
Hari demi hari Zea sudah semakin membaik, doa sudah tidak muntah darah lagi dan dadanya yang setiap pagi sakit itu sudah tidak lagi. Sudah seminggu penuh Zea sakit dan tepat hari ini juga Anthony akan pulang, karena tugasnya sudah selesai dan dia juga ingin sekali melihat keadaan Zea langsung.
Anthony akan pulang pada pagi hari, tapi mungkin kalau pulang sekarang Anthony akan tiba pada waktu siang. Jadi sarapan kali ini pun mereka tidak di temani Anthony, sarapan kali ini tidak seperti yang dulu saat Si Kembar dan yang lain (kecuali Eden) tidak mau menatap Zea, tapi sekarang semuanya sudah berani menatap Zea, mungkin karena ucapan Zea itu mereka percaya.
Zea hari ini sudah mulai berlatih pedang dengan Eden dan Guru Lin, Zea masih berlatih dengan teknik pedang yang standar karena Eden dan Guru Lin masih berhati-hati dalam melatih Zea mengingat Zea baru saja sembuh. Zea ingin kelihatan sehat di depan Ayahnya, dia tidak mau membuat Anthony khawatir padanya.
Jadi untuk latihan hari ini hanya beberapa jam saja dan Zea pun menuju ke rerumputan yang ada di situ untuk istirahat sejenak, sedangkan Eden dan Guru Lin sedang membahas sesuatu yang serius, dilihat dari ekspresi mereka. Saat sedang duduk di rerumputan, ada yang menghampiri Zea, dia adalah Chou. Dia membawa sesuatu di tangannya, Chou seperti membawa sebuah botol yang mirip dengan ramuan.
"Permisi Putri, boleh aku duduk di sini?" kata Chou, untuk pertama kalinya dia berbicara pada Zea dan cara bicara Chou ini terlihat berbeda dari perjamuan dulu. Karena Zea kaget dengan refleks dia menganggukkan kepalanya dalam diam.
"Maaf, aku di suruh Tuan Lin untuk memberikannya padamu, ini obat sekaligus ramuan yang bagus untukmu" kata Chou sembari memberikan botolnya pada Zea.
"Terimakasih, katakan juga pada Guru Lin nanti! " kata Zea canggung, dia tidak tahu mau bicara apa dengannya sedangkan mereka sekarang hanya duduk bersama di situ dan tidak berbicara sama sekali.
"Eum.. Kau sudah berapa lama murid menjadi Guru Lin?" tanya Zea dengan hati-hati, dia merasa sangat canggung dengan nya, jika dengan Eden Zea sudah tidak canggung lagi, dia sudah cukup dekat dengan nya walaupun itu hanya di tempat berlatih pedang.
"Itu.. Sejak aku berusia 7 tahun" kata Chou, dia juga sepertinya canggung dengan Zea, apalagi dengan Putri Kerajaan Echthra. Zea hanya mengangguk paham pada Chou.
"Tapi apa boleh aku bertanya sesuatu padamu? Kau ingin mengatakan sesuatu pada Putri, berbisik-bisik" kata Chou tiba-tiba, dia seperti ingin memastikan sesuatu pada Zea.
"Apakah harus berbisik-bisik?"tanya Zea ragu-ragu, dia tidak yakin dengan ucapan Chou ini, sepertinya Chou ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Zea.
"Tentu ini sangat penting Tuan Putri, aku tidak ingin semua orang mendengar ini" kata Chou yang menoleh pada Eden dan Guru Lin yang sedang berdiskusi.
"Baiklah" kata Zea, kemudian dia mendekatkan telinganya pada Chou dan Chou mulai berbisik di telinga Zea, "Aku melihat Tuan Putri bersama seseorang saat di pusat kota dulu,..dengna kata lain aku melihat wajahnya" kata Chou pada Zea, dia mengetahui kalau Zea bertemu dengan Morin dulu.
Wajah Zea seketika kaget mendengar ini, dia menjauhkan telinga dari Chou dengan ekspresi wajah yang kaget sekaligus tidak percaya, bagaimana anak seperti ini, Chou melihat pertemuan itu. Kemudian Zea memegang bahu Chou dan menariknya untuk mendekat pada Zea untuk berbisik.
