusing. Eden dan Lucas hanya bisa memegangi kepala mereka yang pusing.
"Memangnya kenapa? Aku kira itu hanya efek-.. Maksudku, itu hanya karena dadaku sakit, jadi seperti itu" kata Zea yang mencoba membela diri.
"Apakah kita panggil tabib saja, untuk memeriksa Zea"usul Lucas, dia berpikir sejenak, lalu mendapatkan ide itu.
"Yeah, aku akan menyuruh orang untuk memanggil tabib" kata Eden kemudian dia keluar dari kamar Zea, lalu Ratu Charlotte dan Veronica hanya berdiri memandang Zea. Zea sebenarnya sedikit terganggu dengan mereka berdua, mengingat jika mereka tidak suka Zea.
Akhirnya setelah menunggu lama, tabib pun masuk ke kamar Zea, tabib ini memang dikenal hebat dalam mengobati pasien dan ini merupakan tabib langganan kerajaan. Semua orang disuruh ke luar kecuali Eden, dia mengawasi Zea yang sedang diperiksa tabib itu.
Lalu setelah semuanya diperiksa Zea dibuatkan beberapa ramuan untuk mengobati nya, Zea tidak tahu apa penyebabnya karena Eden hanya bicara empat mata dengan tabib, sehingga Zea tidak tahu dia kenapa, jika gelagatnya seperti ini, dipastikan pasti ini berhubungan dengan hukuman itu.
Jadi setelah tabib ke luar, Zea hanya berdua dengan Eden, mereka hanya diam.Tidak ada yang dibicarakan Eden pada Zea,karena Zea ingin tahu kenapa Zea seperti ini,dia langsung bertanya pada Eden.
"Eden, aku kenapa? Kenapa aku bisa mengalami hal ini?" tanya Zea penasaran, Eden duduk di kursi dengan tangan dilipat di dada dan dan kaki disilangkan. Lalu karena pertanyaan Zea, Eden langsung meletakkan kedua tangannya didepan dengan kaki yang dibuka.
"Apakah ada hal aneh yang terjadi padamu?" tanya Eden dengan tatapan mata yang tajam dan dingin, ini membuat Zea tidak bisa berkutik, dia harus mengatakan kalau dia melihat kejadian aneh.