Two Worlds Adventure

Two Worlds Adventure
Berobat



Zea sekarang berada di kamarnya, dia berbaring sembari menutup wajahnya dengan bantal. Sepertinya Zea malu dengan kejadian tadi, memang seingat dia di tidak pernah diperlakukan begitu, paling Paman Adnan dan Bibi Maggie hanya memeluk mencium pipi dan keningnya, tidak lebih dari itu.


Zea tidak tahu apakah dia dapat bertemu Anthony? Tunggu, kenapa tidak? Anthony Ayah nya, tentu Zea tidak boleh malu.Baikah, Zea akan menghapus ingatan ini, dan omong- omong sepertinya tadi Zea bersikap tidak sopan pada Anthony, tadi Zea mendorong Anthony sehingga Anthony tadi kaget. Harus nya Zea sekarang minta maaf. Yah, Zea tidak akan malu lagi, pikir Zea.


Pagi harinya Zea bangun, dia sangat nyaman sekali, entah kenapa tapi memang itu kenyataannya. Saat Zea akan menoleh ke samping, dia kaget bukan main. Ternyata di sebelah Zea ada Anthony yang masih tidur nyenyak. Karena tidak main membangunkannya, Zea langsung menutup mulutnya agar Anthony tidak terbangun.


Kenapa Anthony ada disini? Mungkinkah Anthony datang saat Zea sudah tertidur? Zea tidak tahu, tapi pasti Zea memang sudah tidur saat Anthony ke sini.Entah kenapa Zea tidak mau bangkit dari kasurnya, dia kemudian berbaring lagi di kasurnya memandang Anthony yang sedang tidur.


"Aku bahkan tidak pernah tidur bersama Ayah, tapi aku sekarang sudah tahu bagaimana rasanya?" kata Zea pelan, dia tidak mau membangunkan Anthony. Lalu Zea tersenyum dan memandang Anthony lagi.


"Aku merindukan ibu, sebentar lagi ulang tahunku tiba dan aku tiba-tiba merindukan ibu. Jika saja Ayah menceritakan tentang ibu, aku pernah di ceritakan oleh Paman Adnan,tapi aku ingin mendengarkan dari sudut pandang Ayah" kata Zea lagi, kemudian dia menatap langit-langit kamarnya yang bergambar lukisan khas Eropa.


Tapi sesaat kemudian Anthony tiba-tiba terbangun dari tidurnya, Zea pun dengan cepat langsung memejamkan mata dan tertidur. Anthony kemudian bangkit dan meregangkan otot-otot nya sebentar tetapi masih di ranjang tidur nya. Kemudian Anthony melihat Zea yang masih tidur, tetapi sebenarnya pura-pura tidur. Zea tampak natural saat pura-pura tidur, sehingga Anthony percaya saja.


Kemudian Anthony membelai rambut panjang Zea yang berponi, kemudian dia mengecup pipi nya dan bangkit dari kasur Zea, saat akan pergi dari kamar Zea, Anthony melihat sesuatu. Itu adalah ramuan Zea yang lumayan banyak, Anthony jadi sedih melihat itu. Lalu di melihat Zea sebentar dan kemudian pergi dari kamar Zea. Saat baru saja membuka pintu, terdengar suara Zea yang berlari begitu kencang.


Dan tentu saja, Zea memang bangun dan langsung berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya, Zea muntah lagi. Padahal Zea sudah ingin menahannya sampai Anthony pergi, tapi ia tidak bisa menahannya lagi. Anthony yang sama kaget dan paniknya lalu menghampiri Zea yang sedang memuntahkan darah, darah nya sekarang tidak terlalu pekat, tidak seperti hari-hari sebelumnya.


Kemudian Anthony menepuk-nepuk baju Zea, dia sangat khawatir dan cemas pada Zea, apalagi sekarang Anthony melihat langsung Zea sakit. Ini sungguh pemandangan yang menyakitkan bagi seorang Ayah.


"Kau sudah baik, Zea?"tanya Anthony cemas, dia sambil menepuk-nepuk baju Zea.


" Uhuk..uhuk.. Sudah lebih baik.."kata Zea dengan suara yang parau. Kemudian Zea dibantu Anthony pergi ke kasurnya untuk istirahat lagi,Anthony lalu mengambil ramuan khusus untuk ini. "Minumlah!" kata Anthony dengan suara yang khawatir.


"Apa belum sembuh-sembuh?" atau Anthony yang masih cemas, dia sambil membersihkan mulut Zea dengan sapu tangannya.Kemudian Zea memegang tangan Anthony dan menatap nya dengan senyuman yang lembut.


"Tidak, aku sudah sembuh. Mungkin ini butuh waktu agar cepat sembuh" kata Zea berusaha untuk menenangkan Anthony yang dari tadi raut wajahnya sangat cemas dan khawatir.


"Bagaimana kita ke Gedung Mazevo? Zea akan diperiksa di sana dan Zea akan cepat sembuh" usul Anthony.


"Gedung Mazevo? Gedung yang.. Aku takut, Ayah. Aku tidak mau ke sana, aku akan di obati tabib saja" kata Zea keras, dia memang masih takut dengan kejadian waktu itu, apalagi jika bertemu Raja Eryk, seram sekali.


"Jika kau takut.. Bagaimana kalau Ayah panggilkan seseorang dari Gedung Mazevo, dia baik dan suka membantu orang"usul Anthony lagi.


"Aku.. Aku terserah Ayah saja, yang penting aku tidak mau ke sana lagi" kata Zea, kemudian Anthony mengangguk dan Zea pun bersiap-siap untuk ke bawah untuk makan. Padahal Anthony menyuruh Zea untuk istirahat di kamar dan untuk sarapannya Anthony dapat memerintah Karla untuk mengantarkannya pada Zea.


Tapi Zea malah tidak mau, katanya Zea ingin makan bersama di sana. Jadi alhasil Zea ikut makan di sana bersama dengan yang lain. Tapi entah kenapa Zea merasa tidak nyaman, karena tatapan mata seseorang yang Zea tidak sukai, Ratu Charlotte. Sepertinya dia marah pada Zea, karena gara-gara Zea, Anthony jadi tidak bisa tidur dengannya.


Padahal Anthony baru saja pulang ke istana dan dia tidak bisa tidur bersama dengan Anthony setelah cukup lama. Ratu Charlotte memberikan tatapan Zea paling menyebalkan dan menjengkelkan.Zea yang tidak suka dan tidak nyaman hanya buang muka saja. Untuk apa melihat tatapan ibu tirinya itu, Veronica hanya menepuk tangan Charlotte agar mengendalikan emosinya.


Sebab tatapan nya itu terlalu kentara dan Veronica takut kalau Anthony tahu kalau Charlotte dan Veronica membenci Zea, mereka berdua harus pura-pura baik kepada Zea. Zea tidak peduli dan tidak mau tahu, dia melanjutkan makannya dengan tenang. Jadi setelah itu Zea berlatih pedang dengan Eden lebih cepat.


Hari ini pun latihan Zea hanya sebentar, kata Eden karena Zea masih sakit Anthony untuk menganjurkan Zea berlatih sedikit saja, tidak latihan yang terlalu berat untuknya.