"Maksudmu Morin, kan... Kau ingat Tuan Putri, saat itu aku sedang menemani Tuan Lin berbelanja tanaman herbal dan mengobati pasien di daerah kau bertemu dengan musuh mu, Morin. Aku melihat ada dua orang berjubah menyelinap di antara rumah penduduk desa, awalnya aku tidak peduli, tapi melihat jubah mu aku jadi curiga karena itu mirip dengan milikku. Aku mengikuti kalian berdua tanpa sepengetahuan Tuan Lin, saat kalian berhenti aku melihat wajah Morin, saat itu aku kaget. Kau memang tidak bisa mendengar pembicaraan kalian karena posisiku dan posisimu itu jauh, tapi setelah itu aku cepat-cepat pergi dari situ, agar Tuan Lin tidak curiga. Aku sebenarnya mau mengatakan nya pada Tuan Lin, tapi ski rasa aku akan mengatakan nya padamu saja, Tuan Putri Zea" kata Chou dengan wajah dan senyuman mengerikannya, dia ingin sekali memanfaatkan situasi ini. Maka dari itu Zea sudah tahu taktik yang akan Chou lakukan.
"Penjelasan yang panjang, ya.Jangan beritahu siapa-siapa! Rahasiakan ini dari semua orang" kata Zea tajam, ini sebenarnya mirip dengan mengancam daripada memohon.
"Tenang Putri, aku akan merahasiakan ini dengan satu syarat"kata Chou dengan senyuman yang penuh kemenangan dan mengerikannya, takut jika Chou akan mengatakan macam-macam pada lainnya.
"Apa?" tanya Zea tanpa basa basi langsung menanyakannya pada Chou dengan nada yang kesal dan kecewa.
"Ini..... " kata Chou, "...., hanya itu. Apakah kau mau melakukan itu, Putri Zea?" tanya Chou dengan hati yang senang, itu tergambar dari wajahnya yang tersenyum lebar.
"Harus itu? Baiklah, aku akan melakukannya" kata Zea pada Chou dengan hati yang terpaksa, kemudian mereka menjabat tangan tanda setuju.
Kemudian setelah pembicaraan itu Zea pergi ke kamar nya untuk mandi dan bersiap-siap, hari ini Zea akan memakai gaun, tapi yang sederhana tentunya, Zea tidak suka yang heboh mengingat dia tomboy. Setelah bersiap-siap, Karla pun masuk ke ruangan Zea kalau Anthony sudah akan pulang, jadi Zea bergegas turun ke bawah untuk menyambut nya.
Saat turun Zea bertemu dengan Si Kembar, jadi mereka turun bersama ke bawah untuk menyambut Anthony, lalu mereka bertiga juga berpapasan dengan Eden yang sepertinya baru selesai bersiap-siap, jadi mereka berempat pergi ke bawah bersama. Di bawah belum ada siapa-siapa, sepertinya Ratu Charlotte dan Veronica belum selesai bersiap-siap.
Sesaat kemudian kereta kerajaan milik Anthony tiba, di ikuti dengan prajurit berkuda di depan dan di belakang kereta tersebut. Setelah kereta benar-benar berhenti, Billy turun dan membukakan pintu kereta agar Anthony keluar. Saat Anthony turun, dia langsung menghampiri mereka berempat, lalu Anthony memeluk Zea setelah seminggu lamanya.
"Ayah sangat merindukanmu Zea" kata Anthony sembari memeluk Zea,"Kau sudah tidak sakit lagi, kan?"kata Anthony setelah melepaskan Zea dan memeriksa Zea.
"Aku sudah sembuh, aku juga merindukan Ayah" kata Zea, dia tersenyum lebar pada Anthony karena kerinduannya pada Anthony sudah tuntas saat Zea bertemu Anthony.
"Bagus, aku merindukan kalian semua anak-anak. Kalian sudah bekerja dengan baik" kata Anthony yang kemudian memeluk Eden dan Si Kembar satu persatu. Lalu mereka, semua pergi ke dalam istana untuk makan siang.